NovelToon NovelToon
Dukun Rongsok Tanah Abang Membuatku Jadi Ibu Tiri Terkutuk Di Era Orba

Dukun Rongsok Tanah Abang Membuatku Jadi Ibu Tiri Terkutuk Di Era Orba

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Ibu Tiri / Fantasi Isekai
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Iseng mampir ke lapak dukun rongsok di Tanah Abang sepulang kerja adalah keputusan paling sinting yang pernah Sukma buat.

Besoknya, kontrak miliaran gol.

Sehari kemudian, truk kargo menghancurkan mobilnya di tol.

Rahimnya diangkat.

Ruang spasial seluas sepuluh hektar tiba-tiba muncul di kepalanya.

Dan mimpi keparat tentang Malang di era orba mulai menggerogoti tidurnya tiap malam.

Mimpi tentang perempuan bernama Sukma Ayu. Ibu tiri yang mati diseruduk sapi. Suaminya gila. Anak-anaknya hancur. Semua orang bilang itu memang sudah nasibnya.

Sukma tahu ke mana ini mengarah. Ia pembaca novel fantasi. Ia tahu persis apa artinya mimpi seperti ini.

Jadi sebelum berangkat, ia jual rumahnya di Kemang cash keras. Borong seratus karung beras, seratus jerigen minyak, sapi, ayam, obat-obatan, joglo Jepara yang dibongkar utuh, dua puluh drum bensin.

Kalau memang harus masuk ke novel picisan itu, ia tidak mau pergi dengan tangan kosong.

Masalahnya, ia masuk bukan sebagai pahlawan wanita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16. Tape Compo Polytron

Guncangan roda pick-up hitam melibas jalanan aspal berlubang menuju pusat kabupaten.

Asap knalpot tipis tersapu angin pagi.

Wati terbaring miring di atas tumpukan kasur kapuk tebal di bak belakang.

Keempat anak Sukma ditambah Toni, anaknya Wati duduk bersila mengepung wanita hamil itu dengan patuh.

Mereka diam mematung. Takut suara napas mereka saja bisa membuat perut ibu hamil itu kembali kram.

Tangan Sukma merogoh tas selempang kanvasnya. Enam butir permen karamel susu meluncur ke telapak tangannya.

"Nih, diemut pelan-pelan." Sukma menjejalkan permen itu satu per satu ke tangan anak-anak dan Wati.

Syaiful langsung kegirangan.

"Enak tenan, Bu!" Syaiful mengisap permennya rakus.

"Nanti kita beli lagi ya?"

"Beli terus." Sukma mencubit hidung balita itu pelan.

"Nanti kalau gigimu habis dimakan ulat, baru tahu rasa."

Wati menggenggam permen itu dengan mata berkaca-kaca.

"Mbakyu... biaya rumah sakit kabupaten pasti mahal." Suara Wati bergetar menyembunyikan tangis.

"Mas Priyambodo gajinya di pabrik rokok ndak seberapa. Belum lagi selalu dipotong Ibu. Aku ndak mau ngerepotin sampeyan terus."

Sukma mendecak pelan.

"Nyawamu sama bayimu itu jauh lebih berharga dari lembaran uang kertas, Wat." Sukma menunjuk perut buncit adik iparnya.

"Kalau Koen kenapa-napa pas ngelahirin, Toni mau Koen tinggal sama siapa? Mau Koen biarkan anakmu dirawat mertua koyok Lasmi?"

Wati tersentak hebat. Bayangan putranya diurus Lasmi langsung membuat bulu kuduknya berdiri.

"Ndak mau, Mbakyu."

"Ya sudah, manut saja. Urusan duit ben aku sing mikir."

Bangunan RSUD Kabupaten tampak ramai oleh antrean pasien.

Bau karbol pembersih lantai menusuk hidung.

Sukma memapah Wati menyusuri lorong bangsal kandungan. Empat bocah laki-laki dan seorang bocah perempuan mengekor rapat di belakangnya bagai anak ayam takut hilang.

Wajah polos mereka menoleh ke kanan dan kiri, menatap takjub lampu neon dan lantai keramik putih.

Beberapa ibu-ibu yang duduk mengantre saling menyikut.

"Gusti, mbake iku subur tenan. Anake lima ngekor kabeh."

"Iya lho. Masih muda wes brojol terus. Suamine pasti seneng."

Telinga Sukma memanas.

Ia menoleh ke belakang. Syaiful malah cengengesan memamerkan gigi susunya pada ibu-ibu itu.

Gito ikut-ikutan membusungkan dada bangga. Sinta menunduk malu memegangi ujung bajunya.

"Ojo cengengesan." Sukma menyentil lengan Gito pelan.

"Jaga adikmu, jangan sampai nabrak suster."

Pintu ruang periksa terbuka.

Dokter Ratih, wanita paruh baya berkacamata tebal, tersenyum ramah menyambut mereka.

Sukma sengaja mencari dokter ini dari rekomendasi warga pasar. Reputasinya bersih, tegas, dan tak pandang bulu melayani pasien dari kalangan bawah.

Stetoskop dingin menempel di perut Wati.

Dokter Ratih mengerutkan dahi cukup lama. Wati meremas ujung bajunya panik.

"Kondisi rahimnya lemah karena riwayat kerja berat." Dokter Ratih mencatat sesuatu di rekam medis.

"Pendarahan semalam itu peringatan keras. Persalinan nanti wajib di rumah sakit. Kemungkinan besar harus operasi sesar kalau posisinya tidak berubah. Ndak bisa pakai dukun beranak di desa."

Mata Wati membelalak ngeri.

"Operasi, Dok? Dibelek perutku? Duit dari mana aku bayarnya..."

Sukma langsung menepuk pundak Wati keras.

"Ndak usah mikir biaya, wes tak bilangin tadi. Dokter, tolong siapkan jadwal dan obat penguat kandungannya. Kami pasti kembali ke sini pas waktunya."

Dokter Ratih tersenyum lega. Jarang ada kerabat pasien yang setegas dan sebertanggung jawab ini di era sekarang.

Mereka berenam keluar dari ruang periksa dengan hati sedikit lega.

Langkah Sukma terhenti tepat di depan apotek rumah sakit.

Suara jeritan melengking memekakkan telinga dari arah lorong ruang dokter.

Seorang wanita gempal dengan sanggul tinggi, Bu Parmi, duduk ngemper di lantai keramik. Tangannya memukuli paha sendiri sambil menangis bombay.

"Dokter Ratih iki pancen ndak duwe hati! Keponakanne dewe ate nikah, Koen ndak iso bantu cariin Tape Compo Polytron dari koneksimu di kota! Koen tega lihat Wawan batal nikah gara-gara seserahan kurang, heh?!"

Beberapa perawat berusaha menenangkan. Bu Parmi malah makin beringas menepis tangan mereka.

Dokter Ratih memijat pelipisnya frustrasi.

"Mbak Parmi, aku ini dokter! Tugasku ngurus orang sakit, bukan calo barang elektronik! Tolong jangan bikin malu keluarga di sini!"

"Biarin malu! Koen pinter sekolah yo dari duit keringat suamiku! Saiki Koen sukses, Koen lali daratan!"

Sukma menyenderkan bahunya ke tembok lorong.

Insting bisnisnya yang terasah tajam mendadak menyala terang. Ini peluang emas.

Tape Compo Polytron? Di gudang spasialnya, barang elektronik era 90-an yang ia beli dari pasar antik masih terbungkus plastik kardus rapi di rak paling atas.

Barang itu sempurna untuk dicarikan pembeli putus asa.

Sukma menepuk pundak Wati pelan.

"Kalian tunggu sini sama anak-anak. Jaga Syaiful. Nanti kita lanjut ke studio foto sekalian kirim gambar ke Bapak."

Sigit mengusap hidungnya pelan, memalingkan wajah, tapi telinganya merah merona membayangkan foto dirinya dikirim ke sang ayah.

Langkah Sukma tenang mendekati kerumunan itu.

"Permisi, Ibu-ibu." Sukma bersuara cukup lantang, memotong ratapan Bu Parmi.

"Lek sampeyan butuh Tape Compo Polytron baru, aku punya barangnya. Mulus, belum pernah dipakai blas."

Bu Parmi langsung berhenti menangis.

Mata wanita gempal itu memindai penampilan Sukma dari atas ke bawah. Daster pudar, sandal jepit karet, dan wajah tanpa riasan.

"Koen ojo ngapusi aku ya, Nduk! Wong kere koyok Koen duwe barang mewah ngono dari mana?!"

Sukma mendengus geli.

"Kalau ndak butuh ya wes. Aku tinggal tawarne ke juragan gabah desa sebelah. Paling besok pagi wes laku dibayar tunai."

Bu Parmi gelagapan. Ia langsung bangkit berdiri, membersihkan rok batiknya, lalu menarik tangan Sukma paksa.

"Eh, ojo ngono to! Ayo kita obrolne di dalam ruangan Dokter Ratih wae. Ben aman ndak dilihati orang."

Dokter Ratih hanya bisa pasrah saat ruangannya diinvasi kembali.

Sukma melangkah masuk, menarik kursi kerja empuk milik Dokter Ratih, lalu duduk bersandar santai. Kakinya menyilang menyamankan posisi.

Bu Parmi melotot tak terima.

"Heh! Koen iku sopo wani duduk di kursi dokter?! Ndak sopan tenan!"

Sukma menopang dagunya dengan sebelah tangan.

"Bu Parmi, tape compo-ku harganya dua ratus lima puluh ribu rupiah. Tunai. Koen mau beli atau cuma mau ceramah tata krama?"

Bu Parmi menelan ludah. Harganya memang pasaran barang langka saat ini, bahkan bisa lebih mahal jika antre berbulan-bulan di toko kabupaten.

Ia memaksakan senyum manis yang terlihat sangat palsu.

"Yo pasti mau beli to, Nduk. Koen tenang wae, anakku si Wawan iku Komandan Banser di kecamatan sebelah. De'e punya koneksi bagus. Calon mertuane Wawan iku orang penting di Kodim. Koen jual murah dikit lah, itung-itung nambah dulur."

Sukma tertawa pelan. Tawanya terdengar renyah tapi menusuk gendang telinga.

Ia menggebrak meja kayu Dokter Ratih kuat-kuat.

Brak!

Bu Parmi terlonjak kaget hingga menabrak rak obat di belakangnya.

"Komandan Banser? Terus calon mertuanya tugas di Kodim perbatasan?" Mata Sukma menajam bagai elang mengunci mangsa.

"Pasukan batalyon 413, kan?"

Bu Parmi pucat pasi. "Loh... Koen kok tahu?"

"Goblok dipiara!" Sukma menuding wajah wanita gempal itu tanpa ampun.

"Komandan peleton calon mertua anakmu iku suamiku, Sutrisno Priyanto! Koen pikir suamiku bakal diam saja lihat istrinya diperas sama keluarga bawahannya nang rumah sakit?!"

Lutut Bu Parmi mendadak lemas tak bertulang.

Tubuh gempalnya merosot jatuh ke lantai keramik. Ia tak menyangka janda berpenampilan gembel ini adalah istri komandan dari atasan calon besannya sendiri.

Satu laporan saja, pernikahan Wawan bisa berantakan dihancurkan oleh pihak militer karena dianggap memeras warga sipil.

"Gusti, ampun, Bu! Aku ndak tahu..." Bu Parmi menyembah-nyembah di lantai, air mata ketakutannya mengalir deras membasahi keramik.

"Ojo minta ampun nang aku!" bentak Sukma.

"Minta maaf nang Dokter Ratih saiki! Koen wes bikin malu dokter terhormat di depan pasiennya dewe!"

Bu Parmi merangkak memeluk kaki Dokter Ratih. Ratapannya pecah memohon ampunan, berjanji tak akan pernah lagi memeras adik iparnya itu demi kepentingan gengsi hajatan pernikahan anaknya.

Dokter Ratih menatap Sukma dengan mata berkaca-kaca penuh rasa terima kasih.

Bertahun-tahun ia ditindas keluarga suaminya berkedok hutang budi, baru kali ini ada orang luar yang berani pasang badan membelanya habis-habisan.

Sukma bangkit dari kursi, merapikan dasternya santai.

"Besok siang, bawa uang dua ratus lima puluh ribu tunai ke sini, nanti ketemuan sama aku lagi. Kalau uangnya kurang sepeser pun, tape compo-nya hangus. Paham Koen?"

Bu Parmi mengangguk kuat-kuat seperti burung pelatuk.

Sukma melangkah keluar ruangan dengan senyum kemenangan terukir di bibirnya.

1
Dewiendahsetiowati
mantab hajar aja keluarga benalu
Musdalifa Ifa
mau nanya Thor jangan tersinggung yah karna ini cerita sudah pernah saya baca tapi bukan bahasa begini, apakah ini karya asli author ?
SENJA
kok jadi mak karman? ibue sukma kan namanya marni lho thor🤭
SENJA
cuok drama cuok 😤
SENJA
kenapa ga berani?!? 😄🤣
SENJA
laki laki apa ini 😤
SENJA
ini lagi hadeeeh benalu 😤
SENJA
jamilah mulutnya comberen banget😤
gina altira
jgn kasih ampun Ningsih
Enah Siti
🙏🙏🙏💪💪💪💪😍😍😍😍👍👍👍smngat thor maksih
Dewiendahsetiowati
bisa gak si Jamilah dibikin stroke gitu heran bikin emosi terus
SENJA
bener kata sukma do
SENJA
cangkem mu lho 😤
SENJA
hajar terus hajar 😤😤😤 asssuuu emang dia
SENJA
lu ga tau malu banget jadi perempuan 😤
Enah Siti
🙏🙏🙏🙏💪💪💪💪😍😍😍👍👍👍 ljut thor mksih byak byak
Enah Siti
💪💪💪💪💪😍😍😍😍 nuhun thor
Enah Siti
💪💪💪💪💪🙏🙏🙏🙏😍😍😍😍👍👍👍👍👍ljut thor
SENJA
hadeeeeh 😤
SENJA
yaaah kebetulan banget ini weeeh 🤭🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!