NovelToon NovelToon
CEO Tengil VS Sekertaris Bar-bar

CEO Tengil VS Sekertaris Bar-bar

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia / Tamat
Popularitas:1.5M
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Memasuki bangku kuliah dengan penampilan cupunya, membuat Ananda Ayunindia menjadi target empuk perundungan oleh Tristan Bratadikara dan komplotannya. Tak sekadar dibully, Ananda bahkan dijadikan bahan taruhan hingga berujung kehamilan. Hancur dan trauma, ia terpaksa melepas beasiswanya dan pergi menghilang.

Enam tahun berlalu. Ananda yang kini telah lulus kuliah dan menetap di Bandung, berhasil diterima bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan raksasa di Jakarta. Demi masa depan putra kecilnya dan sang ibu yang sudah renta, Ananda terpaksa kembali ke kota penuh memori kelam tersebut.

Siapa sangka, pimpinan tertinggi di perusahaan baru tempatnya bekerja adalah Tristan Bratadikara, pria yang dahulu menghancurkan hidupnya. Namun, Ananda yang sekarang bukan lagi gadis cupu yang bisa ditindas, ia telah bermetamorfosis menjadi wanita yang cantik, energik, dan pemberani. Akankah Tristan mengenali korbannya di masa lalu, atau justru bertekuk lutut pada sosok Ananda yang baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 18

Di dalam kamar President Suite yang beraroma maskulin dan mewah itu, waktu seolah berhenti berputar. Tristan dan Ananda saling menatap dalam keheningan yang pekat. Jarak yang teramat dekat membuat deru napas mereka saling berkejaran di udara. Rona merah di pipi keduanya perlahan menyembul, menjadi sebuah rahasia yang tidak bisa lagi mereka sembunyikan satu sama lain.

"Dan... entah kenapa, saat melihatmu, kau selalu mengingatkanku akan sosok wanita yang sangat aku rindukan," bisik Tristan lirih. Suaranya yang berat terdengar begitu rapuh saat jemari kekarnya perlahan terangkat, mengusap dengan sangat lembut pipi Ananda yang merona merah.

Sentuhan hangat di kulit pipinya seketika membuat dada Ananda berdenyut nyeri. Kilasan masa lalu kembali berputar di benaknya.

'Andaikan malam terkutuk itu tidak pernah terjadi... Andaikan kau tidak pernah merundung ku di kampus dulu, Tristan...’ batin Ananda dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

Jauh di lubuk hatinya yang terdalam, Tristan sebenarnya adalah cinta pertama Ananda. Namun, rasa cinta yang tulus itu kini telah terkubur habis, tertutup rapat oleh kebejatan sikap Tristan di masa lalu yang telah menorehkan luka serta trauma yang teramat sulit untuk dilupakan seumur hidupnya.

Sadar emosinya mulai tidak terkendali, Ananda dengan cepat mengalihkan pandangannya ke arah lain, memutus kontak mata intim di antara mereka.

Tok! Tok! Tok!

Ketukan pintu kamar berbunyi di saat yang tepat, memecah ketegangan yang mendebarkan itu. Seorang pelayan dari bagian laundry hotel masuk dengan sopan, mengembalikan pakaian milik Ananda yang kini sudah bersih, rapi, dan harum.

Melihat pakaian itu datang, Tristan mendadak disergap rasa gugup yang luar biasa karena tertangkap basah habis memandangi sekretarisnya dengan begitu dalam. Demi menutupi rasa salah tingkahnya, Tristan langsung berbalik memunggungi Ananda dan seketika kembali ke mode awalnya, yaitu bersikap dingin, kaku, dan acuh tak acuh.

"Setelah kau ganti pakaianmu, aku tunggu kau di lobi. Jangan lama... karena aku tidak suka menunggu seorang bawahan!" ucap Tristan dengan nada ketus, kembali memamerkan topeng keangkuhannya sebagai seorang bos besar.

Ananda tidak berdebat. Ia segera meraih pakaiannya dari tangan pelayan, lalu melangkah cepat masuk ke dalam kamar mandi untuk berganti pakaian. Mengingat urusan pekerjaan di kantor yang masih menumpuk dan belum selesai, Ananda hanya bisa menghela napas panjang di depan cermin kamar mandi.

"Hari ini sungguh sangat melelahkan..." gumam Ananda pelan, menatap pantulan dirinya yang tampak letih secara emosional.

Sementara itu di luar kamar mandi, Tristan berdiri diam sejenak. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, merutuki kegugupannya sendiri yang hampir saja membuat pertahanannya runtuh di depan Ananda. Sebuah senyuman tipis yang tak kentara terukir di bibirnya sebelum ia melangkah santai keluar dari kamar menuju area lobi hotel.

Saat kakinya melangkah membelah koridor megah, Tristan baru benar-benar tersadar. Di hotel inilah, enam tahun lalu, peristiwa terkutuk sekaligus sakral itu terjadi. Momen malam panas itu tidak akan pernah bisa ia lupakan seumur hidupnya. Malam di mana untuk pertama kalinya ia melepaskan keperjakaannya kepada si itik buruk rupa, meskipun saat itu tubuhnya bergerak di bawah kendali pengaruh obat bius yang keji.

Tristan menghentikan langkahnya di depan lift, menatap kosong ke arah dinding kaca yang menampilkan pemandangan kota.

‘Itik... sampai ke ujung dunia pun kau akan aku kejar. Aku pasti akan menemukanmu... dan semoga saja, kau sebenarnya selalu berada di dekatku,’ batin Tristan penuh harap.

Tanpa menyadari bahwa wanita yang dicarinya justru sedang mengancingkan blus kerjanya di dalam kamar mandi yang baru saja ia tinggalkan.

*

*

Setibanya di kantor Bratadikara Group, suasana lobi lantai sepuluh yang semula tenang mendadak terasa sedikit berbeda saat pintu lift VIP terbuka. Kevin, yang sejak tadi sudah menunggu dengan setumpuk berkas di tangannya, langsung berdiri tegap menyambut kehadiran sang CEO beserta sekretaris barunya.

Ananda melangkah keluar terlebih dahulu. Meski raut wajahnya menyiratkan kelelahan, ia tetap melemparkan senyum tipis yang ramah ke arah Kevin. Namun, yang membuat Kevin benar-benar mematung di tempatnya adalah pemandangan tepat di belakang Ananda. Tristan melangkah dengan santai, dan di sudut bibir tegas pria itu, terukir sebuah senyuman tipis yang teramat langka.

Kevin mengucek matanya berulang kali, memastikan bahwa ia tidak salah lihat. Seorang Tristan Bratadikara yang biasanya berwajah sedingin es dan berhati monster, siang ini pulang dengan sebuah senyuman di wajahnya.

‘Gila... ini keajaiban macam apa? Rasanya matahari seolah terbit dari arah barat hari ini!’

batin Kevin takjub bukan main sebelum akhirnya buru-buru mengekori langkah tegap Tristan masuk ke dalam ruang kerja utama.

Waktu berlalu begitu cepat. Jam dinding besar di ruang tengah lantai sepuluh akhirnya berdenting menunjukkan pukul lima sore. Satu per satu karyawan mulai merapikan meja kerja mereka dan membubarkan diri dari area kantor. Mengingat besok adalah hari Sabtu, suasana kepulangan kali ini terasa jauh lebih ceria dari biasanya.

Ananda mengemas barang-barangnya ke dalam tas dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Akhir pekan telah tiba, yang berarti ia akan terbebas sejenak dari seluruh aktivitas pekerjaannya dan yang paling penting dari jangkauan Tristan yang menyebalkan.

Sambil mengancingkan tas kerjanya, seulas senyum tulus terbit di wajah cantik Ananda. Ia sudah menyusun rencana matang untuk esok hari. Ananda ingin mengajak Elvano jalan-jalan keliling kota Jakarta. Mengingat putranya itu masih sangat awam dan baru sebentar tinggal di kota metropolitan ini, Elvano pasti akan sangat kegirangan. Apalagi, sebentar lagi Elvano akan mulai masuk sekolah Taman Kanak-Kanak tepat di usianya yang menginjak lima tahun. Mengajaknya berjalan-jalan besok adalah hadiah kado ulang tahun spesial yang sudah Ananda janjikan untuk putra kecilnya itu.

*

*

Di tempat lain kota Jakarta, suasana riuh sore hari juga dirasakan oleh Indra. Pria tegap itu baru saja menyelesaikan tugas kedinasannya di Polres Jakarta Pusat. Setelah menukar seragam dinasnya dengan pakaian kasual yang rapi, ia langsung mengendarai mobilnya membelah kemacetan ibu kota.

Hari ini, Indra memiliki rencana penting. Ia ingin menjemput seorang wanita cantik yang baru saja resmi ia jadikan pacar seminggu yang lalu. Walau profesinya adalah seorang polisi intelijen yang biasa menghadapi berbagai situasi berbahaya, entah mengapa Indra selalu disergap rasa gugup yang luar biasa setiap kali harus berhadapan dengan kekasihnya yang satu ini.

Kini, mobil Indra sudah terparkir rapi di seberang pintu gerbang sebuah gedung agensi besar di kawasan Jakarta Selatan, sebuah agensi terkenal yang menaungi banyak artis dan model papan atas. Tak perlu menunggu lama, sosok wanita yang dinantikannya akhirnya muncul dari balik pintu kaca gedung.

"Sayang...!" panggil wanita itu dengan suara riang yang merdu.

Ia adalah Feby. Rambut hitam panjangnya yang indah tampak tergerai bebas, membingkai wajah mulusnya yang cantik alami tanpa perlu riasan berlebih. Melihat keberadaan Indra, Feby melambaikan tangan bersemangat.

"Feby... hai!" balas Indra sambil membalas lambaian tangan kekasihnya, mencoba menutupi debaran kencang di dadanya.

Feby yang memang memiliki sifat manja dan tingkat bucin akut kepada sang polisi tampan ini, ia langsung berlari kecil dan menghambur memeluk erat tubuh tegap Indra begitu mereka berdekatan. Indra sempat tersentak kaget atas serangan pelukan yang tiba-tiba itu, namun sedetik kemudian rasa senang dan hangat menjalar di hatinya. Ia membalas pelukan Feby dengan lembut.

Setelah melepaskan pelukannya, Feby mendongak menatap Indra dengan mata berbinar-binar penuh harap. "Mas, sore ini sibuk tidak? Mau gak antar aku sebentar buat beli kado ulang tahun untuk anaknya sahabatku?"

Indra tersenyum manis, rasa gugupnya perlahan mencair digantikan oleh rasa gemas melihat tingkah manja Feby. "Tentu saja mau, Tuan Putri. Ke mana pun tempat yang kau minta, pasti akan aku antar dengan selamat."

"Aarrrkkkhh, terima kasih ya, Sayang!" ucap Feby girang.

Secara spontan, Feby berjinjit sedikit lalu mendaratkan sebuah kecupan manis di pipi kiri Indra. Mendapat perlakuan seberani itu di tempat umum, wajah Indra seketika memerah padam. Polisi intelijen yang biasanya garang itu mendadak mati kutu, salah tingkah, dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sembari membukakan pintu mobil untuk sang pujaan hati dengan senyum yang kaku.

Bersambung...

1
JR Rhna
kalau aku punya bos begitu,sudah lama angkat kaki
Inooy
iih Tristan bikin aq meleleh aj niih,,dulu waktu masih jaman nya kuliah..kamu terkenal dengan kejam nya mem-bully,,skarang malah perlakuan romantis pake bangeeet..bikin siapa pun langsung menghalu dapet cowo modelan kamuuu 😊
Inooy: dn haluan ka El tuh Masya Allah bagus2, sering2 lah menghalu kaa biar para pembaca terhibur dengan kehaluan ka El 🤭
total 4 replies
Inooy
akhiir nyaaaa,,emosi ku bisa mereda hanya dengan meliat nyonya Mutia yg menyayangi Elvano...
emg sih yaaaa,,segarang garang nya nenek dn kakek ketika mempunyai cucu yg menggemaskan..akan luruh jg keangkuhan dn keegoisan nya,,dn ini fakta!!!
Inooy: liat nya adem ka El...
total 2 replies
Inooy
👏👏👏👏 hebat kamu Tris, kamu benar2 seorang pria gentleman..kamu berani mengesampingkan ego mu demi restu orangtua utk menikahi Ananda...👍👍
Inooy
ka Eeell, maafin aq klo aq bisa typo jg..itu Bianca siapa ituuu 🤣🤣🤣
aq malu ihh ma ka El, bisa2 nya aq nyebutin Bianca bukan nya Bella..ini niih gara2 nyonya Mutia yg bikin aq emosi, jd aj tangan ku kepeleset,,mana jauh lg kepeleset nya 🙈🙏🙏😂
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Good//Good//Good//Kiss//Kiss/
total 3 replies
Inooy
duuuhh,,ka El bikin situasi tegang makin tegang ini mah..d saat Tristan dn Ananda lg membahas masalah yg cukup pelik, tiba2 s nyonya besar muncul d waktu yg g tepat..apalagi s nyonya Mutia masih memandang sinis k Ananda, bikin aq pengen nyeleding nih nyonya sok berkuasa dn sok kaya ini...
padahal klo bukan Ananda siapa lg coba yg mo melahirkan keturunan Bratadikara?? Bianca yg suka gonta ganti laki?
ckckck..klo iya, makin tercoreng nama baik Bratadikara karena kelakuan Bianca..nyonya Mutia aj yg belum tau kebenaran nya, coba klo tau..aq yakin bakalan d depak jg tuh Bianca...

sabaaaarr,,sabaar..gara2 nyonya Mutia aq bawaan nya pengen ngomel mulu jd nyaaa /Facepalm/
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: kadang aku juga suka salah menuliskan nama pemeran karyaku sendiri, karena aku nulis lebih dari satu buku🤭
total 3 replies
Teh Yen
cie yg lagi jatuh cinta udh ganti aj panggilannya jd sayang cie cie engg berbunga bunga gmn tuh c ananda hihii
Teh Yen
smoga kamu berhasil meyakinkan kedua orang tua mu d bisa menerima ananda d elvano sebagai menantu d cucu mereka yah
Teh Yen
apakah orang tua Tristan dapat menerima ananda d elvano?
Teh Yen
ih mulutnya tetanggamu Nanda pedes banget ky bubuk.cabe level tertinggi
Teh Yen
engg nyangka ananda akan secepat itu memaafkan Tristan tp.kalau d hati nya masih ada cinta yah mau blng apa yah hehe 😁 selamat kembali merajut kasih untuk kalian berdua siap siap lah menghadapi keluarga mu Tristan mereka pasti akan Dnegan keras menolak Nanda karena perbedaan kasta
Teh Yen
wah jd Bella otak dari semua kejadian ini yah pantas kau d sebut wanita ular Bella Karenna kau licik
Teh Yen
apakah nanda akan memberikan maaf dan menerima Tristan ?
Teh Yen
siapa siapa.lagi yg terlibat Andre ?
Teh Yen
minta maaf dulu Tristan d ceritkan kejadian sebenarnya pada ananda yah smoga ananda memberikan maaf padamu
Teh Yen
perlihatkan fotonya indra ,,dan perasaan kamu juga pernah ketemu sekali kan saat nganterin hp Nanda yg tertinggal kala itu ank kecil yg panggil kamu om tampan itu adalah ank kandung mu Tristan
Teh Yen
bagaimana yah tanggapan Tristan saat tau punya ank dari ananda
Inooy
untung ada Indra s intelejen,,ayooo Ndraaa bantu Tristan dn Ananda jangan sampe lampir2 bersekongkol memisahkan Tristan dn Ananda..apalagi masa lalu Tristan ada campur tangan kamu jg, Ndraa...
Teh Yen
nah loh udh main nyosor aj awalnya nolak ananda eeh terbuai jg bergelora lah itu cinta kalian Kemabli bersemi d masa lalu melupakan benci berubah jd kerinduan yg mendalam
Teh Yen
rasain tuh hajar trus ananda biar tau rasa itu wanita jalang seklain balas dendam atas kejadian dulu yah 😁
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul 🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!