NovelToon NovelToon
Terikat Pernikahan Dengan CEO Dingin

Terikat Pernikahan Dengan CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Aqilaa Kezia

Alisha Amanda hanyalah seorang gadis sederhana yang bekerja di sebuah toko roti demi menghidupi dirinya dan sang ibu. Sejak kepergian ayahnya, ibunya menjadi satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Namun, hidup Alisha berubah ketika penyakit sang ibu semakin parah. Operasi dengan biaya yang sangat mahal menjadi satu-satunya harapan untuk menyelamatkan wanita yang paling ia cintai. Sayangnya, tabungan Alisha tidak cukup, bahkan untuk membayar sebagian kecil dari biaya tersebut.
Di tengah keputusasaan, sebuah tawaran tak terduga datang kepadanya.
Adrian Mahendra, seorang CEO muda yang dingin dan berkuasa, membutuhkan seorang istri demi mempertahankan posisinya di perusahaan keluarga. Terdesak oleh tuntutan orang tuanya dan ancaman kehilangan jabatan, Adrian menawarkan pernikahan kontrak selama satu tahun kepada Alisha.
Sebagai gantinya, Alisha akan mendapatkan uang yang cukup untuk membiayai operasi ibunya.
Bagi Adrian, pernikahan itu hanyalah kesepakatan bisnis. Tidak ada cinta, tidak ada

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aqilaa Kezia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 — Perhatian yang Tak Disadari

 

Alunan musik lembut memenuhi ruang utama Grand Arunika Hotel. Lampu kristal yang menggantung di langit-langit memantulkan cahaya keemasan, sementara para tamu berdiri dalam kelompok-kelompok kecil, berbincang tentang pekerjaan, bisnis, dan kehidupan pribadi mereka.

Alisha Amanda berjalan di samping Adrian Mahendra dengan langkah tenang. Sesekali, pandangannya menyapu ruangan yang luas itu. Meja-meja bundar telah ditata rapi, lengkap dengan bunga segar dan peralatan makan yang berkilau. Di bagian depan, sebuah panggung berdiri dengan logo Mahendra Group sebagai latar belakang.

Ia merasa sedikit asing berada di tempat semewah ini.

Bukan karena ia tidak pernah melihat gedung besar atau restoran mahal, melainkan karena sebagian besar orang yang hadir tampak saling mengenal dan terbiasa menghadiri acara seperti ini.

Sementara dirinya, beberapa jam yang lalu masih sibuk mengemas kotak-kotak kue di Sweet Morning Bakery.

Perbedaan itu terasa cukup jauh.

"Kamu ingin duduk dulu?" tanya Adrian ketika menyadari Alisha memperhatikan sekeliling.

Alisha menoleh.

"Boleh. Aku hanya sedang melihat tempatnya."

Adrian mengangguk dan mengajaknya menuju meja yang telah disediakan untuk jajaran eksekutif perusahaan beserta pasangan mereka.

Beberapa orang yang berada di dekat meja langsung menyapa Adrian.

"Selamat malam, Pak Adrian."

"Selamat malam," jawab Adrian singkat.

Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun kemudian mendekat sambil tersenyum ramah.

"Adrian, akhirnya kamu datang juga. Saya kira kamu akan datang menjelang acara selesai seperti tahun lalu."

Adrian membalas dengan senyum tipis yang lebih menyerupai formalitas.

"Masih ada beberapa pekerjaan yang harus saya selesaikan."

Pria itu tertawa kecil.

"Selalu begitu. Bahkan pada acara seperti ini, kamu masih memikirkan pekerjaan."

Tatapan pria itu kemudian beralih kepada Alisha.

"Dan ini pasti istri Anda?"

Adrian menoleh kepada Alisha.

"Ya. Ini istri saya, Alisha Amanda."

Alisha tersenyum sopan.

"Selamat malam, Pak."

"Selamat malam. Saya Surya, salah satu direktur di Mahendra Group." Pria itu mengulurkan tangan dengan ramah.

Alisha menjabat tangannya.

"Senang bertemu dengan Anda, Pak Surya."

"Saya juga. Akhirnya kami bisa bertemu dengan istri Pak Adrian. Selama ini, yang kami kenal hanya Pak Adrian yang selalu sibuk dengan pekerjaannya."

Alisha tersenyum kecil.

"Sepertinya memang pekerjaannya cukup menyita waktu."

"Benar sekali!" Surya tertawa. "Kalau tidak ada yang mengingatkan, mungkin dia bisa menghabiskan seluruh waktunya di kantor."

Adrian menghela napas pelan.

"Pak Surya, saya masih berdiri di sini."

"Justru karena itu saya mengatakannya."

Alisha tidak bisa menahan senyum mendengar percakapan mereka.

Untuk pertama kalinya malam itu, ia melihat Adrian menjadi sasaran candaan seseorang tanpa langsung mengakhiri pembicaraan.

Surya kemudian memperkenalkan istrinya yang berdiri tidak jauh dari mereka. Mereka berbincang sebentar tentang acara tersebut sebelum Surya dipanggil oleh seorang kolega.

Setelah pasangan itu pergi, Alisha kembali duduk di samping Adrian.

"Pak Surya orangnya ramah," katanya.

"Dia memang suka berbicara."

"Kalian sudah lama bekerja bersama?"

"Cukup lama."

Alisha mengangguk. Ia tidak bertanya lebih jauh karena tahu Adrian tidak terlalu suka membicarakan urusan kantor di luar kebutuhan.

Seorang pelayan kemudian datang menawarkan minuman. Adrian mengambil segelas air putih, sedangkan Alisha memilih jus buah.

"Terima kasih," ucap Alisha kepada pelayan itu.

Ia menyesap minumannya sedikit, kemudian meletakkan gelas di atas meja.

Adrian memperhatikan gerakannya sekilas.

"Kamu baik-baik saja?"

Alisha menoleh.

"Kenapa bertanya begitu?"

"Kamu terlihat diam."

Alisha hampir tertawa kecil.

"Memangnya aku harus banyak bicara?"

Adrian terdiam sesaat.

"Tidak."

"Kalau begitu, aku baik-baik saja."

Jawaban sederhana itu membuat Adrian kembali mengalihkan pandangan ke arah panggung.

Ia tidak tahu mengapa dirinya merasa perlu memastikan keadaan Alisha. Perempuan itu tidak menunjukkan tanda-tanda kesulitan, tidak meminta bantuan, dan bahkan tidak terlihat gugup seperti yang sempat ia bayangkan.

Mungkin ia hanya memastikan acara berjalan lancar.

Setidaknya, itulah alasan yang masuk akal baginya.

 

Beberapa menit kemudian, pembawa acara meminta para tamu untuk menikmati jamuan sebelum sambutan resmi dimulai.

Suasana menjadi sedikit lebih santai. Beberapa orang berpindah meja untuk menyapa rekan kerja mereka, sementara yang lain berdiri di dekat jendela besar sambil menikmati pemandangan kota.

Adrian menerima panggilan singkat dari salah satu manajer senior yang meminta konfirmasi mengenai laporan perusahaan.

Ia berdiri dari kursinya.

"Aku harus menerima telepon sebentar. Tunggu di sini."

Alisha mengangguk.

"Baik."

Adrian berjalan menuju area yang lebih tenang, tidak jauh dari ruang utama.

Alisha tetap duduk selama beberapa menit. Ia memeriksa ponselnya untuk memastikan tidak ada pesan dari rumah sakit. Setelah memastikan semuanya baik-baik saja, ia memasukkan ponsel kembali ke dalam tas.

Ia tidak ingin terus memeriksa layar selama menghadiri acara. Namun, karena ibunya masih menjalani perawatan, ia merasa lebih tenang jika tetap bisa dihubungi.

Ketika hendak mengambil minuman, seseorang berhenti di dekat mejanya.

"Maaf, apakah kursi di sebelah sini kosong?"

Alisha mendongak.

Seorang pria muda dengan setelan abu-abu berdiri sambil menunjuk kursi kosong di seberangnya. Wajahnya tampak ramah, dengan senyum yang tidak berlebihan.

"Iya, masih kosong," jawab Alisha.

"Terima kasih."

Pria itu duduk setelah memastikan tidak mengganggu.

Beberapa saat kemudian, ia melirik kartu kecil di atas meja yang menunjukkan nama tamu.

"Alisha Amanda?" tanyanya sopan.

Alisha mengangguk.

"Benar."

"Saya Reza Pratama. Saya bekerja di divisi pengembangan bisnis." Ia tersenyum. "Anda istri Pak Adrian, bukan?"

"Iya."

"Oh, senang akhirnya bisa berkenalan dengan Anda. Saya beberapa kali mendengar nama Pak Adrian disebut dalam rapat, tetapi baru malam ini saya berkesempatan bertemu dengan keluarganya."

Alisha tersenyum tipis.

"Senang bertemu dengan Anda juga."

Reza melirik gaun biru navy yang dikenakan Alisha, lalu kembali menatap wajahnya dengan sopan.

"Kalau boleh tahu, apakah ini pertama kalinya Anda menghadiri acara perusahaan?"

"Iya. Saya belum pernah datang ke acara seperti ini sebelumnya."

"Kalau begitu, semoga malam ini menyenangkan."

"Terima kasih."

Percakapan mereka berlangsung dengan santai. Reza tidak membicarakan hal-hal rumit tentang bisnis, melainkan bertanya apakah Alisha menyukai suasana hotel dan apakah ia sudah mencoba makanan yang disediakan.

Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu membuat Alisha merasa lebih nyaman.

Ia menjawab seperlunya, sesekali tersenyum ketika Reza menceritakan pengalaman lucu saat pertama kali menghadiri acara perusahaan.

"Saya dulu juga cukup canggung," kata Reza. "Saya bahkan salah masuk ke ruang pertemuan dan baru menyadarinya setelah hampir sepuluh menit."

Alisha tertawa kecil.

"Benarkah?"

"Benar. Untungnya, orang-orang di sana tidak terlalu mempermasalahkannya."

"Kalau saya mungkin langsung merasa malu."

"Menurut saya, semua orang pernah mengalami hal seperti itu. Tidak ada yang langsung terbiasa dengan sesuatu yang baru."

Alisha mengangguk.

Ia menyukai cara Reza berbicara. Pria itu tidak membuatnya merasa rendah diri hanya karena ia tidak terbiasa menghadiri acara resmi.

Dari kejauhan, Adrian yang baru menyelesaikan panggilan telepon melihat Alisha sedang berbicara dengan seseorang.

Ia memperlambat langkah.

Pria yang duduk di hadapan Alisha tampak seusia mereka. Keduanya sedang berbincang dengan santai, bahkan Alisha sempat tertawa kecil mendengar sesuatu yang dikatakan pria itu.

Adrian berhenti selama beberapa detik.

Ia tidak melihat ada sesuatu yang salah. Alisha hanya berbicara dengan tamu lain, sesuatu yang wajar dalam sebuah acara perusahaan.

Namun, entah mengapa, ia memperhatikan percakapan itu lebih lama daripada yang diperlukan.

Kemudian, ia kembali berjalan menuju meja.

 

"Sepertinya Anda cukup menikmati acara ini."

Suara Adrian membuat Alisha menoleh.

"Oh, kamu sudah selesai?"

"Ya."

Alisha kemudian menoleh kepada Reza.

"Adrian, ini Pak Reza dari divisi pengembangan bisnis."

Reza segera berdiri.

"Selamat malam, Pak Adrian."

Adrian mengangguk singkat.

"Selamat malam."

"Saya baru saja berkenalan dengan istri Anda. Kami sedang berbicara tentang acara malam ini."

"Begitu."

Jawaban Adrian terdengar biasa saja, tetapi ia segera menarik kursi di samping Alisha dan duduk.

Reza tidak tampak terganggu oleh sikap CEO tersebut.

"Kalau begitu, saya tidak akan mengganggu waktu Anda berdua. Senang bertemu dengan Anda, Bu Alisha."

"Saya juga, Pak Reza."

Reza berpamitan dan berjalan menuju kelompok tamu lain.

Setelah pria itu pergi, Alisha mengambil gelasnya.

"Pak Reza cukup ramah."

Adrian meliriknya.

"Kamu mengenalnya?"

"Baru saja. Dia duduk di sini ketika kamu sedang menelepon."

"Apa yang kalian bicarakan?"

Alisha memandang Adrian dengan sedikit heran.

"Hanya tentang acara ini. Dia bercerita bahwa dulu pernah salah masuk ruang pertemuan."

Adrian terdiam.

Ia sendiri tidak tahu mengapa pertanyaan itu keluar begitu saja.

"Begitu."

Alisha menatapnya beberapa saat.

"Memangnya ada sesuatu?"

"Tidak."

"Baiklah."

Alisha kembali meminum jusnya.

Adrian menyandarkan punggung ke kursi. Ia mencoba mengalihkan perhatian kepada susunan acara yang tercetak di atas meja, tetapi pikirannya justru kembali pada pemandangan beberapa menit sebelumnya.

Alisha tertawa saat berbicara dengan Reza.

Senyum itu bukan sesuatu yang istimewa. Ia sudah beberapa kali melihat Alisha tersenyum ketika berbicara dengan Natasya, atau ketika menerima kabar baik tentang ibunya.

Namun, melihat Alisha tertawa bersama pria lain ternyata membuatnya berhenti sejenak.

Adrian mengernyit tipis.

Apa sebenarnya yang sedang ia pikirkan?

Alisha adalah istrinya, tetapi pernikahan mereka memiliki batas yang jelas. Mereka menikah berdasarkan kesepakatan satu tahun, dan sejak awal keduanya telah memahami bahwa mereka tidak harus terlibat secara emosional.

Adrian tidak berhak mengatur dengan siapa Alisha berbicara selama perempuan itu tetap menjaga sikapnya.

Lagi pula, Reza hanya seorang rekan kerja.

Tidak ada alasan untuk mempersoalkan hal tersebut.

Adrian menutup lembar susunan acara dan meletakkannya kembali di atas meja.

Ia memutuskan untuk tidak memikirkannya lagi.

 

Tidak lama kemudian, lampu di ruang utama sedikit diredupkan. Pembawa acara naik ke panggung dan menyampaikan sambutan pembuka.

Para tamu mulai kembali ke tempat duduk masing-masing.

Adrian memperhatikan panggung, sedangkan Alisha duduk dengan tenang di sampingnya.

Dalam sambutannya, pembawa acara menyampaikan apresiasi kepada seluruh karyawan dan jajaran manajemen yang telah berkontribusi terhadap perkembangan Mahendra Group. Beberapa pencapaian perusahaan juga disebutkan sebelum akhirnya ia mempersilakan Adrian memberikan sambutan.

Alisha menoleh kepada Adrian ketika nama pria itu disebut.

Adrian berdiri dan merapikan jasnya sebelum berjalan menuju panggung.

Sikapnya berubah begitu ia berada di depan para tamu. Ia berbicara dengan tegas, terstruktur, dan tanpa keraguan. Tidak ada kalimat yang berlebihan, tetapi setiap ucapannya terdengar jelas.

Alisha memperhatikan dengan saksama.

Ia tahu Adrian adalah seorang CEO, tetapi melihatnya berbicara langsung di hadapan begitu banyak orang membuatnya memahami betapa besar tanggung jawab yang dipikul pria itu.

Adrian bukan sekadar seseorang yang sibuk bekerja.

Ia memimpin banyak orang, membuat keputusan penting, dan harus memastikan perusahaan tetap berjalan dengan baik.

Ketika sambutan selesai, para tamu memberikan tepuk tangan.

Adrian kembali ke tempat duduknya.

"Pidatomu bagus," kata Alisha spontan.

Adrian menoleh.

"Kamu mendengarkan?"

Alisha mengangkat alis.

"Tentu saja. Aku duduk di sini."

Adrian terdiam sebentar, lalu mengangguk kecil.

"Terima kasih."

Alisha tersenyum tipis.

"Aku tidak terlalu memahami semua hal tentang perusahaan, tetapi aku bisa melihat bahwa kamu sudah mempersiapkannya dengan baik."

Adrian memandangnya sejenak.

Pujian yang ia terima sepanjang malam biasanya berkaitan dengan kinerja, pencapaian, atau keputusan bisnis. Orang-orang memujinya karena ia adalah CEO Mahendra Group.

Namun, ucapan Alisha terasa berbeda.

Perempuan itu tidak mencoba mengambil hatinya. Ia juga tidak terdengar seperti seseorang yang sedang mencari keuntungan dari pujian.

Ia hanya mengatakan apa yang dilihatnya.

Adrian mengalihkan pandangan ke arah panggung.

"Memang sudah menjadi pekerjaanku."

"Aku tahu."

Percakapan mereka berhenti sampai di sana.

Alisha kembali memperhatikan acara, sedangkan Adrian mencoba memusatkan pikirannya pada jamuan malam itu.

Akan tetapi, untuk pertama kalinya, ia merasa kehadiran Alisha di sampingnya tidak sekadar memenuhi kewajiban sebagai pasangan dalam sebuah acara resmi.

Ada sesuatu yang membuatnya lebih sadar terhadap perempuan itu.

Sesuatu yang belum bisa ia beri nama.

 

Setelah sambutan selesai, para tamu mulai menikmati hidangan utama.

Seorang pelayan meletakkan beberapa piring di atas meja. Alisha mengucapkan terima kasih sebelum memperhatikan makanan yang tersaji.

Ia mengambil secukupnya.

Adrian melirik piringnya.

"Kamu tidak suka makanannya?"

Alisha menggeleng.

"Bukan begitu. Aku hanya mengambil sedikit karena belum tahu rasanya."

"Kalau kurang, kamu bisa mengambil lagi."

"Iya."

Adrian melanjutkan makan.

Beberapa menit kemudian, seorang perempuan yang mengenakan gaun hijau tua mendekati meja mereka.

"Adrian."

Adrian mengangkat kepala.

"Bu Lestari."

Perempuan itu tersenyum, lalu menatap Alisha.

"Jadi, ini istri Anda? Saya Lestari, kepala divisi pemasaran."

Alisha segera menyambutnya dengan sopan.

"Alisha Amanda. Senang bertemu dengan Ibu."

"Senang bertemu dengan Anda juga." Lestari duduk sebentar setelah mendapat izin. "Saya sudah cukup lama bekerja di perusahaan ini, tetapi baru kali ini bertemu dengan istri Pak Adrian."

Alisha tersenyum.

"Saya memang belum pernah menghadiri acara perusahaan sebelumnya."

"Semoga Anda menikmati malam ini. Biasanya, acara seperti ini menjadi kesempatan bagi para pegawai untuk bertemu di luar pekerjaan."

Lestari kemudian mengajak Alisha berbicara tentang hal-hal ringan. Ia bertanya mengenai pekerjaan Alisha dan bagaimana perempuan itu menghabiskan waktunya sehari-hari.

"Saya bekerja di Sweet Morning Bakery," jawab Alisha.

"Benarkah? Sebagai apa?"

"Saya membantu menyiapkan pesanan dan pekerjaan lainnya di toko."

"Wah, pasti cukup sibuk, ya?"

"Kadang-kadang. Apalagi kalau banyak pesanan."

Lestari mengangguk penuh pengertian.

"Saya senang mendengar orang yang tetap bekerja dan memiliki kesibukan sendiri. Tidak semua orang nyaman menjalani rutinitas yang padat."

Alisha tersenyum.

"Saya sudah terbiasa."

Percakapan mereka berlangsung beberapa menit sebelum Lestari dipanggil oleh rekannya.

Setelah perempuan itu pergi, Adrian meletakkan alat makannya.

"Kamu terlihat lebih santai sekarang."

Alisha menoleh.

"Maksudmu?"

"Tadi kamu terlihat memperhatikan semua hal di ruangan ini."

Alisha tersenyum kecil.

"Karena memang banyak hal yang belum pernah kulihat secara langsung."

"Dan sekarang?"

"Sekarang aku mulai terbiasa. Ternyata tidak sesulit yang kubayangkan."

Adrian mengangguk.

"Bagus."

Alisha kembali menikmati makanannya.

Ia tidak menyadari bahwa sejak awal acara, Adrian beberapa kali memperhatikan apakah dirinya nyaman atau tidak. Bagi Alisha, sikap itu hanya bentuk tanggung jawab Adrian sebagai suami dalam acara resmi.

Ia tidak berpikir lebih jauh.

Pernikahan mereka tetaplah sebuah kesepakatan, dan ia tidak ingin salah mengartikan perhatian kecil sebagai sesuatu yang lebih besar.

 

Acara berlanjut hingga malam semakin larut.

Beberapa tamu mulai berpindah ke area lain untuk berbincang. Alisha dan Adrian juga berdiri dari tempat duduk mereka ketika seorang eksekutif senior mengajak Adrian berbicara mengenai rencana perusahaan.

"Aku harus berbicara sebentar dengan mereka," kata Adrian.

Alisha mengangguk.

"Silakan. Aku bisa menunggu di sini."

Adrian tampak hendak mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya hanya mengangguk.

"Jangan pergi terlalu jauh."

Alisha menatapnya.

"Baik."

Adrian kemudian bergabung dengan beberapa koleganya.

Alisha berdiri di dekat meja minuman sambil melihat sekeliling. Ia tidak keberatan menunggu. Selama Adrian menyelesaikan urusannya, ia bisa menikmati suasana tanpa harus ikut membicarakan hal-hal yang tidak dipahaminya.

Tidak lama kemudian, Reza kembali mendekat.

"Bu Alisha, bagaimana acaranya sejauh ini?"

Alisha menoleh dan tersenyum sopan.

"Cukup menyenangkan. Saya mulai terbiasa dengan suasananya."

"Syukurlah. Saya tadi melihat Anda berbicara dengan Bu Lestari."

"Iya. Beliau sangat ramah."

Reza mengangguk.

"Beliau memang begitu. Kalau ada pegawai baru, biasanya beliau yang pertama kali mengajak bicara."

Mereka kembali berbincang sebentar. Kali ini, Reza bertanya tentang bakery tempat Alisha bekerja. Ia mengaku menyukai roti dan sesekali membeli kue untuk dibawa pulang.

Alisha menjelaskan beberapa hal sederhana tentang pekerjaannya.

"Kadang-kadang, bagian yang paling melelahkan bukan membuat atau menyiapkan pesanan," katanya. "Melainkan memastikan semuanya selesai tepat waktu ketika pesanan sedang banyak."

Reza tertawa kecil.

"Saya bisa membayangkannya. Di kantor juga begitu. Kalau ada tenggat waktu, semua orang mendadak sibuk."

Alisha tersenyum.

"Berarti kita sama-sama punya pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja."

"Benar."

Dari tempatnya berbicara dengan para eksekutif, Adrian sempat melihat Alisha dan Reza lagi.

Kali ini, ia tidak berhenti berjalan. Ia tetap mendengarkan pembicaraan koleganya, memberikan tanggapan saat diperlukan, dan menjaga ekspresi profesionalnya.

Namun, perhatiannya beberapa kali teralihkan.

Ia tidak menyukai kenyataan bahwa dirinya terus menyadari keberadaan Alisha meskipun perempuan itu tidak berada di dekatnya.

Ketika salah seorang kolega bertanya tentang pendapatnya mengenai rencana ekspansi, Adrian segera kembali memusatkan perhatian.

"Saya rasa kita perlu memeriksa proyeksi biayanya terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan."

Pembicaraan berlanjut seperti biasa.

Tidak ada yang menyadari perubahan kecil dalam pikirannya.

Bahkan Adrian sendiri belum bersedia mengakuinya.

 

Menjelang akhir acara, Adrian akhirnya kembali menemui Alisha.

"Kita pulang sebentar lagi."

Alisha mengangguk.

"Baik. Aku sudah selesai."

Reza yang berdiri tidak jauh dari mereka segera berpamitan.

"Selamat malam, Pak Adrian. Bu Alisha, senang bisa berbincang dengan Anda."

"Selamat malam," jawab Adrian.

"Terima kasih, Pak Reza. Saya juga senang bertemu dengan Anda," kata Alisha.

Setelah Reza pergi, Adrian berjalan bersama Alisha menuju pintu keluar.

Mereka melewati beberapa tamu yang masih berbincang. Beberapa orang kembali menyapa Adrian dan mengucapkan selamat malam kepada Alisha.

Alisha membalas setiap sapaan dengan sopan.

Ketika mereka sampai di lobi, Adrian memperlambat langkah agar berjalan sejajar dengannya.

"Apakah kamu lelah?"

"Sedikit, tetapi tidak masalah."

"Kita bisa langsung pulang."

Alisha mengangguk.

"Bagaimana dengan pekerjaanmu? Bukankah tadi masih ada beberapa orang yang ingin berbicara denganmu?"

"Pembicaraan itu bisa dilanjutkan di kantor."

"Kalau begitu, baiklah."

1
Grend Levn
ceritanya menarik membuat ku penasaran bagaimana kelanjutannya kerenn
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu itu Clarissa, sedemikian ga lakunya kamu ya sama bujangan, sampai orang udah punya istri juga kamu ganggu, hanya alasan masa lalu? Bodohnya kebangetan kamu
Aqilaa Kezia: Hehehe, sabar ya, Kak 😂 Clarissa memang bikin emosi. Terima kasih sudah membaca novelku! ❤️
total 1 replies
Ariany Sudjana
skak mat, bagus Alisha, kamu harus tegas menghadapi si pelacur murahan itu, tunjukkan kamu itu perempuan baik-baik, cerdas dan mandiri, meskipun kamu istri CEO, tapi kelas kamu jauh di atas si pelacur murahan itu, yang hanya bisa berharap jadi istri CEO, tapi ga kesampaian
Aqilaa Kezia: makasih banyak Kak Arianya udah selalu dukung Alisha😍
total 1 replies
Ariany Sudjana
Adrian dan alisha harus tegas dan waspada, si pelacur murahan itu ingin menghancurkan rumah tangga kalian
Aqilaa Kezia: terimakasih ka Adriany udah membaca😊
total 1 replies
Ariany Sudjana
jangan menyerah Alisa, buktikan kamu perempuan baik-baik, cerdas dan mandiri, dan cocok mendampingi Adrian, jangan biarkan pelacur murahan itu menghancurkan rumah tangga kamu dengan Adrian
katya
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!