NovelToon NovelToon
Calon Istri Nomor 33

Calon Istri Nomor 33

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

32 wanita menyerah. Vivi adalah calon istri nomor 33.

Menikah dengan duda beranak lima seharusnya menjadi solusi bagi dirinya yang divonis tak bisa punya anak sejak muda.

Namun tidak ada yang memberitahunya bahwa lima anak Pak Baskara telah bersekutu untuk mengusir setiap wanita yang mencoba menggantikan posisi ibu mereka. Akankah Vivi bertahan, atau menjadi nama berikutnya dalam daftar kegagalan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34

Sendok di tangan Vivi hampir jatuh. Sean langsung menoleh. Yuan membeku. Ella menghentikan kunyahannya. Sedangkan Saka tampak tidak sadar bahwa pertanyaannya membuat seluruh meja makan kehilangan kemampuan berbicara.

"Maksudmu apa, Nak?" tanya ibu Vivi pelan.

Saka menggaruk kepalanya. "Nenek sudah tidak ada." Kalimat itu langsung membuat dada semua orang sesak. Namun Saka melanjutkan. "Kalau Tante Vivi punya Ayah dan Ibu..." Ia menunjuk ayah dan ibu Vivi. "Berarti mereka kakek dan neneknya dari Tante Vivi, kan?"

"Iya." jawab Vivi lirih.

"Kalau Tante Vivi sekarang keluarga kami..." Saka berpikir sejenak. "Berarti boleh tidak mereka jadi kakek dan nenek kami juga?"

Mata ibu Vivi langsung berkaca-kaca. Begitu pula ayah Vivi yang sejak tadi diam. Anak-anak memang sering mengucapkan sesuatu yang sederhana. Namun justru karena itu terasa sangat tulus.

"Saka." panggil Sean pelan. Biasanya ia akan menyuruh adiknya berhenti bicara sembarangan. Namun kali ini tidak. Karena diam-diam ia juga ingin mendengar jawabannya.

Ibu Vivi menatap satu per satu wajah anak-anak itu. Anak-anak yang tidak memiliki hubungan darah dengannya. Namun beberapa minggu terakhir telah memenuhi rumahnya dengan tawa, keributan, dan cerita. Anak-anak yang sudah mulai ia sayangi seperti cucunya sendiri. Apalagi putrinya tidak akan bisa punya anak dan cucu-cucu kandungnya sendiri tinggal di pulau seberang. Perempuan itu lalu mengulurkan tangan. Mengusap kepala Saka. "Kalau kalian tidak keberatan..." Suaranya bergetar. "Saya akan sangat senang menjadi nenek kalian."

Saka langsung tersenyum lebar. "Benarkah? Mata Saka berbinar. "Berarti aku punya nenek lagi?"

Kali ini ibu Vivi tidak mampu menahan air matanya. "Iya."

Ella langsung turun dari kursinya. Lalu memeluk perempuan itu. "Aku juga mau. Oh Nenek baruku, aku sangat senang punya Nenek lagi."

Lili yang tidak mau kalah ikut memeluk. Tak lama kemudian meja makan berubah menjadi lautan pelukan kecil. Sean menunduk sambil tersenyum tipis. Yuan pura-pura fokus pada buburnya meski matanya mulai merah. Sedangkan Baskara yang sejak tadi diam hanya memperhatikan semuanya. Lalu perlahan ia berkata, "Terima kasih."

Ayah Vivi mengangkat alis. "Untuk apa?"

Baskara memandang kedua mertuanya. "Karena sudah menerima anak-anak saya."

Ayah Vivi tersenyum. "Salah. Bukan anak-anakmu." Pria tua itu menoleh kepada Sean dan adik-adiknya. Lalu berkata dengan hangat, "Mereka cucu-cucu kami juga." Dan pagi itu, di meja makan sederhana dengan semangkuk bubur ayam hangat, keluarga mereka menyadari sesuatu. Kehilangan tidak pernah bisa diganti. Bu Mega tetaplah Bu Mega. Tidak ada yang bisa mengambil tempatnya. Namun cinta yang ditinggalkannya ternyata tidak ikut pergi. Cinta itu justru tumbuh. Menyambungkan orang-orang yang sebelumnya tidak memiliki hubungan apa pun. Menjadi sebuah keluarga yang lebih besar. Dan untuk pertama kalinya sejak hari pemakaman, terdengar tawa anak-anak memenuhi rumah itu lagi.

Pagi itu suasana meja makan jauh lebih hangat dibanding beberapa minggu terakhir. Bubur ayam buatan ibu Vivi berhasil mengembalikan sesuatu yang sempat hilang dari rumah itu. Tawa. Saka masih sibuk menambah kerupuk. Ella menempel di samping nenek barunya. Lili sudah berpindah pangkuan tiga kali dalam lima menit. Sementara Sean yang biasanya paling tenang tiba-tiba mengangkat tangan. "Aku juga mau bilang sesuatu."

Semua menoleh. Karena Sean bukan tipe anak yang suka berbicara tanpa alasan. "Silakan." kata ayah Vivi.

Sean tampak berpikir sejenak. Lalu berkata dengan sangat serius. "Kakek dan Nenek harus sering main ke sini."

"Oh tentu saja, tapi bolehkah beritahu kami kenapa kamu ingin Kakek dan Nenek sering-sering berkunjung? Apa kamu ingin sering dimasakin bubur ayam?" tanya ibu Vivi sambil tersenyum.

"Tentu saja aku akan sangat senang jika Nenek memasakkan bubur untuk kami, tapi sebenarnya ada alasan lain," Sean melirik ayahnya sekilas. Lalu menjawab dengan jujur. "Karena Nenek Mega sudah tidak ada." Suasana langsung sedikit hening. Namun Sean melanjutkan. "Jadi sekarang kami butuh Kakek dan Nenek." Sean menjawab tanpa ragu. "Untuk melindungi kami kalau Ayah marah."

"HAHAHAHA!" Seluruh meja makan meledak dalam tawa.Bahkan Vivi sampai harus memegang perutnya. Yuan langsung mengangguk setuju.

"Aku mendukung usulan Sean."

"Aku juga." sahut Saka cepat.

"Aku terutama."

"Kenapa terutama?" tanya Baskara sambil menyipitkan mata.

"Karena Ayah paling sering marah ke aku."

"Karena kamu paling sering bikin masalah." Tawa kembali pecah.

Ella mengangkat tangan kecilnya. "Aku juga mau dilindungi."

"Dari siapa?" tanya Vivi.

"Dari Ayah kalau aku tidak mau makan sayur." jawba Ella yang memang sering mendapatkan peringatan karena ia susah makan sayur.

"Itu bukan perlindungan." kata Baskara. "Itu persekongkolan."

Kini bahkan ayah Vivi ikut tertawa sampai harus melepas kacamatanya. "Wah." katanya. "Ternyata tugas Kakek dan Nenek berat juga."

Sean mengangguk serius. "Sangat berat."

"Karena Ayah galak?" tanya Ayahnya Vivi.

"Kadang." Sean agak sedikit berbisik meski suaranya terdengar jelas di telinga Baskara.

"Kadang?" ulang Baskara.

Sean langsung tersenyum. "Kalau Ayah sedang baik, tidak galak. Tapi Kalau sedang marah Sangat galak!" Tawa kembali memenuhi ruangan.

Untuk pertama kalinya sejak Bu Mega pergi, Baskara melihat anak-anak tertawa tanpa beban. Tidak ada mata yang sembab. Tidak ada kesedihan yang mendominasi. Hanya keluarga yang sedang menikmati sarapan bersama.

Ayah Vivi kemudian menatap cucu-cucu barunya satu per satu. "Baiklah." Semua langsung diam. "Kakek janji akan sering datang. Dan kalau Ayah marah, Kakek siap bersekongkol dengan kalian!"

"Oh ini pelanggan! Kalian semua bersekongkol melawanku. Kalau begitu aku akan cari pengacara!" Baskara pura-pura serius. Anak-anak semakin tertawa, tawa yang membuat hati orang-orang dewasa lega sebab keceriaan itu akhirnya kembali.

Di tengah suara tawa itu, Vivi sempat memperhatikan Baskara. Lelaki itu sedang tersenyum. Senyum yang beberapa waktu lalu terasa mustahil muncul setelah kepergian Bu Mega. Lalu tanpa sadar pandangan mereka bertemu. Baskara menatap istrinya sesaat. Kemudian kepada ayah dan ibu Vivi. Kemudian kepada anak-anak. Dan untuk pertama kalinya sejak kehilangan ibunya, ia merasakan sesuatu yang menenangkan. Bu Mega memang sudah tidak ada. Dan tidak akan pernah ada yang bisa menggantikan tempatnya. Tetapi keluarga yang ditinggalkannya tidak sendirian. Masih ada orang-orang yang mencintai mereka. Masih ada rumah yang penuh tawa. Masih ada kakek dan nenek yang siap datang membawa bubur ayam dan membela cucu-cucunya. Dan melihat semua itu, Baskara yakin. Jika Bu Mega bisa melihat mereka sekarang, perempuan tua itu pasti sedang tersenyum bahagia.

Suasana yang semula penuh tawa perlahan mereda. Saka kembali sibuk dengan buburnya. Ella sedang bercerita entah apa kepada nenek. Lili sudah mulai mengantuk meski hari masih pagi.

Namun Sean tiba-tiba berdiri dari kursinya. "Kakek, Nenek." Sean terlihat sedikit gugup apalagi saat kedua orang tua Vivi melihatnya. Hal yang jarang terjadi pada anak sulung itu. "Aku mau bilang sesuatu." Sean menunduk sebentar. Seolah sedang menyusun kata-kata yang tepat. Lalu ia berkata. "Terima kasih ya..." Semua memperhatikannya. "Karena sudah meminjamkan Tante Vivi pada kami."

1
sryharty
aneh si bas ini
demi keluarga mantan mertua dia malah mengkhianati amanah ibu sendiri,,
bloon banget
Ulfa Iin
kasian vivi Thor
baskara sebagai suami tidak menjalankan amanah dgn baik
Cheer Pramudya
kereeeen kak... semangat Teruus ya
Ulfa Iin
bagus 👍
Anonim
Makasih y thor cerita nya menguras air mata sekali cerita nya 😍
Trie Broto
ceritanya enak dibaca...lanjut dan ttp semangat.
Rian Moontero
lanjuuutt👍👍😍
Pahtrool
bagus ceritanya semangat buat autornya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!