NovelToon NovelToon
Tak Lagi Mencintaimu

Tak Lagi Mencintaimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mandul / Pelakor jahat
Popularitas:14.3k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

‎Badai datang pelan namun mematikan, menggoyahkan komitmen lima tahun yang Risa yakini abadi. Di bawah langit malam yang sunyi, dia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri suaminya, Raga, sedang bermesraan dengan wanita lain di dalam mobil mereka.

‎Setelah bertahun-tahun membangun rumah tangga dengan penuh pengorbanan, meninggalkan karir impian untuk mendukung karir suaminya, Risa harus menghadapi kenyataan pahit bahwa cinta yang dia anggap tulus telah dipermainkan.

‎Pengkhianatan itu menjadi pukulan terberat bagi hatinya.

‎"Selama ini aku menutupi kekuranganmu demi menjaga harga dirimu, tapi balasanmu adalah pengkhianatan. Mulai hari ini, aku tidak mau lagi menjadi orang yang selalu mengalah." ~ Risa Anindita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 15

Sella membuka pintu kamar dan menutupnya kembali dengan rapat. Dia segera menghampiri suaminya yang baru selesai membersihkan diri dan sedang duduk santai di sofa kamar.

‎‎"Mas, tadi aku mengantar Risa pindah ke rumah sewa yang sudah kita persiapkan," buka Sella dengan nada lembut namun penuh perhatian, ikut duduk disamping suaminya. "Dia sudah mengambil keputusan tegas untuk bercerai dari Raga. Semua bukti perselingkuhan itu sudah ada di tangannya, dan dia tidak mau lagi bertahan dalam hubungan yang hanya menyakitkan itu."

‎‎Juna mengangguk perlahan, mendengarkan dengan saksama. Wajahnya terlihat serius, namun ada rasa simpati yang tergambar di matanya.

‎‎"Aku mengerti posisinya. Kalau sudah sampai hati dan harga dirinya diinjak-injak seperti itu, memang tidak ada gunanya memaksakan diri tetap tinggal," jawab Juna pelan. "Terus bagaimana keadaannya sekarang? Dia punya rencana apa ke depannya?"

‎‎"Itu yang ingin aku bicarakan padamu," lanjut Sella, menatap suaminya dengan tatapan memohon dukungan. "Risa butuh pekerjaan untuk menghidupi dirinya sendiri dan membiayai proses perceraiannya nanti. Dia lulusan desain busana yang berbakat, hanya saja sudah beberapa tahun tidak bekerja karena mengurus rumah tangga. Katakanlah, di RTF Corp tempatmu bekerja, apakah masih ada lowongan di bagian desain?"

‎‎Juna terdiam sejenak, mengingat laporan yang baru saja dia terima beberapa waktu lalu.

‎‎"Kebetulan sekali, Sayang. Hari ini divisi desain memang mengajukan permohonan penambahan staf untuk persiapan koleksi baru tahun depan. Tapi kamu tahu sifat Pak Regan kan? Dia sangat ketat dan tidak menerima orang hanya karena rekomendasi semata. Kemampuan dan hasil karya-lah yang menjadi penilaian utamanya."

‎‎"Aku tahu itu, Mas," jawab Sella cepat. "Tapi Risa tidak akan mengecewakan. Dulu dia selalu menjadi yang terbaik di kampus, karyanya banyak dipuji dosen dan teman-temannya. Dia hanya butuh kesempatan untuk membuktikan dirinya. Bisa tidak kamu sampaikan ke Pak Regan? Setidaknya berikan dia kesempatan untuk wawancara dan membawa hasil karyanya. Jika memang tidak memenuhi syarat, dia juga akan mengerti."

‎‎Melihat ketulusan dan kekhawatiran di wajah istrinya, Juna tersenyum tipis lalu mengangguk setuju.

‎‎"Baiklah, aku akan mencoba menyampaikannya besok pagi setelah rapat. Aku akan ceritakan soal Risa, tapi keputusan akhir tetap ada di tangan Pak Regan. Setidaknya aku akan mencoba membuka jalan untuknya."

‎‎Sella tersenyum lega, lalu mendekat dan memegang tangan suaminya. "Terimakasih, Sayang. Kamu memang yang terbaik. Risa wanita yang tegas dan punya prinsip kuat. Kalau dia diterima, aku yakin dia akan bekerja dengan sungguh-sungguh dan tidak akan mempermalukan rekomendasimu."

‎‎"Ya, aku percaya itu," jawab Juna sambil menepuk punggung tangan istrinya. "Besok aku segera kabari kamu setelah ada jawaban dari Pak Regan."

‎‎-

‎-

‎-

‎Pagi hari menyapa rumah itu dengan cahaya matahari yang masuk lewat celah jendela, namun tidak membawa kehangatan seperti biasanya. Suasana terasa sunyi, hening, dan terasa lebih luas dari biasanya, seolah kehilangan nyawa yang dulu menghidupkan setiap sudut ruangan.

‎‎Di ruang tengah, barang-barang masih terlihat berantakan. Kantong belanjaan yang jatuh semalam tergeletak di lantai, isinya tersebar tanpa ada yang merapikan. Foto-foto bukti perselingkuhan masih berserakan di atas meja, menjadi pengingat pahit atas apa yang baru saja terjadi.

‎‎Raga terbangun dengan kepala terasa berat dan perasaan tidak tenang. Ia tidur semalam hanya dengan membaringkan tubuhnya di sofa, tidak sanggup masuk ke kamar tidur yang kini terasa kosong dan asing. Matanya terlihat sembab, wajahnya pucat, dan sorot matanya menunjukkan kelelahan serta kekacauan batin yang mendalam.

‎‎Belum lama ia duduk melamun, terdengar suara bel pintu yang berbunyi berkali-kali. Suara langkah Bi Ani terdengar dari arah dapur untuk membukakan pintu.

‎‎Begitu pintu terbuka lebar, Bu Rima melangkah masuk dengan wajah yang sudah cemberut sejak tadi.

‎‎"Selamat pagi, Bu Rima," sapa Bi Ani sopan sambil sedikit menunduk.

‎‎"Pagi. Dimana Raga? Dia sudah pulang dari dinas kan?" tanya Bu Rima, matanya mengamati keadaan sekeliling yang terasa tidak biasa.

‎‎Bi Ani terdiam sejenak, ragu untuk menjawab. "Mas Raga ada di ruang tengah, Bu. Tapi Non Risa... semalam sudah pergi, Bu. Beliau membawa barang-barangnya dan tidak kembali lagi."

‎‎Mendengar penjelasan itu, alis Bu Rima langsung terangkat tinggi. Ia melangkah cepat menuju ruang tengah dan mendapati Raga duduk membungkuk lesu di atas sofa.

‎‎"Ini apa-apaan? Rumah berantakan seperti ini, kamu malah duduk melamun seperti itu!" tegur Bu Rima dengan nada tinggi begitu melihat putranya. "Dan Bi Ani bilang Risa sudah pergi? Maksudnya apa pergi? Berani sekali dia keluar rumah seenaknya tanpa pamit!"

‎‎Raga hanya mengangkat wajah sekilas, lalu menunduk kembali dengan suara lemah dan parau. "Dia sudah memutuskan untuk pergi selamanya, Ma. Semalam dia membawa semua barangnya dan mengatakan ingin bercerai dariku."

‎‎Kata bercerai membuat Bu Rima tertegun sesaat, lalu wajahnya memerah menahan kesal. Ia melirik ke meja di sampingnya, melihat foto-foto yang masih berserakan disana, dan seketika mengerti inti masalahnya.

‎‎"Jadi karena hal ini dia berani bertindak sembarangan?" serunya lagi, suaranya semakin meninggi. "Sudah kukatakan dari dulu, dia itu wanita yang tidak tahu berterimakasih! Tidak bisa memberi keturunan, tidak bisa melanjutkan nama keluarga kita, sekarang malah berani mengancam pergi dan minta cerai hanya karena masalah kecil! Dia pikir dia berharga sampai bisa bersikap seperti itu padamu?!"

‎‎Mendengar tuduhan itu, Raga tiba-tiba mengangkat kepala dengan gerakan cepat. Matanya yang semula sayu kini menatap tajam ke arah ibunya, membuat Bu Rima terhenti berbicara. Bi Ani yang berdiri sedikit jauh hanya menunduk, tidak berani ikut campur.

‎‎"Jangan bicara seperti itu soal dia, Ma!" bentak Raga, suaranya bergetar karena emosi yang tertahan. "Dia pergi bukan karena tidak tahu diri, tapi karena aku yang membuatnya muak dan kecewa! Akulah yang salah. Aku berbohong, aku mengkhianati janji pernikahan kami dan menyakiti hatinya berkali-kali! Dia pergi karena dia sudah tidak tahan lagi, bukan karena mau mengancam!"

‎‎Bu Rima terkejut mendengar pembelaan putranya, namun ia tetap tidak mau mengalah. "Tapi dia mandul, Raga! Itu kenyataan! Bagaimana bisa rumah tangga bertahan lama tanpa anak? Sekalian saja biarkan dia pergi, itu justru kesempatan bagimu untuk mencari wanita lain yang lebih sempurna dan bisa memberimu keturunan!"

‎‎"Tapi aku mencintai Risa, Ma!" seru Raga lagi, suaranya terdengar lebih keras dan penuh penekanan, seolah ingin menanamkan kalimat itu agar ibunya mengerti.

‎‎Bu Rima menghela napas panjang, lalu mendekat dan duduk di samping putranya.

‎‎"Baiklah, kalau kamu masih merasa mencintainya, itu hakmu. Tapi pikirkan baik-baik, Raga. Cinta saja tidak cukup untuk menjalani hidup. Lihat saja kenyataannya, dia tidak bisa memberimu anak, sesuatu yang menjadi harapan kita semua sejak lama. Lalu apa gunanya mempertahankan dia yang sudah memutuskan pergi dan meminta bercerai?"

‎‎Ia menjeda sejenak, lalu melanjutkan dengan nada penuh rencana

‎‎"Bawalah wanita selingkuhanmu itu ke rumah. Mama ingin melihat seperti apa dia. Kalau dia baik dan benar-benar bisa membuatmu bahagia, sekaligus bisa memberimu keturunan, mengapa tidak kamu pikirkan untuk menikahinya secara resmi?"

‎‎Raga menoleh, matanya terlihat bingung mendengar usulan itu.

‎‎"Menikahi dia...?"

‎‎"Ya," jawab Bu Rima tegas. "Kalau kamu mengambil keputusan itu, ada dua keuntungan sekaligus. Pertama, keinginanmu memiliki anak akan terpenuhi. Kedua, lihat saja nanti. Begitu Risa mendengar kamu sudah punya pengganti yang lebih baik dan bisa melanjutkan keturunan, dia pasti akan menyesal telah meninggalkanmu."

‎‎Bu Rima menepuk pundak putranya perlahan. "Pikirkanlah dengan kepala dingin dulu. Membiarkan diri terpuruk hanya karena satu wanita yang sudah tidak mau bersamamu itu tidak ada gunanya. Ambil jalan yang menguntungkan masa depanmu dan nama keluarga kita."

‎‎Setelah berkata begitu, Bu Rima berdiri. "Mama pulang dulu. Nanti kabari Mama jika sudah memikirkan keputusan apa yang akan kamu ambil. Mama hanya ingin yang terbaik untukmu, Raga."

‎‎Ia berjalan keluar meninggalkan ruangan, diikuti Bi Ani yang mengantarnya sampai ke depan pintu. Sementara ‎‎Raga tetap duduk membisu, matanya kosong menatap lantai. Ucapan ibunya tadi terus berputar di dalam kepalanya, bercampur dengan rasa rindu, penyesalan, dan kebingungan yang sudah ada sebelumnya.

‎‎"Bawa dia bertemu... menikahi dia... agar punya anak... agar Risa menyesal..."

‎‎Kalimat-kalimat itu terasa seperti dua sisi mata pisau. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, lalu menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa. Pikirannya terpecah dua. Satu sisi ia ingin berusaha mempertahankan Risa dan memperbaiki semuanya, tapi di sisi lain ia mulai tergoda untuk mempertimbangkan ucapan ibunya.

‎‎"Kalau bisa menikah dengan keduanya kenapa tidak?" gumamnya pelan, hampir berbisik, mencoba meyakinkan dirinya sendiri. "Aku akan membujuk Risa agar mau dimadu tanpa kami harus bercerai. Kalau Amelia bisa hamil, Risa juga pasti akan senang karena kami akan punya anak seperti yang kami impikan selama ini."

‎Pikiran itu tiba-tiba muncul di benaknya, terlintas begitu saja seolah menjadi jalan keluar yang paling mudah dan memuaskan semua keinginannya. Matanya yang tadinya sayu perlahan terlihat berkilat, seolah menemukan titik terang di tengah kekacauan pikirannya.

-

-

-

Bersambung...

1
vj'z tri
ahayyyy jreng jreng jreng
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ icik bos dah salting berat ini
🔥Violetta🔥: Udah cenat-cenut dia 😂😂😂
total 1 replies
W I 2 K
kamu nanya.. kamu bertanya-tanya....,

secara g langsung km udah siap ni ditinggalin raga.. km kan nyuruh cek, terus tau kenyataan pahit asam manisnya kyk apa.... ya jelas nanti raga bakalan ngejar balik lg risa.. ya nerima apa adanya kan cm dia.... siap² deh mimpi terindah menikah dengan raga hanya tinggal khayalan belaka... 🤣🤣🤭
〈⎳ FT. Zira
coba cekk. di lihat..diraba.. di...🤭🤭
〈⎳ FT. Zira
kesempatan noh Re .. ambilll🤣🤣
〈⎳ FT. Zira
jodoh ka Re🤭
〈⎳ FT. Zira
kamulah orangnya🤭
〈⎳ FT. Zira
cieeee cieee🤭🤭🤣🤣
〈⎳ FT. Zira
deg deg ser gak ris🤭
〈⎳ FT. Zira
jodoh emag gak kemana yaa🤭
Rizky Manik
lanjut thor🤗
Rizky Manik
ayo periksa lagi kalo berani🤭
Anonim
awokawok mending baca seishun buta yarou Bunny girl senpai wo yume wo minai
MamDeyh
Nah nah nah kan.... Eng ing eng
Kusii Yaati
kamu terlalu memandang rendah orang mel,di bandingkan dengan kamu Risa lebih baik dari segi manapun, sedang kamu apa perlu di banggakan selain pandai merebut suami orang alias pelakor... punya cermin nggak 😒
Anonim
JONTOL
vj'z tri
bagaimana caraaaa nya untukk kau bisa mengerti bahwa aku iriiii 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
vj'z tri
jika Oma sama ibu tahu siapa yang lagi di Pepet icik bos pasti girang 🤭🤭🤭🤭🤭🤭
vj'z tri
eeeeeeeaaaaaaa ee ee eaaaaaa eeeeeaaaaa 🤣🤣🤣🤣
🔥Violetta🔥: Astaga 🤣🤣🤣
total 1 replies
vj'z tri
gak say biar icik bos yang langsung turun tangan 🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!