NovelToon NovelToon
LENTERA

LENTERA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Action
Popularitas:18.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sinho

Satu lagi cerita tentang salah satu Garis Keturunan Keluarga Nugraha hadir kembali, Sean, laki-laki yang mengalami kecacatan pada kekuatan Supranatural nya bisa di sempurna kan kembali tanpa terduga, dengan sosok Wanita biasa yang mempunyai tekad kuat di tengah kepungan keterpurukan perekonomian keluarga, bagaimana kelanjutan ceritanya?, yuk kita ikuti_

Salam Autor Sinho, semangat, sehat dan jangan lupa Bahagia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23. Pertemuan di Ruang VIP

Hari Jumat sore, atmosfer di lantai empat Rumah Sakit Internasional Nugraha Perkasa mendadak terasa berbeda dari biasanya.

Kawasan paviliun perawatan VIP eksklusif yang biasanya diselimuti keheningan mutlak dan aroma aromaterapi mahal itu, sore ini sedikit riuh oleh suara tawa renyah dan protes bernada akrab.

Lentera, yang saat itu sedang bertugas melakukan kontrol berkala pada catatan medis dan cairan infus pasien pasca-operasi di koridor tersebut, menghentikan langkah kakinya sejenak.

Ia berdiri tepat di depan daun pintu kayu mahoni besar bernomor 405. Pintu kamar itu rupanya sedikit terbuka, menyisakan celah beberapa sentimeter yang mengalirkan udara hangat dari dalam.

Dari celah tersebut, Tera bisa mendengar suara seorang wanita yang sedang melayangkan protes dengan nada manja namun tetap memancarkan wibawa yang kuat.

"Sean! Kamu benar-benar keterlaluan ya! Sepupumu sendiri sedang berada di kota ini dan baru saja melahirkan anak pertama di rumah sakit milikmu sendiri, tapi kamu baru muncul sore ini? Setelah seluruh jadwal rapat komitemu selesai? Di mana rasa kekeluargaan klan Nugraha dalam dirimu, hah? Dasar robot korporat!"

Tera mengintip sedikit melalui celah kaca pintu dengan rasa penasaran khasnya yang sulit dibendung. Di dalam ruangan paviliun yang luasnya lebih mirip penthouse mewah ketimbang kamar rawat rumah sakit itu, tampak Sean Eagle Nugraha sedang berdiri tegak. Dengan setelan jas abu-abu gelapnya yang tanpa cela, pria itu menampilkan ekspresi datar andalannya di samping tempat tidur perawatan elektronik berkilau.

Di atas tempat tidur itu, duduk seorang wanita yang sangat cantik dengan rambut pirang kecoklatan yang ditata rapi—Sera Eagle Nugraha, sepupu kandung perempuan Sean dari garis ayah yang baru saja melahirkan.

Sementara di kursi sofa beludru di samping tempat tidur, duduk seorang wanita muda berwajah tak kalah menawan dengan garis rahang tegas khas keturunan bangsawan, Alensky Graham Nugraha.

Alensky, yang juga merupakan sepupu Sean, tampak sedang menimang seorang bayi mungil berselimut sutra dengan senyuman yang sangat hangat.

"Aku memiliki jadwal audit tahunan dengan konsorsium investor Swiss dari pagi hari, Sera," jawab Sean pendek, suara baritonnya yang tenang sama sekali tidak terpengaruh oleh omelan sepupunya.

"Lagipula, Profesor Baskoro sudah menugaskan tim dokter spesialis kandungan terbaik di negara ini untuk merawatmu di sini. Fasilitas medis apa lagi yang kurang?"

"Itu masalah birokrasi dan fasilitas medis, Sean! Yang aku protes itu adalah kehadiran fisikmu sebagai seorang abang sepupu!" timpal Sera sambil melipat kedua tangannya di dada dengan cemberut konyol.

Melihat ekspresi cemberut Sera, Tera menahan tawa di balik masker medisnya. Entah mengapa, cara Sera merajuk terasa sangat familier—sangat mirip dengan cara Tera sendiri saat mengekspresikan kejengkelannya pada Sean.

Tepat pada saat Tera sedang asyik mengamati drama keluarga konglomerat itu, seorang perawat senior dari arah belakang berjalan terburu-buru sambil membawa baki berisi obat-obatan injeksi.

Karena koridor yang sedikit temaram, ujung baki tersebut tidak sengaja menyenggol bahu Tera.

"Eh, maaf, Dokter Tera. Saya buru-buru ke kamar sebelah," bisik perawat itu merasa bersalah.

"Oh, iya, Suster. Tidak apa-apa, silakan," balas Tera pelan.

Namun, keributan kecil di luar pintu itu rupanya langsung tertangkap oleh pendengaran tajam Sean yang seperti radar.

Sepasang mata elang pria tiga puluh lima tahun itu menoleh tajam ke arah celah pintu. Begitu melihat siluet jas dokter putih yang sangat ia kenali, tatapan dingin Sean seketika berubah. Ia langsung memberikan perintah pendek dengan nada yang tidak menerima penolakan.

"Dokter Tera, masuk ke dalam."

Tera tersentak di tempatnya. Ia merutuki nasib sialnya dalam hati karena tertangkap basah sedang mengintip. Dengan wajah yang mulai merona merah menahan malu, Tera terpaksa mendorong pintu ganda itu sepenuhnya, lalu melangkah masuk ke dalam ruangan mewah berlantai marmer tersebut dengan langkah canggung.

"Selamat sore Tuan Sean, selamat sore, Ibu," sapa Tera formal, berusaha menjaga profesionalismenya meski jantungnya berdegup kencang.

"Mohon maaf yang sebesar-besarnya jika saya mengganggu waktu kunjungan keluarga Anda. Saya tidak bermaksud mengintip, saya hanya sedang melakukan kontrol rutin cairan infus pasien di koridor ini dan kebetulan mendengar suara dari dalam."

Sera dan Alensky serentak menghentikan aktivitas mereka dan menoleh ke arah Tera.

Pandangan mata Sera yang tajam namun memancarkan kecerdasan tinggi langsung menyapu penampilan Tera. Mulai dari rambut yang dicepol asal-asalan dengan jepit plastik murah, jas dokter yang sedikit kusut karena jadwal jaga yang padat, hingga flat shoes hitamnya yang sudah agak aus.

Sesaat, Tera merasakan sebuah gejolak rasa minder yang sangat pekat merayap dan meremas dadanya.

Dua wanita di hadapannya ini memancarkan aura privilese kelas atas yang begitu jelas. Perhiasan minimalis berlian yang melingkar di leher Sera, kulit mereka yang terawat sempurna tanpa cela, serta keanggunan bawaan dari garis darah Nugraha yang legendaris benar-benar membuat Tera merasa kecil. Ia merasa dirinya hanyalah sebutir debu jalanan yang tersesat dan salah masuk ke dalam istana megah.

Tera meremas ujung jas dokternya, bersiap untuk pamit undur diri secepat mungkin sebelum rasa malunya semakin memuncak.

Namun, sebelum rasa minder Tera berkembang menjadi dinding pemisah yang semakin jauh, Sean mengambil langkah tak terduga.

Pria bertubuh tegap itu melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka dan berdiri tepat di samping Tera.

Dengan sebuah gerakan tangan yang sangat protektif—seolah-olah sedang memagari Tera dari pandangan menilai orang lain—Sean memberikan gestur penghormatan yang jarang sekali ia tunjukkan pada siapa pun di depan publik.

Pria itu berbalik menghadap sepupu-sepupunya dan memperkenalkan Tera dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, namun penuh penekanan khusus pada setiap katanya.

"Sera, Alensky, perkenalkan, ini Dokter Lentera. Dia adalah dokter umum paling berprestasi di UGD bawah rumah sakit ini. Dan dia juga_, gadis yang tempo hari mempertaruhkan nyawanya sendiri untuk menyelamatkanku dari kecelakaan mobil tragis di jembatan luar kota."

Mendengar kalimat perkenalan yang keluar langsung dari mulut seorang Sean Eagle Nugraha yang terkenal kaku dan irit bicara, ekspresi wajah Sera yang tadinya tampak angkuh dan menyelidik mendadak berubah drastis seratus delapan puluh derajat.

Sorot matanya berubah menjadi sangat ceria, dipenuhi oleh binar antusiasme yang luar biasa hangat.

Wanita yang baru saja melahirkan itu langsung menegakkan tubuhnya di atas tempat tidur mewah, mengabaikan rasa nyeri pasca-Bersalin yang mungkin masih tersisa.

Sera mengulurkan kedua tangannya lebar-lebar ke arah Tera dengan senyuman yang begitu tulus, meruntuhkan seluruh sekat kasta sosial dan kesan angkuh klan Nugraha dalam sekejap mata.

"Oh, astaga! Jadi kamu yang bernama Lentera?! Gadis penyelamat yang diceritakan Mommy Dryana lewat telepon kemarin?!" seru Sera dengan nada suara heboh yang memenuhi ruangan VIP.

"Cepat kemari, Dokter Tera! Jangan berdiri jauh-jauh di dekat pintu seperti itu, kamu seperti sedang dihukum saja! Ayo mendekat, aku benar-benar mau melihat langsung bagaimana wajah malaikat pelindung yang sudah berhasil menjinakkan sepupu kaku saya ini!"

Tera tertegun, matanya membelalak tak percaya melihat sambutan yang begitu meledak-ledak.

Ketakutan dan rasa mindernya perlahan mencair, digantikan oleh kebingungan yang menggelikan saat melihat Sean hanya bisa menghela napas panjang melihat tingkah heboh sepupunya.

Mulai seru nih, yuk mana komennya gaes, jangan lupa LIKE dan HADIAH nya.

1
Siti Aisah
tera terenyuh oleh ketulusan sean, jadi tera kamu bukan alat untuk menyempurnakan kekuatan sean...tpi sudah takdir ya thor🤗
Siti Aisah
ci muka retak jgan menyakiti tera.. sean akan murka 🤭
Siti Aisah
tera tenang sean sedang memantau keadaan..
Siti Aisah
tenang sera sean ikut dalam rombongan jdi pasti di lindungi ..
Kaa
semoga sampai ke jenjang pernikahan tera sean lanjut thor👍
Kaa
kekuatan Sean mungkin campuran kekutan mominya ya driyana
Kaa
apa ada kekuatan lain dari tera selain aliran penenang tuan Sean lawan Sera gunakan kekuatan mu lanjut thor
Nurul Ambar
semoga hidup bahagia
Nurul Ambar
akhirx....
Nurul Ambar
sean datang
Nurul Ambar
deg deg an smga baik2 saja
Mety Haula
kayanya nanti muksnya buksn retak lahi malah berbalik kebelskang tenang tera tuan sean psdti datang apa yg nyusup ke rs dr klan hitam blm ketahusn ya
Mety Haula
alhamdullilah akhirnya yera luluh juga hatinya semoga kedepannya berjalan mulus langsung tancap mks
Novita Sari
Alhamdulillah tera menerima sean.....
Endang Hidayanti
so sweet bgt Sean, 😍
Novita Sari
si muka retak salah pilih lawan
Novita Sari
tenang tera kekuatan sean udah sempurna..
Novita Sari
si muka retak gak kapok kapok muka udah jelek masih sok sokan
Tri Hastuti
baru bab awal udh tegang
sean anaknya siapa ini?
Rita Susanti
sedikit banget sih thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!