Demi memenuhi permintaan kakeknya yang sekarat, kamilah menikah cepat dengan pria acak yang ternyata musuh kakaknya, begitu tuan rizky syah mendapatkan dirinya, ia tak melepaskannya diadaptasi dari master syah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasanah Yoyoh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: AMARAH RIZKY SYAH DAN HUKUMAN TANPA AMPUN
Langkah kaki Kamilah terdengar memburu gila-gilaan di atas ubin licin area luar vila. Gaun kasual tebal yang ia kenakan kini terasa amat berat dan menyiksa pergerakannya. Di belakangnya, derap langkah besar Dias yang dipenuhi emosi membara makin terdengar mendekat.
"Berhenti kamu, Kamilah! Mau lari ke mana lagi, hah?!" teriakan Dias bergema kasar, memecah kebisingan musik pesta yang membahana.
Kamilah tidak memedulikan panggilannya. Napasnya terengah-engah, dadanya naik turun dengan jantung yang berdegup kencang akibat ketakutan. Matanya menyapu panik ke sekeliling lorong remang-remang yang mengarah ke luar area vila.
Tepat saat ia memutari sudut pilar besar tempat tangga menuju lantai dua, sosok tegap berjas hitam elegan mendadak muncul berjalan dari arah berlawanan. Postur tubuh yang tinggi, bahu yang kokoh, serta aura dominan yang mengintimidasi itu sangat familiar bagi Kamilah.
Itu adalah Rizky Syah!
Tanpa berpikir panjang, Kamilah langsung berhamburan lari mendekati pria itu. Ia menyembunyikan seluruh tubuh kecilnya di balik punggung tegap Rizky Syah, mencengkeram erat kemeja bagian belakang pria itu seolah menemukan satu-satunya tempat berlindung paling aman di dunia.
"Tolong aku... tolong aku, Kak Syah!" bisik Kamilah dengan suara gemetar hebat dan napas yang masih memburu. Ia memberanikan diri mengeluarkan sedikit kepalanya dari balik bahu tegap Rizky, lalu mengacungkan jemarinya menunjuk ke arah Dias yang baru saja tiba dengan wajah basah kuyup dan memerah murka. "Pria itu... aku dilecehkan oleh dia!"
Sensasi cengkeraman ketakutan gadis di belakangnya membuat raut wajah Rizky Syah berubah drastis dalam sekejap mata. Kehangatan yang biasanya tersirat secara samar di matanya mendadak menguap total, berganti dengan kilat amarah membeku yang teramat dingin dan membahayakan.
Rizky Syah menghentikan langkahnya. Dengan gerakan yang teramat tenang namun memancarkan bahaya tingkat tinggi, ia mengangkat sebelah tangannya menuju wajah, lalu melepaskan kacamata berbingkai tipis yang melingkar di matanya.
Rizky memutar tubuhnya sedikit, menyodorkan kacamata mewah itu tepat ke hadapan Kamilah.
"Tolong pegang kacamataku sebentar," bisik Rizky Syah dengan intonasi suara yang teramat halus namun sangat mengintimidasi.
Kamilah menerima kacamata itu dengan jemari bergetar. "K-Kak Syah...?"
Sementara itu, Dias yang baru saja menghentikan langkahnya menatap pria di hadapannya dengan raut wajah meremehkan. Emosinya yang membakar membuat otaknya tidak bisa berpikir jernih.
"Hei! Siapa kamu, hah?!" bentak Dias dengan nada angkuh, menunjuk tepat ke wajah Rizky. "Jangan sok pahlawan dan ikut campur urusan orang lain! Minggir kamu dari sana!"
Rizky Syah sama sekali tidak membalas provokasi verbal tersebut. Pria tegap itu melangkah maju satu langkah besar. Gerakannya begitu cepat dan presisi bagaikan seekor predator yang telah lama mengintai mangsanya.
BAM!
Sebelum Dias sempat menyadari apa yang terjadi, tangan kekar Rizky Syah sudah melayang maju, mencengkeram kuat kerah kemeja Dias dengan kasar, lalu menarik tubuh pria itu secara paksa hingga jarak mereka mengikis habis!
BUK!
Satu pukulan keras bertubi-tubi bersarang telak di rahang kiri Dias. Suara tulang yang beradu dengan daging bergema kencang di lorong sepi tersebut. Dias terhempas kencang hingga tubuhnya membentur dinding marmer sebelum akhirnya tersungkur ke lantai.
"Aaghh!" jerit Dias kesakitan, darah segar langsung merembes membasahi sudut bibirnya.
Belum sempat Dias memulihkan kesadarannya, Rizky Syah sudah melangkah mendekat. Pria itu menyambar rambut Dias, memaksa pria licik itu mendongak, lalu kembali melayangkan tinjunya yang sekeras batu tepat ke hidung dan pipi Dias tanpa ampun.
BUK! BUK! BUK!
Suara hantaman bertubi-tubi memenuhi udara. Wajah tampan Dias dalam hitungan detik berubah menjadi babak belur, bengkak, dan bonyok tak berbentuk. Darah memenuhi wajah dan kemeja mewahnya.
"Aduh! Ampun! Kak... jangan! Jangan pukul lagi!" jerit Dias histeris. Seluruh keberanian dan keangkuhannya menguap tanpa sisa. Rasa sakit yang luar biasa membuatnya menangis ketakutan. "Aku mohon, Kak... jangan pukul aku lagi! Ampun!"
Rizky Syah sengaja menutup telinganya rapat-rapat. Suara permohonan dan jeritan pilu dari Dias sama sekali tidak sanggup menyentuh nuraninya yang telah terbakar oleh gejolak cemburu dan murka. Setiap kali mengingat bahwa tangan kotor pria ini hampir menyentuh milik terberharganya, pukulan Rizky Syah justru melayang makin brutal, keras, dan tanpa henti.
Kamilah yang berdiri mematung di belakang menyandarkan badannya ke dinding. Ia memeluk kacamata Rizky Syah di dadanya, memperhatikan adegan kekerasan yang sangat berdarah-darah di hadapannya. Bukannya merasa takut atau mual, ada perasaan aneh yang tiba-tiba mekar di dalam sanubarinya—sebuah kepuasan terselubung saat melihat pria brengsek yang menindasnya dihancurkan tanpa sisa oleh sosok pelindungnya.
Keindahan kekerasan... batin Kamilah. Tanpa ia sadari, sudut bibirnya menyunggingkan ukiran senyum tipis yang sarat akan rasa puas yang mendalam.
Rizky Syah menghentikan pukulannya sejenak ketika Dias sudah merintih lemas tak berdaya di atas lantai. Pria tegap itu berbalik badan, menatap Kamilah dengan sorot mata yang mendadak kembali melembut secara ajaib.
"Tunggu di sini dengan manis ya, Kamilah," kata Rizky Syah dengan nada suara yang teramat hangat dan memanjakan, sangat bertolak belakang dengan aksinya dua detik lalu.
"Iya, Kak Syah," bisik Kamilah pelan.
Rizky kembali memalingkan wajahnya pada Dias yang sudah setengah pingsan. Dengan mudahnya, Rizky menarik kerah baju Dias yang robek, menyeret tubuh pria itu bagaikan menyeret kantong sampah menuju arah tangga melingkar yang menghubungkan lantai dua dengan area kolam renang utama di bawahnya.
Dias yang terseret-seret di atas anak tangga merintih panik saat menyadari ia dibawa ke tepi lantai atas yang berbatasan langsung dengan area kolam renang terbuka di bawah.
"K-Kak... kamu ini sebenarnya siapa?" bisik Dias dengan suara serak bercampur darah dan deru napas yang terengah-engah. Rasa panik yang luar biasa menguasai jiwanya saat melihat ketinggian di bawah sana. "A-aku benar-benar tidak melakukan apa-apa padanya! Demi Tuhan, aku belum sempat menyentuhnya!"
Rizky Syah menghentikan langkahnya tepat di tepi balkon lantai dua. Dengan gerakan yang teramat dingin, Rizky mengulurkan tangan tegapnya, mencekik leher Dias secara langsung dan mengangkat tubuh pria itu sedikit menggantung di udara tepat di atas batas pagar!
Cengkeraman di lehernya membuat Dias megap-megap kehabisan oksigen, matanya mendelik lebar menatap wajah dingin Rizky Syah yang bagaikan iblis pencabut nyawa.
"Ingat baik-baik..." bisik Rizky Syah dengan intonasi suara yang begitu rendah, dalam, dan bergetar menakutkan tepat di depan wajah Dias yang membiru. "...namaku adalah Rizky Syah."
Napas Dias tertahan seketika, matanya membelalak kaget sampai hampir melompat keluar saat mendengar nama itu terucap.
R-Rizky Syah?! Pria iblis berkuasa dari Kota Jakarta Utara itu?! batin Dias histeris. Rasa takut yang jauh lebih mengerikan dari rasa sakit fisik langsung melumpuhkan seluruh syaraf tubuhnya.
"Rizky Syah dari Kota Jakarta Utara..." ulang Rizky Syah menegaskan identitasnya dengan tatapan membunuh. "Kalau kamu sampai berani menyentuh atau mengganggu Kamilah satu kali lagi... jangankan membuatmu bonyok, aku pastikan seluruh tubuhmu akan kubuat cacat seumur hidup!"
Sebelum Dias sempat memohon ampun untuk terakhir kalinya, Rizky Syah tanpa rasa ragu sedikit pun melepaskan cengkeraman tangannya dan menjatuhkan tubuh Dias secara langsung dari atas balkon lantai dua ke arah kolam renang di bawah!
BYURRRRRR!
Hantaman tubuh Dias dari ketinggian membuat air kolam renang menciprat sangat tinggi ke udara, menimbulkan suara dentuman air yang luar biasa kencang.
Seluruh tamu undangan dan muda-mudi yang sedang asyik berpesta di sekitar kolam renang seketika terperanjat kaget setengah mati. Teriakan dan jeritan histeris dari para wanita langsung memecah kebisingan musik DJ saat melihat sosok tubuh berdarah-darah mengapung tak berdaya di dalam air kolam yang bening.
"AAAAAHHH! Ada orang jatuh dari atas!"
"Astaga! Itu Tuan Muda Dias Lin! Darah di mana-mana!"
"Tolong! Cepat tolong dia dari kolam!"
Suasana pesta kolam renang yang tadinya meriah mendadak berubah menjadi kekacauan total dan kehebohan yang sangat masif.
Di atas balkon lantai dua, Rizky Syah berdiri tegap memandangi kekacauan di bawah sana. Pria itu menyapu merapikan kemejanya yang sedikit kusut, lalu menyunggingkan senyum puas yang teramat miring dan dominan di bibirnya.