Sinopsis
Zain Arvendra Atmaja, seorang remaja yang seakan tak pernah lelah terlibat masalah di sekolahnya. Setelah berbagai kejadian yang menumpuk, ayahnya akhirnya mengambil keputusan Zain harus pindah ke sebuah SMA berbasis asrama yang dikenal mampu membimbing anak-anak yang sedang kehilangan arah.
Awalnya Zain menolak keras. Namun seiring berjalannya waktu, ia perlahan mulai menerima kenyataan itu. Di asrama inilah ia bertemu dengan Vanya, seorang gadis ceroboh yang dengan polosnya kerap menyeret Zain ke dalam berbagai situasi baru yang tak terduga.
Cerita terasa semakin rumit ketika Keira Cattleya Wiratama, kekasihnya yang selama ini jauh dari sana, tiba-tiba memutuskan untuk pindah ke asrama yang sama pula.
Tiga orang, satu atap, dan hati-hati yang mulai saling bersilang. Bagaimana kelanjutan cerita mereka ? Baca selengkapnya !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah Mayaddah f, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16 SATU HATI, BANYAK CERITA
Setelah keberhasilan Keira di lomba pidato, suasana di asrama terasa semakin hangat dan akrab. Semua orang mulai merasa lebih bebas untuk berbagi cerita, bukan hanya di dalam kamar, tapi juga di ruang makan, di perpustakaan, maupun saat kegiatan akhir pekan bersama. Zain menyadari, di asrama ini bukan hanya ada lima atau enam orang yang saling mengenal. Ada ratusan hati yang sedang berjuang, dan masing-masing punya kisah yang tak kalah berharga.
Suatu sore saat kegiatan kumpul bersama di aula kecil, Rian mengajak semua orang duduk melingkar. "Kita sering bercerita di kamar kita masing-masing, tapi mungkin ada teman-teman lain yang juga ingin berbagi. Tidak ada yang akan menghakimi di sini, siapa pun yang merasa siap, silakan" Ucap Rian
Untuk sesaat hening, lalu seorang gadis bernama Sari yang tinggal di asrama putri mengangkat tangannya pelan denagn suaranya gemetar namun tegas.
"Aku dikirim ke sini karena aku gagal ujian masuk sekolah kedokteran yang diimpikan ayahku sejak aku kecil" Ucap Sari jujur.
"Ayahku adalah seorang dokter terhormat, dan seluruh keluargaku berharap aku mengikuti jejaknya. Saat aku gagal, aku merasa seperti beban yang memalukan keluarga. Aku menolak berbicara dengan siapa pun selama berbulan-bulan, aku pikir aku tidak berguna. Tapi di sini aku belajar bahwa kegagalan bukan berarti aku tidak mampu, mungkin saja jalan itu memang bukan jalanku. Sekarang aku sedang menjajaki minat baru di bidang desain dan untuk pertama kalinya, aku merasa bersemangat membayangkan masa depan, bukan karena orang lain menginginkannya, tapi karena aku sendiri yang menginginkannya" Lanjut Sari sambil tersenyum bangga
Tepuk tangan hangat terdengar, kemudian giliran Bayu, teman dari kamar sebelah yang biasanya pendiam.
"Aku pernah terlibat geng motor dan sering terlibat perkelahian yang tidak perlu" Akunya menunduk malu.
"Ibuku bekerja sebagai penjual sayur dari pagi sampai sore untuk membiayaiku, aku malu mengakuinya, tapi dulu aku justru malu melihatnya datang ke sekolah dengan pakaian sederhana. Aku malu pada teman-temanku yang kaya, sampai suatu hari aku pulang terlambat dan melihat ibuku menungguku di depan gerbang sekolah sambil memeluk dirinya yang kedinginan, karena dia tidak mau masuk sebelum aku pulang agar aku tidak kehilangan jejaknya. Saat itu aku sadar, aku malu pada orang yang salah. Aku yang seharusnya bangga memiliki ibu yang begitu kuat, di sini aku belajar bahwa nilai seseorang bukan dari apa yang mereka miliki, tapi dari seberapa tulus mereka menyayangi kita" Ujar Bayu
Mata semua yang hadir terasa panas tapi ak berhenti di situ, Laras juga ikut bercerita.
"Aku dulu sering berpura-pura sakit agar tidak perlu ke sekolah, aku takut berbicara di depan umum, takut salah, takut dinilai orang lain. Rasa takut itu membuatku mengurung diri. Orang tuaku mengira aku malas, ternyata aku sedang berjuang melawan kecemasan yang aku sendiri belum mengerti. Di sini aku belajar bicara pelan-pelan. Aku belajar bahwa salah itu wajar, dan tidak semua orang akan menyukaiku dan itu tidak apa-apa. Aku tidak perlu sempurna untuk layak ada di sini" Ucap Laras
Zain mendengarkan mereka satu per satu, hatinya terasa meluap. Selama ini ia hanya fokus pada dunianya sendiri, ternyata di sekelilingnya ada begitu banyak hati yang juga sedang berjuang masing-masing dengan caranya sendiri. Tidak ada yang benar-benar sendirian.
Keira duduk di samping Zain, menyandarkan kepalanya lembut ke bahu Zain dengan senyum yang tenang.
"Melihat mereka, aku merasa masalahku tidak terlalu berat dibandingkan mereka. Tapi anehnya, justru karena kita sama-sama tidak sempurna, kita bisa saling menguatkan" Ujar Keira
Zain menggenggam tangan gadis itu erat, namun lembut.
"Kesempurnaan itu membosankan, Ley. Justru di ketidaksempurnaan kita, kita menemukan alasan untuk saling membutuhkan. Mungkin tujuan utama kita berada di sini bukan untuk memperbaiki diri, tapi untuk menyadari bahwa kita tidak perlu berjuang sendirian" Jawab Zain
Sore itu berakhir dengan perasaan yang ringan bagi semua orang, mereka pulang ke kamar masing-masing dengan hati yang lebih luas dan menyadari bahwa di dunia yang luas ini, selalu ada seseorang yang memahami, selalu ada teman yang mendengarkan, dan selalu ada tempat untuk pulang.
Orang lain masih banyak weeeh, masa iya sama mantan lagi seeehhh???
🗿🗿🗿
Zain udh terlanjut sakit krnamu, Keira...
😏 jdi jalanin seadanya aja, gk usah milih
hehe pis ya mas Zain...