Reinkarnasi, Kesempatan Kedua, Kultivasi
Dikhianati oleh orang-orang yang paling ia percaya, Jian Chen tewas tepat sebelum mencapai Ranah Dewa. Namun, ia mendapat kesempatan kedua untuk mengubah takdir dengan kembali ke dua puluh tahun silam.
Saat ia mulai mengungkap dalang di balik kematiannya, masa depan yang ia kenal perlahan berubah. Pusaka yang seharusnya tersembunyi telah dicuri, teknik langka muncul terlalu dini, dan seseorang tampaknya mengetahui rahasia yang bahkan belum terjadi.
Di balik semua kejanggalan itu, tersimpan Lentera Terakhir pusaka yang mampu memutar waktu, tetapi menyimpan harga yang mengerikan.
Siapa yang mengubah masa depan, dan mengapa mereka seolah tahu setiap langkah Jian Chen? Kali ini, musuh terbesarnya mungkin bukan pengkhianat dari masa lalu, melainkan seseorang yang telah menunggunya sejak awal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: Besi Latihan
"Sepuluh kati," kata Dao sambil mengangkat sebatang pedang tumpul dari perapian yang masih berasap. "Tanpa mata tajam, tanpa ujung, hanya besi lurus. Kalau kau bisa mengayunkannya seratus kali sehari, tubuhmu akan mulai menyamai kepalamu."
Jian Chen menerima batang besi itu dengan kedua tangan dan hampir menjatuhkannya. Lengannya turun sampai siku nyaris menyentuh lutut. Ia mengatur napas dan menegakkan badan.
"Sepuluh kati itu terlalu berat untuk permulaan," katanya.
"Untukmu, memang." Dao menyeringai. "Itu sebabnya aku membuat yang lima kati juga. Kau mulai dari yang lima. Yang sepuluh ini aku taruh di sudut sampai kau berhenti bertingkah sombong."
"Aku tidak sombong."
"Kau menantang murid dalam dengan satu sikap pedang. Itu sombong." Dao menyodorkan batang kedua, lebih ramping, dari rak. "Ini lima kati. Cobalah."
Jian Chen menaruh batang sepuluh kati itu di lantai dan mengangkat yang lima. Rasanya seperti memegang ranting. Ia mengayunkannya sekali, dua kali, tiga kali. Setiap ayunan membawa dengung rendah dari logam yang membelah udara.
"Lebih baik," kata Dao. "Sekarang kau akan melakukannya seratus kali setiap pagi dan seratus kali setiap sore. Dan jangan melompati hitungan. Aku akan tahu."
"Bagaimana kau akan tahu?"
"Lin Xue akan memberitahuku."
"Dia tidak akan..."
"Dia akan," potong Lin Xue dari ambang pintu bengkel. Ia membawa bungkusan kain di tangan dan wajah yang masih menyimpan kemarahan kecil sejak hari duel. "Dia akan menghitung dari jendela pondok pengobatan. Aku akan mencatatnya di buku."
"Itu pelanggaran privasi," kata Jian Chen.
"Itu perawatan pasien." Lin Xue menaruh bungkusan itu di meja. "Ini salep untuk memar di leher dan dadamu. Oleskan dua kali sehari. Dan Jian Chen."
"Ya?"
"Lain kali kalau ada yang menantangmu dan kau tahu kau akan kalah, tolak saja."
"Aku tidak bisa menolak."
"Kenapa?"
"Karena aku butuh melihat apa yang bisa kulakukan." Jian Chen menatap batang besi di tangannya. "Dan apa yang tidak bisa."
Lin Xue menarik napas panjang. "Dasar keras kepala."
"Itu yang kau bilang dulu."
"Dan aku masih berpikir begitu." Tetapi sudut bibirnya bergerak sedikit.
Dua pekan berikutnya, rutinitas Jian Chen bertambah satu pos: pagi, ayunan besi seratus kali di belakang pondok tujuh, dengan Qiu Bo yang menghitung sambil menguap; siang, kerja bergilir; sore, ayunan seratus kali lagi dan roda penghembus; malam, salep dan nadi. Bahunya mulai berubah. Pada akhir pekan pertama, ia bisa mengayunkan besi lima kati seratus kali tanpa berhenti. Pada akhir pekan kedua, ia mulai mencoba yang tujuh kati, dan Dao bersiul bangga.
"Enam puluh dua," kata Qiu Bo suatu pagi sambil menguap lebar. "Enam puluh tiga. Kau tahu, aku bisa menghitung sambil tidur."
"Kau memang sedang setengah tidur."
"Itu keahlian khusus." Qiu Bo menyandarkan punggung ke dinding pondok. "Eh, Jian Chen. Kenapa kau berlatih sekeras ini? Kau sudah naik tahap. Kau sudah dipuji tetua."
"Karena dua bulan lalu aku tidak bisa menahan sikap pedang lebih dari lima tarikan napas."
"Itu bukan alasan. Itu fakta."
"Itu alasanku." Jian Chen mengayunkan besi itu sekali lagi. "Enam puluh empat."
"Enam puluh empat," ulang Qiu Bo, dan terdiam sebentar. "Aku dulu hampir tidak punya alasan untuk bangun pagi. Sekarang aku bangun karena takut dimarahi kau."
"Aku tidak memarahi."
"Kau menatap."
Ye Ran ikut ke belakang pondok tujuh setiap pagi, duduk di batang kayu sambil memegang lampion kuning kecilnya. Ia tidak diminta menghitung, tetapi ia selalu menghitung dalam hati dan terkadang berbisik angka-angkanya tanpa sadar.
"Delapan puluh tiga," bisiknya suatu pagi.
"Kau tidak perlu menghitung," kata Jian Chen sambil terengah.
"Aku suka angka." Ye Ran memeluk lampionnya. "Angka tidak pernah bohong."
"Siapa yang bilang begitu?"
"Kakak Tabib." Ye Ran mengangguk sungguh-sungguh. "Dia bilang kalau aku bingung, aku harus menghitung."
"Itu nasihat bagus."
"Delapan puluh empat," bisik Ye Ran.
Pada hari kelima belas, ketika Jian Chen selesai ayunan sore, Lin Xue berlari dari arah pondok pengobatan dengan wajah pucat. Ia tidak membawa apa pun di tangannya, dan itu sendiri sudah tanda buruk.
"Jian Chen," katanya, napasnya memburu. "Ye Ran."
"Kenapa dengan Ye Ran?"
"Dia baik-baik saja. Tapi ada sesuatu."
Ia membawa Jian Chen ke depan pintu pondok pengobatan, tempat Dao, Ye Ran, dan Lu Gang sudah berdiri mengelilingi sesuatu di tanah. Di sana, di ambang pintu, tergeletak sebuah lampion kertas kuning, sebesar kepalan tangan, mirip yang diberikan Xiao Lan kepada Ye Ran. Tetapi lampion ini dilukis lain. Di tengahnya melintang satu garis hitam dari ujung ke ujung, dan di bawahnya, ditulis dengan tinta merah kecil: Kami menemukanmu.
Jian Chen berjongkok dan mengangkat lampion itu. Kertasnya masih baru, belum sempat kusut. Aroma minyak lampion samar tercium dari dalamnya.
"Kapan ini ditaruh?" tanyanya.
"Sekitar tengah hari," kata Lu Gang. "Aku sedang berpatroli ke bengkel. Tidak ada yang melihat siapa yang menaruhnya."
"Penjaga gerbang?"
"Kutanya. Tidak ada orang asing yang masuk." Lu Gang mengerutkan dahi. "Berarti ini orang dalam, atau seseorang yang punya izin masuk."
"Atau seseorang yang tahu jalan lain," kata Dao.
"Kakak." Ye Ran menarik ujung baju Jian Chen. Suaranya sangat kecil. "Itu dari Paman Abu?"
"Mungkin."
"Aku takut."
"Aku tahu." Jian Chen menyimpan lampion itu di balik jubahnya dan berlutut di depan Ye Ran, menatap matanya. "Dengar. Kau tidak sendirian. Ada Lin Xue, Dao, Lu Gang, dan aku. Mulai besok kau tidak keluar pondok tanpa salah satu dari kami. Mengerti?"
"Mengerti."
"Dan kalau ada orang asing yang bicara padamu, apa pun yang mereka tawarkan, jangan jawab. Lari ke pondok pengobatan."
"Aku mengerti, Kakak."
"Bagus." Jian Chen menepuk kepalanya. "Sekarang masuk. Kakak Tabib sudah menyiapkan bubur."
Ye Ran masuk dengan langkah kecil, memegang lampion kuning milik Xiao Lan erat-erat. Setelah pintu tertutup, Jian Chen berdiri dan menatap Lu Gang, Dao, dan Lin Xue.
"Aku butuh patroli di pondok pengobatan siang dan malam," katanya. "Dan aku butuh seseorang yang bisa membaca tulisan tangan."
"Kenapa?" tanya Lu Gang.
"Karena tulisan merah di lampion ini," kata Jian Chen sambil mengeluarkan lampion itu lagi, "bukan tulisan orang yang belajar di desa. Hurufnya terlalu rapi. Ditulis oleh seseorang yang terbiasa menulis laporan."
"Aku mengenali gaya hurufnya," kata Lu Gang pelan sambil memicingkan mata. "Persegi dan datar. Seperti tulisan juru tulis aula."
Mereka semua terdiam. Dao menggaruk dagunya perlahan.
"Orang sekte," kata Lin Xue pelan.
"Mungkin," kata Jian Chen. "Atau seseorang yang sangat ingin kita mengira begitu."