NovelToon NovelToon
Nona Muda Jatuh Miskin

Nona Muda Jatuh Miskin

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:484
Nilai: 5
Nama Author: BUNGA LYONA

Valeska Aurelia punya tiga prinsip hidup: habiskan uang, tabrak aturan, dan jangan pernah dengarkan orang lain.

Sebagai putri tunggal konglomerat ternama, Valeska terbiasa hidup bak ratu yang tak tersentuh hukum. Pesta malam, mobil sport, dan deretan kartu kredit tanpa limit adalah makanan sehari-harinya.

Sampai dalam semalam, sebuah skandal besar menghancurkan bisnis keluarganya. Ayahnya dipenjara, aset disita, dan semua kartu kreditnya diblokir. Valeska yang kemarin dipuja-puja kini terdepak dari istananya dan terpaksa angkat kaki hanya dengan membawa satu koper berisi barang-barang tak berguna.

Dari kamar seluas lapangan basket ke kontrakan sempit yang airnya sering mati, Valeska dipaksa menghadapi kenyataan pahit: dia tidak tahu cara menyapu, kaget melihat harga mi instan, dan harus mencari uang sendiri.

Mampukah si Nona Muda yang ugal-ugalan ini bertahan hidup tanpa uang sepeser pun, atau gengsi setinggi langitnya justru bikin hidupnya makin berantakan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUNGA LYONA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22. Nilai Ulangan

Jena mendesis kesal, memutar badannya dan berjalan masuk ke kelas diikuti Giselle dan Clarissa dengan wajah bersungut-sungut. Koridor depan kelas XI-1 mendadak agak sepi setelah kerumunan anak-anak membubarkan diri.

Valeska mematung beberapa detik, menatap lantai granit dengan napas beraturan. Setelah rasa panas di dadanya mereda, dia menoleh ke arah Elang yang masih berdiri santai menyandarkan bahunya di pintu kelas.

"Elang," panggil Valeska pelan. Suaranya tidak lagi melengking galak seperti dulu, tapi terdengar dingin dan lelah.

Elang menaikkan sebelah alisnya. "Apa?"

"Mulai sekarang... lo udahin aja," kata Valeska lurus menatap mata Elang. "Gak usah peduli lagi sama gue. Gak usah pasang badan di depan anak-anak, gak usah anter jemput gue, dan gak usah ngerasa terbebani lagi sama utang budi atau pesan Papa gue."

Elang diam sejenak, mengamati raut wajah Valeska yang tampak pucat namun mengeras oleh tekad. Cowok itu menyunggingkan senyum tipis yang meremehkan.

"Yakin lo?" tanya Elang datar. "Emang lo sanggup jalan sendirian? Kerja di kafe, bayar SPP, ngadapi Jena sekelas, tanpa ada bekingan sama sekali?"

Valeska mengepalkan jemarinya erat-erat, membusungkan dadanya sedikit demi menegakkan sisa-sisa harga dirinya.

"Sanggup," sahut Valeska tegas tanpa ada rasa ragu sedikit pun di matanya. "Gue yang harus jalanin hidup gue sendiri, bukan lo. Lo udah cukup bantu gue dapat kerjaan di kafe, dan buat itu gue makasih. Tapi sampai di sini aja. Gue sanggup."

Elang menatap Valeska cukup lama, menilai kesungguhan dari tiap kata yang diucapkan cewek di depannya. Tidak ada lagi keterpaksaan atau tangisan manja. Cewek yang dulu paling dibencinya karena keangkuhannya itu kini benar-benar berniat berdiri di atas kakinya sendiri.

"Oke," pangkas Elang pendek, merapikan tali tas di bahunya. "Kalau itu mau lo, gue hargai. Mulai detik ini gue gak akan ikut campur urusan lo lagi. Jangan cari gue kalau lo nyesel."

"Gak akan," balas Valeska singkat.

Elang membalikkan badan dan melangkah masuk ke dalam kelas tanpa menoleh lagi. Perjanjian tak tertulis di antara mereka resmi berakhir. Valeska menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan, lalu menyusul masuk ke kelas dengan kepala tegak—siap menghadapi badai apa pun sendirian mulai hari ini.

Pilihan yang diambil Valeska membawa konsekuensi yang begitu menyiksa. Demi membuktikan ucapannya dan menolak bergantung lagi pada Elang, Valeska mulai menempuh seluruh perjalanannya dengan berjalan kaki—mulai dari rumah kontrakan di Gang Mawar ke SMA Nusantara, melanjutkannya ke kafe Kopi Senja usai bel pulang berkumandang, lalu kembali lagi ke rumah saat malam makin larut.

Panas terik dan debu jalanan menjadi temannya sehari-hari. Masalah terbesar datang dari sepasang sepatu sekolah tua yang terpaksa dia pakai kembali. Sepatu kain hitam itu sudah sangat sempit dan keras. Setiap pijakan kaki Valeska rasanya seperti ditusuk-tusuk jarum. Tumit dan jari-jari kakinya lecet parah, melepuh, hingga akhirnya berdarah, mengotori bagian dalam kaos kakinya yang lusuh.

Siksaan tidak berhenti di situ. Di dapur basah Kopi Senja, tugas cuci piring yang tak ada habisnya mulai mengikis fisik Valeska. Tangan yang dulu selalu terawat mulus, rajin mengaplikasikan hand cream mahal, dan dipoles cat kuku cantik, kini perlahan berubah. Kulit jemarinya mulai terkelupas, memerah, dan kasar akibat terus-menerus terpapar zat kimia keras dari sabun cuci piring murah serta air dingin dapur. Setiap kali busa sabun mengenai kulitnya yang terkelupas, rasa perih menyengat hingga membuat matanya berkaca-kaca.

Namun, yang paling menyayat hati Valeska justru kenyataan di sekitarnya.

Elang benar-benar menepati ucapannya. Begitu Valeska bilang untuk tidak peduli lagi, Elang benar-benar lepas tangan total. Di sekolah, Elang berjalan melewatinya begitu saja seolah-olah Valeska adalah sosok kasat mata. Di kafe, Elang fokus pada pekerjaannya sendiri sebagai barista di bar depan dan tak pernah lagi melangkah ke dapur belakang untuk sekadar menanyakan kabarnya atau membantunya mengangkat tumpukan piring berat.

Di sudut dapur yang dingin, sambil menahan perih di telapak tangan dan kakinya yang berdarah, Valeska akhirnya menyadari satu hal pahit: Elang memang sama sekali tidak pernah memiliki perasaan apa pun padanya. Bantuan, tebengan motor, dan perhatian dingin Elang selama ini murni hanya bentuk balas budi atas jasa Papanya, Pratama. Begitu ikatan itu diputus oleh Valeska sendiri, Elang kembali menjadi orang asing yang sama sekali tidak peduli apakah dia akan hancur atau bertahan.

Sesampainya di kontrakan Gang Mawar, Valeska langsung terduduk lemas di lantai semen yang dingin. Napasnya terengah-engah, tubuhnya serasa mau remuk setelah berjalan kaki belasan kilometer demi menahan gengsi dan membuktikan diri.

Dengan tangan gemetaran, Valeska perlahan melepas sepatu sekolah tuanya.

Sret...

"Aagh..." Valeska merintih kesakitan saat kaos kaki putihnya yang bernoda darah kering menempel lekat pada luka melepuh di tumitnya. Dia harus menariknya pelan-pelan, membiarkan kulitnya yang terkelupas kembali merembeskan darah segar.

Valeska menyeret tubuhnya menuju meja kecil, mengambil satu-satunya obat yang dia punya: sebotol alkohol pembersih luka dan minyak kayu putih sisa peninggalan Mamanya.

Saat cairan obat itu menyentuh lukanya yang terbuka, rasa perih menyengat hebat hingga Valeska memejamkan mata erat-erat dan menahan jeritan di dalam dada. Dia menatap telapak tangannya sendiri yang memerah, kasar, dan kulitnya terkelupas akibat terpaan sabun cuci piring tiap hari.

Air matanya perlahan menetas, jatuh tepat di atas permukaan lukanya yang terasa terbakar.

"Pedih banget, Ma..." bisik Valeska parau, suaranya pecah di dalam ruangan yang sunyi gundah itu.

Dia teringat masa lalunya. Masa di mana kalau jari kecilnya tergores kertas sedikit saja saat membaca buku, Mamanya akan panik setengah mati. Mamanya akan langsung memanggil dokter pribadi, diusap-usap dengan penuh kasih sayang, dan dimanjakan seharian tanpa boleh menyentuh apa pun.

"Dulu... luka sekecil apa pun, Mama langsung usap... Mama langsung panik..." gumam Valeska dengan tangis yang makin terisak-isak, memeluk kedua lututnya kencang-kencang. "Mama bakal peluk Valeska, bilang enggak apa-apa... Tapi sekarang... Valeska berdarah-darah kayak gini, enggak ada yang peduli..."

Valeska menatap tangannya yang kasar, mengusap bekas air mata yang tak kunjung berhenti di pipinya.

"Elang juga beneran enggak peduli..." gumamnya lagi, tersenyum getir meratapi nasibnya. "Ternyata emang cuma karena Papa... Pas gue bilang gausah peduli, dia bener-bener anggap gue kayak angin lalu. Tolol banget sih lo, Val... ngarepin apa lo dari dia?"

Dia meremas jemarinya yang perih, menatap bayangan dirinya di cermin retak yang tersandar di sudut dinding.

"Dulu tangan ini halus banget... jari-jarinya cantik, bisa beli perawatan mahal apa aja..." bisik Valeska pilu, suaranya bergetar hebat menahan rasa sesak yang menggumpal di dada. "Sekarang? Rusak, kasar, bau sabun murah... Kaki gue hancur, tangan gue terkelupas..."

"Gue benci situasi ini, Ma... Gue benci harus pura-pura kuat di depan semua orang!" jerit Valeska lirih, menumpahkan seluruh keputusasaan yang dipendamnya seharian. "Gue kangen rumah kita yang dulu... Gue kangen dipeluk Mama... Gue kangen Papa..."

Di bawah remang lampu bohlam kuning kontrakan, Valeska mengobati kakinya sendirian dalam balutan isak tangis yang pilu. Tidak ada lagi pelukan hangat Mama, tidak ada lagi uluran tangan Elang, dan tidak ada lagi kemewahan. Yang tersisa malam itu hanyalah seorang Valeska yang sedang merawat lukanya sendiri, belajar menerima kenyataan pahit bahwa dalam pertarungan hidup ini, dialah satu-satunya tempat untuk bersandar.

***

Keesokan harinya di SMA Nusantara, kelopak mata Valeska terasa sangat berat. Suara Pak Bambang yang sedang menjelaskan rumus Fisika di depan kelas hanya terdengar seperti gumaman samar di telinganya. Kepala Valeska terasa berdenyut-denyut. Efek melayani tumpukan piring kotor sampai larut malam dan berjalan kaki belasan kilometer benar-benar menguras sisa tenaganya.

Brak!

Pak Bambang menjatuhkan tumpukan kertas ulangan ke atas meja guru, membuat Valeska tersentak kaget dari lamunannya.

"Ini hasil ulangan Fisika minggu lalu," ujar Pak Bambang dengan suara tegas. "Bapak sangat kecewa. Ada yang nilainya turun drastis, sama sekali tidak fokus belajar!"

Satu per satu kertas ulangan dibagikan. Begitu lembaran miliknya mendarat di atas meja, Valeska membeku. Angka merah mencolok tertera di pojok atas: 35.

"Aduh, kasihan banget ya... Ada yang nilainya anjlok sampai ke dasar jurang!" suara nyaring Jena mendadak pecah di tengah kelas, sengaja dikeras-keraskan.

Jena berdiri dari bangkunya, sengaja mengibas-ngibaskan kertas ulangannya yang berangka 90 tepat di depan wajah Valeska, disusul Giselle yang memamerkan angka 85.

"Lihat nih, Val! Duit orang tua gue emang melimpah, tapi otak gue tetap jalan!" pamer Jena sambil tertawa mengejek. "Lo kenapa? Dulu sok pinter, sekarang kok jadi lemot gini?"

Giselle melipat tangan di dada, menyunggingkan senyum paling sinisnya. "Aduh, Jen, lo kayak enggak paham aja. Kan otak itu butuh nutrisi. Kalau tiap hari cuma makan tempe goreng sama minum air mentah kontrakan, ya wajar otaknya tumpul!"

"Bener banget!" timpal Jena lagi, menundukkan kepala sejajar dengan muka Valeska yang pucat. "Pelajaran moralnya simpel, Val: Miskin itu nular ke otak! Dulu lo bisa dapet nilai bagus karena fasilitas Papa lo. Sekarang pas fasilitasnya dicabut, terbukti kan kalau lo itu aslinya bodoh?"

Tawa geli dari beberapa siswa di kelas mulai terdengar, menyudutkan Valeska dalam rasa malu yang teramat sangat. Valeska meremas kertas ulangannya hingga lecek. Dadanya naik turun menahan emosi yang siap meledak. Namun, rasa lelah luar biasa justru menempa keberanian baru di dalam jiwanya.

Valeska perlahan berdiri dari kursinya. Dia menatap Jena dan Giselle lurus-lurus tanpa ada lagi keraguan atau rasa takut.

"Udah puas ngocehnya?" tanya Valeska dingin, membuat tawa Jena dan Giselle mendadak terhenti.

"Apa lo bilang?!" bentak Jena, kaget melihat keberanian Valeska.

Valeska menyunggingkan senyum tipis yang penuh cemoohan. "Gue bilang, udah puas belum pamer nilai hasil belajar pakai uang les mahal orang tua kalian?"

Valeska melangkah mendekati Jena, menatap mata cewek itu dengan tajam. "Nilai gue emang lagi anjlok karena gue harus banting tulang buat bertahan hidup. Tapi ingat satu hal, Jen... Gue jatuh karena keadaan, bukan karena otak gue yang cetek."

Valeska melirik kertas ulangan Jena, lalu menatap wajahnya kembali. "Otak gue cuma butuh istirahat. Tapi kalau kelakuan murah dan otak pendek kalian? Dipaksain pakai fasilitas semahal apa pun, tetep aja kerdil."

"Kurang ajar lo ya, Valeska!" jerit Giselle dengan muka merah padam.

"Kenapa? Tersinggung?" potong Valeska tenang namun menyengat. "Daripada kalian sibuk ngurusin nilai orang miskin kayak gue, mending simpan tenaga kalian buat jaga-jaga... Takutnya roda berputar, terus kalian yang ada di posisi gue sekarang. Sanggup enggak?"

Jena dan Giselle bungkam seribu bahasa, membeku dengan mulut setengah terbuka karena tak sanggup membalas omongan telak itu.

Valeska menyambar tas sekolahnya, tidak peduli bel pulang baru saja berbunyi. Dia berbalik dan melangkah mantap menuju pintu keluar kelas, meninggalkan Jena dan Giselle yang berdiri menahan malu di depan teman-teman sekelas.

Saat Valeska melewati pintu belakang, langkahnya sempat terhenti sekilas saat matanya bertabrakan dengan sorot mata Elang yang duduk diam memperhatikan seluruh kejadian itu dari pojok ruangan.

Valeska menatap Elang datar tanpa ekspresi, lalu menegakkan kepalanya kembali.

"Permisi. Gue mau berangkat kerja," pamit Valeska dingin pada ruangan itu, sebelum akhirnya berjalan melenggang pergi meninggalkan koridor sekolah.

1
Paw_chan🐾
bagus seru ceritanya
BUNGA LYONA: makasihh😍
total 1 replies
Fadillah Ahmad
Covernya Bagus... 👍 Cuma yaaa itu, sinopsisnya 'Belum bisa' menggetarkan hatiku 🙏🙏🙏 tidak ada adegan menegangkan, atau situasi menegangkan yang bisa menjadi Pertimbanganku. 🙏🙏🙏 Novel ini, masuk Berandaku soalnya... 😁😁😁🙏 'Mungkin' Lain kali aku akan mampir 🙏🙏🙏😁
Fadillah Ahmad: Baik Kak 🙏🙏🙏😁 Dari Segi Pemilihan Cover yang aku suka dari Novel ini... 🙏🙏🙏 Cuma, Unruk Sinopsia Kurang Kak 🙏🙏🙏 Kalau, judul sudah bagus 👍 Hanya di Sinopsis saja yang kena... 🙏🙏🙏😁
total 2 replies
♛ ⃟$𝑅࿐Λ𝐍𝐘Λ:𝙎𝙏𝘼𝙍𝆺𝅥⃝⭐🌊
wkwkwk 🤣🫵
♛ ⃟$𝑅࿐Λ𝐍𝐘Λ:𝙎𝙏𝘼𝙍𝆺𝅥⃝⭐🌊
He no no ya, gaboleh gitu
♛ ⃟$𝑅࿐Λ𝐍𝐘Λ:𝙎𝙏𝘼𝙍𝆺𝅥⃝⭐🌊
Ko lucu kalo di bayangin 🙈 jadi kaya rival gitu. moga akur nanti
♛ ⃟$𝑅࿐Λ𝐍𝐘Λ:𝙎𝙏𝘼𝙍𝆺𝅥⃝⭐🌊
Hedehhh Valeska Valeska🙂‍↔️🙂‍↔️/Facepalm/
♛ ⃟$𝑅࿐Λ𝐍𝐘Λ:𝙎𝙏𝘼𝙍𝆺𝅥⃝⭐🌊
Hai kaka, aku barusan baca deskripsi nya, dan itu menarik perhatian ku, semoga seru ceritanya. Semangat ya🥰💪
BUNGA LYONA: wahh makasih yaa😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!