"Rin mau kemana? kenapa diam-diam membawa koper begitu?" Tanya Aga merasa curiga pada istrinya, mendadak istrinya pamit pergi, padahal dia baru saja pulang dari pasar. Arin diam saja dan tetap memasukkan kopernya ke dalam bagasi mobil. "Rin aku nanya sama kamu? Kalau mau pergi, aku antar" "Tidak perlu mas, di dalam masih ada tamu" "Tamu Istimewa" Imbuh Arin dalam hati. Arin menyerah. Sejak kecil dia sudah mengabdi di keluarga suaminya karena mereka telah di jodohkan sejak kecil. Arin kira pengorbanan dan kesabarannya akan membuat suaminya luluh, namun dia salah. Suaminya bahkan membawa wanita idamannya ke dalam rumah. Arin sudah tidak tahu apa yang ingin dia pertahankan di rumah ini, bahkan setelah satu tahun menikah, tak sekalipun dia di sentuh. "Tunggu aku sebentar, keluarkan kopermu. Masukkan ke mobil ku, aku akan mengantarmu" Pinta Aga, namun Arin sudah mati rasa, dia langsung meminta supir melajukan mobilnya.Arin tak memperdulikan Aga yang berteriak sambil berlari mengejarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibah Ibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
Bubur nasi dan juga nasi goreng sudah matang, aku menata nya di dua tempat nampan berbeda. Aku membawa nampan berisi bubur lebih dulu.
"Ibu makan bubur dulu ya? biar perut ibu tidak makin perih"
Aku menyuapinya beberapa kali, hanya lima sendok, Ibu sudah tidak mau lagi.
"Ibu mual Rin, ar hangat nya saja"
Aku mengagguk pelan, ku lihat mas Aga ada di ambang pintu melihat kami. Mungkin dia ingin marah lagi padaku.
Aku tidak peduli dengan tatapannya, aku memilih mengambil obat ibu yang ada di laci.
"Di minum Bu, jangan langsung tidur. Duduk dulu sebentar, baru tidur"
"Iya, terima kasih ya Rin, Ibu sangat bersyukur karena di pertemukan dengan kamu"
"Arin juga sangat bersyukur bertemu ibu, Ibu istirahat ya? Arin ke dapur dulu"
Saat aku merapikan sisa makanan Ibu, Mas Aga sudah menghilang. Aku bergegas ke dapur dan memberikan nasi goreng buatanku pada nya. Dia pasti di kamar, ku bawa talam berisi nasi goreng itu ke kamar, bukan untuk membuatnya terkesan, tapi sebagai rasa tanggung jawab ku sebagai istrinya, juga untuk menebus kesalahanku karena sudah seharian pergi.
Meski hati ini selalu di buat lara olehnya,namun ibu selalu mengajariku agar tidak membalas keburukan orang lain pada kita dengan keburukan. Jangan ada dendam di hati, pasti hati kita akan lebih tenang.
Aku selalu mengingat nasehat itu, aku tidak menyangka justru putra Ibu sendiri yang selalu menghadirkan luka dan benci.
Begitu aku masuk ke kamar, Ku dengar Mas Aga tengah tertawa sambil menelfon seseorang. Aku bisa dengar itu suara wanita. Dia pasti Rindu, wanita yang selalu jadi pujaan hati Mas Aga.
"Aku juga kengan sama kamu dek" Kalimat yang keluar dari mulut Mas Aga benar-benar bak duri tajam.
Kini rasanya giliran ku yang ingin murka padanya, dia seperti memanfaatkan aku. Dia memintaku merawat ibunya, tapi dia sendiri justru bersenang-senang sendiri.
Hati ku kesal, rasanya emosi ini begitu meluap-luap di hati. Aku urung memberikan nasi goreng buatan ku padanya. Ku taruh lagi nasi itu ke kulkas. Dia begitu egois, aku ini istrinya, bukan pembantu ataupun perawat ibunya.
Jika begini, masih bisakah aku berbaik hati padanya? Apa aku bisa melakukan nasehat ibu untuk tidak membencinya?
"Sayang sekali hasilnya negatif ya Rin, padahal ibu sudah pengen sekali punya Cucu"
Kata-kata ibu waktu itu benar-benar membuat ku hancur. Ini sangat mendamba seorang cucu, sedangkan aku selalu saja mendamba kasih sayangnya. Hubungan kami selalu saja dingin. Jangankan menyatu dengan ku, menyentuh ku saja dia tak sudi, di hatinya sudah ada wanita lain. Apa aku bisa seperti Maryam yang hamil tanpa di buah i? Aku bukan wanita sehebat itu.
Aku tidak mau kembali ke kamar, yang ada aku akan makin nelangsa mendengar obrolan Mas Aga dengan kekasihnya. Aku kembali ke kamar ini, memastikan Ibu baik-baik saja.
"Kenapa ke sini lagi Rin? Ibu sudah baik-baik saja"
"Arin yang sedang tidak baik-baik saja Bu" Batinku dalam hati.
Aku kembali menghampiri Ibu, aku naik ke ranjang besarnya dan masuk dalam selimut nya.
"Arin takut ibu kenapa-napa, jadi malam ini Arin boleh ya tidur sama Ibu?"
"Lo nanti suami kamu gimana?"
"Cuma satu malam Bu, lagi pula semenjak Arin nikah, Arin sama sekali belum pernah tidur barang Ibu, Arin kangen tahu"
"Kalian tidak sedang bertengkar kan?"
"Tidak ibu, Kami tidak bertengkar, malam ini Arin juga sedang halangan. Jadi lebih baik Arin nemenin ibu saja"pic
Ibu Tina tertawa sambil mengelus rambut ini dengan penuh kasih sayang, andai saja perlakuan manis ini juga di lakukan mas Aga.
"Ya sudah, sini tidur sama Ibu"
Aku memeluk tubuh ibu dengan erat, rasanya hangat dan nyaman sekali. Aku penasaran jika si peluk mas Aga seperti ini, apakah rasanya akan sama? Atau akan sebaliknya.
Aku mencoba tidak memikirkan Mas Aga, aku akan menikmati tidur malam ku, tidur di ranjang empung dan nyaman.
Hal kecil yang aku rindukan sejak aku menikah dengan Mas Aga. Jujur tidur di sofa panjang itu benar-benar membuat tubuhku sangat kaku.
****
Keesokan harinya, aku benar-benar bangun siang. Malam ini tidur ku begitu nyenyak, aku sampai tidak sadar kalau di luar sudah terang benderang.
Aku turun dari ranjang, menata selimut dan juga merapikan tempat tidur. Rasanya nyaman sekali bisa tidur di ranjang ini. Andai saja aku bisa tidur di toko kue, pasti tubuhku tidak akan kaku setiap hari.
Aku mencuci muka di kamar mandi ibu, setelah memastikan tubuh ini bersih, aku berniat ke dapur membuatkan ibu sarapan. Biasanya jam segini ibu masih memakai mukenanya dan menunggu waktu sholat Dhuha. Tapi aku tidak melihatnya, jadi aku putuskan mencari ibu lebih dulu.
Tempat pertama yang aku cari adalah teras depan, Ibu selaku menyiram bunga-bunga di sana. Jadi aku akan ke sana saja, aku akan menyapa ibu dulu.
"Kog ibu juga tidak ada?" Aku buru-buru ke kamar Mas Aga mengambil ponsel ku, ku dengar gemericik air dari arah kamar mandi, itu tandanya Mas Aga sedang mandi di sana. aku ambil telfon dan menelfon Sita, menanyakan apa Ibu ada di toko.
"Hallo Sit, kamu sudah berangkat kan? apa ibu ada di toko?" Tanya Ku dengan rasa penuh hawatir. Tidak biasanya ibu pergi tanpa sepengatahuan ku.
"Tidak ada mbak, tiga hari ini toko libur, katanya Bu Tina meminta kami liburan, jadi hari ini Sita masih di rumah mbak"
"Apa! Kog Ibu tidak bilang padaku?"
"Nana yang bilang ke sita mbak, mungkin karena kita kemarin pergi jalan-jalan, jadi Bu Tina inisiatif meliburkan karyawannya"
Aku langsung mematikan ponsel, jika toko libur, lalu ibu di mana? Semalam perutnya masih sakit, dia tidak boleh makan sembarangan.
Duh gustiiii ada apa lagi ini? kenapa ibu mendadak hilang.
Saat aku hawatir pada Ibu, mas Aga keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang sudah segar, aku langsung menghampiri nya tidak ku pedulikan jika dia hanya memakai handuk sebatas perut saja. Aku menghampirinya bukan untuk menggoda, sejak malam itu, aku sudah berjanji pada diri ini, aku tidak akan melakukan hal bodoh itu lagi kecuali Mas Aga yang memintanya.
Mas Aga nampak cuek kala aku mendekat, dia mengaggap ku hanya angin yang tak tampak.
"Mas lihat ibu?" Tanya ku, dia berhenti mengelap tubuhnya dengan handuk kecil, dan menatap ku dalam.
"Bukankah kamu yang semalam tidur dengan Ibu?"
'Deg'
Apa itu artinya Mas Aga juga tidak tahu di mana Ibu?
Aku langsung berbalik dan bergegas mencari ibu, namun baru saja sampai di ambang pintu mas Aga berteriak padaku.
"Ibu pergi ke rumah temannya, ada acara katanya, ibu menginap di sana tiga hari"
Rasanya hati ku lega mendengarnya, tapi .....
Apa! Ibu pergi tiga hari? Apa itu artinya aku juga akan berdua saja di rumah ini dengan Mas Aga?
Hati ini nelangsa, pasti tiga hari ini akan jadi hari yang mengerikan. Kenapa Ibu tidak mengajak ku? Biasanya ibu selalu meminta aku ikut serta.
ku kirim ☕☕ biar semangat...
krna slm ini aga brusaha keras untuk mmbuat arin prgi dri hidupnya... krna arin istri yg sangat" dia benci...