Kerajaan Risvela dipimpin oleh Raja Ryvons dengan dua pewaris: Seyron yang tampak sempurna, dan Reyd yang dulu dianggap bermasalah. Setelah kembali dari Academy Magica bersama Lein, Reyd berubah menjadi sosok yang lebih dewasa dan peduli.
Namun di balik citra baiknya, Seyron menyimpan sisi dingin yang berbahaya. Menyadari hal itu, Reyd bertekad merebut takhta demi melindungi kerajaan, meski peluangnya kecil.
Di tengah konflik keluarga, kekuasaan, dan kebenaran—Reyd memilih melawan takdirnya sendiri untuk menjadi pemimpin yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amarah Sang Raja
Di dalam ruang kerja kerajaan, suasana terasa tegang. Lampu-lampu menyala redup. Dokumen berserakan di atas meja besar.
Di balik meja itu, Raja Ryvons Risver berdiri dengan ekspresi serius.
Seorang bangsawan berlutut di hadapannya. Wajahnya sedikit pucat. Seolah baru saja menyampaikan sesuatu yang berat.
“Yang Mulia…”
Suaranya pelan.
“Kami menerima laporan.”
Raja Ryvons menatapnya tajam.
“Apa itu?”
Bangsawan itu menelan ludah.
“Seorang wanita dari Kerajaan Bervala… terlihat berada di sekitar wilayah istana.”
Sunyi.
Beberapa detik—tidak ada suara. Namun aura di ruangan itu berubah drastis.
“Bervala?”
Ulang Raja pelan. Nada suaranya menurun.
Bangsawan itu mengangguk cepat.
“Kami yakin itu adalah…”
“Iselle Fyrowrogla.”
BRAK!
Raja Ryvons menghantam meja dengan keras. Kayu meja bergetar. Bangsawan itu langsung menunduk lebih dalam.
Wajah raja berubah. Bukan sekadar marah, namun penuh tekanan.
“Berani sekali mereka…”
Suaranya rendah. Namun dipenuhi kemarahan.
“Kerajaan kecil itu… berani menyusup ke wilayahku?”
Aura mana samar mulai terasa di ruangan itu. Tekanan seorang raja yang tidak bisa diremehkan.
Bangsawan itu tidak berani mengangkat kepala.
“Apakah ini bentuk pemberontakan?”
Raja berjalan perlahan dari balik meja. Langkahnya berat. Setiap langkahnya terasa menekan.
“Setelah semua yang kulakukan untuk menjaga mereka… mereka justru membalas seperti ini?”
Ia berhenti. Tatapannya tajam ke arah bangsawan itu.
“Panggil para pengawal.”
Perintahnya tegas.
“Kita akan memastikan tujuan mereka.”
Nada suaranya berubah lebih dingin.
“Jika ini benar-benar bentuk perlawanan—”
Ia terdiam sejenak.
Namun kalimat berikutnya jelas.
“Maka Kerajaan Bervala tidak perlu ada lagi.”
Bangsawan itu langsung menjawab cepat.
“Siap, Yang Mulia!”
Ia segera pergi. Meninggalkan ruangan itu.
Raja Ryvons berdiri sendirian. Tatapannya masih keras.
---
Malam semakin larut di Istana Risvela. Pesta bangsawan akhirnya mereda. Lampu aula mulai diredupkan. Para tamu perlahan meninggalkan tempat itu.
Di koridor istana, Reyd berjalan sendirian. Langkahnya sedikit berat. Satu tangannya menyentuh pelipis.
“Aneh sekali.”
Gumamnya pelan.
Ia tidak banyak minum. Hampir tidak sama sekali. Namun… kepalanya terasa sedikit pusing. Bukan seperti mabuk biasa. Lebih seperti tekanan ringan yang mengganggu pikirannya.
Reyd menghela napas.
“Mungkin aku hanya lelah saja.”
Ia melanjutkan langkahnya. Menuju kamarnya.
Koridor terasa sunyi. Hanya suara langkahnya sendiri yang terdengar.
Akhirnya, ia sampai di depan pintu. Tangannya menyentuh gagang. Lalu—membukanya.
Klik.
Pintu terbuka perlahan.
Dan saat itu juga—langkah Reyd langsung terhenti. Matanya sedikit melebar.
Di dalam kamar… seseorang sudah berdiri. Seolah sudah menunggu sejak lama.
Berdiri di dekat jendela. Cahaya bulan menyinari siluetnya. Memberikan kesan dingin dan misterius.
Beberapa detik… hening.
Reyd menutup pintu di belakangnya. Tatapannya tajam.
“Bagaimana kau bisa masuk?”
Suaranya rendah. Penuh kewaspadaan.
Iselle menoleh perlahan. Senyum tipis muncul di wajahnya.
“Masuk ke istana sebesar ini tidak terlalu sulit.”
Jawabnya santai.
Reyd tidak terkejut sepenuhnya. Namun tetap tidak menyukai situasi ini.
“Kau sepertinya menungguku.”
Bukan pertanyaan.
Iselle mengangguk kecil.
“Ya.”
Reyd melangkah sedikit mendekat. Namun jaraknya tetap aman.
“Untuk apa kau menemuiku?”
Iselle tidak langsung menjawab. Ia berjalan pelan mendekat. Langkahnya tenang. Seolah tidak ada niat buruk.
Namun justru itu… yang membuat Reyd semakin waspada.
“Aku hanya ingin bicara saja.”
Jawabnya akhirnya.
Reyd mengernyit.
“Bicara?”
Iselle berhenti beberapa langkah darinya. Tatapannya lurus.
“Seperti saat dulu.”
Kalimat itu membuat Reyd terdiam sejenak. Kenangan lama kembali terlintas.
Namun ia segera menepisnya.
“Itu sudah berakhir.”
Jawabnya dingin.
Iselle tidak tersinggung. Justru tersenyum tipis.
“Oh, benarkah?”
Sunyi sejenak. Angin malam masuk dari jendela. Menggerakkan tirai perlahan.
Reyd menatapnya.
Dalam pikirannya, satu hal jelas. Ini tidak kebetulan. Iselle sengaja datang. Sengaja menunggu. Dan pasti… memiliki tujuan.
“Katakan saja.”
Reyd berkata tegas.
“Apa yang kau inginkan?”
Iselle menatapnya dalam. Senyumnya perlahan memudar. Digantikan oleh ekspresi yang lebih serius.
soalnya jauh bnget beda tulisannya sama novel² yg sebelumnya?
what happen?