Abimana Rahardjo adalah putra pemilik sebuah pesantren dan merupakan penerus dari pondok pesantren milik keluarganya karena dia merupakan putra satu-satunya keluarga tersebut.
Sejak kecil dia telah di jodohkan dengan seorang gadis yang merupakan putri asuh keluarga Rahardjo yakni Kemala Putri Dewi yang merupakan putri sahabat kedua orangtuanya.
Kemala yang telah lama jadi yatim piatu sejak usia 10 tahun harus merelakan cita-citanya yang ingin jadi dokter karena sebuah balas budi.
Pernikahan karena dijodohkan itu benar-benar mencekik Kemala dikarenakan sang suami yang rupanya memilih poligami dengan perempuan yang telah lama ada dihati Abimana.
Hati Kemala hancur karena cinta suami yang tak kunjung dia dapatkan dan karena kehadiran orang ketiga dalam rumah tangga mereka.
Hingga suatu hari, seorang pemuda mampu menggoyahkan hati Kemala.
Laki-laki yang dianggap urakan dan bertato layaknya preman.
simak kisahnya di Memeluk Bayangan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
memupus harapan
Brak..!!!
Pintu ruang tamu terbuka kasar.
Ada Abimana berdiri di ambang pintu dengan nafas naik turun.
Wajahnya yang putih bersih terlihat memerah.
Kemala yang sedang melipat pakaian yang baru saja diangkat dari jemuran menengadah namun sedetik kemudian kembali melanjutkan kegiatannya.
"Kenapa kamu berbicara seperti itu kepada Kirana? Apa salahnya padamu Kemala?" seru Abimana berusaha menahan intonasi suaranya agar tetap stabil.
Kemala berhenti melipat pakaiannya.
Dia sudah menduga hal ini akan terjadi.
"Memangnya dia mengadu apa mas?" tanyanya sesantai mungkin sambil melanjutkan pekerjaannya.
Abimana melangkah mendekat.
Duduk di kursi tepat dihadapan Kemala yang duduk di karpet.
Keningnya berlipat, mencoba menggali ingatan akan rumah ini, mengabaikan pertanyaan Kemala barusan.
Dan ya, pigura yang berisi foto pernikahan mereka kini telah hilang dari tempatnya.
"Kamu kemanakan foto pernikahan kita?" tanyanya menatap dinding yang kosong.
Kemala mengikuti arah pandangan Abimana. "Dalam agama, kita dilarang memajang gambar didalam rumah. Lagipula, cepat atau lambat foto itu juga pasti akan di turunkan dari tempatnya. Jadi daripada harus merusak mata dengan melihatnya tiap hari, lebih baik dipindahkan secepatnya..." sahut Kemala enteng tanpa beban.
"Kemala... Lihat saya kalau sedang bicara! Saya masih suamimu, jadi hormati saya!" Abimana mencekal pergelangan tangan Kemala agar fokus perempuan itu tertuju padanya.
Kemala meringis karena tangannya perih. Dalam posisi demikian, Kemala bisa melihat dengan jelas bagian dada Abimana yang tersingkap karena kancing kemeja yang terbuka bagian atasnya.
Ada tanda merah yang cukup banyak disana.
Hatinya mencelos.
Sadar akan arah tatapan Kemala, Abimana melepas genggaman di pergelangan tangan Kemala dan mencoba menutupi bagian dadanya.
Kemala tanpa sadar mendengus dan berdecih.
"Ternyata dibalik tampilannya yang alim dan sok kalem, dia gragas juga rupanya" entah ejekan atau pujian yang diberikan oleh Kemala namun hal itu cukup membuat Abimana tersentil.
"Jangan mengalihkan pembicaraan! Jelaskan pada saya, kenapa kamu mengatai Kirana sebagai p*lacur? Kamu sadar akan kata-kata itu?" ucap Abimana kembali pada topik sebelumnya.
Kemala memandang suaminya dengan tatapan tak ramah. Dia bangkit hendak ke kamar.
Muak dengan sikap Abimana yang tak bisa berlaku adil kepada mereka berdua hanya karena dirinya istri dari perjodohan sementara Kirana adalah perempuan yang dicintainya.
"Kamu mau kemana?! Saya belum selesai! Apa begini caramu bersikap kepada suamimu Kemala? Apa kamu tidak pernah diajarkan oleh orangtuamu?!" hardik Abimana yang tanpa sadar menyinggung almarhum kedua orangtua Kemala.
Langkah Kemala yang hendak masuk kedalam kamar seketika terhenti. Badannya kemudian menghadap Abimana dengan mata berkilat marah.
Sadar akan ucapannya yang salah, Abimana menelan ludahnya yang kelu.
Kata-kata itu meluncur begitu saja, ringan di mulutnya, seolah-olah ia tak sedang melempari hati istrinya dengan pecahan kaca tajam.
Detik itu juga, tatapan Kemala yang tadi tertunduk lesu kini terangkat, menatap lurus tepat ke manik mata Abimana. Di sana, tak lagi terlihat kesedihan yang memohon belas kasihan, yang ada hanyalah kilat amarah, menyala terang, memanas hingga membuat udara di sekitar mereka terasa mendadak sempit.
"Jangan kamu sebut nama ayah dan ibuku," suaranya rendah, namun bergetar menahan amarah yang membara di dada. "Jangan pernah kamu sangkutkan mereka ke dalam ini, mas Abimana."
Ia melangkah maju sedikit, tak bergeming meski tatapan Abimana tak berpindah.
"Mereka telah pergi, dan mereka tak pernah berbuat salah kepadamu. Tak pantas kamu menuduh mereka gagal mendidikku hanya karena kamu tak mendapatkan apa yang kamu mau! Apa yang kurang dari saya selama ini? Saya menunggumu, mencoba sabar agar kamu mengingat tugas dan kewajiban mu sebagai suami. Bahkan saya memiliki mu yang lebih tinggi ilmunya namun saya tak pernah diajari apa-apa karena suami saya sibuk dengan cintanya"
Nada suara Kemala terdengar biasa namun begitu dingin. Air mata mulai menggenang namun tak jatuh, tertahan oleh kebanggaan yang tersisa.
Kemala menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri, meski tangannya mengepal erat di sisi tubuh.
"Kamu boleh menuntut apa saja dariku, boleh menyalahkanku atas segala hal yang kamu anggap salah. Tapi jangan pernah menyinggung mereka. Karena walau mereka sudah tiada, nama mereka tetap suci, lebih suci daripada janji-janji yang kini kamu ucapkan sambil membelakangiku"
Abimana terdiam, bibirnya terkatup rapat. Seolah baru menyadari betapa tajamnya kata-kata yang baru saja meluncur dari lidahnya. Namun maaf tak terucap, hanya keheningan yang canggung menyelimuti keduanya.
"Pulanglah... Kehadiran mu tidak diterima disini mas..." usir Kemala setelahnya.
"Tapi kamu harus minta maaf kepada Kirana. Walau bagaimana pun, usianya jauh diatas mu. Dan dia bukan perempuan seperti yang kamu tuduhkan. Kirana perempuan baik-baik yang juga baik akhlaknya" ucap Abimana tetap memerintah dan membela Kirana.
Kemala kembali berdecih. "Perempuan baik-baik?" bisiknya tapi masih terdengar jelas ditelinga Abimana.
Kening Abimana berlipat, menunggu kalimat lanjutan dari Kemala.
"Tidak ada perempuan baik-baik yang menginginkan suami perempuan lain. Bahkan melakukan trik kotor agar dikasihani" lanjut Kemala dengan nada remeh.
"Saya tidak menyangka lidahmu begitu tajam Kemala!"
"Sekarang kamu tahu sifatku kan? Jadi, teruslah seperti ini dan jangan melangkah lebih jauh..."
"Harusnya sejak awal, saya tidak menerima perjodohan ini... Harusnya sejak awal saya memperjuangkan perasaan saya kepada Kirana" kalimat itu akhirnya terlontar jelas dari bibir Abimana.
Kemala berusaha menahan airmatanya agar tidak jatuh dan semakin terlihat menyedihkan dihadapan Abimana.
"Ya... Memang seharusnya sejak awal kamu menolak perjodohan ini karena hanya kamu yang bisa. Sementara saya? Saya hanyalah putri angkat yang dibesarkan oleh belas kasih Abah dan Ummi...! Harusnya sejak awal mas! Bukan setelah kamu menikahi saya baru kamu menyesalinya...!" suara Kemala kini meninggi dan terdengar bergetar.
"Pulanglah! Pulang ke rumah istri tercintamu!" usir Kemala yang kini telah mengurung diri didalam kamarnya.
Abimana hanya bisa menatap pintu kayu berwarna coklat yang kini tertutup rapat serapat hatinya kepada Kemala.
Didalam sana, tubuh Kemala luruh ke lantai begitu dia mendengar pintu depan di tutup dengan suara yang berdentum keras.
Isaknya pecah seketika.
Tangis itu terdengar begitu pilu dan menyayat hati.
Dan untuk kesekian kalinya, dia hanya bisa menumpahkan semua rasa sakitnya dalam airmata.
Kemala telah mengubur semua rasa cinta dalam kesakitan duka pernikahannya.
Entah bagaimana nasibnya kelak, yang jelas Kemala hanya ingin melewatinya dengan tenang dengan atau tanpa kehadiran Abimana disisinya.
Disana, dirumah kediaman Abah Adi atau tepatnya dikamar Abimana. Kirana harus menerima hujaman-hujaman dalam dan sedikit kasar dari suaminya.
Abimana yang pulang dalam keadaan emosi, kesal dan marah terhadap Kemala kini melampiaskannya kepada hubungan bersama Kirana.
Tubuhnya memang bergerak menekan tubuh Kirana yang berada dibawahnya, namun isi pikirannya tertuju kepada perempuan yang kini sedang menangis sendiri dikamarnya.
Abimana menyelesaikan hasratnya ketika gelombang kenikmatan itu mencapai puncaknya. Dia berguling ke sisi tubuh Kirana yang kini mulai terlelap karena lelah.
Dengan langkah gontai, Abimana menuju kamar mandi guna membersihkan diri.
Tinjunya mengepal. Entah dia marah pada Kemala atau pada dirinya sendiri.
Yang jelas, setiap kalimat yang diucapkan oleh Kemala tadi kini berputar didalam benaknya bagai pita kaset.
bersambung