Dua puluh tahun lalu, malam berdarah menghancurkan Klan Lin di Ibu Kota Yanjing. Lin Xuan, yang saat itu baru berusia lima tahun dan menderita keracunan meridian mematikan, diselamatkan oleh seorang pertapa misterius menuju Lembah Kabut Abadi di Pegunungan Kunlun. Di sana, ia digembleng oleh Tujuh Guru Agung yang masing-masing merupakan legenda hidup di bidangnya: pengobatan kuno, bela diri dalam (Neigong), alkimia, formasi/fengshui, senjata rahasia, strategi finansial bawah tanah, dan intelijen global.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Kereta Cepat Menuju Jinling dan Gadis Pedang dari Klan Xia
Tiga hari kemudian.
Setelah menyerahkan pengawasan keamanan Kota Jianghai kepada Lei Qianhu dan manajemen ekspansi pabrik kepada Hong Tianba, Lin Xuan berangkat menuju Ibu Kota Provinsi Jiangnan — Kota Jinling bersama Su Qingxue dan Dr. Qin Rou.
Keberangkatan mereka ke Jinling memiliki tiga tujuan besar:
Membuka kantor pusat provinsi Kunlun Pharma di jantung Kota Jinling.
Menghadiri Pelelangan Bawah Tanah Tiga Tahunan Provinsi Jiangnan untuk merebut Bunga Teratai Api Kuno demi membuka Segel Kedua Nadi Naga Kaisar.
Menumpas Tetua Xue Mo (Utusan Jubah Merah Sekte Matahari Hitam) sekaligus membuat perhitungan tuntas dengan Keluarga Tang dan Klan Chu!
Di dalam gerbong Eksekutif Bisnis VVIP Kereta Cepat Peluru yang melaju dengan kecepatan 350 kilometer per jam membelah dataran Jiangnan, hanya ada enam kursi penumpang yang sangat privat.
Lin Xuan duduk santai di dekat jendela sambil memejamkan mata, diapit oleh Su Qingxue yang sedang membaca laporan finansial di tabletnya dan Qin Rou yang sedang mengupas buah apel untuk Lin Xuan.
Di seberang lorong gerbong VVIP, duduk dua penumpang lain yang sejak awal menarik perhatian sekilas dari Lin Xuan:
Seorang kakek tua berjubah bela diri abu-abu dengan napas yang terdengar berat dan wajah pucat kebiruan, ditemani oleh seorang gadis muda berusia sekitar dua puluh tiga tahun yang sangat cantik namun memiliki aura dingin yang berbeda dari Su Qingxue. Jika dinginnya Su Qingxue seperti bunga teratai salju di puncak gedung bisnis, maka dinginnya gadis berbaju tradisional hitam modern ini tajam bagaikan sebilah pedang samurai kuno yang siap menebas siapa saja!
Di pangkuan gadis itu terletak sebuah kotak kayu hitam panjang berisi pedang pusaka. Dialah Xia Wanqiu, putri tunggal sekaligus jenius bela diri nomor satu generasi muda dari Klan Bela Diri Xia yang berakar di Hong Kong dan Kyoto!
"Kakek Kedua, bertahanlah sebentar lagi. Dua puluh menit lagi kereta akan tiba di Stasiun Pusat Jinling," bisik Xia Wanqiu lembut sambil menyeka keringat dingin di dahi kakek keduanya, Tetua Xia He. "Ayah sudah menghubungi Dokter Suci Sun dari Asosiasi Medis Jinling untuk menunggu kita di stasiun."
Tetua Xia He tersenyum pahit sambil menahan batuknya. "Wanqiu, luka Pedang Es Hitam yang kuterima saat kita diserang oleh ninja bayaran di perbatasan laut tiga hari lalu sudah menembus ke meridian jantungku. Bahkan jika Dokter Suci Sun datang, peluang hidupku mungkin tidak sampai tiga puluh persen... Yang paling kukhawatirkan adalah Peta Makam Kuno Laut Dalam yang kita bawa."
Di seberang lorong, Lin Xuan yang semula memejamkan mata tiba-tiba membuka suaranya tanpa menoleh:
"Bukan tiga puluh persen, melainkan nol persen. Dan kalian bahkan tidak akan sempat turun dari kereta ini dalam keadaan hidup jika kau terus menekan titik Neiguan di pergelangan tangan kakekmu seperti itu."
Xia Wanqiu langsung menoleh tajam ke arah Lin Xuan! Sepasang mata indahnya yang bening memancarkan kilatan tajam seorang petarung tingkat Tenaga Dalam Puncak.
"Apa maksudmu?" tanya Xia Wanqiu dingin. "Titik Neiguan adalah titik standar untuk menahan penyebaran hawa dingin ke jantung! Siapa kau berani bicara sembarangan tentang kondisi kakekku?"
Qin Rou yang duduk di samping Lin Xuan tersenyum sopan kepada Xia Wanqiu. "Nona, jangan salah paham. Pria di sampingku ini adalah Tuan Muda Lin Xuan, Ketua Kehormatan Tertinggi Asosiasi Medis kami sekaligus ahli akupunktur nomor satu. Jika dia berkata begitu, pasti ada alasannya."
Lin Xuan menoleh dan menatap dada Tetua Xia He dengan Mata Spiritual-nya.
"Luka yang diderita kakekmu bukanlah hawa dingin biasa, melainkan Qi Pedang Es Yin Terbalik dari aliran bela diri kuno Kyoto," jelas Lin Xuan tenang. "Semakin kau menekan titik Neiguan dengan tenaga dalammu, hawa es itu justru akan memantul dan membekukan pembuluh darah utamanya. Dalam tiga puluh detik lagi, kakekmu akan memuntahkan darah beku dan mengalami henti napas."
"Omong kosong! Ilmu pedang dan medis Klan Xia kami telah diwariskan selama ratusan tahun, mana mungkin salah—"
Belum sempat Xia Wanqiu menyelesaikan kalimatnya—
UHUK!! PUAH!!
Tubuh Tetua Xia He mendadak kejang hebat! Pria tua itu memuntahkan segumpal darah merah kehitaman yang langsung membeku menjadi kristal es di atas karpet gerbong kereta, lalu kepalanya terkulai lemas dan napasnya berhenti seketika!
"Kakek Kedua!!"
Wajah dingin Xia Wanqiu langsung berubah pucat pasi penuh kepanikan! Segala yang dikatakan pemuda di seberangnya ternyata terjadi persis sampai ke hitungan detiknya!
Dan tepat pada detik kepanikan itu terjadi—
Pintu penghubung gerbong VVIP terbuka. Dua pria berpakaian seragam pramugara kereta cepat yang mendorong kereta minuman tiba-tiba merogoh ke bawah nampan mereka dan mencabut dua bilah pedang pendek Wakizashi hitam yang berlumuran racun!
"Xia He sudah sekarat! Bunuh gadis itu dan ambil Peta Makam Laut Dalam sekarang!!"
SWUUSH! SWUUSH!
Kedua pembunuh bayaran tingkat Tenaga Dalam Puncak dari organisasi gelap itu menerjang maju secepat kilat di dalam ruang gerbong yang sempit! Satu pedang mengarah ke leher Xia Wanqiu yang sedang memeluk kakeknya, sementara pedang kedua menebas ke arah Lin Xuan dan Su Qingxue untuk membungkam saksi mata!
Xia Wanqiu yang posisinya sedang berlutut menjaga kakeknya tidak sempat mencabut pedang panjangnya dari dalam kotak kayu! Ia hanya bisa memejamkan mata sebagian, bersiap menahan tebasan pedang itu dengan lengannya sendiri demi melindungi tubuh kakeknya!
Namun, suara robekan daging tidak pernah terdengar.
Yang terdengar hanyalah bunyi dentingan logam yang jernih:
TING! TING!
Xia Wanqiu membuka matanya dengan terkejut.
Pemuda berkemeja putih yang tadi duduk di seberang lorong entah sejak kapan sudah berdiri tepat di depannya!
Tangan kiri Lin Xuan masih memegang sebutir buah apel yang sudah dikupas, sementara jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya menjepit ujung kedua bilah pedang pendek para pembunuh itu sekaligus hanya berjarak satu inci dari wajah cantik Xia Wanqiu!
"Menyerang orang saat aku sedang makan buah di kereta? Kalian benar-benar tidak punya sopan santun," ujar Lin Xuan datar.
Lin Xuan memutar pergelangan tangannya sedikit!
KRAAK!!
Kedua bilah pedang baja buatan Kyoto itu langsung patah menjadi serpihan logam! Dengan satu sapuan telapak tangan, Lin Xuan mengembalikan serpihan pedang itu menembus dada kedua pembunuh bayaran tersebut hingga keduanya terpental menabrak pintu baja gerbong dan tewas di tempat tanpa sempat mengeluarkan suara!
Mata indah Xia Wanqiu terbelalak lebar menatap punggung tegap Lin Xuan.
Menjepit dan mematahkan dua pedang pembunuh tingkat Tenaga Dalam Puncak hanya dengan dua jari kosong?! Bahkan ayahku yang seorang Grandmaster di Klan Xia pun belum tentu bisa melakukannya semudah ini!
Tanpa memedulikan keterkejutan Xia Wanqiu, Lin Xuan berbalik dan menepuk dada Tetua Xia He dengan tiga jari sambil menancapkan dua batang jarum perak ke titik Baihui dan Shanzhong pria tua itu!
Wuuuung!
Aliran hangat Qi Kaisar Hijau mengalir masuk ke jantung Tetua Xia He, menghancurkan Qi Pedang Es Yin Terbalik dalam waktu lima detik!
Fuuh—!
Tetua Xia He mengembuskan napas panjang berisi uap es putih, lalu membuka kedua matanya dengan sorot mata yang kembali jernih dan kuat!
"Aku... aku belum mati?! Dan hawa es yang menyumbat meridianku... hilang sepenuhnya?!" Tetua Xia He menatap dadanya dengan takjub luar biasa.
Xia Wanqiu langsung berlutut dengan satu kaki di hadapan Lin Xuan, menangkupkan kedua tangannya dengan hormat khas pendekar bela diri sejati, sementara rona merah tipis muncul di pipinya yang seputih salju.
"Xia Wanqiu dari Klan Xia Hong Kong berterima kasih atas budi penyelamatan nyawa Grandmaster Lin! Tadi saya telah bersikap lancang dan meragukan ucapan Anda. Mulai hari ini, Klan Xia berhutang dua nyawa kepada Grandmaster Lin!"
Lin Xuan mencabut kembali kedua jarum peraknya dan menyimpannya ke dalam saku.
"Hanya masalah kecil. Kebetulan kereta sudah sampai di Stasiun Jinling," ujar Lin Xuan sambil menatap keluar jendela ke arah deretan gedung pencakar langit Ibu Kota Provinsi Jinling yang megah. "Sepertinya perjalanan di kota ini akan menjadi sangat menarik."