NovelToon NovelToon
Isteri Tersembunyi Sang Pewaris

Isteri Tersembunyi Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:898
Nilai: 5
Nama Author: christinsenia seranica

Takdir mempertemukan Andien, gadis desa polos, dengan Carlo, pewaris konglomerat yang sekarat akibat pengkhianatan. Usai merawatnya hingga pulih, Andien dinikahi Carlo secara rahasia di desa—tanpa tahu bahwa di kota, Carlo sudah memiliki istri sah bernama Laras, seorang dokter muda berprestasi dengan karier yang gemilang.


Kehidupan Andien seketika berubah menjadi neraka saat Carlo membawanya ke kota dan menyembunyikannya sebagai "orang luar". Di balik kemewahan, Andien harus menelan pahitnya dituduh sebagai pengganggu, sementara Carlo bersikap dingin di depan publik demi menjaga nama baik dan posisinya di mata Laras. Namun, saat Laras yang cerdas mulai mencium aroma pengkhianatan di rumah tangganya, permainan rahasia Carlo terancam hancur. Akankah ketulusan Andien menang, atau ia hanya menjadi bayangan di tengah ambisi dan pernikahan megah Carlo?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon christinsenia seranica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 Empat Menit Tiga Puluh Detik

Suara itu tua dan serak, tetapi masih memiliki ketegasan seorang pria yang seumur hidupnya terbiasa didengarkan.

*"Bram. Aku sudah tahu soal angka-angka itu."*

Ruang pemeriksaan membeku. Carlo tak bergerak, kedua tangannya terkepal di atas meja. Laras berdiri di belakangnya dengan tangan menempel di bahunya, dan Andien melihat jari-jari perempuan itu menegang, seolah bersiap menahan sesuatu yang akan jatuh.

Terdengar bunyi kursi bergeser di rekaman. Lalu suara lain, lebih muda, lebih berat, dan terlalu akrab bagi mereka semua.

*"Angka apa, Kak?"*

*"Jangan pura-pura. Aku sudah memeriksa laporan audit internal yang kamu sembunyikan dari dewan. Tujuh tahun, Bram. Hampir empat ratus miliar yang kamu pindahkan lewat perusahaan konsultan fiktif."*

Hening. Bunyi napas. Di rekaman, sebuah jam dinding berdetak pelan, mengisi jeda yang terasa panjang.

*"Kak, itu salah paham."*

*"Aku membaca setiap lembarnya sendiri. Tidak ada salah paham."* Suara tua itu terdengar lelah, bukan marah. *"Aku tidak menelepon polisi. Aku tidak menelepon Hendra. Aku memanggilmu sendiri karena kamu adikku. Dan karena aku ingin memberimu kesempatan."*

*"Kesempatan apa?"*

*"Besok pagi, kamu temui Carlo. Akui semuanya, kembalikan uangnya sebisamu, dan mundur dari dewan. Kalau kamu melakukannya sendiri, aku tidak akan membawa ini ke pengadilan."*

Carlo menutup mata. Rahangnya bergerak, tetapi tak ada suara yang keluar.

*"Carlo anak muda,"* suara Bram terdengar lirih. *"Dia tidak akan mengerti."*

*"Dia akan lebih mengerti daripada yang kamu kira. Dia putraku."* Jeda panjang. *"Lagi pula, aku sudah menandatangani perubahan susunan dewan. Kuasa sementara untuk Hendra hanya berlaku sampai Carlo pulang dari Eropa dan siap memimpin penuh. Aku tidak ingin perusahaan ini jatuh ke tangan siapa pun yang tidak jujur."*

Andien menatap Laras. Wajah perempuan itu pucat, tetapi matanya menyala. Surat yang dulu dilempar Hendra ke meja di rumah Menteng ternyata hanya potongan kebenaran.

*"Kak..."* Suara Bram bergetar. *"Aku mohon. Beri aku waktu seminggu."*

*"Tidak ada seminggu."*

Dan kemudian, dari rekaman itu, terdengar bunyi yang membuat Andien menahan napas. Sebuah batuk pendek, tertahan. Lalu satu lagi, lebih dalam. Lalu bunyi tangan menepuk dada.

---

*"Kak?"*

*"Tidak apa-apa. Cuma..."* Suara tua itu terputus. Napasnya terdengar pendek-pendek, tersengal. *"Dadaku... agak sesak."*

*"Duduk, Kak. Biar kuambilkan air."*

*"Obatku... di laci."*

Terdengar gemerisik, bunyi laci ditarik, botol kecil bergoyang. Carlo membuka matanya, dan Andien melihat sesuatu di sana yang membuat dadanya sesak: harapan. Harapan bodoh dan putus asa bahwa di rekaman ini, entah bagaimana, ayahnya akan selamat.

*"Ini, Kak."*

*"Terima kasih..."* Bunyi pil ditelan. Bunyi napas panjang. *"Tolong... telepon dokter. Dr. Handoko. Nomornya di buku merah."*

*"Iya, Kak. Sebentar."*

Lalu hening.

Bukan hening kosong, melainkan hening yang berbunyi. Bunyi jam dinding. Bunyi napas yang kian pendek. Bunyi gesekan kain, seseorang yang gelisah di kursinya.

Satu menit berlalu. Dua menit.

*"Bram..."* Suara tua itu kini hampir berbisik. *"Teleponnya..."*

*"Aku sedang mencari nomornya, Kak."*

*"Buku... merah... di meja..."*

*"Sebentar."*

Tak terdengar bunyi buku dibuka. Tak terdengar tombol telepon ditekan. Hanya bunyi napas yang semakin berat, semakin lambat, dan sebuah suara lain yang menyela, nyaris tak terdengar, seperti orang berbicara pada dirinya sendiri.

*"Maaf, Kak. Maaf."*

Laras menutup mulutnya dengan telapak tangan. Andien merasakan lantai di bawah kakinya bergoyang.

Carlo tidak bergerak sama sekali.

Di rekaman, napas tua itu berhenti. Bukan tiba-tiba, melainkan perlahan, seperti nyala lilin yang kehabisan sumbu. Kemudian terdengar bunyi tubuh yang merosot pelan di kursi kulit, dan setelahnya, hanya ada jam dinding yang terus berdetak, tak peduli pada apa pun.

Sunyi berlangsung hampir satu menit penuh.

Lalu, pada menit keempat lewat dua puluh detik, terdengar nada sambung telepon, dan suara Bram yang tiba-tiba berubah panik dan melengking.

*"Halo? Ambulans? Cepat! Kakakku... kakakku pingsan!"*

Rekaman berhenti.

---

Tak ada yang bicara. Tak seorang pun.

Komisaris Arief menutup laptop dengan gerakan sangat pelan, seolah takut suara kecil sekalipun akan memecahkan sesuatu di ruangan itu.

Carlo masih duduk membeku di kursinya. Wajahnya tidak menampakkan apa pun. Tidak marah, tidak menangis, tidak terkejut. Hanya kosong, seperti dinding putih yang baru dicat.

"Sembilan tahun," katanya akhirnya, nyaris tanpa suara. "Selama sembilan tahun aku mengira ayahku meninggal karena serangan jantung yang datang tiba-tiba. Kupikir takdir. Kupikir tak ada yang bisa dilakukan."

"Carlo..." bisik Laras.

"Ternyata ada." Carlo mengangkat wajah, menatap kaca di seberang ruangan, mungkin menatap bayangannya sendiri. "Ternyata dua menit saja bisa menyelamatkannya. Dua menit yang diambil seseorang yang memilih berdiri diam."

"Bram tidak membunuhnya," kata Komisaris Arief pelan, hati-hati. "Secara hukum, ini lebih rumit. Kelalaian yang disengaja, pembiaran. Tapi dengan rekaman ini, ditambah bukti penggelapan dan percobaan pembunuhan terhadap Bapak, jaksa punya banyak alasan untuk..."

"Pak Komisaris." Carlo memotongnya dengan suara datar. "Aku tidak peduli pasal berapa."

Hening.

Andien melihat tangan Carlo di atas meja mulai gemetar. Awalnya halus, nyaris tak terlihat. Lalu makin jelas, seperti tanah yang bergetar sebelum gempa. Dan akhirnya, tanpa suara, tanpa aba-aba, bahu pria itu bergoyang dan ia menunduk, menutup wajah dengan kedua telapak tangan.

Ia tak menangis keras. Hanya bahu yang naik turun dan napas yang pecah-pecah, seperti anak kecil yang menangis di balik selimut agar tak terdengar orang tua.

Laras bergerak lebih dulu. Ia berlutut di samping kursinya, menarik kepala Carlo ke bahunya dengan gerakan yang bukan gerakan dokter, bukan juga gerakan istri yang disakiti, melainkan gerakan seseorang yang pernah mencintai pria ini, dan di suatu tempat dalam dirinya, masih menyimpan kehangatan itu.

"Aku di sini," bisiknya. "Aku di sini, Carlo."

Andien berdiri di sudut ruangan, tak tahu harus berbuat apa. Ada bagian dari dirinya yang ingin mendekat, yang ingin menggenggam tangan pria itu seperti dulu di gubuk bambu. Tetapi ada bagian lain yang tahu bahwa saat ini, bukan tempatnya.

Ia mundur satu langkah, lalu satu lagi, dan akhirnya berbalik menuju pintu.

"Dien."

Suara Carlo, parau dan teredam di bahu Laras. Andien berhenti dengan tangan di gagang pintu.

"Jangan pergi."

"Saya tidak pergi jauh, Mas. Saya hanya..." Ia menelan ludah. "Saya rasa ini bukan waktu saya."

Carlo mengangkat wajah. Matanya merah, pipinya basah, dan ia menatap Andien dengan sorot yang belum pernah ia perlihatkan sebelumnya: telanjang, tanpa perhitungan, tanpa pertahanan.

"Aku tidak minta kamu tinggal sebagai apa pun," katanya. "Hanya sebagai seseorang yang aku percaya tidak akan menghilang kalau aku sedang hancur."

Kalimat itu menembus sesuatu di dada Andien yang selama ini ia kunci rapat.

Ia berjalan kembali, duduk di kursi di samping Carlo, dan tanpa berkata apa-apa, meletakkan tangannya di atas tangan pria itu yang masih gemetar. Hanya itu. Tak ada kata penghiburan, tak ada janji. Dua tangan yang saling menyentuh di atas meja logam dingin.

"Ayah saya meninggal waktu saya sebelas tahun," kata Andien pelan, setelah beberapa lama. "Tenggelam di sungai, saat mencoba menolong anak tetangga. Saya tidak pernah tahu apakah ada yang bisa dilakukan orang lain untuk menyelamatkannya. Selama bertahun-tahun, saya pikir itu lebih baik. Lebih mudah tidak tahu."

Carlo menoleh padanya.

"Tapi sekarang saya pikir," lanjut Andien, "mengetahui, walaupun menyakitkan, lebih baik daripada hidup dengan dugaan yang tak pernah selesai. Karena sekarang Mas bisa berhenti bertanya, dan mulai memutuskan apa yang mau Mas lakukan dengan jawabannya."

Carlo menatapnya lama. Lalu ia mengangguk pelan, sekali, seperti orang yang akhirnya diberi izin untuk bernapas.

---

Komisaris Arief menyalin rekaman itu ke tiga perangkat berbeda sebelum menyerahkan flash disk aslinya ke ruang bukti. Ia keluar sebentar untuk menelepon jaksa, dan ketika kembali, wajahnya tampak lebih keras dari sebelumnya.

"Jaksa meminta rekaman ini diperdengarkan di persidangan," katanya. "Kasus Bramantyo sekarang bukan hanya tentang Anda, Pak Carlo. Penggelapan dana perusahaan, kelalaian yang menyebabkan kematian, percobaan pembunuhan, ancaman terhadap saksi, dan penculikan. Ancaman hukumannya akan sangat berat."

"Dia sudah tahu soal rekaman ini?"

"Belum. Dia hanya tahu kita menahannya karena kejadian di rumah Bu Laras." Komisaris Arief menatap Carlo tajam. "Kami akan memeriksanya lagi siang ini, dengan bukti baru. Biasanya orang seperti Bramantyo, yang terlalu percaya diri, mulai retak ketika sadar semua kartunya terbuka."

Carlo menegakkan punggung. Matanya masih merah, tetapi sesuatu telah berubah di dalamnya, bukan kemarahan membara, melainkan ketenangan dingin yang jauh lebih menakutkan.

"Aku ingin hadir saat pemeriksaan itu."

"Pak Carlo, itu tidak diperbolehkan, apalagi dalam kondisi emosi..."

"Aku tidak akan berteriak. Aku tidak akan menyentuhnya." Carlo berdiri perlahan. "Aku hanya ingin duduk di seberang meja dan melihat wajahnya ketika dia mendengar suara kakaknya sendiri."

Komisaris Arief terdiam lama. Lalu ia melirik Laras, yang mengangguk sangat kecil.

"Satu syarat," kata sang komisaris akhirnya. "Bu Laras ikut mendampingi Anda. Dan Anda tidak bicara, kecuali saya izinkan."

"Setuju."

"Dan Bu Andien..."

"Saya akan menunggu di luar," sela Andien lembut. "Ini bukan perang saya."

Carlo menoleh padanya. "Dien..."

"Tapi saya akan ada di sini, Mas. Kalau Mas keluar, saya di sini." Ia tersenyum kecil, lelah tetapi hangat. "Itu bukan janji. Itu hanya... kenyataan."

Carlo menatapnya sesaat lagi, lalu mengangguk.

Ketika pintu tertutup di belakang mereka bertiga, Andien duduk sendirian di ruang pemeriksaan yang sunyi, menatap laptop tertutup di atas meja logam. Di balik kaca satu arah, bayangannya tampak kecil dan jauh, seorang gadis desa yang entah bagaimana telah masuk terlalu dalam ke sebuah dunia yang bukan miliknya.

Tetapi ia tidak merasa kecil. Untuk pertama kalinya, ia merasa seperti seseorang yang berdiri di tempat yang benar.

---

*Bersambung ke Bab 22...*

1
Renjana
menunggu😊
mampir juga di karyaku "Rotinya Manis, Rin! ya
Renjana
bagus ni
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!