Mimpi Rara hancur saat harus menikah muda dengan Aksara—pria kaya yang tak dikenalnya. Ia menganggap suaminya perusak masa depan, hingga sikapnya berubah sedingin es dan penuh kebencian.
Namun berbeda dengan Rara, Aksara justru mencurahkan kasih sayang dan kesabaran tanpa batas.
Bisakah pria itu meluluhkan hati sang istri yang keras kepala? Atau Rara akan terus buta melihat ketulusan yang ada di depan mata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamoruuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Pertama Ke Kantor
Rara bangun pagi sekali hari ini. Semangatnya untuk menghadapi hari kerja pertama, membara. Akhirnya, ia dapat merasakan apa yang selama ini ia impikan.
Terdengar suara ketukan pintu dari luar, membuat Rara sedikit terkejut. Timbul rasa ragu untuk membukanya.
"Ini saya – Michi, Nona." Suara lembut terdengar di balik pintu. Mendengar suara Michi, Rara segera membuka pintu itu.
Saat melihat Rara, Michi menunduk. "Selamat pagi, Nona." Ucap Michi, ditangannya ia membawa setelan yang jelas merupakan seragam kerja.
"Pagi, Michi. Ah... kamu membuatku kaget. Aku pikir kamu dia." Rara mendengus sambil menghela napas lega.
"Maafkan saya, Nona. 'Dia' alias Tuan yang Nona katakan itu sudah berangkat ke kantor baru saja, dan Tuan menitipkan ini untuk Nona." Michi menyerahkan seragam kerja beserta sebuah kertas kecil yang terdapat tulisan.
"Pagi, Istriku. Jangan lupa sarapan. Ingat, hari ini hari pertamamu bekerja. Jadi, jangan terlambat."
Rara mendelik saat membaca surat itu. Ia cepat-cepat menutup kertas dan membelai pipinya yang mulai memerah, berusaha menyembunyikannya agar Michi tidak melihat.
"Dia memang manis, tapi tetap saja menyebalkan bagiku." Benak Rara. Pikirannya melayang ke tadi malam – Aksara lebih memilih tidur di ruang kerja ketimbang di kamar hanya untuk membuatnya merasa nyaman.
"Segera pakai seragam kerja Anda, Nona. Brian akan mengantar Nona ke kantor."
Rara mengambil seragam dari tangan Michi. Michi lantas undur diri, memberi ruang agar Rara bisa berganti baju.
"Saya akan menunggu di depan pintu kamar." Ucap Michi lembut sebelum berlalu.
Rara menghela napas lega. Seperti yang ia inginkan, hanya Michi yang menjadi pelayannya, dan tidak ada yang akan ikut campur urusan mandi, merias wajah, atau hal-hal pribadi lainnya – ia bisa melakukannya seorang diri.
Rara terlihat rapi mengenakan seragam kerja yang diberikan Aksara – sebuah blazer berwarna hitam dengan dalaman kemeja putih bersih, serta rok pendek sejajar lutut yang senada warnanya. Bahannya sangat lembut, terasa nyaman saat menyentuh kulitnya.
Rara menatap dirinya di cermin. Ia perlahan menata rambut panjangnya, membentuk sanggul rendah yang rapi di bagian belakang kepalanya. Ia hanya menggunakan bedak tipis untuk meratakan warna wajah, dan memberi sentuhan lembut pada bibirnya dengan lipstik berwarna merah muda.
"Bapak dan Ibu pasti sangat senang melihat aku mengenakan seragam ini." Ucap Rara lembut dengan senyum kecil terukir di bibirnya. Dalam hati, ia membayangkan wajah bahagia kedua orang tuanya jika melihatnya sekarang.
Setelah semua terasa siap, Rara membuka pintu perlahan. Michi masih berdiri di sana dengan tatapan penuh perhatian, kemudian menuntunnya menuju pintu utama. Di sana, Brian sudah menunggu beserta beberapa pengawal yang mengenakan jas hitam – mereka tampak membungkuk hormat saat Rara tiba di halaman. Mobil mewah berwarna hitam pun sudah siap menyambutnya.
"Hati-hati ya, Nona. Semoga hari pertama Nona bekerja berjalan lancar." Michi tersenyum ceria, mengacungkan jempol dan mengedipkan mata sebagai semangat. Padahal Rara terlihat sedikit kaku.
"Te–terima kasih, Michi." Rara menjawab dengan suara sedikit gemetar. Jantungnya berdetak cepat dan telapak tangannya sedikit berkeringat saat melihat para pria yang berdiri rapi di sekitarnya.
"Tidak apa-apa, Nona Rara. Mereka semua orang baik dan hanya ada untuk melindungi Anda." Ucap Brian dengan senyum menenangkan.
Rara hanya mengangguk dengan tatapan penuh kewaspadaan.
"Ayo kita berangkat sekarang. Tuan Aksara sudah menunggu di kantor." Brian berjalan cepat menuju mobil dan dengan sopan membuka pintunya untuk Rara.
Dengan perasaan gugup yang tak tertahankan, Rara masuk ke dalam mobil. Perasaannya benar-benar campur aduk – kegembiraan menghadapi impiannya, rasa cemas menghadapi lingkungan baru, dan sedikit rasa tidak percaya bahwa kehidupannya yang dulu akan berubah seperti yang sekarang – bagaikan dunia novel yang sering ia baca!