Gara gara terlibat balapan liar berujung skandal di ibu kota, Arkananta Dewangga Tuan muda berusia 25 tahun yang tampan, angku, dan gila hormat. Harus menerima hukuman paling gila dalam hidupnya. Sang ayah membekukan fasilitas mewahnya dan membuangnya ke sebuah desa terpencil. Perintahnya mutlak: "Jangan kembali ke Jakarta sebelum bisa hidup mandiri."
Di Desa Sukmawarna, semua uang dan keangkuhan Arkan tidak berlaku, alih-alih hidup manja. ia harus menghadapi di siplin ketat dari Pak Barkah, yang tidak mempan di sogok. Dirumah pedesaan yang sederhana itu, Arkan di paksa turun ke ladang berlumpur jika tidak ingin kelaparan dan tidur di teras bersama nyamuk kebun.
Di tengah siksaan fisik dan kejutan budaya yang menguras emosi, takdir mempertemukannya dengan Nayla Rahmadania, gadis desa lulusan sarjana yang mandiri dan begitu tegas.
sanggupkah sang tuan muda bertahan melewati ujian berat ini, ataukah ia memilih menyerah dan memilih cara untuk kabur kembali ke kemewahan kota?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: Bazar, Rusuh, dan Hadiah untuk Gadis Desa
Keramaian di Lapangan Desa Sukmawarna pagi itu benar-benar pecah. Tenda-tenda berhias kain merah putih berdiri berjejer rapi, dipenuhi jualan warga mulai dari hasil panen sayur segar, beras organik, kerajinan anyaman bambu, sampai aneka jajanan pasar yang menggugah selera. Warga dari desa tetangga hingga para tengkulak dan pemilik toko grosir dari kota kabupaten berdatangan, bikin suasana lapangan yang biasanya sepi berubah riuh bagaikan pasar kaget skala besar.
Nayla berdiri di belakang meja stan Kelompok Tani Wanita, sibuk mencatat transaksi yang datang bertubi-tubi. Wajah manisnya berseri-seri melihat tumpukan beras organik dan kerajinan tangan hasil kerja keras warga ludes diserbu pembeli.
"Nayla! Ini uangnya udah gak muat lagi di kaleng biskuit!" seru Siti panik tapi wujudnya kegirangan, sambil sibuk menjejalkan lembaran uang kertas lima puluh ribuan ke dalam kaleng roti Khong Guan bekas di bawah meja. "Sumpah, idenya Si Tuan Muda kota itu meledak banget! Lihat tuh, bapak-bapak dari kabupaten sampai antre beli beras kita!"
Nayla tertawa pelan melihat tingkah heboh sahabatnya itu. Pandangannya perlahan bergulir ke tengah lapangan. Di sana, Arkan sedang mengobrol santai dengan dua pedagang grosir besar dari kota kabupaten. Gaya berpakaian Arkan sebenarnya simpel—cuma kemeja abu-abu kasual yang digulung sampai siku dan celana kain gelap—tapi cara berdirinya yang tegap, gesture tubuhnya yang tenang, serta wawasannya saat menjelaskan potensi produk desa bikin pedagang-pedagang bermodal besar itu mengangguk-angguk kagum.
"Gak nyangka, cowok yang dulu pas pertama datang kerjanya cuma ngomel gara-gara sandal jepit mahal miliknya kena lumpur, sekarang malah jadi maskot kesuksesan pameran desa." batin Nayla sambil menyunggingkan senyuman tipis yang sangat manis.
Tapi, yang namanya acara ramai di desa, rasanya kurang afdal kalau tidak ada drama.
Dari arah belakang stan utama, suara melengking Ratih mendadak merusak pemandangan hangat pagi itu. Gadis anak juragan tanah itu datang memakai gaun kuning mentereng yang mencolok mata, berdiri sambil bersedekap dada di depan lapak keripik tempe milik Tika.
"Ini tempat stanku kok ndelik di pojokan begini sih?!" protes Ratih dengan nada meninggi yang sengaja memancing perhatian pengunjung. "Stan keripik keluargaku kan yang paling gede dan modalnya paling banyak di kampung ini! Kenapa ditaruh di pojokan deket kandang ayam warga begini?! Ini pasti Nayla yang sengaja ngerjain dan iri sama aku, kan?!"
Tika yang lagi sibuk mengemas keripik untuk pembeli langsung menaruh bungkusannya dengan kasar di atas meja. "Heh, Ratih! Jaga mulutmu ya! Pembagian posisi stan ini sudah diundi pakenya kocokan arisan di rumah Mas Dimas semalam! Kamu sendiri yang gak datang gara-gara sibuk nyalon di kabupaten!"
"Halah, alasan! Kamu tuh cuma mau belain sahabat kere-mu itu, kan?!" bentak Ratih makin sengit, menunjuk ke arah Nayla.
"Siapa yang kamu sebut kere?"
Suara berat, dalam, dan dingin seketika memotong perdebatan panas itu. Arkan berjalan mendekat dengan kedua tangan dimasukkan santai ke saku celana. Di belakangnya ada Dimas dan beberapa pemuda Karang Taruna yang ikut mengekor. Atmosphere di sekitar stan seketika berubah mencekam.
Ratih yang tadinya melotot galak langsung tersentak kaget. Wajah judesnya mendadak dilipat rapat-rapat, berganti dengan senyum manis yang dibuat-buat begitu bertatap mata dengan Arkan. "Eh... Mas Arkan... Ini loh, Ratih cuma mau protes. Nayla sama Tika masa ngerjain Ratih..."
Arkan menatap Ratih dari atas sampai bawah dengan pandangan datar tanpa ekspresi. "Penataan stan disesuaikan sama jenis barang dan alur lalu lintas pengunjung biar gak penumpukan di pintu masuk. Nayla bergadang semalaman merapikan denah biar adil buat semua warga."
Arkan memajukan langkahnya sedikit, lalu menambahkan dengan nada santai tapi sangat nylekit, "Lagipula, kalau kamu merasa barang jualanmu terlalu mewah buat ditaruh di sini, mending bawa pulang aja. Toh dari tadi yang pamer cuma baju kuningmu, bukan keripikmu."
Pfft! Siti yang berdiri di sebelah Nayla seketika menyemburkan teh hangat yang baru saja dihirupnya, sementara beberapa pemuda desa di belakang Dimas sibuk batuk-batuk menahan tawa yang hampir meledak. Bahkan Dimas sendiri sampai harus berdeham keras demi menutupi senyum geli di bibirnya.
Wajah Ratih seketika merah padam mirip kepiting rebus. Malu setengah mati dipermalukan secara telak di depan Arkan dan puluhan warga, gadis itu akhirnya menghentakkan kakinya keras-keras dan ngacir pergi meninggalkan lapangan sambil mengomel sendiri.
***
Sore harinya, acara bazar UMKM resmi ditutup dan dinyatakan sukses besar. Hasil penjualan warga habis tak bersisa, bahkan beberapa pedagang kabupaten langsung membuat perjanjian kontrak pasokan beras dan kerajinan jangka panjang dengan Pak Suryo dan Mbah Harjo.
Saat area lapangan mulai dibersihkan oleh pemuda desa untuk persiapan acara puncak Lomba 17 Agustus besok, Arkan berjalan mendekati Nayla yang duduk sendirian di bawah pohon beringin sambil mencatat rekapitulasi nota.
Bagas, adik Nayla, yang sadar situasi langsung menyenggol lengan kakaknya. "Mbak, Mas Arkan nyamperin tuh. Aku mau ke lapak es cendol sebelah ya, mau minta nambah gratisan!" seloroh Bagas lalu kabur begitu saja sebelum tangan Nayla sempat menjewer telinganya.
Arkan menggelengkan kepala melihat tingkah kocak Bagas, lalu duduk bersandar rileks di bangku kayu panjang sebelah Nayla.
"Nih," Arkan menyodorkan sebuah kotak kecil berwarna cokelat beludru.
Nayla menaikkan alisnya bingung. "Apaan nih? Jangan bilang isinya brosur bisnis Jakarta."
"Buka aja, gak usah banyak protes," balas Arkan singkat dengan nada baritonnya yang khas.
Dengan rasa penasaran, Nayla membuka kotak itu. Di dalamnya terbaring sebuah pulpen kayu ukir yang sangat simpel tapi terlihat sangat elegan dan mahal. Di bagian batangnya, terukir rapi tulisan berwana emas: Nayla Rahmadania, S.P.
Nayla agak melongo menatap pulpen itu. "Pulpen ukir?"
"Kemarin lusa saya titip temen di kota kabupaten buat buatin," kata Arkan sambil menyandarkan punggungnya. Suaranya berubah rada pelan dan serius. "Kamu udah kuliah susah-susah dapet gelar sarjana, terus balik ke desa buat bantu warga. Pulpen itu cocok buat kamu pakai nulis rencana-rencana besar desa ini ke depan."
Nayla memandangi pulpen cantik di tangannya, lalu menatap Arkan dengan perasaan hangat yang susah dijelaskan dengan kata-kata. Cowok di sebelahnya ini memang irit bicara dan kadang gengsian, tapi perhatian-perhatian kecilnya selalu berhasil memukul telak bagian paling lembut di hatinya.
"Makasih ya, Arkan... Ini beneran bagus banget. Aku bakal pakai ini terus," kata Nayla tulus sambil menyunggingkan senyum lebar yang sangat menawan.
Arkan melirik Nayla dari samping, lalu tersenyum tipis—senyuman tulus yang cuma diperlihatkan kalau ia sedang berdua saja dengan gadis itu.
"Disimpan aja. Bawa besok pas acara 17-an," ucap Arkan sambil berdiri dari bangku kayu dan menepuk-nepuk celananya dari debu lapangan. "Soalnya habis panggung seni esok malam selesai... ada hal penting yang mau saya ngomongin sama kamu."
Nayla menengadah, menatap Arkan yang berdiri tegap di bawah sinar senja Desa Sukmawarna. "Ngomongin apa?"
Arkan cuma memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, lalu mengedipkan sebelah matanya tipis—gaya tengil khas anak Jakartanya mendadak kumat. "Kepo. Makanya besok jangan kabur habis acara."
Jantung Nayla mendadak berdesir kencang, campuran antara gugup, geli, dan penasaran setengah mati. Ia hanya bisa mengangguk pelan sambil memegangi kotak pulpen di dadanya, membiarkan wajahnya memanas membayangkan momen apa yang bakal terjadi di malam puncak esok hari.