Enam tahun lalu, Kenzo Roman De Luca kehilangan seorang wanita yang tak pernah berhasil ia lupakan. Yang tak pernah ia ketahui, wanita itu pergi membawa dua kehidupan yang tumbuh menjadi anak-anak genius.
Takdir mempertemukan mereka kembali.
Namun, sebelum Kenzo mengetahui kebenarannya, seorang bocah laki-laki yang tak sengaja bertemu dengannya dengan berani menawari sesuatu padanya.
"Asal Anda siap menikah dengan Mommy kami. Maka saya siap bekerja sama dengan Anda," ujar Mateo enteng.
Kenzo terpaku, dia tak tahu anak yang sedang memohon kepadanya itu adalah putranya sendiri. Akankah, Kenzo setuju atau justru sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Tara memaksakan sebuah tawa kecil, berusaha menyembunyikan kegugupan yang mulai menguasai dirinya.
"Mirip dengan Anda?" ulangnya ringan, "bagaimana bisa?" Ia menggeleng pelan.
"Mateo itu jelas-jelas mirip dengan ayahnya. Sedangkan, Alisya lebih banyak mewarisi wajah saya, Tuan Kenzo." Tara menatap lurus ke arah Kenzo, berusaha terdengar setenang mungkin. "Jadi, dari mana anak-anak saya bisa mirip dengan Anda?"
Meski suaranya terdengar mantap, telapak tangannya mulai berkeringat. Dia tahu dirinya sedang berbohong, dan ia hanya berharap Kenzo tidak menangkap kegelisahan yang berusaha ia sembunyikan.
Kenzo tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap tertuju pada Tara, seolah sedang membaca setiap perubahan ekspresi wanita itu. Namun, sebelum salah satu dari mereka kembali berbicara, sebuah suara perempuan memecah keheningan.
"Oho ... siapa ini?"
Tara menoleh, seorang wanita berpenampilan elegan dengan gaun yang menonjolkan kesan glamor melangkah mendekat. Senyum tipis terukir di bibirnya, tetapi sorot matanya penuh kesombongan.
"Disti..." gumam Tara lirih. Jantungnya berdegup lebih cepat, enam tahun lalu. Wanita itulah yang telah menjebaknya dalam sebuah peristiwa yang mengubah seluruh hidupnya. Seseorang yang selama bertahun-tahun ia anggap sebagai bagian dari keluarganya, ternyata justru memiliki peran besar dalam malam kelam itu.
"Sudah lama kita tidak bertemu," sapa Disti sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada. Disti, berhenti tepat di hadapan Tara dengan tatapan meremehkan.
"Jadi ... selama menghilang, kamu jadi pengacara yang hebat?" Disti terkekeh pelan.
"Oh, tidak mungkin. Pengacara hebat cuma satu, Tata Corrent yang berasal dari Hong kong."
Ia mengucapkan nama itu dengan nada penuh kekaguman.
"Katanya, Tata Corrent akan mulai menangani perkara di Indonesia. Dia pengacara terkenal dari Hong Kong. Bahkan, sebelum menginjakkan kaki di sini, namanya sudah dibicarakan banyak firma hukum."
Disti melirik Tara dari ujung kepala hingga kaki, lalu tersenyum sinis.
"Aku harap kamu tidak bermimpi bisa bertemu dengannya. Firma kami sudah berusaha membuat janji lebih dulu."
Tara tetap diam, sudut bibirnya nyaris terangkat, tetapi ia menahannya. Wanita yang sedang menghina dan meremehkannya sama sekali tidak menyadari bahwa orang yang dipujinya berdiri tepat di hadapannya, Tara Devika Halim. Nama yang ia gunakan sejak kembali ke Indonesia.
Sementara, di Hong Kong, di dunia hukum di sana mengenalnya dengan nama profesional Tata Corrent, seorang pengacara yang reputasinya dibangun melalui kemenangan demi kemenangan dalam perkara-perkara besar.
Selama berkarier di Hong Kong, Tara nyaris tidak pernah muncul di hadapan media. Wajahnya jarang dipublikasikan. Klien, hakim, dan rekan profesinya mengenalnya karena kemampuannya, bukan karena sorotan kamera. Karena itulah, Disti tidak pernah menyadari bahwa wanita yang sedang ia rendahkan adalah sosok yang selama ini berusaha ia temui.
Di samping mereka, Kenzo tetap terdiam. Tatapannya bergantian mengamati Tara dan Disti.
Satu hal yang ia sadari sejak tadi, setiap kali Disti berbicara, sorot mata Tara berubah. Bukan takut, melainkan penuh kewaspadaan dan menyimpan luka lama yang belum benar-benar sembuh.
"Tuan Kenzo? Sedang apa Anda di sini?" sapa Disti dengan senyum ramah yang dibuat-buat. "Apa Anda juga datang untuk membeli saham?"
Namun, Kenzo sama sekali tidak menoleh ke arahnya. Tatapannya tetap tertuju pada Tara.
"Nona Tara," ucapnya tenang namun tegas, "sepertinya masih banyak hal yang harus kita bicarakan. Mari kembali ke perusahaan bersama saya."
Nada bicaranya terdengar seperti sebuah keputusan, bukan sekadar ajakan. Di dalam benaknya, Kenzo sudah tidak memiliki keraguan lagi.
Enam tahun lalu, ia mungkin tidak mengetahui jelas nama wanita yang menghilang dari hidupnya. Namun, wajah itu tidak pernah benar-benar ia lupakan. Jika dugaannya benar, maka Mateo bukan sekadar bocah yang kebetulan mirip dengannya, Mateo adalah darah dagingnya, Pewaris keluarga De Luca.
Melihat dirinya diabaikan, wajah Disti berubah kesal.
"Anda mengenal wanita ini, Tuan?" tanyanya sambil tertawa sinis. "Kalau begitu, biar saya beri tahu."
Ia menunjuk Tara tanpa ragu. "Wanita ini hanyalah perempuan murahan yang rela menghancurkan harga dirinya demi mengejar nama dan ketenaran."
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Disti. Kepala wanita itu sampai menoleh ke samping akibat kuatnya tamparan tersebut. Disti, memegangi pipinya dengan mata membelalak, tidak percaya Tara berani menamparnya di depan banyak orang.
Tara menarik kembali tangannya perlahan. Sorot matanya berubah tajam, jauh berbeda dari wanita gugup beberapa saat yang lalu.
"Jangan samakan sampah sepertimu dengan diriku." Suaranya tenang, tetapi setiap katanya terdengar dingin.
"Kita jauh sangat berbeda." lanjutnya.
Disti menggertakkan gigi. "Kamu berani menamparku?"
"Kalau kamu masih ingin menyebarkan fitnah yang sama," balas Tara tanpa gentar, "silakan lanjutkan." Ia melangkah satu langkah lebih dekat.
"Tapi ingat, setiap ucapanmu memiliki konsekuensi hukum."
Dengan nada tegas, Tara melanjutkan, "menuduh seseorang melakukan perbuatan tercela tanpa bukti yang dapat dipertanggungjawabkan dapat berujung pada sengketa hukum terkait pencemaran nama baik maupun fitnah, tergantung pada fakta, alat bukti, dan ketentuan hukum yang berlaku."
Tatapan Tara tidak bergeser sedikit pun.
"Sebagai seorang pengacara, saya paham betul hak saya untuk melindungi nama baik melalui jalur hukum apabila tuduhan seperti itu terus diulang."
Suasana di lobi mendadak menegang, semua mata tertuju pada Tara. Sejak pertemuan mereka, Kenzo melihat sisi lain dari wanita itu. Tara bukan wanita lemah, melainkan seorang pengacara yang berdiri tegak, tenang, dan mampu membungkam lawannya hanya dengan beberapa kalimat.
'Menarik, sangat cocok masuk ke keluarga De Luca. Dia pantas jadi ibu dari anak-anakku,' batin Kenzo yang membuat bibirnya tak sadar tersenyum tipis.
'Kenapa dia tersenyum, apa sekarang dia sadar kalau aku ini wanita yang emosian? Jangan-jangan dia akan memecatku setelah ini,' Tara panik, dia membutuhkan pekerjaan itu, meskipun banyak yang ingin bekerja dengan Tata Corrent, tetapi perusahaan De Luca adalah yang layak untuk dia tempati saat ini.
diumumkan begitu aja
anugerah apa bencana yaaa?😱🤣🤣🤣
Kenzo nih tipe orang yg GK suka basa basi muter muter,, cus pokoknya lgsg beres ya kan 🤭
Setuju,,... pengumuman pernikahanmu harus segera d sebar luaskan ....,, biar ga ad yg berani godain mommy Tara 😅