NovelToon NovelToon
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU

DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:15.9k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Pernikahan kami sempurna. Harta, takhta, dan sepasang anak kembar yang rupawan telah kami miliki. Sebagai sesama pemilik perusahaan, aku dan Mas Hanif adalah definisi pasangan ideal di mata dunia.

​Namun, kesempurnaan itu runtuh saat Mas Hanif meminta izin untuk menikah lagi. Didukung oleh ibu mertuaku, seorang wanita polos datang dan mengaku siap berjuang dari bawah bersamanya.

​Dunia mengira aku akan mengamuk. Nyatanya, di balik anggunnya hijabku, aku justru tersenyum tenang. Aku mengiyakan, bahkan mengantarnya langsung ke pelaminan maduku.

​Mereka pikir aku pasrah? Salah besar.

​Sebelum melepasnya, sebuah perjanjian gono-gini rahasia telah kutandatangani bersama Mas Hanif. Lewat strategi bisnis yang rapi, perlahan akan kutarik semua aset dan kejayaan yang menyokongnya selama ini.

​Katanya siap berjuang dari bawah? Silakan nikmati perjuangan itu tanpa sepeser pun sisa hartaku. Selamat datang di skenario dendam manisku!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU

​Suara gesekan pena di atas kertas putih berstempel notaris itu akhirnya berhenti.Hanif meletakkan pena berujung emas milik Pak Baskoro dengan tangan yang masih gemetar halus. Dadanya naik turun, tersenggal oleh sisa-sisa ketakutan dan ego yang baru saja dipangkas habis oleh kata-kata menohok sang pengacara senior. Di hadapannya, dua bundel dokumen tebal perjanjian pasca-nikah telah resmi ditandatangani di atas meterai sepuluh ribu.

​Pak Baskoro menarik dokumen-dokumen itu dengan gerakan yang sangat tenang, rapi, dan penuh kemenangan terselubung. Beliau merapikan tepian kertas, mengetukkannya pelan ke atas meja kaca, lalu mengeluarkan sebuah kacamata baca dari saku jasnya untuk memeriksa kembali keabsahan tanda tangan Mas Hanif. Setelah memastikan tidak ada coretan yang cacat, Pak Baskoro menatap Hanif yang kini duduk bersandar dengan wajah kuyu dan pandangan kosong.

​"Baik, Pak Hanif. Karena dokumen ini sudah Anda tanda tangani dengan sukarela tanpa paksaan dari pihak mana pun, maka sebagai penasihat hukum Ibu Hanum, saya wajib menjelaskan kembali secara terperinci mengenai apa saja yang tersisa dan menjadi hak Anda setelah lembar perjanjian ini didaftarkan ke Pengadilan Negeri," ucap Pak Baskoro, suaranya mengalun datar namun sarat akan penekanan yang dingin.

Hanif menegakkan posisi duduknya, menelan ludah dengan susah payah. Kebingungan dan rasa tidak aman kembali membayangi wajahnya. "Apa lagi yang perlu dijelaskan, Pak Baskoro? Bukankah dari awal sudah jelas bahwa seluruh aset Amara Modest adalah milik Hanum?"

​Pak Baskoro menyunggingkan senyum profesional yang tipis, menggeser selembar kertas ringkasan aset ke hadapan Mas Hanif. "Benar. Namun, perjanjian pasca-nikah ini tidak hanya mengunci aset perusahaan, melainkan seluruh aset bergerak dan tidak bergerak yang selama ini Anda nikmati di bawah atap rumah ini. Saya perlu menegaskan kembali, bahwa rumah mewah bergaya klasik yang kita tempati untuk bertamu pagi ini, beserta seluruh isinya termasuk perabotan, barang-barang seni, hingga fasilitas elektronik di dalamnya secara hukum mutlak telah dipisahkan."

​Pak Baskoro menjeda kalimatnya, menatap lekat-lekat mata Hanif yang mulai membelalak tegang. "Bukan hanya itu. Tiga unit mobil mewah koleksi Anda yang berjejer di garasi depan termasuk mobil sport yang sering Anda gunakan untuk menjemput kolega bisnis Anda mulai hari ini status hukumnya telah dialihkan. Ibu Hanum telah memutuskan untuk mengatasnamakan semua harta kekayaan yang bersumber dari pernikahan kalian, yang selama ini Anda gunakan, langsung atas nama kedua anak kembar Anda, Kayla dan Kenzie. Ibu Hanum hanya bertindak sebagai wali sah sampai anak-anak dewasa."

​"Apa?!" Hanif langsung tersentak, tubuhnya condong ke depan dengan wajah yang seketika berubah pucat pasi. "Semua mobil koleksi saya? Rumah ini dan isinya? Semuanya atas nama Kayla dan Kenzie? Hanum... Hanum keterlaluan, Pak Baskoro! Mobil-mobil itu saya yang merawatnya! Rumah ini adalah lambang harga diri saya sebagai seorang pengusaha! Bagaimana bisa Hanum mengatasnamakan semuanya untuk anak-anak seolah-olah saya ini tidak punya hak sepeser pun?!"

​"Secara hukum asal, seluruh dana pembelian aset-aset mewah tersebut berasal dari aliran dividen dan keuntungan bersih Amara Modest, Pak Hanif," balas Pak Baskoro nadanya menipis, memotong protes Hanif dengan fakta finansial yang tak terbantahkan. "Anda hanya menggunakannya selama ini. Jadi, ketika Ibu Hanum memutuskan untuk mengamankan harta tersebut langsung ke tangan darah daging Anda sendiri, itu adalah tindakan hukum yang sangat mulia. Kecuali... jika Anda merasa keberatan berbagi harta dengan anak kandung Anda sendiri?"

​Pertanyaan jebakan dari Pak Baskoro seketika mengunci mulut Hanif. Pria itu terengah-engah, wajahnya memerah menahan dongkol. Jika dia memprotes pengalihan aset kepada anak-anaknya, dia akan terlihat sebagai ayah yang serakah dan egois. Harga dirinya kembali diinjak-injak oleh realitas bahwa tanpa uang Hanum, dia hanyalah seorang pemilik pabrik tekstil kecil yang sedang sekarat terlilit utang operasional.

​Suasana ruang tamu hening selama beberapa saat. Mas Hanif memijat pelipisnya yang berdenyut kencang, mencoba memikirkan rencana darurat untuk pernikahan keduanya yang akan berlangsung minggu depan. Logikanya mulai berputar liar, memikirkan masalah finansial dan akomodasi untuk membawa Sandra masuk ke dalam kehidupannya.

​Lalu, dengan raut wajah yang mendadak berubah melunak, penuh kepura-puraan, dan tampak sangat tidak tahu malu, Mas Hanif menatap Pak Baskoro dengan pandangan memohon yang menjijikkan.

​"Pak Baskoro..." Hanif berdeham pelan, mencoba menurunkan intonasi suaranya agar terdengar menyedihkan. "Anda tahu sendiri, minggu depan saya... saya akan melangsungkan pernikahan kedua saya dengan Sarah. Hubungan kami sudah sah secara agama nanti. Tapi, dengan kondisi pabrik saya yang sedang goyang, saya belum sempat mempersiapkan tempat tinggal yang layak untuk kami berdua."

​Mas Hanif memajukan tubuhnya, berbisik dengan nada tidak tahu malu yang luar biasa kental. "Apakah... untuk sementara waktu saja, saya dan Sarah bisa tinggal di rumah ini? Maksud saya, hanya sampai saya mempunyai rumah baru... ah, bukan, maksud saya sampai saya bisa membeli rumah baru yang mewah untuk Sarah. Rumah ini kan sangat besar, kamarnya banyak yang kosong. Lagi pula, status saya masih suami sah Hanum, jadi saya rasa tidak ada salahnya jika istri kedua saya menempati salah satu paviliun di sini untuk sementara, kan?"

​Mendengar permintaan yang teramat picik dan tidak tahu malu itu keluar dari mulut seorang pria yang baru saja mengkhianati istrinya, Pak Baskoro sempat tertegun. Detik berikutnya, sebuah senyuman meremehkan yang sangat kentara terukir di wajah tua sang pengacara senior. Beliau menatap Hanif seolah-olah pria di hadapannya ini adalah makhluk paling lucu sekaligus paling menjijikkan yang pernah beliau temui di sepanjang karier hukumnya.

​Pak Baskoro perlahan bangkit dari duduknya, merapikan jas hitamnya dengan gerakan yang sangat elegan, lalu menutup tas kerja kulitnya dengan bunyi klik yang tegas.

​"Tanyakan hal itu langsung pada Ibu Hanum yang saat ini statusnya masih menjadi istri sah Anda, Tuan Hanif," jawab Pak Baskoro dengan nada suara yang dipenuhi rasa muak yang disamarkan dalam keformalan. "Saya adalah pengacara hukum untuk urusan aset, bukan manajer akomodasi untuk pernikahan siri Anda. Jika Anda punya nyali, silakan ajukan ide tinggal bersama madu itu langsung di depan wajah Ibu Hanum nanti malam."

​Pak Baskoro menganggukkan kepalanya sedikit, menatap Hanif dari atas dengan pandangan mata sedingin es. "Saya rasa urusan kita pagi ini sudah selesai. Saya pamit undur diri dulu. Selamat mempersiapkan pernikahan baru Anda dengan sisa harta yang Anda miliki."

​Tanpa menunggu jawaban atau pembelaan lebih lanjut dari Mas Hanif, Pak Baskoro berbalik dengan langkah tegap dan melangkah keluar dari ruang tamu mewah itu. Langkah kakinya terdengar tegas, meninggalkan Mas Hanif yang kini duduk terkapar di atas sofa beludru dengan perasaan campur aduk antara dongkol, malu, dan panik yang luar biasa.

​"Sialan!" umpat Hanif lirih setelah memastikan Pak Baskoro benar-benar telah meninggalkan pelataran rumah. Dia menendang kaki meja kaca dengan pelan untuk meluapkan rasa frustrasinya. Sifat aslinya yang egois dan kekanak-kanakan keluar saat tidak ada orang lain yang melihat.

​Bzzzz... Bzzzzz... Bzzzz...

​Di tengah kekalutan mentalnya, ponsel pintar milik Mas Hanif yang tergeletak di atas meja mendadak bergetar hebat. Layar ponselnya menyala, menampilkan sebuah nama dengan emotikon hati berwarna merah di sampingnya.

​Sarah Sayang.

​Melihat nama itu tertera di layar, seketika seolah ada sihir yang luar biasa kuat mengubah raut wajah Hanif. Ketegangan, kepucatan dan kemarahan yang tadi menghiasi wajah kuyunya lenyap dalam sekejap mata tanpa sisa. Gurat wajahnya mendadak melembut, dan sebuah senyuman manis yang dipenuhi binar kasmaran langsung terbit di bibirnya.

​Pria berusia tiga puluh lima tahun itu buru-buru menyambar ponselnya, menggeser tombol hijau dengan tergesa, lalu menempelkan benda pipih itu ke telinganya. Dia mengubah posisi duduknya menjadi lebih santai, menyandarkan punggungnya seolah lupa bahwa beberapa menit yang lalu dia baru saja menandatangani surat pemisahan harta yang memiskinannya.

​"Halo, Assalamualaikum, sayang..." sapa Hanif, suaranya mendadak berubah menjadi begitu mesra, lembut, dan penuh kehangatan yang mendalam. Nada suara yang sudah bertahun-tahun tidak pernah lagi dia berikan kepada Hanum, istri sahnya yang sedang berjuang mempertahankan martabat keluarga di kantor pusat Amara Modest.

​"Waalaikumussalam, Mas Hanif," suara di seberang telepon terdengar begitu manja, merdu, dan penuh nada kekanak-kanakan yang manis. "Mas... maaf ya kalau Sarah mengganggu waktu kerja Mas pagi ini."

​"Oh, tidak, tidak sama sekali, sayang. Mas sedang santai di rumah, tidak ada kerjaan yang mengganggu kok," bohong Mas Hanif cepat, menutupi kenyataan bahwa dia baru saja diinterogasi oleh pengacara istrinya. "Ada apa, hm? Suara kamu kedengaran bingung begitu, ada masalah?"

​"Ini, Mas..." Sarah menjeda kalimatnya, terdengar suara helaan napas yang sengaja dibuat sedikit mendesah manja di seberang telepon. "Sarah sekarang lagi di toko perhiasan sama Ibu. Tadi Ibu ngajak Sarah ke sini buat milih mahar sama cincin nikah kita untuk minggu depan. Tapi... Sarah bingung banget, Mas. Cincin yang Sarah taksir harganya agak lumayan... Sarah takut Mas keberatan."

​Mendengar calon istri keduanya sedang bersama ibunya di toko perhiasan, dan mendengar nada ragu-ragu dari wanita yang sedang dipujanya itu, ego kelelakian Mas Hanif yang tadi sempat hancur lebur di hadapan Pak Baskoro mendadak bangkit kembali dengan perkasa. Dia merasa tertantang untuk membuktikan bahwa dia adalah seorang pria mapan yang royal, seorang pahlawan yang bisa diandalkan oleh wanita mudanya.

Hanif benar-benar berada dalam fase jatuh cinta yang buta. Logikanya telah lumpuh total oleh hormon asmara. Di dalam benaknya saat ini, dia sama sekali tidak menyadari atau mungkin sengaja mengabaikan kenyataan bahwa statusnya saat ini masih menjadi suami sah orang lain, dan tindakan telepon mesra ini adalah wujud nyata dari perselingkuhan yang nyata. Dia merasa apa yang dilakukannya adalah hal yang benar dengan dalil ibadah dan poligami yang sah.

​"Keberatan bagaimana, sayang? Berapa harga cincinnya? Sebutkan saja, tidak usah sungkan sama Mas," ucap Hanif dengan nada bicara yang sangat sombong dan royal, seolah-olah tabungan pribadinya masih sedalam dulu sebelum pabrik tekstilnya terjerat utang.

​"Cincin emas putih dengan berlian kecil di tengahnya, Mas... harganya tiga puluh lima juta rupiah. Terus Ibu juga nyuruh sekalian beli kalung maharnya yang setipe, totalnya jadi sekitar delapan puluh juta, Mas," bisik Sarah di seberang telepon dengan nada yang dibuat seolah-olah dia merasa bersalah, padahal di dalam hatinya dia sedang tersenyum penuh kemenangan menanti jawaban sang pria mapan. "Kalau kemahalan, Sarah pilih yang perak saja ya, Mas? Sarah tidak apa-apa kok hidup sederhana..."

​"Eh, jangan! Jangan pilih yang perak!" potong Hanif cepat, suaranya meninggi karena egonya menolak melihat calon istri mudanya memakai perhiasan murah.

"Kamu itu calon istri Mas, sayang. Pernikahan kita harus berkah dan kamu berhak mendapatkan yang terbaik. Delapan puluh juta itu kecil, tidak ada apa-apanya untuk kebahagiaan kamu dan Ibu. Kamu ambil saja set perhiasan itu, ya? Jangan diganti."

​"Wah... beneran, Mas? Mas Hanif baik banget! Sandra makin sayang sama Mas," seru Sarah di seberang telepon dengan nada suara yang melengking kegirangan, membuat Mas Hanif merasa seperti pria paling perkasa di dunia.

"Ibu juga pasti senang banget dengarnya, Mas. Makasih banyak ya, calon suamiku yang tampan."

​"Sama-sama, sayang. Apa pun untuk kamu," balas Hanif dengan senyuman lebar yang menghiasi wajah kusamnya. "Nanti minta pelayannya cetak nota pembayarannya, lalu foto dan kirim ke WhatsApp Mas. Mas akan langsung transfer uangnya dari tabungan pribadi Mas siang ini juga."

​"Siap, Mas Hanif sayang! Oh iya, nanti malam Mas ke rumah Ibu kan? Sarah mau masakin makanan kesukaan Mas sebagai tanda terima kasih," janji Sandra manja.

​"Tentu saja, sayang. Mas pasti datang. Mas sudah tidak sabar untuk ketemu kamu dan Ibu nanti malam. Ya sudah, kamu lanjut milih perhiasannya dulu ya. Hati-hati di jalan, sayang. Assalamualaikum."

​"Waalaikumussalam, Mas sayang..." sambungan telepon pun terputus.

​Mas Hanif menurunkan ponselnya dari telinga dengan sisa senyuman kasmaran yang masih menempel erat di wajahnya. Dia mengembuskan napas panjang penuh kebahagiaan palsu, merasa hidupnya begitu sempurna karena dicintai oleh wanita muda yang tulus seperti Sarah.

​Pria pengkhianat itu benar-benar telah buta. Dia tidak menyadari bahwa uang delapan puluh juta yang akan dia transfer siang nanti adalah sisa-sisa likuiditas terakhir dari rekening tabungan pribadinya yang tidak tersentuh oleh perjanjian pemisahan harta gono-gini. Dia begitu rela menguras habis uangnya demi memuaskan nafsu dan ego pujian dari Sandra dan ibunya, tanpa berpikir bagaimana caranya dia akan membayar gaji karyawan pabrik tekstilnya bulan depan setelah seluruh kontrak kerja sama dengan Amara Modest ditarik habis oleh Hanum.

Hanif bangkit dari sofa dengan langkah yang kini terasa ringan, bersiap masuk ke dalam kamar untuk mandi dan pergi ke bank, benar-benar tidak tahu bahwa di luar sana, Hanum telah menyiapkan jaring-jaring kehancuran yang akan membuat cinta suci dan ibadah palsunya bersama Sandra berubah menjadi neraka kemiskinan yang tanpa ampun.

1
sunaryati jarum
Semoga prosesnya cepat sesuai harapan
Noey Aprilia
Reader aja ikutn jngkel tau ga....
blng aja pgn d tmani mkn gt,ga ush ngeles sna sni....gengsi aja d gdein.....🙄🙄🙄
Arin
Salah lawan nih......Hanif dimiskinkan semiskin miskinnya😁😁😁
Muft Smoker
gengsiny jgn byk2 kak tian ,, nnti org gx kebagian ,, 🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
kalo mau ngajak makan bareng lngsung aj ngomong ,, gx usah gengsi gtuuu🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
meski kaku Dan dingiin ,, tp tian sosok laki2 yg tanggung jawab ,,
Noey Aprilia
Iye...iye....
Yg gengsiny stnggi gunung.....kt tau lh kl situ holang kaya,ya kali kelaparan.....🤣🤣🤣....
Ma Em
Ternyata Hanif dan Bu Rahma itu sebenarnya dulunya orang miskin namun setelah menikah lagi Bu Rahma diangkat derajat dan jadi orang kaya dan terhormat dan kelakuannya jadi sombong dan sekarang Hanif dan Bu Rahma kembali ke awal lagi , semoga Hanum berjodoh dgn Tian karena Tian sdh menyayangi anak2 Hanum .
Heni Setiyaningsih
/Heart//Heart//Heart/
Noey Aprilia
Mau heran,tp gtulh knytaannya....
bkannya bruntung pnya istri cntik,mndiri,kaya raya pula...d tmbh kluarga yg mau nrima dia...
ni mlah ngelunjak...d kira dnia bkln kiamat kali kl hanum ga sm dia....
ccckkk.....🙄🙄🙄
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,

udh emnk si hanif ,, seharusny tnggal di tempat yg skrang ,, gx cocok dy tnggal di rumah mewaah ,,
🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Heni Setiyaningsih
sat set 😍😍
Noor hidayati
anak anak hanum itu umur 9th apa 5th,kok tingkahnya kayak masih balita,kalau 9th kan berarti sudah kelas 3 SD
Noor hidayati
kembar telat itu apa ya,apa sama dengan kembar tidak identik
Himna Mohamad
good kkk
Muft Smoker
udh kak ,, hanum ma tian aj ,, meski kaku , dingiin , bak kulkas 100 pintu ,, tp Dari sikap ny dy begitu menghargai hanum , menyayangi si kembar ,, udh pas tuh jd bpa Dan suami idaman 👍👍👍😁😁😁😁
Muft Smoker
waah ad apa niih ,, tian klo suka jgn lama2 di pendam ,, takut keburu jdii Batu ,, 🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
susi ana
apakah nantinya Tian akan bersama Hanum?
aku setuju banget klo mereka bersatu, biar Hanif semakin merana....
semangat thor, ceritanya bagus banget
blcak areng: makasih kakak🙏🙏
total 1 replies
Noey Aprilia
Mngknkh sbnrnya tian udh ska hanum dr dlu,cma dia mngalah dmi yg onoh???
Dr kulkas 6 pntu,jd cair kl sm ponakannya....
Noey Aprilia: Gabut.....🤣🤣🤣
total 2 replies
cinta semu 2
Hanif u sengaja gali lubang buat kematian u sendiri🤭
cinta semu 2
hanum kecerdasan u mampu membuat Hanif gila...🤣🤣🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!