NovelToon NovelToon
Benih Jenius Sang Miliarder

Benih Jenius Sang Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Lari Saat Hamil / One Night Stand / Anak Genius / CEO / Mafia
Popularitas:18.9k
Nilai: 5
Nama Author: riniasyifa

Lima tahun lalu, Clara Jasmine melarikan diri dari sebuah malam penuh gairah di daratan Swiss, meninggalkan secarik pesan usang dan membawa pergi rahasia besar yang mengubah hidupnya selamanya.
​Kini, Clara kembali ke Jakarta sebagai single mother yang berjuang membesarkan anak kembarnya, Ken dan Key. Namun, si kembar bukanlah balita biasa. Di balik wajah polos mereka, Ken dan Key adalah peretas cilik jenius dengan sepasang mata abu-abu yang sangat tajam.
​Takdir seolah mempermainkan Clara ketika ia tak sengaja bekerja di Van Der Berg Group.

Alexio Van Der Berg, sang CEO dingin dan tak tersentuh penguasa perusahaan tersebut.
​Melihat sepasang mata abu-abu yang menatapnya dengan berani, dunia Alexio berhenti berputar. Pria yang selama lima tahun nyaris gila mencari pemilik surat di dompetnya itu akhirnya menemukan buruannya.

​"Lima tahun kau berlari membawa darah dagingku, Clara. Mulai hari ini, kau dan anak-anak tidak akan bisa pergi ke mana-mana lagi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Ketty, Ken, dan Key secara kompak dan otomatis mundur beberapa langkah, memberikan ruang privat yang tak tertembus bagi sang kepala keluarga.

Para staf, penata rias, dan kru panggung yang biasanya sibuk berteriak, kini terdiam membeku. Udara di backstage seolah tersedot habis oleh dominasi yang dipancarkan Alexio.

Alexio berhenti tepat di depan Clara. Pria itu menatap istrinya dari ujung tiara berlian hingga ke ujung gaun keperakan yang menjuntai di lantai. Iris abu-abunya berkilat oleh campuran rasa bangga, kekaguman mutlak, dan gairah posesif yang tidak lagi repot-repot ia sembunyikan.

Tanpa memedulikan puluhan pasang mata yang mencuri pandang ke arah mereka, Alexio merengkuh pinggang ramping Clara. Ia menarik tubuh istrinya hingga menempel sempurna di dadanya yang bidang.

"Kau menaklukkan dunia malam ini, Ratuku," bisik Alexio, suaranya rendah dan serak, menggetarkan sanubari Clara.

Sebelum Clara sempat merangkai kata balasan, Alexio menunduk dan mendaratkan ciuman yang dalam, menuntut, namun sangat memuja di bibir istrinya. Ciuman itu seolah menjadi stempel kepemilikan mutlak di hadapan dunia, mendeklarasikan bahwa wanita luar biasa yang baru saja mencetak sejarah ini adalah miliknya seutuhnya.

Di belakang mereka, Ketty buru-buru menutup wajahnya sendiri sambil menahan pekikan gemas, lalu dengan panik berusaha menutup mata Ken dan Key dengan kedua tangannya.

"Astaga, Tuan Bos! Anak-anak masih di bawah umur!" desis Ketty setengah panik, meski matanya sendiri mengintip dari sela-sela jari.

Key, yang matanya ditutup oleh tangan Ketty, hanya tertawa renyah. "Tidak apa-apa, Bunda Ketty. Aku dan Kak Ken sudah mempelajari anatomi dasar dan reaksi hormon endorfin manusia sejak tahun lalu. Reaksi Papa sangat wajar dan terukur secara biologis."

Mendengar celetukan polos namun luar biasa ilmiah dari putrinya, Alexio terpaksa mengurai ciumannya. Ia menyandarkan keningnya di kening Clara, tersenyum miring sambil mengatur napas. Clara sendiri sudah merona semerah tomat matang, menenggelamkan wajahnya di dada Alexio karena malu ditonton oleh seluruh kru panggung.

"Kalian merusak momen romantis Papa, Bos Kecil," tegur Alexio dengan nada bercanda, menoleh menatap kedua anak kembarnya.

Ken membetulkan letak kacamatanya dengan gaya analitis yang khas. "Bukannya merusak, Pa. Analisis kami hanya menegaskan bahwa waktu untuk bermesraan lebih efisien dilakukan nanti di kamar utama mansion, bukan di tempat dengan tingkat privasi nol persen seperti ini. Apalagi, Kakek Buyut dan Oma, Opa sedang berjalan kemari."

Benar saja. Suara derap langkah kaki yang teratur dan tegas terdengar membelah kerumunan. Alexander, sang patriark dinasti Van Der Berg, melangkah masuk didampingi oleh Olivia, Andries dan Reno. Tongkat kayu berukir naga di tangan pria tua itu mengetuk lantai dengan wibawa yang tak tertandingi.

Olivia langsung menghambur memeluk Clara, menangis haru tanpa memedulikan riasan wajahnya sendiri.

"Oh, Sayangku! Kau luar biasa! Mommy tidak pernah merasa sebangga ini seumur hidup Mommy! Gaunmu... cara jalanmu... kau benar-benar permaisuri Van Der Berg sejati!"

Clara membalas pelukan mertuanya dengan senyum lega. "Terima kasih, Mom. Ini semua juga berkat dukungan luar biasa dari keluarga ini."

Alexander berdiri di hadapan Clara. Pria tua yang dulu terkenal paling kejam dan pragmatis di dunia bisnis itu kini menatap menantunya dengan mata berkaca-kaca yang memancarkan rasa hormat. Ia mengangkat tongkatnya sedikit, memberi isyarat kepada Reno.

Reno maju satu langkah, membungkuk hormat kepada Clara, lalu membacakan laporannya dengan suara lantang yang bisa didengar oleh seluruh staf di backstage.

"Nyonya Muda Clara, laporan terkini dari bursa saham global: saham Van Der Berg Group sub-sektor mode dan retail baru saja meroket sebesar 320 persen hanya dalam waktu lima belas menit setelah Anda menutup runway. Pesanan prapemesanan (pre-order) untuk The Phoenix Collection dari para bangsawan Eropa dan taipan Asia telah membludak hingga membuat server penjualan utama kita nyaris down, kalau saja Tuan Muda Ken tidak segera mengalihkan bandwith cadangan," lapor Reno dengan raut wajah bangga.

Reno menutup tabletnya, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih rendah dan rahasia. "Dan satu lagi... keluarga Smith di Jenewa telah resmi ditahan oleh Interpol satu jam yang lalu. Seluruh aset mereka telah dilikuidasi. Ancaman sudah bersih hingga ke akarnya."

Alexander mengangguk puas. Pria tua itu meraih tangan Clara, lalu menepuknya dengan lembut namun penuh penekanan.

"Dulu, Kakek menerimamu karena kau terbukti berkualitas melahirkan dan mendidik para pewaris jenius untuk keluarga ini," ucap Alexander dengan suara berat yang menggelegar.

"Tapi malam ini, kau telah membuktikan sesuatu yang jauh lebih besar, Clara. Kau bukan cuma ibu dari pewarisku. Kau adalah pilar penyangga dinasti ini. Dengan tanganmu sendiri, kau telah membawa nama Van Der Berg terbang lebih tinggi dari sebelumnya. Mulai detik ini, tidak ada satu pun orang di dunia ini yang boleh meragukan posisimu!"

Kata-kata Alexander adalah dekrit mutlak. Pengakuan tertinggi dari sang penguasa tertinggi. Ketty menghapus air matanya, para staf di backstage bertepuk tangan riuh, dan Clara tidak bisa lagi menahan air mata harunya.

Lelah yang menggerogoti fisiknya selama berhari-hari menguap tak bersisa. Terbayar lunas.

Beberapa jam kemudian, hiruk-pikuk afterparty dan wawancara media akhirnya usai.

Di dalam penthouse khusus yang disewa Alexio di hotel seberang pusat konvensi, suasana kembali hening dan intim. Ken dan Key sudah tertidur lelap di kamar sebelah setelah kelelahan memakan terlalu banyak kue cokelat premium di pesta perayaan.

Clara baru saja keluar dari kamar mandi, mengenakan jubah mandi berbahan sutra yang lembut. Wajahnya sudah bersih dari makeup tebal, mengembalikan kecantikan naturalnya yang selama ini membuat Alexio bertekuk lutut.

Alexio sedang berdiri di balkon penthouse, menyesap segelas bourbon sambil menatap kelap-kelip lampu kota Jakarta yang terhampar di bawah mereka. Kemeja putihnya sudah dikeluarkan dari celana, dan beberapa kancing atasnya terbuka bebas.

Clara melangkah mendekat, melingkarkan kedua lengannya dari belakang, memeluk pinggang suaminya yang kokoh. Ia menyandarkan pipinya di punggung lebar Alexio, menghirup aroma maskulin sandalwood yang bercampur dengan angin malam.

Alexio meletakkan gelasnya. Ia berbalik, merengkuh tubuh istrinya, lalu mengangkat Clara dan mendudukkannya di atas pagar pembatas balkon yang aman. Tangannya mengurung tubuh Clara, mengusap helaian rambut wanita itu yang tertiup angin.

"Semuanya sudah selesai," bisik Clara pelan, menatap mata suaminya. "Keluarga Smith, peluncuran koleksi, ketakutanku selama lima tahun... semuanya sudah berakhir malam ini, kan?"

"Belum," jawab Alexio dengan suara rendah dan serak.

Clara mengerutkan kening. "Belum?"

Alexio tersenyum miring. Tatapannya berubah menjadi gelap, memancarkan hasrat yang membara dan janji yang tak akan pernah pudar.

"Penderitaanmu, ketakutanmu, dan pelarianmu memang sudah berakhir, Sayang," bisik Alexio, menempelkan keningnya di kening Clara, merasakan hembusan napas hangat istrinya di bibirnya.

"Tapi kehidupan kita... hidupmu sebagai istriku, ibu dari anak-anakku, dan ratu yang akan menguasai separuh napasku... baru saja dimulai."

Jantung Clara berdetak liar. Alexio menyapu bibir Clara dengan ibu jarinya, lalu memberikan kecupan-kecupan ringan di rahang dan leher istrinya, membuat wanita itu memejamkan mata dan mendesah pelan.

"Melihatmu berdiri di panggung tadi, memancarkan aura seorang ratu dengan sayap phoenix di punggungmu... kau tidak tahu betapa gilanya aku menahan diri untuk tidak menyeretmu turun dan mengurungmu di kamar ini sejak awal," geram Alexio dengan nada yang sangat intim dan posesif.

"Dan sekarang... karena Ken dan Key sudah tidur, kurasa ini saat yang tepat untuk membahas tentang... proyek pewaris ketiga."

Mata Clara seketika membulat. Rona merah langsung menjalar dari leher hingga ke telinganya. "A-Alexio! Ini sudah lewat tengah malam! Aku lelah sekali!"

"Aku yang akan bekerja, kau hanya perlu menikmati mahakaryaku malam ini," bisik Alexio dengan seringai iblisnya yang luar biasa tampan.

Tanpa memberi ampun, Alexio mengangkat tubuh Clara dalam gendongan bridal style, membawa istrinya menjauh dari balkon dan masuk ke dalam kamar tidur mereka.

Malam itu, di bawah taburan bintang ibu kota, kisah Clara Jasmine bukan lagi sekadar dongeng tentang si miskin yang menikahi pangeran. Ia adalah sang phoenix yang bangkit, menemukan kekuatan sejatinya, dan mengikat sang naga penguasa dalam genggaman cinta abadinya.

Bersambung...

1
Munas Tuti
anak2 heibat ....sapa sangka anak TK ternyata melebihi org dewasa kepintarannya 👍👍
Munas Tuti
wuiiis hebatnya anak2 Alexio 👍👍
Munas Tuti
waduuuh gimana ni...Alexio gak ada, emang gak keditex sama c kembar
Ariany Sudjana
puji Tuhan, penerbangan Alexio berhasil diselamatkan dan Clara juga selamat, semua karena ke jeniusan si kembar.... bravo Ken dan key

asli part ini bacanya seru
Umi Zein
waalaikumsalam... Alhamdulillah baik kak Ri🤗 sehat2 selalu juga buat kak othornya 🥰Ok ka siaap 🫡😄
Rani R.I
gpp byk musuh tapii jgn biarkan si terkalahkan,,membaca sambil bersitegang 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Rani R.I
sgtt Seruuu dan menegangkan thourr 🤣🤣🤣🤣🤣,, terimakasih thourr 👍💪🔥,, semangat up thourr dan sehat slalu 🤲🤲🤲🔥🔥🔥
riniandara: terima kasih kak/Kiss/
total 1 replies
Siti Nurhayati
cerita y sangat menarik sprti d film
riniandara: terima kasih kak/Applaud/
total 1 replies
Ariany Sudjana
waduh kok bisa Alexio kecolongan dan pergi ke eropa? semoga si kembar bisa menangani kejadian di mansion dan menangkap pelakunya
Siti Nurhayati
hebat bner si kembar bsa melindungi keluarga y Mantappp
Umi Zein
kak maaf kyanya kalo umur 4th agak aneh klo anak seusia mereka bisa mengendalikan komputer seorang hacker suhu. walau cm Novel, klo usia 7th masuk akal😄😄
Rani R.I
🤣🤣🤣🤣🤣🤣 duhhh Dimitri nama mu bagus tapii syg harus jadi musuh yang harus di musnah kan oleh si kembar,,hmmm Baru permulaan yea 🤣🤣🤣,,, kita lihat sampai mana kemampuan mu tuan Dimitri 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Munas Tuti
gaaaaass teroooos 💪💪
Munas Tuti
buseeeet...dasar bocil genius
Rani R.I
wowww musuh sudah mulai mendekat,, Ayuk ken dan key jgn biarkan siapapun mendekati mama dan adek kalian 🔥🔥🔥🔥💪💪💪💪
Rani R.I
wowww kerennn ken dan key,, lindungi mamah dan adek bayi 💪💪💪💪🥰🥰🥰🥰
Munas Tuti
perang pewaris di mulaiii
Munas Tuti
👍👍👍👍👍
Ariany Sudjana
puji Tuhan, si kembar bisa mengatasi gangguan di rumah sakit. fixed mereka keturunan Alexio yang sangat jenius dan calon mafia masa depan. tapi kok Alexio Dan Reno bisa kecolongan ya?
Bu Kus
sih kembar emang ada aja akalnya cerdas dan jenius
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!