NovelToon NovelToon
Istri & Anak Kembar Bar-Bar Sang Mafia Es

Istri & Anak Kembar Bar-Bar Sang Mafia Es

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Mafia / Penyesalan Suami
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Phopo Nira

Diceraikan karena alasan mandul, padahal 3 tahun pernikahan ia menjadi istri yang diabaikan oleh suaminya sendiri. Malam sebelum ia meninggalkan Mansion kediaman Maximillian, Raina diam-diam menjebak suaminya, Cassion Zayn Maximillian untuk menghabiskan malam bersama. Lalu setelahnya ia menghilang begitu saja tanpa jejak sedikitpun.

Namun, 8 tahun kemudian… tepat di acara pernikahan Cassion dengan teman masa kecilnya, Laura Fernandez. Raina kembali membawa sepasang anak kembar, Sean dan Shia untuk mendapatkan hak kedua anak itu sebagai pewaris keluarga Maximillian.

Dan sejak saat itu, kediaman Maximillian tidak pernah bisa tenang lagi. Raina yang tidak lagi penurut, ditambah dengan kedua anak kembarnya yang tak kenal takut. Ibu dan anak kembar itu menuntut banyak hal yang sudah 8 tahun sudah mereka lewatkan begitu saja. Dendam dan hutang mereka perhitungkan dengan baik.

Akankah Raina dan kedua anak kembarnya berhasil membalaskan dendam serta mendapatkan hak mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11. Kakek Buyut

Laura hanya bisa terdiam, kedua tangannya mengepal kuat menyalurkan kemarahan yang memuncak dihatinya. Ia tidak bisa melawan Pak tua itu dan jika ia tidak bisa menahan diri, maka semuanya akan lebih berantakan dari sekarang.

"Dan kalau mereka memang anak Sion?" Pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibir Laura.

Lelaki tua itu mengetukkan tongkatnya sekali ke lantai. "Maka mereka adalah cicit kandungku. Keturunan sah keluarga Maximillian."

Kalimat itu jatuh seperti petir. Tidak terbantahkan, tidak terpatahkan oleh siapapun. Edwin seolah menegaskan bahwa apapun yang terjadi kedua anak kembar itu akan berada di bawah perlindungan keluarga Maximillian.

Calista langsung membelalak. "Ayah tidak bisa langsung menerima mereka begitu saja!"

"Tentu saja aku bisa."

"Tapi—"

"Aku ketua keluarga ini." Jawaban telak itu sudah cukup untuk membuat Calista langsung terdiam.

Edwin menatap seluruh anggota keluarga satu per satu. "Dan selama aku masih hidup, tidak ada seorang pun yang berhak menghina darah Maximillian hanya karena mereka tidak menyukai ibunya."

Raina terpaku, secara tidak langsung Kakek Edwin sedang membela Raina dan kedua anak kembarnya. Sean menatap Edwin dengan rasa ingin tahu dan kagum, karena Kakeknya memiliki aura kepemimpinan yang tak terbantahkan sedikitpun.

Sementara Shia bersembunyi sedikit di balik dada bidang Papahnya. Meski sebenarnya ia merasakan hal yang dengan saudara kembarnya. Akan tetapi, karakter yang ia bentuk selama ini adalah gadis cantik yang lembut dan menggemaskan.

Edwin memperhatikan ekspresi terkejut kedua cicitnya. Menyadari tindakannya barusan terlihat galak bagi anak kecil, ia kemudian merubah ekspresinya sedikit melunak.

"Namamu Sean?"

Anak laki-laki itu menatapnya. "Iya?"

"Berapa umurmu?"

Sean mengangkat lima jari ditambah dua jarinya yang lain. "Tujuh."

Edwin mengangguk. Lalu tatapannya beralih pada gadis menggemaskan yang masih berada dalam gendongan cucunya. "Dan kau gadis manis?"

"Tujuh juga."

"Kalian kembar?"

Shia mengangguk. "Iya, kami hanya beda 30 menit saja. Sean yang menjadi kakaknya, karena dia terlahir lebih dulu."

“Seharusnya kau memanggilku kakak kalau begitu,” protes Sean karena Shia memang menolak keras untuk memanggilnya kakaknya.

“Tidak mau! Aku ‘kan lebih tinggi sedikit darimu,” tolak Shia bersikeras.

“Itu ‘kan hanya sedikit. Kenyataannya aku lahir lebih dulu darimu,” balas Sean tak mau mengalah.

Edwin menghela napas pelan. "Luar biasa."

Sean mendongak, begitu juga Shia yang langsung menatap heran ke arah kakek buyutnya. Sebab mereka merasa kalau kakek buyutnya itu sedang menyindir mereka.

Dan dengan polosnya Sean bertanya, "Kenapa?"

Edwin tersenyum tipis. "Kalian sudah membuat keluarga ini kacau dan menghancurkan acara pernikahan hari ini hanya dalam beberapa menit. Dan kalian masih bisa berdebat hanya untuk panggilan Kakak?"

Sean berpikir sebentar, merasa ada yang tidak benar dengan perkataan Kakek buyutnya. Kemudian menjawab dengan wajah polos Sean menyangkal, "Bukan kami."

Ia menunjuk Sion. "Yang membuat kacau dan membatalkan pernikahannya itu Papah."

Beberapa tamu yang masih tersisa kembali menundukkan wajah, menahan tawa. Kebanyakan tamu itu adalah rekan bisnis Sion yang tidak ingin melewatkan kejadian seru yang terjadi. Menyadari menjadi bahan tertawaan oleh para rekan bisnisnya, Sion pun menatap putranya.

"Sean."

"Iya, Papah?"

"Kau terlalu banyak bicara."

Sean tersenyum. "Mamah bilang Sean harus jujur dan kenyataannya yang membuat kacau adalah Papah sendiri, bukan kami."

Untuk pertama kalinya, sudut bibir Edwin terangkat. "Anak pintar."

Calista semakin tidak senang. "Ayah, bagaimana dengan Laura? Bagaimana dengan keluarga Fernandez dan pernikahan ini?"

Edwin terdiam. Tatapannya beralih kepada perempuan yang berdiri dengan wajah pucat, karena harus menahan luapan amarah di hatinya. Laura menatapnya dengan mata berkaca-kaca berharap Kakek Edwin tidak membatalkan pernikahannya dengan Sion. Tidak masalah jika kedua anak kembar itu diakui oleh keluarga Maximillian dan ia harus menjadi ibu tirinya, setidaknya ia masih tetap menjadi istri Sion.

"Kau adalah gadis yang baik, Laura."

Kalimat itu membuat sebuah harapan muncul di mata Laura. Namun hanya sesaat. "Tapi pernikahan bukan sesuatu yang bisa dipaksakan."

Wajah Laura seketika runtuh. "Kakek..."

"Jika Sion tidak ingin menikahimu, maka aku tidak akan memaksanya."

Edwin menghela napas. "Lebih baik satu pernikahan batal hari ini daripada sebuah keluarga hidup dalam kebohongan selama bertahun-tahun."

Candra maju. "Tapi reputasi keluarga kami—"

Edwin menatapnya. "Reputasi?"

Candra terdiam, seolah tatapan Edwin mengingatkannya akan tujuan pernikahan ini dilangsungkan. Keluarga Maximillian menginginkan keturunan, sedangkan keluarga Fernandez membutuhkan dana untuk invetasi perusahaan miliknya. Jika Candra memprotes sekarang, maka kesempatan untuk mendapatkan dana investasi itu mungkin akan menghilang begitu saja. Setidaknya ia harus mendapatkan kompensasi dari pembatalan pernikahan ini.

"Menurutmu reputasi lebih penting daripada kebenaran tentang kedua cucu kandungku. Keturunan darah Maximillian?"

Tidak ada jawaban, lebih tepatnya Candra tidak berani menjawabnya. Sarah dan Laura berniat melayangkan protes kembali, tetapi Candra dengan cepat mencegahnya. Meminta keduanya tetap diam dan menghargai keputusan Kakek Edwin.

Edwin kemudian menoleh kepada Raina. "Mulai hari ini, kau dan kedua anak itu tinggal di Mansion utama."

Raina membeku. "Apa?"

Calista langsung berseru. "Tidak bisa!"

Edwin bahkan tidak menoleh. "Aku tidak sedang meminta izin."

Calista terdiam, ia benar-benar tidak bisa membantah apapun lagi. Ia hanya bisa menatap Raina dengan perasaan kesal dan penuh amarah, begitu juga dengan Leon dan Lea. Sedangkan Arlan sejak awal memilih tetap diam dan tenang, tetapi dibalik semua itu sesuatu tersembunyi di dalamnya.

Raina buru-buru menggeleng. "Kakek, saya rasa itu tidak perlu."

"Perlu."

"Saya bisa membawa anak-anak pulang."

"Ke mana?"

Raina terdiam, padahal dalam hatinya merasa sangat senang, “Tidak perlu banyak bicara lagi. Tujuanku kembali bersama kedua anakku memang untuk menguasai Mansion itu dan membalas Calista dan anaknya itu.”

Edwin melanjutkan. "Selama hasil DNA belum keluar, aku tidak akan membiarkan siapa pun mengganggumu atau kedua anak itu."

Raina menatap lelaki tua itu. "Saya tidak ingin merepotkan keluarga Maximillian."

Edwin menggeleng. "Kau salah."

Ia menatap Sean dan Shia. "Jika hasilnya positif, kalian bukan orang luar." Tatapan Edwin melembut. "Kalian akan selalu menjadi bagian dari keluarga kami."

Shia perlahan meminta turun dari gendongan Sion. Lalu berjalan mendekati Kakek Edwin meraih tangannya seraya berkata, “Kakek!”

Edwin terdiam, panggilan sederhana itu membuat ekspresi lelaki tua tersebut berubah. Selama bertahun-tahun, Edwin terbiasa dipanggil dengan berbagai macam sebutan. Ketua, Tuan Besar dan Kepala keluarga. Namun tidak pernah ada seorang anak kecil yang memanggilnya Kakek dengan wajah polos seperti itu.

Ia akhirnya mengangguk. "Ya." Edwin menatap Sean dan Shia bergantian. "Ini Kakek Buyut kalian."

Sean langsung tersenyum. "Kalau begitu, Kakek Buyut punya banyak mainan?"

Edwin terkekeh kecil. "Kalau tidak punya, kita akan membeli semua mainan yang kalian inginkan."

Bersambung….

1
Budhe Satryo
makin seruuu crtanya
Budhe Satryo
misi perang dimulai rayna
Budhe Satryo
keluarga bahagia❤️❤️❤️
Budhe Satryo
adiknya yg selama ini menjadi pendukung setia rayna
Budhe Satryo
gpp salah paham dulu biar makin cinta
Budhe Satryo
misi Lum dimulai lho ...dah panas az Calista ni
Budhe Satryo
good rayna biar papah si kembar ush Dewe 😄😄😄
Budhe Satryo
moga rayna TDK mudah dijebak
Budhe Satryo
waspada rayna musuh dpn mata
Budhe Satryo
wah bisa jadi kerja sama dngn Calista tu sih laura
Budhe Satryo
akhirnya Sion bisa takluk dngn si kembar 😍😍😍
Budhe Satryo
y ampun pemilik dianggap gelandangan 🤣🤣🤣
Budhe Satryo
misi dimulai si kembar 😄😄😄
Budhe Satryo
mungkin Calista dan lea yg JD musuh dlm selimut
Budhe Satryo
bibit mafia emang g ad obat 🤣
Budhe Satryo
duo s JD pembela mamanya donk
Budhe Satryo
mulai seruuu ni 😊😊😊😍😍😍
Budhe Satryo
moga tidak JD menikah dngn laura
Budhe Satryo
semoga nanti g bisa bngun adik kecilmu kalu Ndak dngn rayna 😄😄😄
Budhe Satryo
good rayna setidaknya ad kenang"an dr mantan suami
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!