Selama hampir empat tahun, Puspita Kusumah dikurung di panti perawatan setelah keluarganya merekayasa tuduhan terhadapnya. Dengan bantuan kuasa hukum independen, ia meminta pengadilan membatalkan penetapan yang membatasi kewenangannya mengurus kepentingan perdata dan memperoleh putusan yang memulihkan haknya. Setelah dokter menyatakan rawat inap tak lagi diperlukan, ia dipulangkan secara resmi dan dapat mengurus warisan suaminya, Arya, termasuk saham Keluarga Mahesa. Namun, ada sebuah rahasia. Suaminya yang dikabarkan tewas dalam kecelakaan pesawat ternyata masih hidup dan menyamar sebagai dosen hukum yang dingin di kampus. Kini keluarga Kusumah dan Mahesa berusaha merebut hartanya, sementara orang yang paling ia rindukan berdiri di hadapannya tanpa sudi mengakuinya. Mengapa Arya memalsukan kematian, dan sampai kapan Puspita harus berpura-pura tidak mengenal suaminya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15 - Kakakku Belum Mati
Selembar kertas kecil terangkat angin senja dari tangan seorang nenek tua, melayang miring di atas beranda rumah panggung, lalu jatuh di antara sela lantai kayu yang lapuk. Puspita menatap kertas itu, lalu menatap wajah nenek yang duduk di hadapannya, dan napasnya berhenti sejenak sebelum sempat ia tarik kembali.
\=\=\=\=
Beberapa jam sebelumnya, di kantor polisi kecamatan...
Puspita duduk di bangku panjang ruang tunggu dengan punggung yang tegak tapi santai. Wajahnya cantik dengan cara yang membuat orang enggan mendekat, terutama mata dalamnya yang selalu tampak malas dan dingin, sekalipun ia hanya mengenakan kemeja putih sederhana dan celana jins. Aura yang terpancar dari dirinya terlalu tegas untuk sekadar gadis yang lewat.
Gadis berdandan tebal yang baru datang tadi menatapnya dari seberang ruangan, dan tanpa sadar sikapnya menjadi lebih berhati-hati. Ia berhenti menggoyang kaki, memperbaiki duduknya, lalu akhirnya bicara duluan.
"Namaku Toto," kata gadis itu.
Puspita mengangkat sebelah alisnya. "Mengambil nama belakang siapa?"
"Nama belakang Nenek. Sudah lama tidak dipakai siapa pun." Toto mengangguk singkat.
"Di mana kau tinggal sekarang?"
"Di kota." Gadis itu berpikir sejenak sebelum melanjutkan, matanya sedikit menyipit. "Kau dan nenekku kenal?"
"Begini," Puspita bersandar sedikit ke depan. "Aku belikan kau apartemen di kota, dan kau tinggal merawat nenekmu di sana. Bisa?"
Toto membuka mulutnya sedikit, lalu menutupnya kembali. Tatapannya bergerak menyusuri Puspita dari sepatu sampai ujung rambut, seolah mencari perangkap di balik tawaran yang terlalu bagus untuk menjadi nyata.
Pintu ruang pemeriksaan terbuka, dan Bu Ratmi dibantu keluar oleh dua petugas perempuan dengan langkah yang masih goyah. Toto buru-buru berdiri dan menjangkau neneknya dengan kedua tangan.
"Nenek, tidak apa-apa?" Toto memegang bahu neneknya dengan lembut.
Melihat wajah cucunya, mata tua itu langsung memerah. Ia tidak sanggup bicara, hanya menggeleng pelan sambil air matanya mengalir membasahi pipinya yang keriput.
"Nenek, ikut Toto ke kota saja." Suara Toto bergetar sedikit. "Toto sudah bisa mencari uang sendiri. Walau tidak banyak, cukup untuk berdua menabung."
Toto memang tidak menggubris tawaran apartemen dari Puspita tadi. Berdasarkan pengalamannya dua tahun hidup sendirian di luar desa, benda yang jatuh dari langit hampir selalu berakhir sebagai tipu daya.
"Nenek tidak mau merepotkanmu lagi, Nak." Suara Bu Ratmi serak dan rendah, dan tubuh bungkuknya terasa seperti membawa beban yang sudah terlalu lama ia pikul sendirian.
Puspita memahami sikap gadis itu dengan cepat. Ia mengubah caranya, mengeluarkan pulpen dari saku, lalu menulis nomornya di halaman buku tamu yang memang tersedia di meja piket, dan menyobek halaman itu dengan rapi.
"Ini nomorku." Ia mengulurkan kertas itu. "Kalian pulang dulu bersama nenekmu. Kalau ada kesulitan, hubungi aku kapan saja."
Toto tidak langsung menerimanya.
"Soal kasus orang tuamu," lanjut Puspita tanpa mengeluarkan emosi apa pun dari suaranya, "sudah kusuruh orang mengurus pengacaranya. Beberapa hari lagi aku akan menghubungimu sendiri."
"Kau benar-benar kenal dengan nenekku?" Toto menerima kertas itu akhirnya, tetapi langsung menoleh pada neneknya. "Nenek, kenal dia?"
Bu Ratmi menatap wajah Puspita lama sekali, menatapnya dari dahi sampai dagu, dari mata sampai mulut, seolah sedang mencocokkan wajah di depannya dengan wajah kecil yang tersimpan di sudut paling jauh ingatannya. Bibirnya bergerak beberapa kali sebelum suara akhirnya keluar.
"Puspita?" tanya nenek itu dengan sangat ragu.
"Aku." Puspita mengangguk sekali. "Aku Puspita, Bu Ratmi."
Bu Ratmi mengangguk pelan, seolah baru menemukan jawaban atas pertanyaan yang lama ia simpan sendiri. Ia tampak ingin mengatakan banyak hal, tetapi kata-katanya hanya berputar di mulut yang akhirnya kembali terkatup. Wajah tua itu masih terlalu lelah untuk percakapan panjang sore itu.
Puspita menahan dirinya sendiri. Ia menatap tubuh tua yang belum pulih itu, lalu memutuskan untuk tidak mendesak lebih jauh. "Sudah, Bu Ratmi istirahat dulu. Nanti aku datang lagi."
Warno dan istrinya ditahan lebih dulu di kantor polisi kecamatan untuk pemeriksaan lanjutan. Menjelang senja, Puspita dan Yusuf kembali ke Kota Wirasaba menemani Toto dan Bu Ratmi, setidaknya sampai nenek itu bisa beristirahat di tempat yang layak.
\=\=\=\=
Senja baru saja turun ketika mereka duduk bersama di beranda rumah panggung di pinggir pasar kota, tempat Toto menyewa bangunan kecil yang sekaligus ia jadikan warung kelontong. Angin laut masuk pelan dari sela pagar kayu, membawa wangi garam dan asap dapur. Halaman buku tamu yang disobek di kantor polisi tadi kini sudah berpindah ke pangkuan Bu Ratmi, dan jari-jari keriputnya sesekali membelainya tanpa sadar.
Bu Ratmi memandang Puspita yang duduk di anak tangga beranda, dan kali ini matanya tidak lagi mencari. "Puspita?" panggilnya, kali ini jauh lebih pasti.
Puspita menoleh, dan jantungnya berdegup begitu keras sampai telinganya ikut berdengung. "Aku, Bu Ratmi. Aku Puspita."
Seolah tahu untuk apa Puspita datang mencarinya, tangan tua itu mengetat pada halaman kertas di pangkuannya, dan suaranya pecah pelan. "Dulu Nyonya Retno meneleponku, memintaku mengurus jenazah kakakmu. Empat tahun yang lalu..."
Puspita yang sedari tadi memaksa dirinya tetap tenang akhirnya kehilangan ketenangan itu juga. "Di mana Bu Ratmi menguburnya?" Suaranya bergetar. "Di mana jenazah kakakku disimpan?"
Bu Ratmi tertegun, seolah pertanyaan itu datang dari arah yang tidak ia duga sama sekali. Ia menarik napas dalam, dan matanya yang keruh perlahan-lahan menjadi tajam kembali, seolah baru terjaga dari lamunan panjang. Lama sekali ia diam, lalu akhirnya bersuara, perlahan dan berat.
"Damar tidak mati, Nak."
Halaman buku tamu di pangkuan Bu Ratmi jatuh begitu saja, terangkat sedikit oleh angin senja sebelum melayang turun ke sela lantai kayu yang lapuk. Dunia di depan mata Puspita mendadak menjadi kabur, dan air mata mengalir turun tanpa ia perintahkan sedikit pun. Ia melangkah maju, berjongkok di depan kursi nenek itu, lalu menggenggam kedua tangan tua itu erat-erat seolah takut semuanya hanya ilusi yang akan lenyap kalau ia melepas.
"Apa katamu?" Suaranya pecah. "Ulangi lagi, Bu Ratmi. Ulangi lagi!"
Bu Ratmi menghela napas panjang dan lembut, tangannya yang bebas mengusap punggung tangan Puspita yang menggenggamnya. "Jangan menangis, Nak. Kakakmu tidak mati. Dia sempat bertemu orang baik."
Ia menoleh pada Toto yang berdiri di samping dengan wajah bingung. "Ini Kak Puspita, Toto. Dulu dia tinggal di rumah nenek waktu kecil, kau masih ingat?"
Toto mengangguk perlahan. Ingatannya tentang dua anak kembar yang tinggal di rumah nenek memang kabur, tetapi wajah Puspita di depannya kini perlahan-lahan cocok dengan ingatan samar itu.
"Pus..." Toto hampir memanggilnya, lalu mengurungkan niatnya.
"Di mana kakakku sekarang?" Puspita berjongkok di tempatnya, air matanya masih mengalir tanpa ia usap.
"Awalnya aku kira dia sudah mati." Suara Bu Ratmi mulai berat lagi. "Waktu kubawa pulang ke desa, di jalan aku bertemu seorang dokter yang sedang berkeliling. Dokter itu bilang Damar masih ada napasnya, lalu kami bawakan ke rumah sakit kecamatan."
"Setelah itu?" Puspita hampir tidak bisa mendengar suaranya sendiri.
"Setelah itu ada yang mengadopsi dia." Bu Ratmi memejamkan matanya sejenak, seperti sedang menarik sesuatu dari dasar sumur yang sudah hampir kering. "Keluarga itu... namanya mirip Winata. Dokter yang menemukannya di jalan itu namanya sudah kulupakan."
Otak Bu Ratmi yang sudah berulang kali menerima guncangan hebat sepanjang tahun-tahun terakhir ini memang sudah tidak lagi rapi. Ia lupa mengapa keluarga itu akhirnya memutuskan mengadopsi Damar, dan ia juga lupa nama-nama lain yang sempat ia dengar di rumah sakit itu.
\=\=\=\=
"Pak Karta." Toto menahan warga pemandu itu yang hendak pamit pulang ke desa. "Pak bisa bantu aku mencari orang? Babinya mau kujual lewat koperasi daring, tetapi aku tidak punya banyak relasi pembeli."
"Bisa, tidak masalah!" Pak Karta tertawa lebar. "Nanti kuberitahu teman-teman di koperasi. Babinya bagus-bagus, pasti laku."
"Terima kasih banyak, Pak."
Toto menoleh pada neneknya yang duduk di kursi ayun dengan selimut tipis di pangkuan, lalu kembali pada Puspita yang duduk di anak tangga beranda. "Setelah perkara selesai nanti, babi dan rumah tanahnya akan kujual semua. Nenek dan Toto akan pindah ke kota bersama."
Ia menatap Puspita lurus-lurus. "Kak Puspita, berapa biaya pengacaranya? Nanti Toto ganti pelan-pelan."
"Kau tidak perlu memberiku uang." Puspita menjawab tanpa menoleh, seluruh tatapannya tertuju pada lampu kota yang berkedip kecil di kejauhan. "Nenekmu dulu baik sekali pada kakakku dan padaku. Semua ini memang seharusnya kulakukan."
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan. "Setelah kalian pindah ke kota, kusiapkan tempat tinggal yang layak. Kalian tidak akan tinggal di warung kecil selamanya."
Teringat tawaran di kantor polisi tadi, Toto buru-buru menggeleng. "Jangan diberi rumah. Toto sudah punya tempat tinggal dan sanggup mengurus nenek sendiri. Walaupun nenek memang baik pada Kak Puspita, kali ini juga Kak Puspita yang menyelamatkan nenek. Kalau Kak Puspita tidak datang tepat waktu tadi, niat ayahku pasti sudah berhasil."
Puspita menjawab datar, hampir tanpa emosi. "Tidak apa-apa. Warisan mantan suamiku banyak."
Yusuf yang berdiri di tepi beranda menatap langit malam Kota Wirasaba dengan ekspresi yang sangat sulit dijelaskan. Dalam diamnya, ia memutar ulang kalimat itu sekali lagi di kepalanya, lalu menarik napas panjang.
Nona, bagaimana bisa kau menyebutnya mantan suami.