Kai Adrian atau kerap di sapa Gus Kai, seorang anak kiyai terkenal, Gus Kai adalah seorang dokter spesialis jantung.
Gus Kai terkenal dengan ketampanannya dan juga prestasinya di bidang akademi dan juga Dakwahnya melalui media sosial pribadi miliknya.
Kepribadinnya yang tenang dan tidak sukanya huru- hara, membuat dirinya harus mengiklaskan calon istrinya untuk sang Kakak.
Namun apakah Gus Kai bisa mencari kebahagiaannya sendiri? dan adakah perempuan yang mampu membuatnya jatuh Cinta? Nantikan kisah perjalanan cinta Gus Kai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Kusumaningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14
Jam menujukan pukul sepuluh malam, Kai baru saja pulang dari pondok putra karena setiap malam jika tidak jaga malam, ia selalu di kantornya di Madrasah.
Di Pesantren Darussalam ada yang namanya belajar malam, dimana seluruh santriwan dan santriwati di wajibkan belajar di kelas atau di tempat lain selain kamar dan waktu belajar malam, biasanya kamar akan di kunci, kecuali ada yang sakit, biasanya akan di biarkan tinggal di kamar.
Kai memarkirkan motornya, tepat juga sebuah mobil berhenti di depan ndalem, Kai menyipitkan matanya saat melihat sebuah mobil asing berhenti tepat di depan teras ndalem.
" Siapa?" Tanya Kai dalam hatinya.
Dan tidak lama keluarlah Najma dan juga Balqis yang baru pulang, Kai segera menghampiri istri dan juga adiknya yang baru pulang di jam sepuluh malam.
" ekhmmm" deheman Kai itu membuat Najma dan Balqis yang sedang asik membahas film itu pun,teralih menoleh ke belakang.
" ehhh Mas Kai dari mana mas? dari asrama yaaa?" tanya Balqis yang melihat sang kakak, sedangkan Najma hanya menundukan kepalanya.
" Dari mana kalian, jam segini baru pulang? " tanya Kai dengan nada tegasnya.
Balqis bergedik ngeri mendengar nada bicara sang kakak yang berubah, sedangkan Kai adalah orang yang termasuk jarang sinis,apalagi dengan dirinya.
"Maaf Gus, kami dari kos saya buat ambil barang- barang, tadi saya cari sampean ( kamu) tapi Gus enggak ada, awalnya saya mau berangkat sendiri,tapi Dek Balqis mau ikut, tapi udah izin umi kok Gus " jawab Najma.
"kenapa sampai jam segini? " tanya Kai.
" Maaf Mas, tadi Balqis ajak mbak Najma nonton dulu" jawab Balqis yang membela kakak iparnya, karena ia takut jika kakak iparnya jadi di salah kan oleh kakaknya.
" enggak pamit , kenapa enggak telfon saya?" tanya kai yang menatap ke arah istrinya.
" Maaf Gus,ponselnya saya mati, saya lupa isi batre" jawab Najma yang terlihat sedikit tenang.
" Sudah sholat belom kalian ?" tanya Kai.
"Sudah Gus"
" Sudah mas" jawab Najma dan Balqis secara bersamaan.
" Masuk, bersih- bersih tidur" pinta Kai pada istri dan juga adiknya .
" baik gus"
" Iya mas" jawab Najma dan Balqis yang lagi- lagi bersamaan.
Balqis dan Najma kemudian masuk ke ndalem, sedangkan Kai melihat istri dan adiknya, yang seperti anak kembar, karena tinggi mereka yang hampir sama.
" kenapa meraka malah jadi kayak anak kembar" gumam kai.
Kai kemudian ikut masuk ke ndalem, di ruang tamu ia di cegah oleh Ilham yang ingin membahas soal acara resepsi Kai dan juga Najma.
"Kai, mas boleh minta waktu mu sebentar? mau bahas soal resepsi mu?" tanya Ilham kala Kai, baru saja masuk ke ndalem.
Kai mengangukan kepalanya lalu duduk di ruang tamu bersama dengan Ilham, membahas untuk bagaimana resepsinya, Kai tidak ingin pesta megah hanya sebagai simbolis saja, Najma juga tidak mengingkan pesta pernikahan yang megah seperti kebanyakan wanita.
Setelah sekitar hampir satu jam Kai berbicara dengan Ilham, ia kemudian pamit untuk ke kamar, karena dirinya ingin segera beristirahat.
" Kalau enggak ada yang di bahas lagi , aku ke atas dulu mas, capek" pamit Kai pada Ilham.
" Iya dek" jawab Ilham.
Kai kemudian naik ke lantai dua, saat ia ingin membuka pintu, pintu lebih dulu terbuka dan menampilkan sang istri dengan piyama panjang dengan jilbab instannya membawa selimut di pelukannya.
" Kamu mau kemana?" tanya Kai.
" Kamar dek Balqis, Gus" jawab Najma.
" Mau ngapain ? bawa selimut juga?" tanya Kai kembali.
" Dek Balqis minta di temenin tidur Gus, tadi kita nonton horor, dia masih parno, boleh kan Gus, saya tidur di kamar dek Balqis?" sahut Najma.
" Udah tau penakut masih nonton horor" gerutu Kai.
" Gimana Gus?" tanya Najma yang tidak begitu jelas mendengar ucapan suaminya.
" Gak.... ya sana" sahut Kai kemudian masuk ke kamarnya dan meninggalkan Najma yang masih berdiri di depan kamar.
brakk...
" Astagfirullah " gumam Najma sambil mengusap dadanya.
Najma merasa cukup lelah, di satu sisi dirinya ingin menjadi seorang istri yang seutuhnya dan menjalankan kewajibannya untuk melayani suaminya, Namun di sisi lain Kai seakan memberikan tembok tinggi di antara mereka, tembok yang Najma sendiri ragu apakah ia bisa merobohkannya.
Najma berjalan menuju kamar Balqis yang berada di ujung, Saat di depan tangga ia berpapasan dengan Ilham yang ingin ke kamarnya.
" loh mau kemana ? kok bawa selimut ?" tanya Ilham pada Najma.
" ouh ini Gus, saya mau tidur di kamar dek Balqis, kita tadi habis nonton film horor, terus dek Balqis takut,.jadi minta di temenin tidur " Jawab Najma yang sekilas melirik ke arah Ilham dan kembali menunduk kepalanya, karena teringat ia harus menjaga pandangannya.
" ouh, Ya sudah silahkan, saya juga mau ke kamar dulu" pamit Ilham kemudian masuk ke dalam kamarnya yang berada di ujung.
Di lantai dua ndalem pesantren Darussalam ada lima ruangan, ujung kiri kamar Ilham, Sebelahnya adalah ruangan baca, sebelah ruang baca ada kamar Kai yang berada di tengah dan paling luas di antara ruangan yang lainnya, samping kamar Kai dan Najma ada satu kamar tamu yang biasanya di pakai untuk saudara menginap dan paling pojok kanan adalah Kamar Balqis.
" MasyaAllah banget yaa Gus Ilham, andai aja suami ku Gus Ilham" gumam Najma dalam hatinya sambil memandang pintu kamar Ilham yang sudah tertutup rapat.
Sedetik kemudian Najma tersadar apa yang ia katakan tadi, Najma memukul mulutnya pelan dan mengerutuki dirinya sendiri, "Najma, Astagfirullah inget suami mu Gus Kai, bukan Gus Ilham, aduh kenapa malah salah arah gini sihhh" gumam Najma.
" Udah ah... tidur aja" Najma kemudian berjalan ke arah kamar Balqis.
Sedangkan di dalam kamarnya Kai sedang melamun menatap ke arah samping, dimana seharusnya Najma tidur di sampingnya.
Walau di bandung, Najma sering tidur di sofa tapi sepertinya Kai mulai terbiasa dengan keberadaan Najma di dekatnya saat malam, walau mereka menikah baru beberapa hari.
"Apa secepat itu saya jatuh cinta dengannya?" tanya Kai sambil memandang jari tangannya yang kini melingkar indah, cincin pernikahan yang mereka beli saat perjalanan pulang tadi.
jgn bilang bakal ada poli poligamian ya Thor aku paling GK bisa kalo tntg poligami bawaannya emosi apalagi aiza udh Namba juteknya 🙄
si Gus kyknya otw bucin deh 🤭