Setelah akar spiritual emasnya dirampas secara paksa oleh sepupunya sendiri dan tubuhnya dibuang ke Jurang Abu Api, Lin Xuan—seorang pemuda klan cabang yang sekarat—justru menyatu dengan Tungku Abu Takdir peninggalan zaman purba. Dari abu kehancuran, ia menempuh jalur kultivasi terlarang yang mampu melebur kutukan, meracik pil dari racun mematikan, dan menebas tatanan langit yang korup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Racun yang Dilebur
Prang!
Cangkir giok putih di tangan Lin Tianhao hancur berkeping-keping saat dibanting ke lantai Aula Utama Klan Lin. Wajah pemuda yang baru beberapa hari menikmati pujian sebagai calon murid inti Sekte Awan Biru itu tampak memerah padam karena murka.
Di bawah tangga aula, tubuh Lin Hu yang berlumuran darah tergeletak di atas tandu kayu dengan lengan kanan patah dan napas tersengal-sengal.
"Sampah tak berguna!" bentak Lin Tianhao sambil menendang tiang kayu di dekatnya. "Enam orang kultivator klan utama—termasuk kau yang sudah berada di Lapis Tujuh—bahkan tidak sanggup menyentuh ujung pakaian Lin Xuan?! Bukankah Kakek sendiri yang mencabut akar spiritualnya malam itu?!"
Di kursi kehormatan, Tetua Agung Lin Zhen mengelus janggut kelabunya dengan sorot mata menggelap. Setelah memeriksa luka di dada Lin Hu, kerutan di dahi pria tua itu semakin dalam.
"Tenangkan dirimu, Tianhao," ucap Lin Zhen dengan suara berat. "Meridian bahu Lin Hu dihancurkan oleh sejenis energi asing yang sangat pekat dan mengandung daya pelapukan aneh. Tampaknya, saat jatuh ke Jurang Abu Api, anak haram itu tidak mati melainkan tidak sengaja menelan tanaman obat kuno atau menemukan warisan kultivator yang mati di dasar jurang."
"Kalau begitu, tunggu apa lagi, Kakek?!" desis Lin Tianhao penuh kebencian. "Biar kupimpin para penjaga elit untuk mengepung Paviliun Bambu dan memenggal kepalanya sekarang juga!"
"Bodoh!" hardik Lin Zhen tajam. "Kabar kembalinya Lin Xuan pagi ini sudah terdengar oleh Tetua Kedua dan Tetua Keempat dari cabang samping. Mereka sejak awal sudah curiga mengapa Lin Xuan tiba-tiba dikabarkan jatuh ke jurang tepat sebelum utusan Sekte Awan Biru datang. Jika aku turun tangan secara terbuka menyerbu Paviliun Bambu hari ini, para tetua cabang akan punya alasan untuk menuntut penyelidikan di depan utusan sekte lima hari lagi!"
Lin Tianhao terdiam dengan gigi gemeretak. "Lalu kita biarkan saja dia hidup sampai Upacara Leluhur?"
Senyum kejam perlahan terukir di bibir keriput Lin Zhen. "Tentu saja tidak. Jika klan utama tidak bisa bergerak di bawah sinar matahari, maka gunakan pisau di dalam kegelapan. Malam ini, aku akan mengerahkan tiga algojo Bayangan Darah yang selama ini kusimpan di luar kota. Mereka semua berada di Alam Pemurnian Tubuh Lapis Delapan dan ahli menggunakan Racun Kabut Bangkai. Sekalipun Lin Xuan punya sepuluh nyawa, dia tetap akan membusuk menjadi genangan darah malam ini!"
Malam harinya, kabut tebal menyelimuti Hutan Bambu Hitam yang berbatasan langsung dengan halaman belakang Klan Lin.
Lin Xuan duduk bersila di atas sebongkah batu datar di tengah hutan, seolah sedang bermeditasi tanpa penjagaan. Pedang Abu Hitam diletakkan melintang di atas kedua lututnya.
"Bocah, ketiga tikus yang bersembunyi di balik pohon arah barat daya itu sudah menaburkan Racun Kabut Bangkai mengikuti arah angin," ujar suara Tetua Gu di dalam benak Lin Xuan. "Racun itu diracik dari empedu lipan makam dan bunga bangkai hitam. Begitu terhirup oleh kultivator Pemurnian Tubuh Lapis Delapan sekalipun, darah mereka akan membeku dan organ dalam mereka akan meleleh dalam waktu sepuluh napas."
Bibir Lin Xuan melengkung membentuk senyum tipis.
"Justru karena mencium aroma racun merekalah aku sengaja keluar dari Paviliun Bambu untuk memancing mereka kemari, Tetua Gu," balas Lin Xuan dalam hati. "Bagi orang lain, kabut itu adalah pencabut nyawa. Tapi bagi Tungku Abu Takdir... itu adalah suplemen gratis untuk menembus Lapis Delapan."
Di balik rimbunnya pepohonan bambu, tiga sosok berpakaian serba hitam dengan cadar tengkorak saling bertukar pandang. Melihat tubuh Lin Xuan mulai bergetar dan kepalanya tertunduk lemas setelah menghirup kabut ungu tipis yang mereka hembuskan melalui pipa bambu, ketiganya menyeringai puas.
"Heh, Tetua Agung terlalu berhati-hati. Bocah enam belas tahun tetaplah bocah ingusan, baru mencium Racun Kabut Bangkai selama lima napas saja meridiannya sudah lumpuh," bisik pemimpin algojo yang memegang sepasang belati bergerigi hijau. "Ayo, penggal kepalanya dan bawa ke hadapan Tuan Muda Tianhao!"
Srak! Srak! Srak!
Ketiga algojo Pemurnian Tubuh Lapis Delapan itu melesat keluar dari bayangan pohon secara bersamaan, membentuk formasi segitiga yang menutup seluruh celah pelarian Lin Xuan. Belati beracun di tangan mereka mengarah tepat ke jantung, tenggorokan, dan pelipis pemuda itu!
Namun, ketika ujung belati mereka tinggal berjarak tiga inci dari kulit Lin Xuan—
Pemuda yang semula tertunduk lemas itu perlahan mengangkat kepalanya. Tidak ada tanda-tanda keracunan sedikit pun di wajahnya. Sebaliknya, sepasang matanya berkilat kelabu di tengah kegelapan malam!
"Kalian bertiga punya racun yang lumayan," ucap Lin Xuan tenang. "Sayangnya, dosisnya masih kurang banyak."
Boom!
Sebelum ketiga algojo itu sempat menarik kembali serangan mereka, gelombang aura dahsyat meledak dari tubuh Lin Xuan!
Seluruh Racun Kabut Bangkai yang barusan dihirup oleh Lin Xuan telah dilebur oleh Tungku Abu Takdir menjadi cairan energi murni yang langsung merobek sekat kultivasinya menuju Alam Pemurnian Tubuh Lapis Delapan!
"A-apa?! Dia tidak keracunan?!" Pemimpin algojo itu terbelalak ngeri.
Cring!
Pedang Abu Hitam terhunus dari sarungnya bagaikan kilat hitam di malam buta.
"Jurus Pertama: Jejak Tanpa Bayangan!"
Tubuh Lin Xuan berubah menjadi bayangan kabut yang menembus celah di antara dua algojo di sisi kiri dan kanan. Tanpa sempat melihat bagaimana pedang itu berayun, kedua algojo pendamping itu tiba-tiba membeku di tempat. Sehelai garis abu-abu tipis muncul di leher mereka sebelum keduanya ambruk bersimbah darah!
"Kau—monster macam apa kau ini?!"
Pemimpin algojo yang tersisa merasakan hawa dingin merayap dari telapak kakinya hingga ke ubun-ubun. Ia segera membalikkan tubuhnya dan mengerahkan seluruh kecepatan kakinya untuk kabur menembus hutan.
"Datang tanpa diundang, lalu ingin pergi begitu saja?"
Lin Xuan mengayunkan Pedang Abu Hitam secara horizontal dari jarak sepuluh langkah.
"Jurus Kedua: Bara Membelah Hampa!"
Gelombang bulan sabit berwarna abu-abu gelap melesat membelah tiga batang pohon bambu tebal dan menghantam punggung pemimpin algojo tersebut. Pria itu menjerit keras sambil memuntahkan darah hitam, lalu jatuh tersungkur di tanah dengan tulang belakang retak.
Lin Xuan melangkah mendekat dan menginjak punggung pria itu. Saat memeriksa kantong pinggang sang pemimpin algojo, tangan Lin Xuan menemukan sebuah lencana besi bergambar kelelawar merah serta secarik peta kulit domba yang memuat jalur rahasia di bawah Tambang Batu Roh Gunung Utara—tempat orang tuanya tewas lima tahun silam.