“Ketika aku masih menjadi Tuan Muda, kalian semua menghormatiku. Namun, setelah dantianku hancur, bahkan keluargaku sendiri menganggapku sampah.”
“Aku telah mengorbankan segalanya untuk kalian. Apakah penghinaan dan pengkhianatan ini balasan yang pantas kuterima?”
Dikhianati sekte, dihina keluarga, dan ditinggalkan orang-orang yang dicintainya, Qin Xuan kehilangan segalanya.
Namun, ketika semua orang menganggapnya tidak berguna, sebuah pagoda misterius justru memilihnya sebagai penguasa.
Mereka telah menghancurkan hidupnya. Kini, Qin Xuan akan membuktikan bahwa mereka telah meremehkan orang yang salah.
🙏🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Menara Pertarungan
Setelah sosok Iblis Pedang menghilang, Qin Xuan masih berdiri di tempatnya. Berbagai ingatan mengenai ilmu pedang terus mengalir dalam pikirannya, membuatnya membutuhkan waktu untuk memahami apa yang baru saja terjadi.
Ketika aliran ingatan itu akhirnya berhenti, Qin Xuan menyadari bahwa dirinya telah menerima seluruh warisan ilmu pedang Iblis Pedang.
Di dalamnya tersimpan pengalaman bertarung, pemahaman tentang penggunaan pedang, serta berbagai teknik yang dikembangkan selama ribuan tahun.
Qin Xuan sulit menyembunyikan kegembiraannya. Ia semula hanya berharap memperoleh Darah Sejati Iblis Pedang untuk meningkatkan kultivasi. Tidak disangka, ia juga mendapatkan warisan ilmu pedang dari salah satu pendekar terkuat pada zaman kuno.
Ia segera mengambil Pedang Iblis Hitam, lalu memejamkan mata untuk mempelajari ingatan tersebut. Semakin lama ia memahaminya, semakin jelas pula kekurangan dalam teknik pedang yang selama ini digunakannya.
Ketika kembali membuka mata, Qin Xuan segera mengayunkan pedang.
Gelombang api hitam melesat dan menghantam dinding Pagoda Pemakaman Langit.
Itu masih Jurus Pertama Teknik Pedang Gelombang Api. Qin Xuan bahkan tidak menggunakan kekuatan Titik Energi Telapak Tangan. Namun, daya serangnya meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan sebelumnya.
Perbedaannya bukan berasal dari tambahan energi, melainkan dari cara ia menggunakan pedang.
Melalui ingatan Iblis Pedang, Qin Xuan seolah telah berlatih jurus tersebut ribuan kali. Ia memahami kapan harus mengerahkan tenaga, bagaimana mengarahkan bilah pedang, serta cara mengendalikan energi agar tidak terbuang sia-sia.
Qin Xuan kembali mengangkat senjatanya.
Kali ini, gelombang api hitam yang lebih kuat melesat keluar.
“Jurus Kedua!”
Setelah serangan itu menghantam dinding, Qin Xuan segera melanjutkannya dengan ayunan berikutnya.
“Jurus Ketiga!”
Gelombang api ketiga memiliki kekuatan paling besar. Ledakannya mengguncang bagian dalam pagoda, bahkan membuat Qin Xuan sendiri terkejut.
Ia sebelumnya hanya menguasai Jurus Pertama. Kini, berkat warisan Iblis Pedang, ia mampu menggunakan tiga jurus sekaligus tanpa perlu mempelajarinya satu per satu.
Namun, ketika menghentikan latihannya, Qin Xuan menyadari lebih dari separuh energi dalam tubuhnya telah terkuras.
Ketiga jurus ini memang kuat, tetapi aku tidak bisa menggunakannya sembarangan.
Ia harus mempertimbangkan keadaan lawan sebelum mengeluarkan serangan tersebut.
Ketika hendak melanjutkan pemeriksaan warisan, Qin Xuan melihat sebuah benda tergeletak di depan jasad Iblis Pedang.
Benda itu berupa lambang hitam sebesar telapak tangan, berbentuk pedang lebar. Pada permukaannya terukir singgasana yang tersusun dari banyak pedang, sedangkan bagian belakangnya memiliki tulisan yang berarti Lambang Pedang.
Qin Xuan teringat pesan Iblis Pedang sebelum kesadarannya menghilang. Dengan lambang tersebut, ia dapat memberikan perintah kepada Sekte Pedang.
Qin Xuan mengambilnya, kemudian membungkuk hormat di hadapan jasad Iblis Pedang.
“Terima kasih atas warisan yang Senior tinggalkan. Jika suatu hari aku bertemu keturunan Senior yang membutuhkan pertolongan, aku akan membantu mereka semampuku.”
Setelah menyimpan lambang itu, Qin Xuan mendengar suara yang sudah dikenalnya.
“Sepertinya kau berhasil memperoleh seluruh warisannya.”
Sosok misterius muncul tidak jauh darinya.
Qin Xuan segera memberi hormat.
“Semuanya berkat bantuan Senior, sehingga aku bisa mendapatkannya.”
Sosok itu memperhatikan Qin Xuan sejenak.
“Kekuatanmu juga sudah mencapai delapan puluh sembilan banteng. Lumayan, meskipun masih ada sebagian Darah Sejati Iblis Pedang yang belum sepenuhnya kau serap.”
Qin Xuan mengangguk. Ia memang masih merasakan energi yang tersimpan di dalam tubuhnya.
“Kalau seluruhnya berhasil kuserap, apakah kekuatanku akan meningkat lagi?”
“Tentu. Tetapi jangan cepat puas. Para pemilik Pagoda Pemakaman Langit sebelum dirimu mampu mencapai kekuatan sembilan puluh sembilan banteng ketika berada di Alam Bela Diri Sejati.”
Qin Xuan terkejut.
Ia mengira kekuatannya yang sekarang sudah sangat sulit dicapai. Namun, ternyata para pendahulunya mampu melangkah jauh lebih tinggi.
Sosok misterius itu melanjutkan, “Kau tidak akan bisa mengubah sisa kekuatan Darah Sejati Iblis Pedang menjadi kekuatanmu sendiri, hanya dengan duduk berkultivasi. Kau harus banyak melakukan pertarungan."
Qin Xuan memikirkan perkataan tersebut.
Ia membutuhkan tempat untuk menghadapi banyak lawan tanpa harus mencari musuh. Jika memungkinkan, tempat itu juga harus memberinya penghasilan untuk membeli sumber daya kultivasi.
Setelah mempertimbangkannya, sebuah tempat muncul dalam pikirannya.
Menara Pertarungan.
Di tempat itu, ia bisa menghadapi berbagai pendekar untuk mengasah kemampuan sekaligus mendapatkan hadiah dari setiap pertarungan yang berhasil dimenangkannya.
Qin Xuan segera memutuskan untuk pergi kesana.
Setelah menyelesaikan latihannya, Qin Xuan meninggalkan Pagoda Pemakaman Langit. Tanpa terasa, ia telah menghabiskan tiga hari tiga malam untuk berkultivasi di dalamnya.
Ia lebih dahulu menemui adiknya.
Ling'er masih terbaring tak sadarkan diri di atas ranjang. Meski belum menunjukkan tanda-tanda akan sadar, kondisinya tetap stabil berkat perawatan Liu Qingyue.
“Ibu, aku harus pergi beberapa hari,” kata Qin Xuan setelah memastikan keadaan Ling'er.
Liu Qingyue langsung menatapnya dengan cemas.
“Kau mau pergi ke mana?”
“Kota Tianfeng. Ada sesuatu yang harus kulakukan di sana.”
“Tapi, Xuan'er, bukankah Keluarga Qin masih memburumu?” tanya Liu Qingyue dengan wajah cemas.
“Aku akan berhati-hati. Ibu dan Ling'er sebaiknya tetap di sini sampai aku kembali.”
Qin Xuan kemudian menjelaskan bahwa ia telah menyiapkan persediaan makanan untuk beberapa bulan di ruang bawah tanah.
Ia juga memasang formasi sederhana di sekitar halaman. Jika ada orang asing menerobos masuk, formasi tersebut akan memberikan peringatan dan menahan mereka untuk sementara.
Liu Qingyue mendengarkan dengan saksama.
“Kalau begitu, berhati-hatilah, Xuan'er,” pesan Liu Qingyue sambil menatap putranya dengan cemas.
Qin Xuan mengangguk. Sebelum pergi, ia kembali memandangi Ling'er yang masih belum sadar.
Ucapan sosok misterius bahwa tidak ada seorang pun di dunia ini yang mampu membunuh Ling'er masih mengganggu pikirannya. Namun, karena belum memahami maksudnya, Qin Xuan memilih memusatkan perhatian pada peningkatan kekuatan.
Ia berpamitan kepada ibunya, lalu meninggalkan halaman.
Di jalanan Kota Qingquan, pembicaraan mengenai dirinya terdengar hampir di setiap tempat.
Orang-orang membicarakan kematian anggota Keluarga Qin dan Keluarga Sun, termasuk keberhasilan Qin Xuan melarikan diri dari kejaran Tetua Agung.
Sebagian menganggap Qin Xuan telah mendapatkan kembali kekuatan lamanya. Namun, ada pula yang percaya bahwa ia hanya menggunakan teknik terlarang Sekte Bintang Langit untuk memulihkan kultivasinya sementara waktu.
Kabar mengenai pertandingan melawan Qin Xingqiong dalam upacara keluarga setengah bulan lagi juga telah menyebar.
Selain itu, Keluarga Sun menawarkan hadiah seratus ribu koin emas kepada siapa pun yang berhasil menangkap Qin Xuan.
Mendengar semua itu, Qin Xuan yang memakai jubah berpenutup kepala hanya melanjutkan perjalanan.
Meski sudah jauh lebih kuat, Qin Xuan belum ingin menghadapi Keluarga Qin. Ia memilih memanfaatkan waktu sebelum pertandingan untuk meningkatkan kekuatannya agar bisa mengalahkan Qin Xingqiong tanpa memberi lawannya kesempatan membalas.
Ia ingin menyerap seluruh kekuatan Darah Sejati Iblis Pedang terlebih dahulu dan berusaha mencapai batas sembilan puluh sembilan banteng.
Setelah meninggalkan Kota Qingquan, Qin Xuan bergerak menuju timur.
Beberapa puluh kilometer kemudian, Kota Tianfeng mulai terlihat.
Sebagai kota terbesar di Provinsi Barat Daya Dinasti Zhao Agung, Tianfeng jauh lebih ramai daripada Qingquan.
Bangunan-bangunan tinggi berdiri di sepanjang jalan, sementara para pedagang dan pendekar dari berbagai daerah memenuhi kota tersebut.
Qin Xuan memasuki gerbang kota bersama rombongan pengunjung lainnya.
Tidak lama kemudian, perhatiannya tertuju pada sebuah menara hitam yang menjulang tinggi di pusat kota.
Itulah Menara Pertarungan.
Menara tersebut merupakan bagian dari organisasi besar yang mengelola arena pertarungan di berbagai wilayah. Cabangnya tersebar di banyak dinasti, bahkan hingga kekaisaran yang jauh lebih kuat.
Para pendekar datang ke tempat itu untuk menguji kemampuan, memperoleh hadiah, dan meraih ketenaran melalui kemenangan di arena pertarungan.
Menara Pertarungan memiliki tiga jenis arena. Arena tingkat Manusia diperuntukkan bagi pendekar Alam Bela Diri Sejati, sedangkan arena tingkat Bumi digunakan oleh ahli Alam Bintang Langit. Adapun arena tingkat Langit hanya dibuka ketika ada petarung yang memenuhi persyaratan.
Dengan kultivasinya saat ini, Qin Xuan hanya dapat mengikuti pertandingan di arena tingkat Manusia.
Setelah memasuki menara, ia mendatangi meja pendaftaran.
Seorang petugas perempuan segera menyambutnya.
“Selamat datang. Apa Tuan ingin mendaftar sebagai peserta pertarungan?”
“Benar.”
Petugas itu meminta Qin Xuan mencatatkan identitasnya dan membayar biaya pendaftaran sebesar sepuluh koin perak.
Setelah selesai, ia menyerahkan sebuah kartu giok.
“Ini kartu poin Tuan. Setiap kemenangan di arena tingkat Manusia akan memberikan sepuluh poin. Jika berhasil mengumpulkan seratus poin, Tuan berhak menantang penguasa arena.”
Petugas tersebut juga menjelaskan bahwa poin dapat digunakan untuk memperoleh potongan harga saat membeli barang di toko maupun tempat pelelangan milik Menara Pertarungan.
Qin Xuan menerima kartu itu. Kartu tersebut sudah memiliki sepuluh poin awal.
Kemudian, petugas mengantarnya menuju lantai pertama.
Begitu memasuki arena, Qin Xuan melihat ratusan panggung pertarungan yang dikelilingi penonton. Sorakan dan teriakan terdengar dari berbagai arah.
Tiba-tiba, suara riuh dari arena nomor tiga puluh sembilan menarik perhatiannya.
Di atas panggung berdiri dua petarung.
Yang pertama adalah Li Wei, lelaki berusia sekitar empat puluh tahun yang memegang tombak panjang. Lawannya, Dan Ming, bertubuh besar dengan kepala botak dan membawa palu hitam.
Petugas perempuan di samping Qin Xuan tampak mengenali keduanya.
“Itu Li Wei dan Dan Ming. Mereka sama-sama sudah menang delapan kali berturut-turut. Pemenang pertandingan ini akan mencatat kemenangan kesembilan.”
Qin Xuan memperhatikan panggung dengan lebih serius.
Li Wei bergerak lebih dulu. Tombaknya berputar cepat, menciptakan puluhan bayangan ujung tombak yang menyerbu Dan Ming seperti gelombang.
Penonton langsung bersorak melihat Teknik Tombak Gelombang Mengamuk yang digunakannya.
Namun, Dan Ming tidak mundur.
Ia mengangkat palu hitamnya, lalu mengerahkan energi hingga sembilan bayangan banteng muncul di sekeliling tubuhnya.
“Teknik Penghancur Gunung!”
Palu tersebut menghantam ke depan dengan kekuatan besar.
Seluruh bayangan tombak langsung hancur.
Li Wei berusaha menahan serangan menggunakan gagang tombaknya, tetapi tubuhnya tetap terpental keluar panggung. Ia jatuh dengan keras dan memuntahkan darah.
Dan Ming menang.
Sorakan penonton langsung memenuhi arena.
Dan Ming berdiri tegak sambil memandang orang-orang di bawah panggung.
“Masih ada yang ingin melawanku?” tantang Dan Ming sambil menyapu pandangan ke arah para peserta di bawah arena.
Tidak ada yang segera menjawab.
Dengan kekuatan sembilan banteng, Dan Ming telah mencapai batas umum Alam Bela Diri Sejati. Para peserta lain jelas tidak ingin menjadi lawan yang memberinya kemenangan kesepuluh.
Petugas perempuan di samping Qin Xuan menghela napas kagum.
“Dan Ming mungkin akan menjadi penguasa arena berikutnya. Tuan Qin, karena ini pertandingan pertama Tuan, sebaiknya kita mencari arena lain. Peluang menang melawan peserta baru tentu lebih besar.”
Qin Xuan masih memandangi Dan Ming.
Ia datang ke Menara Pertarungan untuk menghadapi lawan yang kuat, bukan mencari kemenangan yang mudah.
“Tidak perlu,” jawabnya tenang.
Petugas itu menoleh.
Qin Xuan menunjuk arena nomor tiga puluh sembilan.
“Aku akan melawannya.”
......................
Bersambung...