Pernikahan impian yang dibayangkan Naya berubah menjadi takdir nekad saat ia terpaksa naik ke pelaminan, menggantikan sang kakak yang kabur tepat sehari sebelum akad. demi menyelamatkan kehormatan keluarganya, Naya pasrah mengikat janji suci dengan pria asing yang bahkan tak pernah ia bayangkan.
Namun, kejutan sebenarnya baru dimulai saat tirai malam pertama tersingkap. Pria yang kini sah menjadi suaminya adalah Raka Mahendra—CEO dingin dan arogan yang pernah memanjatkan penderitaan di hidup Naya dengan memecatnya secara sesepihak di depan umum. Pernikahan atas dasar kesepakatan enam bulan pun dimulai dengan kebencian yang masih membakar dada.
Di tengah perang dingin satu atap, benteng pertahanan Raka perlahan runtuh. Sikap ketusnya berganti perhatian samar yang membuat hati Naya berdesir.
Bagaimana keseruan rumah tangga instan yang mereka jalani ??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fikafiky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Runtuhnya Imparium Kepalsuan
Perwira polisi melangkah maju, mengeluarkan sepasang borgol besi yang berkilau di bawah pendar lampu ruangan.
"Bapak Hendra Mahendra," ujar perwira polisi itu tegas, "Anda kami tahan atas tuduhan tindak pidana pembunuhan berencana, sabotase bisnis, pencucian uang, dan pemalsuan dokumen negara. Anda berhak untuk diam dan menghubungi kuasa hukum Anda."
Klek.
Suara borgol yang mengunci kedua pergelangan tangan Hendra bergema nyaring di dalam ruangan. Pria paruh baya yang tadinya begitu arogan dan berkuasa itu kini diseret keluar dari ruang rapat dengan tubuh gemetar tak berdaya, menjadi tontonan hina bagi seluruh dewan komisaris.
Sepeninggal Hendra dan aparat kepolisian, keheningan yang lega perlahan merayap di dalam ruang rapat utama.
Raka berdiri dari kursinya. Pria itu menyapu pandangan ke arah seluruh dewan komisaris yang masih tertegun.
"Mulai hari ini," tegas Raka dengan suara yang amat mantap, "Mahendra Group secara resmi merilis pernyataan maaf terbuka kepada keluarga Surya Kanindita.
Seluruh nama baik beliau akan dipulihkan di media nasional, dan seluruh kerugian yang mereka tanggung selama delapan tahun terakhir akan diganti penuh oleh perusahaan."
Para komisaris dengan serentak berdiri dari kursi mereka, memberikan tepuk tangan riuh yang dipenuhi rasa hormat dan kekaguman atas keberanian dan keadilan sang CEO muda.
Tiga jam kemudian, badai di ruang rapat telah sepenuhnya mereda. Konferensi pers darurat telah selesai digelar di lantai dasar, dan berita pembersihan nama baik Surya Kanindita serta penangkapan Hendra Mahendra menjadi berita utama di seluruh stasiun televisi nasional.
Di dalam ruang kerja CEO yang luas dan tenang, pendar sinar matahari sore yang hangat membiaskan warna keemasan dari balik jendela kaca raksasa.
Naya berdiri di dekat jendela, menatap pemandangan cakrawala kota Jakarta dengan hembusan napas yang teramat lega. Beban berat yang meremas dadanya selama belasan tahun, bayang-bayang kejahatan, ketakutan akan kemiskinan, dan stigma sebagai anak seorang penjahat, akhirnya sirna sepenuhnya, terbang terbawa angin sore.
Sebuah helaan napas hangat terasa di belakang lehernya.
Raka melangkah mendekat dari belakang, lalu dengan lembut melingkarkan kedua lengan kokohnya di pinggang Naya. Pria itu menyandarkan dagunya di bahu Naya, menghirup aroma harum rambut wanita itu yang selalu menenangkan jiwanya.
Naya tidak menolak atau bergeming. Ia justru menyandarkan punggungnya ke dada bidang Raka, menikmati kehangatan dan rasa aman yang menyelimuti tubuhnya.
"Terima kasih, Raka ..." bisik Naya pelan, tangannya mengelus jemari Raka yang melingkar di perutnya. "Terima kasih sudah mengembalikan kehormatan Ayahku."
Raka tersenyum tipis, mencium lembut pelipis Naya. "Aku hanya mengembalikan apa yang seharusnya menjadi milik ayahmu sejak dulu, Naya. Justru aku yang harus berterima kasih padamu."
Naya memutar tubuhnya sedikit, menatap wajah tampan Raka dari dekat. "Terima kasih untuk apa?"
"Terima kasih karena sudah hadir di dalam hidupku," jawab Raka tulus, mata elangnya berkilat dipenuhi pendar kasih sayang yang amat murni. "Kalau Kania tidak kabur hari itu ... kalau kamu tidak datang menggantikannya ... aku mungkin masih menjadi pria dingin yang penuh dendam dan tidak pernah tahu artinya dicintai."
Dada Naya berdesir hangat mendengar pengakuan tulus itu. Senyuman manis dan jujur terbit di bibirnya.
"Jadi..." goda Naya dengan alis terangkat, "...bagaimana dengan perjanjian kontrak kita? Pasal 12 tentang tidak boleh melibatkan perasaan itu... bagaimana nasibnya?"
Raka terkekeh renyah, sebuah suara tawa yang begitu indah dan memikat. Pria itu merogoh saku jasnya, mengeluarkan selembar kertas dokumen perjanjian nikah kontrak milik mereka yang dulu ditandatangani di apartemen.
Di depan mata Naya, Raka merobek kertas perjanjian itu menjadi dua, empat, lalu meremasnya dan membuangnya ke dalam kotak sampah di dekat mejanya.
"Perjanjian kontrak itu sudah tidak berlaku," tegas Raka seraya menatap Naya dengan pendar mata yang amat posesif namun lembut. "Mulai detik ini ... tidak ada lagi akting, tidak ada lagi kepalsuan, dan tidak ada lagi bayang-bayang Kania."
Raka mengikis sisa jarak di antara mereka, menangkup kedua pipi Naya dengan jemarinya yang hangat. "Aku ingin menikahimu secara resmi di hadapan hukum dan Tuhan, Naya Kanindita. Bukan sebagai pahlawan pengganti ... tapi sebagai wanita yang paling aku cintai di dunia ini."
Air mata kebahagiaan menetes halus di pipi Naya. Kali ini, bukan air mata duka atau ketakutan, melainkan air mata kedamaian murni.
Naya berjinjit sedikit, melingkarkan kedua tangannya di leher Raka, lalu berbisik lembut di depan bibir pria itu:
"Aku mau, Raka ... Aku mau jadi istri mu yang sebenarnya."
Raka menyunggingkan senyum bahagianya yang paling tampan, lalu menundukkan kepalanya, menyatukan bibir mereka dalam sebuah kecupan yang amat hangat, lembut, dan penuh cinta di bawah naungan langit keemasan Jakarta.
Badai telah berlalu, luka masa lalu telah terobati, dan di atas reruntuhan kepalsuan itu, sebuah cinta yang sejati kini tumbuh abadi dan tak tergoyahkan.
Kecupan itu terputus ketika suara ketukan terdengar dari pintu ruang kerja Raka.
Tok! Tok! Tok!
Naya sontak menjauh, wajahnya memerah seperti kepiting rebus. Raka menghela napas panjang, menatap pintu dengan sorot mata tidak senang.
"Masuk!" serunya.
Pintu terbuka, menampakkan Dimas, sekretaris pribadi Raka, yang berusaha keras menahan senyum ketika melihat posisi kedua atasannya.
"Maaf mengganggu, Pak. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa berita penangkapan Pak Hendra sudah tersebar luas. Selain itu, Nenek Rahma menelepon berkali-kali dan meminta Anda segera pulang."
Raka mengangkat sebelah alis. "Memangnya ada apa?"
Dimas tersenyum lebar. "Beliau bilang ingin bertemu dengan cucu menantunya. Katanya, sudah terlalu lama menunggu kabar bahagia dari kalian."
Wajah Naya semakin merah. "Cucu menantu?"
"Benar, Bu Naya." Dimas mengangguk sopan. "Beliau bahkan sudah meminta koki menyiapkan hidangan kesukaan Anda."
Setelah Dimas keluar, Naya langsung menoleh kepada Raka.
"Ini pasti gara-gara kamu!" tuduhnya sambil mencubit lengan pria itu pelan. "Kamu bilang kepada Nenek kalau kita akan menikah lagi?"
Raka justru tersenyum jahil. "Aku belum bilang apa-apa. Mungkin nenekku punya indra keenam."
"Raka!"
"Ya, Sayang?"
Naya terdiam mendengar panggilan itu. Sudah biasa mendengarnya selama pernikahan kontrak mereka, tetapi kali ini terasa berbeda. Tidak ada kepura-puraan di balik suara lembut Raka.
Pria itu menggenggam tangannya, lalu mengecup punggung tangannya dengan penuh kasih.
"Ayo pulang. Kita temui Nenek, lalu aku akan meminta restunya untuk menikahimu secara resmi."
Naya mengangguk, senyumnya mengembang.
Namun, sebelum mereka meninggalkan ruangan, Raka mengambil sebuah kotak kecil dari laci meja. Ketika dibuka, sepasang cincin berlian berkilau di dalamnya.
"Aku sebenarnya sudah menyiapkan ini sejak beberapa minggu lalu," ujar Raka pelan. "Tapi aku ingin memberikannya ketika kamu benar-benar memilihku."
Naya menatap cincin itu dengan mata berkaca-kaca.
"Aku memilihmu, Raka. Bukan karena kekayaanmu, bukan karena perlindunganmu, tetapi karena hatiku memang sudah menjadi milikmu."
Raka tersenyum, lalu memasangkan cincin itu di jari manis Naya.
"Kalau begitu, bersiaplah, istriku. Kali ini, aku akan membuatmu menjadi wanita paling bahagia di dunia."