Dea, alias Althea Twina Darmawan, tumbuh sebagai anak angkat yang kehilangan kasih sayang setelah ibu angkatnya melahirkan anak kandung. Terbiasa disalahkan, ia memilih mengabdikan hidupnya sebagai dokter.
Namun, hidupnya berubah ketika Linjaryani, calon istri Elden Zarreti, seorang tuan tanah kaya raya yang dingin dan berkuasa, meninggal secara misterius. Dea dijadikan kambing hitam, sementara Elden, dibutakan dendam, menghukumnya tanpa mencari kebenaran.
Pernikahan paksa dan perlakuan kejam Elden meninggalkan luka mendalam dalam diri Dea. Ketika bukti baru mengungkap pengkhianatan di balik kematian Linjaryani, Elden menyadari kesalahannya.
Mampukah ia menebus kehancuran yang diciptakannya, atau kebencian Dea telah menutup pintu maaf selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prolog
Kilau lampu gantung mewah menari di langit-langit kamar hotel kelas luxury. Dinding-dindingnya berlapis ukiran bertinta emas, karpetnya tebal, dan ranjang di tengah ruangan tampak bagai singgasana kerajaan. Tapi, pada malam itu, tempat ini tak lebih bagai penjara dengan sutra yang membungkam.
Dea menggigil, tubuhnya terlipat di antara seprai yang sudah kusut. Kebaya krem sederhana masih menempel setengah hati di pundaknya. Pakaian itu sobek di beberapa bagian. Ia menoleh pelan, suara parau lolos dari bibirnya yang bergetar.
“A-aku ... sakit ... Tuan, pelan—”
Tapi suara itu langsung lenyap saat tangan Elden membekap mulutnya. Tatapan pria itu dingin dan kosong. Tubuhnya bergerak tanpa belas kasih, menghentak seolah sedang meremukkan harga diri yang selama ini Dea jaga mati-matian.
Air mata Dea tumpah. Ia menjerit dalam diam, dadanya sungguh terasa sangat sesak. Tangannya mencengkeram seprai seolah itu satu-satunya yang bisa ia genggam dalam dunia yang tiba-tiba menjadi begitu kejam.
Tak ada cinta di sana. Tak ada kelembutan. Hanya deru napas berat dan rasa sakit yang menancap bagaikan paku.
Ketika segalanya selesai, Elden terkulai di atas tubuhnya, dingin dan berat. Bibir Dea bergetar, tapi tak ada suara. Hanya dentuman jantung yang terdengar keras di telinganya sendiri, dan rasa malu yang membakar tulangnya dari dalam.
Elden menarik diri. Napasnya memburu, dan tiba-tiba ... plak! ... tamparan panas mendarat di pipi Dea yang sudah basah oleh air mata. Dea tersentak. Tubuhnya mengejang.
Senyuman sinis terulas di wajah pria itu. Ia bangkit, meraih kemeja putihnya tanpa menatap ke arah Dea kembali. Beberapa detik kemudian, tangannya mencengkeram leher Dea.
“Sekarang kau bukan gadis suci lagi,” bisiknya, nadanya getir dan dingin.
Dea terisak, tubuhnya melingkar, mengecil, seolah ingin menghilang dari dunia yang terasa begitu jahat padanya.
“Dan, mulai detik ini juga, kau ku talak.”
Tangan Elden melepas cekikannya, menyisakan bekas merah lebam di kulit leher Dea. Lalu ia tertawa kecil. Tawa pendek yang terasa lebih menyakitkan daripada ribuan kata makian.
“Selamat tinggal. Anggap saja tidur semalam di hotel ini sebagai kompensasi perpisahan dan pernikahan kita,” ucapnya sambil merapikan lengan bajunya. “Jangan lupa kau bersihkan tubuh kotormu itu!”
Pintu ditutup dengan satu hentakan. Dan saat itu juga, suasana berubah hening.
Dea tak bisa langsung bergerak. Butuh waktu untuk napasnya kembali bergerak normal. Sementara otaknya terasa berhenti berdenyut. Ia meremas seprai, lalu menatap langit-langit.
Sakit di tubuhnya tak sebanding dengan luka di dalam dadanya.
Dengan tertatih, ia bangkit. Jemarinya gemetar saat membenahi pakaian yang sempat direnggut paksa oleh pria yang hanya beberapa jam menjadi suaminya. Langkahnya pelan, penuh rasa perih yang terasa begitu menusuk.
Ia berjalan menuju pintu, membukanya dengan perlahan, lalu bergerak menuju lift dan menekan tombol lift itu.
Jarinya bergerak, memilih lantai tertinggi gedung hotel ini. Lift bergerak mengantarkannya pada bagian terbuka gedung ini. Di sana, tampak kolam renang, tetapi tak ada yang berada di sana selain dirinya.
Angin malam dari lorong menyapa kulitnya yang memar di mana-mana. Benaknya hanya ada satu suara yang terus berulang tiada henti.
'Kalau aku jatuh sekarang, semuanya akan selesai. Tak ada lagi yang bisa menyakitiku.'
Angin malam di rooftop hotel menusuk kulit, membawa serta suara kota yang samar. Dea berdiri di ujung lantai paling atas, tangannya mengepal, matanya menerawang ke bawah. Jutaan lampu menyala, tapi tak satu pun memberi kehangatan. Dunia terasa jauh, dan dingin.
Langkah kakinya sudah setengah memanjat pembatas. Ketika itu pula lah sebuah suara terdengar cemas, penuh kepanikan, menghentikan keinginannya untuk meninggalkan dunia lebih cepat dari lada waktunya.
“Dea! Jangan!”
Suara yang dulu begitu ia rindukan. Dea menoleh. Samar-samar, ia melihat sesosok pria berlari mendekat, napasnya memburu. Adityo.
Satu detik kemudian, Adityo meraih tubuh Dea, menariknya menjauh dari pagar pembatas, dan langsung memeluknya erat.
Tapi bukan kehangatan yang Dea rasakan.
Detik itu juga, tubuhnya menegang. Sorot matanya kosong, lalu membelalak. Ujung jari Adityo yang menyentuh punggungnya terasa seperti cambuk. Sentuhan yang hanya sekilas itu, membawanya kembali pada ingatan yang baru saja terjadi beberapa menit yang lalu.
Desah napas pria yang baru beberapa waktu dikenalnya. Hentakan penuh dendam. Tamparan. Cekikan. Darah. Memburu cepat dalam benak membuat napas Dea tercekat.
Tubuhnya langsung bergetar hebat. Giginya gemeletuk. Lututnya goyah dan wajahnya pucat pasi seperti kertas.
“A-Adityo ... j-jangan sentuh aku ... j-jangan...” bisiknya ketakutan, matanya liar, nafasnya sudaj memburu.
Adityo tersentak. Ia melepas pelukannya dengan perlahan dan hati-hati, seolah Dea terbuat dari kaca retak yang siap untuk pecah karena satu sentuhan.
“Ma-maaf ... aku minta maaf... maaf... aku cuma, aku cuma ingin menyelamatkanmu...” suaranya Adityo juga bergetar.
Dea jatuh terduduk, memeluk tubuhnya sendiri. Tangisnya pecah tanpa suara. Bahunya berguncang hebat. Seolah semua rasa sakit dan kehinaan yang ia tahan selama ini tumpah malam itu juga.
Adityo ikut berjongkok di hadapannya, tetapi ia tetap menjaga jarak. Mata pria itu merah, rahangnya mengeras.
“Siapa yang melakukan ini padamu, Dea?” tanyanya pelan, meski di balik suaranya yang tenang, amarahnya mendidih.
Dea hanya menggeleng. Ia tak sanggup menjawab. Yang bisa ia lakukan hanyalah memeluk dirinya lebih erat, berharap tubuh dan jiwanya bisa kembali utuh, meski hanya sedikit saja.
Go To Bab 1 ~>
Ingat Dea sedang mengandung anakmu
Aneh klo tidak dipantau & dilindungi bodyguard bayangan keluarga, ceroboh !!
Dan Josep berusaha melindungi Stella.
Yang pasti...kali ini Dea tidak akan tinggal diam.
Jangan2 ada main dia dengan Stella