Ariana Dewi, 24 tahun, seorang desainer grafis freelance yang hidupnya berantakan setelah tunangan sekaligus bosnya selingkuh dengan sahabatnya sendiri. Terlilit utang almarhum ayahnya dan hampir kehilangan rumah, ia menerima tawaran gila dari Revano Aldrich, 29 tahun, CEO muda Aldrich Group yang dingin dan penuh misteri.
Tawarannya sederhana: menikah kontrak selama satu tahun.
Revano butuh istri untuk meredam tekanan sang kakek agar tidak menyerahkan kendali perusahaan ke tangan paman yang licik. Ariana butuh uang untuk melunasi utang dan menyelamatkan rumah ibunya.
Tidak ada cinta. Tidak ada perasaan. Hanya kontrak.
Tapi aturan paling ketat sekalipun bisa retak ketika dua orang terpaksa hidup dalam satu atap, menanggung luka yang sama, dan perlahan mulai melihat satu sama lain bukan sebagai rekanan bisnis — melainkan sebagai manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Kalender dan Cara Meminta Maaf Yang Tidak Berbentuk Maaf
Aku tahu ada yang salah ketika Ibu Helena menanyakan sesuatu yang tidak aku mengerti konteksnya.
Makan siang keluarga Aldrich — bukan acara besar, hanya pertemuan rutin yang Kenzo sudah cantumkan di kalender minggu ini dengan label makan siang keluarga, semi-formal, Minggu pukul dua belas — berlangsung di rumah utama keluarga Aldrich di kawasan Menteng. Rumah yang ukurannya membuat penthouse tiga puluh dua lantai terasa seperti apartemen studio, dengan ruang makan yang mejanya cukup untuk empat belas orang dan biasanya memang terisi hampir penuh.
Hari ini yang hadir tidak sebanyak itu. Tapi yang hadir termasuk beberapa orang yang dari cara orang lain bergerak di sekitar mereka, jelas bukan sekadar keluarga jauh yang datang untuk makan siang biasa.
Aku duduk di sebelah Revano. Percakapan mengalir di sekitar meja dengan ritme yang sudah terbentuk lama — topik yang berganti dengan mulus, tawa yang muncul di titik-titik yang sudah dihapal, dinamika yang hanya bisa terbentuk dari bertahun-tahun makan di meja yang sama.
Aku mengikutinya dengan cukup baik. Sampai Ibu Helena — perempuan enam puluhan yang duduk dua kursi dari kananku, dengan perhiasan yang setiap itemnya bisa membayar sewa kosan setahun — menoleh ke arahku di sela pergantian hidangan.
"Ariana, kamu ikut retreat keluarga bulan depan, kan? Revano bilang minggu ini konfirmasi."
Aku tersenyum.
Senyum yang kupersiapkan untuk momen ketika ada informasi yang tidak kumiliki tapi perlu kurespons seolah kumiliki — senyum yang sudah kulatih sejak pertama masuk ke lingkungan ini dan ternyata lebih sering digunakan dari yang aku antisipasi.
"Masih menyesuaikan jadwal," jawabku. "Tapi kami usahakan."
Ibu Helena mengangguk puas dan kembali ke percakapannya.
Di sebelahku, Revano tidak bergerak. Tapi bahunya sedikit lebih tegang dari tadi.
Retreat keluarga.
Aku tidak tahu tentang retreat keluarga.
Tidak ada di kalender yang Kenzo kirimkan. Tidak ada yang disebutkan Revano dalam semua percakapan kami sejak seminggu terakhir — yang memang tidak banyak, tapi cukup untuk aku yakin bahwa acara sebesar itu tidak mungkin terlewat kalau memang sudah ada dalam rencana.
Artinya baru ada. Atau jadwalnya berubah. Atau ada informasi yang seharusnya sampai ke aku tapi tidak sampai.
Aku minum air dengan cara yang sangat terkontrol dan memutuskan bahwa apapun yang terjadi, ruang makan berisi dua belas orang dengan tiga di antaranya jelas bukan orang yang perlu mendengar percakapan antara aku dan Revano, adalah tempat yang salah untuk mencari tahu.
Aku bisa menunggu.
Perjalanan pulang ke penthouse memakan waktu dua puluh menit.
Dua puluh menit di dalam mobil dengan Revano di sebelahku dan keheningan di antara kami yang berbeda dari keheningan biasanya — bukan kosong, tapi berisi sesuatu yang belum keluar.
Aku membiarkannya sampai lift penthouse tertutup dan kami berdua di dalamnya, dan tidak ada lagi alasan logistik untuk menunda.
"Retreat keluarga," kataku.
Revano menatap angka lantai yang menyala satu per satu. "Jadwalnya berubah."
"Kapan berubahnya?"
"Kemarin."
"Dan kamu tidak memberitahuku."
Bukan pertanyaan. Pernyataan yang diletakkan di antara kami dengan cara yang tidak menuntut tapi juga tidak membiarkan begitu saja.
"Aku pikir Kenzo sudah—"
"Kenzo tidak tahu kalau kamu tidak memberitahu Kenzo."
Lift terbuka. Kami masuk ke penthouse.
Aku meletakkan tas di sofa dan berbalik.
"Revano." Suaraku keluar dengan nada yang sudah aku kendalikan selama dua puluh menit di mobil — tidak tinggi, tidak dingin, tapi juga tidak meninggalkan ruang untuk diabaikan. "Ibu Helena menanyakan sesuatu yang tidak aku tahu jawabannya. Di depan orang-orang yang jelas bukan sekadar tamu makan siang biasa."
"Aku tahu."
"Kalau kamu tahu, maka kamu juga tahu bahwa situasi tadi bisa sangat mudah menjadi masalah kalau aku tidak cukup cepat merespons dengan cara yang tidak menunjukkan bahwa istri yang katanya sudah diajak diskusi ternyata tidak tahu apa-apa."
"Responsmu tadi cukup."
"Itu bukan poinnya." Aku menarik napas pendek. "Poinnya adalah aku berjalan masuk ke situasi yang tidak aku punya informasinya. Itu persis yang aku minta tidak terjadi sejak awal."
Syarat ketiga. Yang aku sampaikan lewat telepon sebelum menandatangani kontrak — kalau ada sesuatu yang berubah, ada ancaman baru, ada situasi yang perlu aku tahu supaya aku tidak salah langkah, aku minta diberitahu.
Revano tahu aku mengingat itu. Dari cara dia menatapku, dia tahu.
"Itu kesalahan koordinasi," katanya.
"Iya. Dan aku tidak mengatakan itu disengaja." Aku duduk di sofa, melepas sepatu dengan gerakan yang lebih bertenaga dari perlu. "Tapi disengaja atau tidak, hasilnya sama — aku kelihatan tidak tahu di depan orang yang tidak boleh melihatku tidak tahu."
Revano berdiri di tengah ruang tamu. Tidak duduk, tidak bergerak ke mana-mana — hanya berdiri dengan cara yang sudah kukenal sebagai caranya memproses sesuatu yang tidak bisa langsung direspons dengan solusi.
"Aku seharusnya memberitahu," katanya akhirnya.
Bukan permintaan maaf. Revano Aldrich rupanya tidak memiliki maaf dalam kosakata default-nya — atau kalau punya, kata itu disimpan di tempat yang tidak mudah diakses. Yang dia miliki adalah pengakuan yang disampaikan langsung, tanpa pembungkus, dan dalam caranya itu bukan hal kecil.
"Iya," kataku. "Seharusnya."
Malam itu kami makan malam dengan percakapan yang lebih sedikit dari biasanya.
Bukan karena pertengkaran itu berlanjut — lebih karena keduanya memberi ruang kepada yang lain untuk memproses tanpa harus mengisi keheningan dengan kata-kata yang belum siap.
Aku menghargai itu. Diam yang dipilih berbeda dari diam yang dipaksakan, dan malam ini Revano memilih yang pertama dengan cara yang menunjukkan dia mengerti perbedaannya.
Setelah makan, kami berpisah ke wing masing-masing. Tidak ada percakapan tambahan. Tidak ada resolusi yang diumumkan.
Tapi sebelum aku menutup pintu wing kiriku, aku mendengar suara dari ruang kerjanya — bukan suara kerja yang biasanya, tapi sesuatu yang berbeda. Lebih pendek. Lebih terfokus.
Tidak tahu apa. Tidak bertanya.
Senin pagi, ada sesuatu di meja kerjaku.
Aku menemukannya pukul tujuh — setelah empat puluh detik ritual dapur yang biasanya, setelah Revano pergi, setelah aku kembali ke wing kiri dengan cangkir kopi di tangan dan niat untuk langsung mulai kerja.
Sebuah tablet. Layarnya menyala.
Di dalamnya terbuka sebuah aplikasi kalender — bukan kalender standar yang sudah ada di ponselku, tapi versi yang lebih terstruktur, dengan kode warna dan kategori yang sudah dibuat dengan sangat rapi. Di bagian atas ada dua nama: Revano dan Ariana — dua warna berbeda, biru gelap dan hijau tua, yang masing-masing mengisi hari-hari ke depan dengan detail yang lebih lengkap dari apapun yang pernah Kenzo kirimkan.
Bukan hanya jadwal pertemuan dan acara keluarga. Ada juga hal-hal yang lebih kecil — Revano: meeting eksternal, pulang estimasi 21.00 — yang berarti aku tahu kapan harus tidak mengharapkan percakapan malam dan kapan ada kemungkinan untuk sebaliknya.
Dan di tanggal bulan depan, sudah ada entri: Retreat Keluarga Aldrich — 3 hari 2 malam. Detail menyusul. Konfirmasi dengan Kenzo maksimal minggu ini.
Aku menatap tablet itu cukup lama.
Tidak ada catatan. Tidak ada penjelasan tentang kapan ini disiapkan atau mengapa ada di mejaku pagi ini. Tidak ada kata-kata yang menyertainya.
Hanya kalender yang sudah diisi — dengan jadwal yang sebelumnya hanya ada di kepala satu orang, sekarang dibagi ke layar yang bisa dilihat oleh dua.
Aku mengambil tablet itu dan duduk di sofa ruang kerja.
Menelusuri beberapa minggu ke depan dengan teliti — bukan untuk menghafal, tapi untuk merasakan apa yang ada di sana. Detail yang ada bukan sekadar nama acara dan waktu. Ada notasi kecil di beberapa entri: tingkat formalitas: tinggi, persiapan pakaian H-2 di satu acara, tamu: kolega kakek, konteks: sensitif di acara yang lain, Draka kemungkinan hadir di satu pertemuan dengan tanda tanya di belakangnya yang mungkin berarti bahkan Revano sendiri tidak yakin.
Informasi yang sebelumnya tidak ada. Yang sekarang ada — bukan karena diminta lagi, bukan setelah percakapan panjang tentang pentingnya komunikasi, tapi karena ada kesalahan kemarin dan seseorang memutuskan bahwa cara terbaik untuk merespons kesalahan itu bukan dengan kalimat tapi dengan tindakan.
Ini adalah cara Revano meminta maaf.
Tidak dengan kata maaf. Tidak dengan penjelasan panjang tentang kenapa terjadi dan bagaimana tidak akan terulang. Tapi dengan membuka sesuatu yang sebelumnya tertutup — informasi, jadwal, konteks — dan meletakkannya di tempat yang bisa dijangkau.
Dengan membuat kalender bersama pukul entah berapa malam kemarin karena itu yang perlu dilakukan.
Aku membuka ponselku. Mengecek apakah ada pesan dari Revano pagi ini.
Tidak ada.
Aku mengetik: "Tablet di mejaku."
Jawabannya datang empat menit kemudian — dia sudah di kantor, aku bisa memperkirakan dari kecepatan balasannya yang biasanya lebih lambat kalau sedang dalam perjalanan:
"Akses kalender bersama sudah aktif. Notifikasi otomatis kalau ada perubahan jadwal."
Informasi teknis. Bukan penjelasan personal.
Aku mengetik balasan: "Terima kasih."
Tiga detik.
"Tidak akan terulang."
Empat kata. Dikatakan dengan cara yang tidak meninggalkan ruang untuk diragukan — bukan janji yang dibuat dengan dramatis, tapi pernyataan yang diletakkan seperti fakta karena bagi Revano memang itulah fungsinya.
Aku meletakkan ponsel dan menatap tablet yang masih ada di tanganku.
Kalender bersama. Detail yang sebelumnya tidak ada. Notifikasi otomatis untuk perubahan apapun.
Bukan romantis. Bukan gestur yang akan membuat siapapun menulis cerita tentangnya.
Tapi dalam bahasa yang digunakan Revano Aldrich untuk berkomunikasi dengan dunia — bahasa yang lebih banyak berbicara lewat tindakan daripada kata, lewat sistem daripada sentimen — ini adalah sesuatu.
Dan aku sudah cukup belajar dalam empat minggu terakhir untuk tahu cara membacanya.
Retreat keluarga bulan depan ada di kalender. Dengan warna hijau tua.
Warnaku.
Aku membuka halaman itu, membaca detail yang sudah ada, dan membuat catatan kecil di sudut entri dengan fitur yang rupanya sudah disiapkan untuk itu: tanyakan dress code ke Kenzo. Cek cuaca lokasi.
Hal-hal kecil yang praktis. Yang perlu disiapkan.
Yang kali ini bisa disiapkan karena informasinya ada.
Aku meletakkan tablet di meja kerja — di sebelah foto Bapak dan sukulen kecil yang sudah tumbuh sedikit sejak pertama kali aku menempatkannya di sini — dan membuka laptopku.
Ada pekerjaan yang menunggu. Dan untuk pertama kalinya sejak semalam, kepala sudah cukup jernih untuk mengerjakannya.
— Selesai Bab 17 —