Ketika langit di atas pinggiran Kekaisaran Yanling tiba-tiba terkoyak oleh invasi mendadak monster binatang, ilusi kedamaian hancur dalam semalam. Di tengah kepanikan para kultivator muda elit yang formasinya porak-poranda, Lin Juan—seorang yatim piatu bermarga Lin yang selalu dicaci karena Jiwa Rohnya yang cacat—menjadi satu-satunya yang menolak mundur. Tanpa pancaran energi spiritual yang mewah, ia mengandalkan insting murni dan tubuh yang ditempa penderitaan untuk bertahan hidup. Di tengah genangan darah dan keputusasaan, sebuah jiwa purba yang tertidur di kedalaman nadinya, Roh Kera Putih yang legendaris, akhirnya membuka mata, merespons panggilan kematian dengan raungan yang mengguncang surga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KERIUHAN DI BARAK
Hening yang sempat mencekam di lapangan tengah Benteng Tembok Besi mendadak pecah menjadi gemuruh desis keheranan. Ratusan prajurit veteran berdiri mematung, menatap langkah kaki Lin Yuan yang berjalan tenang meninggalkan tiang hukuman. Tidak ada seretan kaki, tidak ada erangan menahan sakit, dan yang paling gila—tidak ada setetes pun darah yang membasahi jubah kusamnya.
Di atas mimbar kayu, Su Jing berdiri kaku dengan wajah yang sepenuhnya kehilangan warna. Bibirnya yang tipis bergetar halus, mencoba menyuarakan kekuasaan atau titah lain, tetapi kerongkongannya terasa seperti disumbat batu es.
Dua pengawal emas di belakang Su Jing saling pandang dengan selapis ketakutan murni di mata mereka. Mereka berdua tahu persis bahwa cambuk yang digunakan algojo tadi dialiri energi *qi* spiritual penuh. Seorang kultivator tingkat menengah sekalipun seharusnya melayang nyawanya atau lumpuh total setelah menerima tiga puluh cambukan. Namun pemuda buangan di hadapan mereka justru berjalan tegak bagaikan baru saja menyelesaikan latihan pagi.
Komandan Zhao menenguk araknya dari botol kulit, lalu menyunggingkan senyum tipis di balik bekas luka bakarnya. "Pembubaran barisan!" Seru Komandan Zhao dengan suara berat yang menggelegar memotong lamunan Su Jing. "Kembali ke pos masing-masing!"
Tanpa menunggu tanggapan Su Jing, Komandan Zhao berbalik arah, melangkah pergi meninggalkan lapangan tengah. Rombongan prajurit veteran pun mulai bergerak, namun mata mereka tak lepas mengawasi sosok Lin Yuan dari kejauhan.
Kerumunan prajurit di lapangan membelah secara alami saat Lin Yuan, Ah Xiu, Lu Chen, dan Shi Tou melintas. Tidak ada lagi tatapan meremehkan atau cibiran pada Unit 9. Yang tersisa hanya rasa takjub, segan, dan penghormatan murni yang mengalir tanpa kata.
***
Begitu pintu kayu tebal barak Unit 9 ditutup rapat, deru angin dingin dari luar perlahan memudar, digantikan oleh suara menggelegak pelan dari kuali teh di atas perapian.
"Duduk di dipan, Lin Yuan!" Perintah Ah Xiu dengan suara yang sedikit menajam.
Gadis pemanah itu tidak menunggu balasan. Dengan gerakan cepat dan sigap, ia menarik sebuah bangku kayu mendekati dipan Lin Yuan, lalu mengambil tempat minyak herbal dan helain kain bersih dari atas lemari kecil.
Lin Yuan melepaskan jubah kusamnya dan duduk membelakangi Ah Xiu. "Aku sungguh tidak apa-apa, Ah Xiu. Cambukan tadi tidak merusak jaringan kulitku."
"Diam dan biarkan aku melihatnya sendiri," Bisik Ah Xiu seraya mendekatkan tangannya ke punggung Lin Yuan.
Tangan Ah Xiu yang terbalut kain tipis gemetar halus saat menyentuh permukaan kulit punggung Lin Yuan. Ia mengusap sisa-sisa uap panas yang masih mendesis dari pori-pori kulit pemuda itu.
Mata gelap Ah Xiu membelalak pelan. Punggung Lin Yuan yang tegap dan berbahu lebar itu memang dipenuhi oleh garis-garis bekas luka lama akibat siksaan klan di masa lalu, namun tidak ada satu pun memar merah, luka robek, atau memar dalam akibat tiga puluh lecutan Cambuk Roh tadi. Punggung itu justru memancarkan rona hangat dengan pendaran perak tipis yang amat halus di bawah lapisan kulitnya.
"Bagaimana mungkin..." Bisik Ah Xiu dengan suara bergetar, perasaannya bercampur aduk antara rasa takjub yang luar biasa dan rasa lega yang amat dalam. "Cambuk itu menyala merah membara, Lin Yuan. Aku melihat sendiri percikan apinya menghantam punggungmu."
Lin Yuan menoleh sedikit, menatap wajah Ah Xiu yang berada sangat dekat di samping bahunya. Senyum hangat dan membumi terukir di bibir Lin Yuan. "Kera Putih di dalam jiwaku menyerap seluruh energi spiritual dari cambuk itu. Energi destruktifnya justru diubah menjadi nutrisi untuk memperkuat jaringan ototku yang baru menembus *Level Pembentukan Otot*."
Lu Chen yang bersandar di tiang barak tertawa renyah, sebuah tawa lepas yang jarang terdengar dari sosoknya yang selalu tenang. "Kau benar-benar monster, Kapten. Su Jing datang jauh-jauh dari Ibukota Emas membawa Cambuk Roh untuk mempermalukanmu di depan umum, tapi kau malah memanfaatkan hukumannya sebagai batu asah untuk kultivasimu sendiri."
Shi Tou melompat ke atas meja kayu dengan wajah berseri-seri, mengacungkan tombaknya ke udara. "Hahaha! Muka utusan bersutra itu tadi benar-benar seperti orang menelan kotoran kuda! Tiga puluh cambukan tanpa goresan! Mulai hari ini, siapa di benteng ini yang berani meremehkan Unit Sembilan?!"
BAM! BAM! BAM!
Pintu kayu barak Unit 9 mendadak digedor dari luar dengan sangat keras.
Shi Tou terperanjat, menyambar perisai besinya dengan cepat. "Siapa itu?! Pengawal Su Jing yang mau mencari masalah lagi?!"
Lu Chen memicingkan matanya tajam, memegang gagang belati di pinggangnya, sementara Ah Xiu secara refleks menarik busur tulang hitamnya dari samping dipan.
Lin Yuan berdiri tenang, mengenakan kembali baju kusamnya. "Buka pintunya, Shi Tou. Itu bukan pengawal ibukota."
Shi Tou menggeser palang kayu tebal dan menarik pintu barak ke dalam.
Seketika itu juga, hawa dingin luar merembet masuk bersama dengan pemandangan luar biasa di luar pintu.
Lebih dari tiga puluh prajurit veteran dari pelbagai unit—Unit 7, Unit 4, bahkan beberapa prajurit buangan dari pos perimeter jauh—berdiri berdesakan di depan lorong barak Unit 9. Di barisan terdepan, berdiri Lao Zhang, seorang veteran berkumis tebal dari Unit 7 yang tubuhnya dipenuhi bekas luka tebasan monster.
Lao Zhang menatap ke dalam ruangan, matanya melayang lurus ke arah Lin Yuan.
"Prajurit Lin Yuan!" Seru Lao Zhang dengan suara parau yang membahana. "Biarkan kami melihat punggungmu dengan mata kepala kami sendiri! Apa benar cerita yang beredar di seluruh barak bahwa kau menerima tiga puluh cambukan roh tanpa memar sedikit pun?!"
Kerumunan veteran di belakang Lao Zhang ikut berbisik-bisik riuh, wajah-wajah kasar mereka dipenuhi oleh rasa penasaran dan ketidaksabaran yang memuncak. Keriuhan telah meledak di seluruh kompleks barak bawah sejak barisan di lapangan dibubarkan.
Lin Yuan melangkah mendekati pintu, menatap para veteran itu dengan ketenangan yang ramah dan tidak sombong.
"Aku baik-baik saja, Paman Lao Zhang," Ucap Lin Yuan pelan seraya menyingsingkan lengan bajunya sedikit, memperlihatkan kulit fisiknya yang utuh dan segar. "Hukuman tadi telah selesai."
Lao Zhang melangkah maju satu jangkah, menatap Lin Yuan dari dekat dengan mata membelalak lebar. Ketika ia menyadari bahwa Lin Yuan benar-benar berdiri tanpa kelemahan fisik sedikit pun, dada veteran tua itu bergetar hebat.
"Demi langit utara..." Bisik Lao Zhang dengan suara gemetar oleh emosi yang membuncah. "Kisah itu benar! Kau benar-benar menahan Cambuk Roh tanpa cedera!"
Lao Zhang menepuk dada zirahnya yang kusam dengan keras, lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan Lin Yuan.
"Prajurit Lin Yuan!" Seru Lao Zhang dengan nada suara yang dipenuhi rasa hormat yang teramat dalam. "Kau menolak berlutut pada pejabat ibukota yang mencuri jatah hidup kami, dan kau berdiri tegak menahan cambukan mereka demi kehormatan prajurit Tembok Besi! Mulai hari ini, Unit Tujuh mengakui keberanianmu!"
"Unit Empat juga menyertaimu, Lin Yuan!" Teriak seorang veteran lain dari belakang.
"Kami prajurit buangan bukan pakan ternak!" Seru yang lain dengan mata menyala-nyala.
Dalam hitungan detik, para veteran dari pelbagai unit itu mulai meletakkan barang-barang di depan pintu barak Unit 9. Ada yang meletakkan dua kendi arak keras, kantong berisi daging kering hasil buruan, hingga beberapa keping batu energi kelas rendah yang disisihkan dari jatah pribadi mereka.
Chemistry persaudaraan di antara para prajurit buangan yang selama ini terisolasi dan tertindas kini mendadak menyatu rapat, menjadikan Lin Yuan dan Unit 9 sebagai simbol perlawanan dan harapan baru di Benteng Tembok Besi.
Shi Tou menatap tumpukan barang di depan pintu dengan mata berbinar-binar. "Kapten... mereka memberi kita begitu banyak pasokan!"
Lin Yuan menatap barang-barang itu, lalu memandang ratusan veteran yang berdiri di lorong dengan rasa haru yang teramat tulus. Ia tahu, di tempat paling kelam seperti Tembok Besi ini, rasa saling percaya dan persaudaraan antarprajurit adalah satu-satunya hal yang membuat mereka tetap bertahan hidup.
"Terima kasih, Saudara-saudara," Ucap Lin Yuan dengan suara yang dalam, mantap, dan membumi. "Simpan sebagian besar pasokan ini untuk unit kalian masing-masing. Musim dingin baru saja dimulai, dan kita semua harus bertahan hidup sampai fajar tiba."
Sorak-sorai rendah penuh rasa hormat bergema di sepanjang lorong barak saat para veteran perlahan-lahan membubarkan diri, membawa pulang semangat baru di dalam dada mereka.
Setelah lorong kembali sunyi, Shi Tou menutup pintu barak dengan wajah sumringah. "Kapten, kau sekarang menjadi pahlawan di seluruh barak bawah!"
Lu Chen menyunggingkan senyum tipis, namun matanya memancarkan kecemasan yang matang. Ia melangkah mendekati Lin Yuan seraya mendudukkan diri di dekat perapian.
"Tamparanmu pada wajah Su Jing hari ini sangat telak, Lin Yuan," Ucap Lu Chen seraya memutar belatinya pelan. "Tapi orang-orang seperti dia dari Ibukota Emas tidak akan pernah membiarkan rasa hina ini berlalu begitu saja. Karena dia gagal menghancurkanmu lewat Cambuk Roh, dia pasti akan menggunakan wewenangnya untuk mendorong Unit Sembilan ke dalam misi yang jauh lebih mematikan."
Ah Xiu melangkah berdiri di samping Lin Yuan, tangannya memegang erat busur tulang hitamnya. "Biarkan mereka mencoba. Kita bukan lagi Unit Sembilan yang bisa mereka dorong ke dalam jurang dengan mudah."
Lin Yuan menatap nyala api perapian yang menari-nari, memancarkan cahaya hangat yang memantul di matanya yang sekelam malam. Ketenangan di wajahnya sama sekali tidak terganggu oleh ancaman intrik ibukota yang membayangi.
"Lu Chen benar," Jawab Lin Yuan dengan nada suara yang penuh kepastian absolut. "Su Jing akan mencari cara untuk menyingkirkan kita di luar tembok. Tapi selama kita tetap bersatu dan terus bertambah kuat, setiap jebakan yang mereka pasang hanya akan menjadi jalan bagi kita untuk bangkit lebih tinggi."
Di dalam barak tua yang hangat di tengah kepungan angin dingin perbatasan utara, empat jiwa tahanan buangan itu duduk melingkari perapian, terikat rapat dalam janji persaudaraan yang tak akan pernah sanggup dihancurkan oleh badai es maupun kebusukan politik ibukota.