Follow Ig : @panda.sweety10
Kanaya mengetahui dirinya hamil seminggu sebelum acara pernikahannya, dan ayah dari calon anaknya dia pun tidak tau hingga pernikahan dengan kekasihnya harus batal karena kehamilannya.
Apakah Kanaya akan bersama dengan ayah dari anak? Dan siapa pri itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Panda Sweety, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ANCAMAN
Kanaya pun duduk di samping putranya, 10 menit kemudian pesanan mereka datang. "Kanaya kenapa cuma 3 porsi saja, kamu tidak pesan?" Tanya Alex dengan wajah kebingungan.
"Aku sudah kenyang, di taman terlalu banyak makan tadi." Jawab Kanaya.
Alex menatap bingung makanan yang ada di depannya, dia pun kembali menatap Kanaya. "Kanaya sendok dan garpunya tidak ada? Atau masny lupa kasih." Alex menggarik pelipisnya yang tidak gatal.
"Ayah kita harus makan seperti ini." Adara memberikan contoh kepada Alex.
Alex pun mengikuti putrinya
makan pakai tangan, awalnya Alex merasa jijik tapi lama kelamaan Alex sudah berkuasa.
"Enak?" Tanya Kanaya, Alex pun mengangguk.
Setelah selesai makan mereka berempat pulang, Kavin dan Adara sudah tertidur di kursi belakang.
"Kelihatannya mereka sangat kecapean."
"Iya, apa aku bisa membantumu mempersiapkan pernikahan kita?" Alex menoleh dan mendengar ucapan Kanaya.
"Kalau kamu tidak terlalu sibuk, tapi aku juga tidak ingin kamu terlalu capek." Ucap Alex lalu menggenggam tangan Kanaya.
Mobil Alex sudah berhenti di depan rumah Kanaya, Kavin pun terbangun "Bunda apa kita sudah sampai?" Tanya Kavin.
"Iya, ayo keluar ayah sudah membawa Adara masuk." Kavin pun mengangguk dan keluar dark mobil.
Alex keluar dari dalam rumah dan menghampiri Kanaya yang masih berdiri di dekat mobil bersama Kavin.
"Kanaya sudah tengah malam, kalau begitu aku akan pulang."
"Hati-hati."
"Kalian masuklah dulu, setelah aku melihat kalian masuk aku akan pergi."
Kanaya berjalan dan beberapa langkah dia dan Kavin sudah berada di depan pintu rumahnya, setelah memastikan Kanaya dan Kavin masuk dalam rumah Alex pun masuk dalam mobilnya dan meninggalkan rumah Kanaya.
Kanaya mengambil kotak obat dan membukanya "Kavin sini biar bunda mengobati lenganmu." Kavin menghampiri Kanaya yang sudah duduk di kursi meja makan.
"Bunda." Panggil Kavin.
"Ya." Jawab Kanaya yang masih fokus mengobati lengan putranya.
"Apa ayah akan meninggalkan kita lagi nanti?" Kanaya menoleh dan menatap putranya.
"Nah bunda sudah selesai, sekarang masuk dan tidurlah."
"Bunda tidak menjawab." Kavin memegang tangan Kanaya.
"Tidak akan, ayah sangat menyayangi kalian jadi tidak akan meninggalkan kita." Kanaya mengusap pipi Kavin.
Kavin masuk ke dalam kamarnya, Kanaya masih menatap pintu kamar putranya yang sudah tertutup "Bunda juga takut jika nanti ayah kalian meninggalkan kita."
***
Kanaya dan Nyonya Handoko sudah berada di gedung yang akan Alex dan Kanaya gunakan untuk pesta pernikahannya, Kanaya tampak kagum melihat gambar dekorasi di katalog terlalu mewah, dia ingin pernikahannya yang sederhana saja tapi Alex adalah pengusaha sukses jadi harus mewah.
"Apa kamu suka yang ini sayang." Nyonya Handoko menunjuk salah satu gambar.
"Iya ma, tampak mewah dan cantik."
Nyonya Handoko berdiskusi dengan pihak Wedding Organizer, setelah selesai berdiskusi Nyonya Handoko menghampiri Kanaya yang masih melihat katalog dekorasi pernikahan.
"Kita serahkan sama pihak Wedding Organizer, jadi hari ini mama mau ke salon bersama menantu mama." Kanaya tersenyum mendengar ucapan calon mertuanya.
Drrrtt.... Ponsel Nyonya Handoko berdering "Halo."
"Mama dimana?"
"Mama masih di gedung bersama Kanaya, ada apa?"
"Alex hanya mau tau saja, kalau begitu sudah dulu Alex masih ada rapat."
Tut..tut...
Nyonya Handoko menatap ponselnya dan tersenyum, dia tau sekarang putranya sedang gelisah di perusahaannya. Nyonya Haandoko menaruh ponselnya di tas dan kembali mengajak Kanaya pergi.
Di Kantor Alex mondar mandir di depan meja kerjanya, Gio dan Andra hanya menatapnya dengan kebingungan.
"Apa yang kakak lakukan?" Tanya Andra tapi Alex tidak menanggapi pertanyaan adiknya.
"Kakak aku pusing melihatmu hanya mondar mandir disana." Andra kembali bersuara.
Tiba-tiba Alex berhenti dan menatap Andra "Sekarang kamu keluar dan jangan lupa kerumah sakit." Alex menunjuk Andra.
"Apa?"
"Bukannya kamu pusing melihatku dari tadi mondar mandir."
"Apa yang membuat kakak gelisah."
"Aku akan menikah minggu depan, dan rasanya aku lebih gugup dari pada saat pertama kali bertemu dengan para direktur saat rapat."
Tok..tok.. Gio langsung membuka pintu ruangan "Ada apa." Tanya Gio kepada sekertaris Alex.
"Ada titipan untuk pak Direktur tuan Gio." Sekertaris itu menyerahkan sebuah map coklat kepada Gio.
"Siapa yang mengirimkan ini?"
"Saya juga tidak tau tuan."
"Ya sudah aku akan memberikan ini kepada Direktur, sekarang kembali ke meja kamu." Gio menutup kembali pintu dan menghampiri Alex yang masih berdiri di depan meja kerjanya.
"Tuan muda ada kiriman misterius." Alex menoleh dan melihat map coklat di tangan Gio.
Alex mengambil map itu dan membukanya sebuah foto Kavin dan Adara, di belakang foto tertulis Permainan Akan dimulai, dan pasti akan sangat seru dimikmati.
Alex meremas map dan foto anak-anaknya rahangnya mengeras, dia tau siapa yang sudah mulai memancingnyadan mengancam dengan menggunakan foto putra dan putrinya.
"Gio hubungi Romi, suruh anak buahnya menjaga Kavin dan Adara aku tidak ingin tua bangka menyakiti anak-anakku." Ucap Alex.
"Dasar tua bangka, dengan mengancamku menggunakan anak-anakku dia bisa mengendalikanku malah aku ingin melihat seberapa besar nyalimu."
"Kita tidak bisa meremehkan dia kak."
"Kita harus melihat permainan apa yang akan dia lakukan." Alex tersenyum sinis.
*****
Beberapa hari kemudian pernikahan Alex dan Kanaya akan di langsungkan besok pagi, Kanaya dan anak-anaknya sudah berada di rumah utama keluarga Handoko, sebenarnya Kanaya ingin tinggal di rumahnya bersama bibi dan omnya yang datang untuk hadir di acara pernikahannya tapi Alex memaksanya tinggal di kediaman keluarga Handoko. Segala cara dia lakukan agar Kanaya mau menginap di kediamannya, Alex tidak ingin keluarganya dalam bahaya karena ancaman keluarga Sanjaya beberapa hari lalu.
Alex dan Tuan Handoko berada di ruang kerja Alex dan membahas masalah ancaman keluarga Sanjaya beberapa hari lalu.
"Besok kita harus waspada, penjagaan harus di perketat lagi." Ucap Tuan Handoko.
"Iya pa kita tidak bisa meremehkan keluarga Sanjaya."
"Jadi apa rencanamu selanjutnya Lex." Tanya Tuan Handoko.
"Alex belum memikirkan apa-apa pa." Jawab Alex.
Tuan Handoko menatap putranya, lalu berdiri dan berjalan menuju pintu. Sebelum membuka pintu Tuan Handoko berhenti dan berbalik "Lindungi keluargamu terutama cucu-cucu papa." Tuan Handoko pun membuka pintu dan keluar.
Alex menatap jam dinding sudah pukul 12 malam, dia pun berdiri dan meninggalkan ruang kerjanya. Sebelum pergi kekamarnya Alex masuk ke kamar yang di tempati oleh Kanaya dan anak-anaknya.
Alex ingin mereka tidur di kamarnya lagi tapi Kanaya menolak, Alex ingin membuka pintu kamar tamu tapi terkunci dari dalam.
"Dia juga menolakku menemuinya dan anak-anak." Gumam Alex dan berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.
Bersambung.....
Jangan lupa Like dan Vote cerita Alex dan Kanaya.
dah bertahun2 ....
dad Al..kenapa lom ktmu jg..