Enzo pikir hidupnya yang serba pas-pasan dan biasa saja tidak akan pernah berubah, sampai sebuah notifikasi aneh bertajuk “Sistem Penakluk Dewi” muncul di ponselnya. Bukan memberi kekayaan dadakan atau jurus sakti, sistem ini justru bekerja seperti cermin jujur yang menelanjangi kelemahan dirinya sekaligus mengurai trauma orang-orang di sekitarnya. Terjebak di antara tuntutan ekonomi, dinamika tiga gadis muda yang menyimpan luka masa lalu, dan dua wanita matang yang lelah dengan kepalsuan hidup, Enzo dipaksa belajar satu hal: menaklukkan hati seseorang tidak pernah butuh trik sulap, melainkan keberanian untuk jujur pada diri sendiri dan menerima ketidaksempurnaan manusia apa adanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SENYUM CANGGUNG NADIRA
Pria berjaket kulit kusam itu sudah melangkah jauh menyeberang jalan raya, hilang di antara kerumunan warga yang menunggui angkutan umum. Namun, ketegangan di dalam Toko Kelontong Berkah tak lantas menguap begitu saja. Sisa kegugupan masih mengendap tebal di balik meja kasir, terasa dari embusan napas Nadira yang sesekali tersengal pelan di tengah kesunyian ruko.
Gadis itu berlutut di lantai semen, memunguti beberapa bungkus permen dan kotak korek api kayu yang terlempar saat pria tadi menggebrak meja. Jemari tangannya yang mungil masih bergetar halus. Saat hendak meraih kotak korek api terakhir yang terselip di bawah sudut rak rokok, tangannya tak sengaja bersentuhan dengan ujung sepatu kets lusuh milik Enzo. Nadira refleks menarik tangannya cepat, seolah baru saja menyenggol besi panas.
"Biar gue yang ambil," ucap Enzo seraya membungkuk merengkuh kotak kecil itu.
Pemuda itu menyepuh debu tipis yang menempel di permukaan kotak korek api dengan ujung kemejanya, lalu meletakkannya kembali di atas meja kasir kayu. Enzo memperhatikan gerak-gerik Nadira yang kini berdiri kaku sambil meremas-remas kain lap berbahan kaos kusam di jemarinya. Matanya yang agak sembab masih terpaku pada lantai semen, seolah-olah semen dingin itu jauh lebih aman ditatap daripada mata orang di hadapannya.
"Mas Enzo... terima kasih banyak, ya," bisik Nadira pelan seraya menundukkan kepalanya lebih dalam.
Suaranya halus dan agak serak, terbawa rasa gugup yang belum sepenuhnya reda. Enzo menyandarkan pinggulnya pada tepi meja kasir, menatap gadis itu dengan pandangan prihatin.
"Nggak apa-apa," jawab Enzo seraya menghembuskan napas panjang. "Lain kali kalau ada pembeli yang kasar kaya gitu lagi, langsung panggil warga sekitar atau teriak aja. Jangan malah diam dan mau ditindas."
Nadira mengangguk pelan, tetapi raut wajahnya sama sekali tidak menunjukkan rasa lega yang utuh. Sebaliknya, pundaknya justru makin meluruh, menyiratkan beban pikiran yang menumpuk di balik dadanya yang kempis.
"Nadira memang dasar ceroboh, Mas," cicit gadis itu seraya mengusap permukaan meja kasir dengan kain lap secara berulang-ulang di titik yang sama. "Tadi pas bapak itu bayar, Nadira agak bengong kepikiran sisa stok mi instan yang belum dicatat. Nadira kira Nadira yang salah ingat nominal uangnya. Kalau nggak ada Mas Enzo... mungkin uang kasir toko bakal tekor lagi hari ini, terus gaji Nadira dipotong Pak Haji."
Enzo mengamati garis wajah gadis di hadapannya. Ada ketakutan mendalam yang terpancar dari tiap kata yang diucapkannya—bukan sekadar takut pada pria gempal tadi, melainkan ketakutan konstan bahwa dirinya selalu menjadi sumber dari segala masalah. Bahkan dalam situasi di mana ia jelas-jelas merupakan korban penipuan, refleks pertama Nadira adalah menyalahkan dirinya sendiri atas ketidakpastian itu.
"Kamu nggak salah," tegas Enzo dengan suara rendah namun mantap seraya menatap lurus mata Nadira. "Pria tadi memang niat ngerjain kamu karena tahu kamu sendirian di toko. Mau kamu fokus atau nggak, dia bakal tetap cari celah buat menekan kamu."
Nadira menghentikan gerakan kain lapnya, mengangkat wajahnya pelan-pelan dengan mata berbinar samar yang tertahan. "Tapi... kalau Nadira lebih berani dan pinter ngomong kaya Mas Enzo, bapak itu pasti nggak bakal seberani itu dari awal."
"Gue juga nggak pinter ngomong," balas Enzo jujur seraya memalingkan pandangannya ke luar ruko. "Tadi jantung gue juga mau copot. Lutut gue rasanya agak lemas pas berdiri di samping pria gempal itu."
Nadira tertegun mendengar pengakuan polos tersebut. "Masa sih, Mas?" tanya Nadira dengan nada tak percaya.
"Ngapain gue bohong?" kekeh Enzo sumbang seraya menepuk dadanya pelan. "Gue cuma modal nekat dan kebetulan posisi kita benar. Gue cuma mikir, kalau gue diam aja, pria itu bakal terus-terusan meras toko ini dan kamu ketakutan sendirian."
Mendengar penjelasan itu, perlahan-lahan ketegangan di wajah Nadira melunak. Sudut bibirnya terangkat sedikit, membentuk sebuah senyuman kecil yang teramat canggung. Senyum itu sangat tipis, tertahan oleh rasa malu dan rasa tidak percaya diri yang teramat tebal, tetapi sanggup membawa kehangatan yang jujur di tengah keremangan toko kelontong tua itu.
Gadis itu dengan cepat memalingkan wajahnya yang merona tipis, berpura-pura sibuk merapikan tumpukan kemasan mi instan di rak sebelah kanan kasir. "Mas Enzo mau minum apa? Ambil aja teh botol di kulkas, nanti Nadira yang bayar pakai uang pribadi Nadira," tawar Nadira seraya menunjuk kulkas minuman di sudut ruko.
"Nggak usah," potong Enzo cepat seraya melambaikan tangannya di udara. "Gaji kamu di sini berapa sih sampai mau bayarin minum orang segala? Simpan aja uang kamu."
"Tapi Nadira beneran mau terima kasih, Mas..." cicit Nadira lagi dengan raut wajah cemas, seolah penolakan Enzo adalah bentuk kekecewaan atas dirinya.
Melihat kepanikan kecil itu, Enzo menghela napas pelan. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan uang lima ribu rupiah lecek—bagian dari sisa uang makan harinya—lalu meletakkannya di atas meja kasir.
"Gue beli kopi hitam saset satu," kata Enzo seraya menunjuk ke gantungan kemasan kopi di belakang meja. "Seduhin pakai air panas toko. Uangnya pas, kan?"
Nadira menatap lembaran uang lima ribuan itu, lalu menatap Enzo dengan mata berkedip beberapa kali. Ia menyadari bahwa Enzo sengaja melakukan itu agar ia tidak merasa berutang budi sekaligus menjaga harga dirinya sebagai pekerja toko.
"Iya, Mas... uangnya pas," jawab Nadira pelan seraya menerima lembaran uang itu dengan kedua tangannya.
Dengan gerakan hati-hati, Nadira mengambil saset kopi hitam, menyobek ujungnya, lalu menuangkan bubuk hitam itu ke dalam gelas plastik bekas yang bersih. Ia berjalan menuju dispenser tua di sudut ruko, menekan tuas air panas, dan mengaduknya perlahan dengan sendok plastik. Setiap gerakannya dilakukan dengan sangat teliti, seolah menyeduh secangkir kopi biasa adalah tugas penting yang tidak boleh cacat sedikit pun.
Saat menyerahkan gelas plastik berisi kopi panas itu kepada Enzo, jemari Nadira sempat bersentuhan singkat dengan telapak tangan Enzo. Gadis itu menarik tangannya pelan, menyembunyikan kedua lengannya di balik celemek tipis yang terikat di pinggangnya.
"Hati-hati panas, Mas," bisik Nadira seraya menyodorkan gelas plastik tersebut.
Enzo menyesap kopi hitam panas itu pelan. Rasa pahit yang tajam menyengat lidahnya, namun ampuh mengusir sisa pusing di kepalanya. Sambil menikmati uap kopi yang membumbung tipis, mata Enzo tak lepas dari sosok Nadira yang kini kembali menyapu lantai ruko dengan gerakan perlahan.
Di balik kesederhanaan dan kepolosannya, Enzo bisa melihat betapa dalamnya rasa rendah diri yang menghimpit hidup Nadira. Gadis ini bukan cuma pemalu; ia merasa dirinya terlalu kecil, tidak berharga, dan selalu siap mengalah agar tidak merepotkan orang lain. Nadira hidup dalam bayang-bayang ketakutan akan penilaian orang, persis seperti Enzo yang selama ini bersembunyi di balik alasan dan keputusasaan.
*Rendah diri yang kaya gini... kalau dibiarkan, orang-orang jahat bakal makin gampang memanfaatkan dia,* batin Enzo seraya memandangi bahu tegap gadis itu yang tampak begitu rapuh dari belakang.
"Nadira," panggil Enzo pelan.
"Iya, Mas?" tanya Nadira seraya menghentikan sapuan lidinya dan menoleh cepat.
"Toko ini buka sampai jam berapa?"
"Sampai jam sembilan malam, Mas. Nanti sore Pak Haji datang gantian," jawab Nadira jujur.
"Kalau Pak Haji datang, cerita soal kejadian tadi. Omongin apa adanya," ujar Enzo tegas seraya menatap mata Nadira. "Jangan disembunyikan cuma karena kamu takut dianggap nggak becus jaga kasir. Kalau kamu jujur dari awal, Pak Haji bisa antisipasi kalau pria tadi nekat datang lagi."
Nadira mengatupkan bibirnya rapat-rapat, tampak meragu sejenak sebelum akhirnya menganggukkan kepala dengan mantap. "Iya, Mas Enzo. Nanti Nadira cerita sama Pak Haji," angguk Nadira dengan nada mantap.
"Bagus," puji Enzo singkat seraya tersenyum tipis.
Enzo menghabiskan tegukan terakhir kopi hitamnya, lalu membuang gelas plastik kosong itu ke dalam tong sampah di luar ruko. Ia melangkah keluar menuju trotoar jalan raya yang kini makin dipadati pejalan kaki dan kendaraan pagi.
Saat Enzo berbalik sekilas untuk melambaikan tangan, ia melihat Nadira masih berdiri di ambang pintu ruko. Gadis itu menyunggingkan senyum canggungnya sekali lagi—kali ini sedikit lebih lebar dan tanpa keraguan yang menahan. Sebuah senyuman sederhana yang lahir dari rasa percaya bahwa di dunia yang keras ini, setidaknya ada satu orang yang mau berdiri membela dan mempercayainya.
Enzo melanjutkan langkahnya menyusuri trotoar. Di dalam saku celananya, ponsel tua itu bergetar pelan satu kali, menyiarkan pesan hangat tanpa suara yang mengendap di dalam dadanya.