NovelToon NovelToon
Cinta Tanpa Syarat.

Cinta Tanpa Syarat.

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: atikah@72

sejak lahir, dia tak sempurna.
ibunya ditinggalkan pergi oleh sang ayah, saat ia masih dalam kandungan.

sang ibu mengandung seorang diri, karena bapaknya pergi mencari nafkah dan biaya persalinan sang ibu.

sampai ia lahir ayahnya tak menghendakinya dan datang membawa madu untuk ibunya.
sejak lahir penduduk desa mengatakannya pembawa petaka, karena ia lahir tak sempurna. kini ia hidup berdua bersama sang ibu.

sementara sang ayah pergi dengan wanita lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon atikah@72, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Operasi Dalam 1 Malam

"JOHAN! JOHAN! BUKA MATA, JOHAN!"

Teriakan Sari memecah keheningan IGD RSUD Waingapu yang tadinya sudah lega. Baru saja Johan sadar dan mengaku semua kejahatan Lina, baru saja polisi melepas borgol Sari, Johan kembali ambruk dengan kejang.

Darah segar mengalir deras dari perban kepalanya, membasahi lantai IGD yang putih bersih. Matanya mendelik putih, tangannya mencengkeram kertas cap jempol darah Bintang begitu erat sampai kertas itu sobek sedikit.

Dokter UGD dan dua perawat langsung berlari mendorong brankar operasi.

"Pendarahan otak berulang! Bekuan darah pecah lagi! Harus operasi craniotomy sekarang juga! Kalau tidak, mati dalam 30 menit! Siapkan ruang OK! Hubungi dokter bedah saraf!" teriak dokter UGD.

Brankar Johan didorong lari kencang menuju ruang operasi di lantai dua. Roda brankar berdecit nyaring di lantai koridor.

Sari ingin ikut lari, tapi kakinya lemas. Ia baru donor darah, baru melahirkan semalam, belum makan seharian. Ia ambruk lagi di lantai IGD, masih menggendong Bintang yang menangis kencang karena kaget mendengar teriakan dan sirine.

Dokter Anya langsung memeluk Sari dan Bintang.

"Sari, kamu tidak boleh ikut! Kamu harus jaga Bintang! Johan biar dokter yang urus!"

Tapi Sari tidak bisa. Air matanya mengalir deras. "Dok... itu suami saya... bapaknya anak saya..."

Di sisi lain lorong, Lina melihat kekacauan itu. Melihat Johan didorong ke ruang operasi dengan peluang hidup 50%, melihat polisi menatapnya curiga karena laporan palsu, Lina tahu ia harus kabur sekarang juga.

Dengan cepat, Lina menggendong Kevin yang tertidur, dan diam-diam menyelinap keluar dari IGD RSUD. Tidak ada yang memperhatikannya karena semua sibuk dengan Johan.

Tapi Lina tidak langsung pulang. Ia punya rencana terakhir yang paling jahat.

Siang tadi, saat Sari dan Mama Leni dan semua warga pergi ke padang melihat kecelakaan Johan, gubuk Sari di Kolorai kosong. Lina yang pura-pura pergi dengan mobil sayur, sebenarnya turun di tengah jalan dan balik lagi ke Kolorai lewat jalan tikus. Ia masuk ke gubuk bocor Sari yang tidak terkunci.

Dan di dalam peti kayu bambu peninggalan bapak Sari, ia menemukan yang ia cari.

Sertifikat tanah asli atas nama Sari Binti Maria. Bukan fotokopian. Yang asli, dengan cap BPN asli.

Sekarang sertifikat itu ada di dalam tas Lina.

Lina naik ojek menuju terminal bus malam Waingapu. Ia mau kabur ke Kupang malam ini juga dengan sertifikat itu, menjualnya di sana. 50 juta.

Sementara itu di RSUD Waingapu, dua tragedi terjadi dalam satu malam yang sama, di dua ruangan yang bersebelahan.

Di Ruang Operasi 1, Johan sedang dioperasi buka tempurung kepala. Dokter bedah saraf berusaha menghentikan pendarahan di otaknya. Di luar ruangan, tidak ada keluarga yang menunggu, kecuali Sari yang duduk di lantai koridor dengan Bintang di pelukannya.

Di Ruang Bayi, Bintang juga sedang krisis. Demamnya naik lagi menjadi 39,5 derajat. Infeksi sepsisnya kambuh karena perjalanan 3 jam dari Puskesmas yang berguncang-guncang. Dokter anak di RSUD memeriksa dan menggeleng.

"Bayi ini harus masuk inkubator NICU sekarang! Tapi NICU penuh! Satu-satunya cara, operasi gips kaki bengkoknya harus dilakukan malam ini juga bersamaan dengan pemberian antibiotik dosis tinggi. Kalau tidak, infeksi bisa naik ke otak!"

Sari menatap dua pintu ruang operasi yang bersebelahan. Pintu kiri, suaminya yang sekarat sedang dioperasi otak. Pintu kanan, anaknya yang cacat sedang sekarat butuh operasi kaki pertama.

Sari hanya punya satu tubuh. Ia tidak bisa membelah diri.

"Bu Sari, Yayasan Senyum Anak Sumba sudah saya telepon, mereka sudah setuju dengan cap jempol darah bapaknya! Tapi mereka hanya bisa operasi malam ini! Besok dokter orthopedinya terbang kembali ke Surabaya! Kalau malam ini tidak operasi, Bintang harus tunggu 6 bulan lagi! Dan dalam 6 bulan, tulang kaki Bintang akan mengeras permanen, tidak bisa sembuh lagi! Cacat seumur hidup!" kata Dokter Anya dengan panik.

Pilihan lagi. Lagi-lagi Sari harus memilih antara Johan dan Bintang di malam yang sama.

Tiba-tiba, pintu Ruang Operasi 1 terbuka. Dokter bedah saraf keluar dengan wajah lelah, melepas maskernya.

"Bu Sari? Keluarga Pak Johan?"

Sari berdiri dengan Bintang di gendongannya.

"Operasi berhasil, Bu. Pendarahan berhenti. Tapi..."

Hati Sari berhenti berdetak mendengar kata tapi.

"Tapi karena pendarahan kedua ini cukup besar dan telat ditangani, ada kemungkinan Pak Johan mengalami amnesia sementara. Atau lebih buruk, kelumpuhan sebagian. Kita baru tahu setelah dia sadar besok pagi. Dan biaya operasi craniotomy ini 15 juta, Bu. BPJS tidak aktif. Harus dilunasi besok pagi, kalau tidak, pasien tidak bisa keluar RS."

15 juta. Ditambah 2,5 juta CT Scan tadi.

Sari hampir pingsan. Dari mana 17,5 juta?

Dokter bedah itu lalu masuk lagi ke ruang operasi.

Sari kembali duduk di lantai koridor, di antara dua pintu ruang operasi. Di gendongannya, Bintang menangis pelan, demam tinggi. Di dalam ruang operasi sebelah, Johan masih belum sadar.

Polisi yang tadi mau menangkap Sari, kini mendekati Sari dengan rasa iba. Polisi tua itu berjongkok di depan Sari.

"Bu Sari, kami sudah cek CCTV RSUD. Laporan Lina palsu. Kami yang minta maaf. Kami sudah kejar Lina, tapi dia sudah kabur dari RS. Kami dapat info dari warga Kolorai, Lina mencuri sertifikat tanah asli Ibu dari gubuk Ibu tadi siang. Kami sedang kejar ke terminal."

Sari mengangkat wajahnya. "Sertifikat... tanah saya... dicuri Lina?"

"Iya, Bu. Dan bus ke Kupang berangkat jam 10 malam ini. 30 menit lagi. Kalau Lina berhasil naik bus dan sampai Kupang, tanah Ibu hilang selamanya, Bu. Tidak akan bisa kembali."

Waktu menunjukkan jam 9:30 malam.

Dalam 30 menit, Sari harus melakukan tiga hal yang tidak mungkin dalam waktu bersamaan.

Menunggu Johan sadar dari operasi otak 17,5 juta di Ruang Operasi 1.

Mengantar Bintang operasi kaki bengkok terakhir malam ini di Ruang Operasi 2, agar tidak cacat seumur hidup.

Mengejar Lina ke terminal bus yang jaraknya 20 menit dari RSUD, untuk merebut kembali sertifikat tanah satu-satunya peninggalan bapaknya, satu-satunya harapan hidupnya dan Bintang jika Johan lumpuh dan tidak bisa kerja.

Sari menatap Bintang yang demam di pelukannya, menatap pintu ruang operasi Johan yang masih tertutup, dan menatap pintu keluar RSUD yang menuju terminal bus tempat Lina kabur membawa tanahnya.

Air mata, darah, dan keringat bercampur di wajah Sari.

Malam itu, di koridor RSUD Waingapu yang dingin, seorang ibu yang baru melahirkan 24 jam yang lalu, yang sudah donor darah, yang sudah dituduh mau membunuh suaminya, harus memilih lagi.

Dan kali ini, pilihannya bukan hanya antara suami dan anak.

Tapi antara suami, anak, dan masa depan.

Apa yang akan Sari lakukan?

1
Saint, SN
👋🏻👋🏻
atikah@72: makasih kak, sudah mampir di kolorai🙏🙏
total 1 replies
Paulus Waruwu
kak jnagan lupa mampir di akun aku juga ya
atikah@72: iya kak, salam kenal ya, moga kakak sukses selalu🫰
total 1 replies
oding's
haii ka aku mampir nih semangat yaa😍 yuk mampir jga di karya ku xixi
oding's: semangat trs yaa✨
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!