-
Aini Zahra Wijaya, seorang dokter muda yang baru lulus, memulai masa koasnya di rumah sakit megah milik keluarga besar Wigunadi. Berharap fokus mengabdi, takdir justru mempertemukannya dengan Dr. Ivandra Arya Wigunadi—spesialis bedah saraf yang jenius, dikenal paling dingin, dan tak tersentuh.
-
Meski Ainu berusaha keras menghindari pria kejam itu, sebuah rahasia keluarga dan ikatan takdir memaksa mereka bersatu dalam ikatan pernikahan. Di balik dinding rumah sakit yang dingin, hubungan penuh ketegangan, batasan, dan emosi yang terpendam pun dimulai.
_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 7
****
Aroma gurih lele goreng bercampur dengan wangi terasi bakar dan irisan jeruk limau merebak manis di dalam tenda kain berwarna oranye kusam. Di tepi jalan protokol yang tak jauh dari area belakang Rumah Sakit Utama Wigunadi, suara bising mesin sepeda motor dan hembusan angin malam menjadi musik latar bagi empat dokter muda yang baru saja lepas dari cengkeraman sif malam yang menguras energi.
Aini, Nina, serta dua rekan koas pria mereka—Rian dan Dimas—duduk bersila mengelilingi meja kayu panjang yang agak bergoyang. Di atas meja, piring-piring seng berisi lele goreng krispi, ayam penyet, tahu, tempe, dan mangkuk-mangkuk kecil sambal terasi pedas melimpah telah tersedia.
"Demi apa pun, nasi uduk sama lele Lamongan ini rasanya kayak surga dunia setelah dua belas jam berdiri di ruang operasi!" seru Rian sembari menyuap nasi hangat lengkap dengan lalapan kemangi menggunakan tangannya.
Dimas mengangguk setuju, melahap tahu gorengnya sampai tandas. "Asli! Gaji koas emang nol rupiah, makanya kumpul di tenda Lamongan begini jalan ninja paling ampuh buat menyelamatkan dompet dan perut di akhir bulan."
Nina yang duduk di sebelah Aini menghembuskan napas panjang, meremas sedotan es teh manisnya dengan ekspresi dramatis. "Bukan cuma dompet yang diselamatkan, Dim. Jiwa dan mental kita juga butuh diselamatkan setelah digembleng habisan-habisan di penyakit dalam !"
Tawa kecil pecah di meja sederhana itu. Keluh kesah khas mahasiswa tingkat akhir profesi dokter pun mulai menumpuk. Mereka saling bertukar cerita tentang pengalaman pahit manis selama satu bulan menjalani stase yang terkenal paling menguras air mata tersebut.
"Tapi jujur ya," Rian memperbaiki posisi duduknya, menatap Aini dengan tatapan penuh keprihatinan yang mendalam. "Di antara kita semua, yang paling tragis nasibnya itu Aini. Bayangkan coba, stase pertama dalam hidupnya langsung dilempar ke Bedah Saraf! Udah gitu, dapet DPJP-nya Dokter Ivan alias Sang Dokter Iblis. Nggak ada manusiawi-manusiawinya banget itu jalur takdir!"
"Betul banget!" timpal Dimas heboh. "Gua denger cerita konsultan lain aja udah merinding. Katanya Dokter Ivan kalau melirik doang bisa bikin nilai evaluasi langsung terjun bebas. Apalagi kamu, Ni, yang kemarin sempet pingsan dan dihukum bersihin ratusan alat microsurgery semalaman!"
Nina memegang bahu Aini dengan raut muka kasihan. "Aini itu malaikat banget, sumpah. Kalau gua yang digituin hari pertama, besoknya gua udah minta surat pengunduran diri dari fakultas atau nangis-nangis di pojokan kantin."
Aini yang sejak tadi menyimak pembicaraan teman-temannya sambil mengunyah pelan lele gorengnya hanya bisa menggelengkan kepala. Wajah cantiknya yang bersahaja tersenyum tipis, walau sorot mata sendunya tak bisa disembunyikan. Namun, mendengar nama Dokter Ivandra disebut-sebut lagi, kejengkelan kecil yang terpendam di dadanya mendadak menyembul kembali.
"Kalian ini berlebihan banget sih," sahut Aini lembut namun dengan intonasi yang gemas. Jemari lentiknya mengambil sepotong timun, lalu mencocolnya ke sambal terasi yang membakar lidah. "Dokter Ivan itu... ya memang menyebalkan, dingin, angkuh, dan mukanya datar kayak tembok gipsum. Tadi aja di ruang operasi abis muji-muji aku cekatan, selang dua detik langsung nyaci-nyaci lagi bilang gerakanku kaku."
"Serius kamu dipuji terus dicaci dalam satu helaan napas?!" pekik Nina heboh.
"Iya! Makanya aku juga sebal," jawab Aini polos dengan bibir yang sedikit mengerucut gemas. Namun, ekspresi Aini mendadak berubah agak jahil. Ia memajukan tubuhnya ke arah Rian, Dimas, dan Nina, lalu berbisik dengan nada penuh misteri. "Tapi... kalian jangan terlalu khawatir atau merasa paling aman ya."
Rian mengerutkan keningnya. "Maksudnya gimana, Ni?"
Aini tersenyum manis, sebuah senyuman anggun yang dibalut tatapan mengintimidasi bercanda. "Stase kalian selanjutnya kan bedah dan neurologi. Siap-siap aja, giliran kalian nanti yang bakalan dibimbing langsung sama Dokter Idaman kalian itu. Dokter Ivan kan Kepala Departemen, jadi beliau pasti bakal merotasi tim untuk menguji kalian satu-satu."
Seketika itu juga, keheningan mencekam mendadak menyelimuti meja kecil tersebut. Rian yang sedang memegang krupuk langsung terhenti di udara. Dimas menelan ludah kasar, sementara Nina membelalakkan matanya dengan bulu kuduk yang berdiri tegak.
"A-Aini... kamu kalau bercanda jangan suka mendoakan yang aneh-aneh deh," gumam Rian dengan suara gemetar, merinding membayangkan dirinya berdiri di sebelah Ivandra saat visite.
"Sumpah, bayangin tatapan matanya aja gua udah kepengen mules!" seru Dimas sembari menggosok-gosok lengannya.
Aini tertawa kecil melihat kepanikan konyol teman-temannya. Gelak tawa lepas yang tulus dan jernih mengalun manis dari bibirnya—sebuah tawa langka yang hampir tak pernah terlihat selama ia berada di dalam koridor dingin RS Utama Wigunadi.
Sementara itu, tepat di seberang jalan dari warung tenda Lamongan tersebut, warna merah dari lampu lalu lintas menyala terang.
Sebuah mobil sedan sport bermerek Porsche berwarna hitam legam berhenti mulus di barisan paling depan. Di balik kemudi, duduk seorang pria bertubuh jangkung dengan setelan kemeja hitam yang lengannya telah digulung hingga ke siku. Rahangnya yang tegas membingkai paras tampan yang sedingin es.
dr. Ivandra Arya Wigunadi baru saja menyelesaikan urusan administrasi operasi darurat malam dan berencana untuk pulang. Pria itu menyandarkan punggungnya di jok kulit mahal, mengusap wajahnya yang sedikit lelah.
Namun, saat pandangan mata elangnya bergulir santai ke arah pinggir jalan, gerakan tangannya terhenti seketika.
Dari balik kaca mobil yang terlapisi kaca film gelap, Ivandra melihat spanduk oranye bertuliskan Pecel Lele Lamongan. Dan tepat di balik kain tenda yang tersingkap angin malam, ia menangkap figur seorang gadis berhijab segiempat berwarna nude.
Aini.
Ivandra memicingkan matanya. Manik hitamnya menancap lurus pada gadis yang beberapa jam lalu berdiri anggun namun canggung di ruang sterilnya. Di sana, di antara aroma asap makanan sederhana dan riuh suasana jalanan malam, Aini tampak sangat berbeda.
Gadis itu sedang tertawa lepas. Wajah cantiknya yang biasa memancarkan raut sendu dan patuh kini tampak begitu hidup, berseri-seri, dan hangat. Rona merah tipis menghiasi pipinya saat ia bersenda gurau dengan teman-teman koasnya.
Ivandra mencengkeram lingkar kemudinya sedikit lebih erat. Ada denyut asing di dadanya yang mendadak terasa panas.
Di depan saya dia selalu berjarak, diam, dan dingin seperti patung... tapi di depan teman-temannya dia bisa tertawa selepas itu? batin Ivandra bertanya-tanya.
Bayangan kalimat Dr. Farhan di ruang steril tadi sore mendadak terngiang kembali di telinga Ivandra: "Sikapnya yang sopan dan santun itu bikin siapa saja yang lihat jadi gemas... boleh juga tuh saya ajak dia ngopi bareng."
Ivandra mengepalkan jemarinya di atas kemudi. Perasaan tak rela yang sangat primitif mendadak merayapi seluruh aliran darahnya. Ia tidak suka melihat senyuman indah Aini ditujukan pada orang lain, sementara untuk dirinya, gadis itu hanya menyisakan tatapan patuh yang berjarak.
Lampu hijau menyala.
Suara klakson mobil di belakangnya membuyarkan lamunan Ivandra. Pria itu menarik napas panjang yang terasa berat, memindahkan tuas transmisi, lalu menekan pedal gas. Mobil mewah itu meluncur membelah kegelapan malam, meninggalkan area warung tenda.
Namun, di dalam pikiran Ivandra yang dingin dan rasional, figur Aini Zahra Wijaya yang sedang tertawa manis di bawah lampu temaram warung Lamongan telah terpatri kuat, menolak untuk menghilang.
Aini yang masih menikmati makan malamnya sama sekali tidak menyadari bahwa dokter paling kejam di rumah sakit baru saja mengamatinya dari kejauhan. Dan yang lebih tidak disadarinya lagi, saat ia pulang ke rumah besok pagi, sebuah kejutan besar mengenai pernikahan paksa telah disiapkan oleh ibundanya.
Bersambung...
jangan gantung rasa penasaran saya... saya masih ngebayangin gimana cerita si Aini sama dokter 2 pintu itu di rumah sakit selama masa kehamilannya Aini 🥺🥺🥺
mampir ya ke novel ku