Di antara gemuruh kereta dan debu kehidupan yang keras, Siman hanyalah seorang pemuda yang tak pernah dianggap.
Dihina. Ditolak. Dilupakan.
Hingga suatu senja, seorang nenek misterius meninggalkan sebuah warisan di tangannya—akik biru laut yang memancarkan cahaya tak biasa… dan mengubah segalanya.
Keberuntungan mulai datang tanpa diminta.
Pintu-pintu yang dulu tertutup kini terbuka.
Dunia yang pernah merendahkannya mulai berbalik memandang.
Namun semakin tinggi Siman melangkah, semakin besar pula harga yang harus dibayar.
Apakah semua ini benar-benar takdir?
Ataukah hanya ilusi dari kekuatan yang belum ia pahami?
Ketika masa lalu kembali menghantui, dan kepercayaan dirinya runtuh tanpa akik itu di tangannya, Siman dihadapkan pada satu pilihan:
Terus bergantung pada keajaiban… atau menjadi penakluk sejati atas hidupnya sendiri.
Sebuah kisah tentang luka, harapan, cinta, dan keberanian untuk bangkit.
SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT
Jejak takdir tidak pernah salah memilih pemiliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Perjuangan Logo Siman
"Realitas, ya..." Siman mengangguk-angguk kecil, menatap ke sekeliling gerai toko pakaian mewah yang teronggok tidak jauh dari dirinya. Aroma pakaian itu menyelimutinya dengan kebahagiaan yang Siman kira hanya bisa Siman rasakan ketika mendapatkan pekerjaan pertamanya di bengkel "Roda Sakti". Ini aneh, ia berpikir. Lalu ia menoleh pada Murni, yang kini menatap Siman dengan gurat kekaguman yang teramat dalam.
"Ayo, Murni," Siman berkata pada sahabatnya, tidak lagi memedulikan Dina dan teman-temannya. Ia menarik Murni untuk berjalan. Mereka melangkah maju, melewati Dina yang terpaku di tempat. Langkah Siman tegap, kepalanya tegak. Tak ada lagi keraguan. Trauma memang tidak hilang seutuhnya, tapi Siman telah mengalahkannya, menyingkirkannya jauh-jauh.
Dina menghela napas, tak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Keangkuhannya tiba-tiba meluruh, digantikan oleh gurat kebingungan dan kekesalan. Teman-temannya hanya bisa berbisik-bisik, memandangi Siman yang berjalan pergi dengan ekspresi berbeda dari sebelumnya. Tak ada lagi jejak keputusasaan, tak ada lagi aura kekalahan. Ada api. Api yang sangat membakar dari dirinya. Ia tak akan dipecundangi oleh ejekan Dina lagi.
Murni mencubit lengan Siman gemas, ekspresinya memancarkan kebanggaan yang meluap-luap. "Ya, ampun, Siman! Kamu keren banget! Baru kali ini aku lihat kamu seberani itu sama dia! Itu juga kalimat yang tulus lho, Siman!" Murni bahkan mengelus pipi Siman dengan senyum penuh cinta. "Kan sudah aku bilang, Man! Aku percaya sama kamu. Jadi tidak ada yang namanya aku minder. Oke?"
Siman menoleh, tatapannya lekat ke mata Murni, merasakan detak jantungnya kembali normal. Panas di wajahnya berangsur mereda, digantikan oleh kehangatan yang nyata. Kehadiran Murni, dan ketulusannya, adalah kekuatannya yang sejati. Siman mengerti. Perdebatan ini tak akan berhenti.
"Tentu saja, Mur. Pertunjukkan itu... baru akan dimulai." Siman tersenyum tipis. Akik di jarinya terasa tenang, berdenyut pelan, seperti sebuah alarm peringatan akan sebuah takdir yang akan ia ciptakan.
"Aku akan membuat dia... tahu siapa aku sekarang."
***
Keringat dingin membasahi pelipisnya, bukan karena AC ruangan yang mati, melainkan tegang menatap layar monitor yang menampilkan berbagai pilihan palet warna rumit. Ruangan kursus desain grafis itu hening, hanya desau kipas pendingin CPU yang bekerja keras. Cahaya lampu neon menyorot tajam, memantul di mata belasan peserta, termasuk Siman, yang sedang berjuang menuntaskan tugas membuat logo dasar.
“Sialan, mentok lagi,” bisik Siman pelan, mengutuk dalam hati. Dia memijit pangkal hidungnya. Otaknya sudah merangkai puluhan sketsa di buku catatannya, tapi tak ada satu pun yang terasa pas, tak ada yang memicu sensasi "eureka" seperti yang sering dibanggakan instrukturnya. Di tangan kanannya, ia merasakan kehangatan yang familiar. Cincin akik biru laut di jari manisnya, berdenyut pelan, seperti sebuah alarm internal.
Sudah hampir sebulan sejak Siman memulai kursus ini. Dia tahu, dia tak bisa lagi hanya mengandalkan ‘keberuntungan’ acak. Kali ini, ia berjuang untuk mengendalikan akiknya. Atau setidaknya, memahami bagaimana benda ini bekerja. Ia tak bisa asal. Akik itu memberinya jawaban saat ujian, menyelamatkan nyawanya dari reruntuhan di bengkel, dan membuka pintu kerja di tempat Pak Hartoko. Tapi untuk ide kreatif? Ia tak yakin. Selama ini, bakatnya yang ‘terpendam’ selalu dianggapnya tidak penting. Tapi kini, ada janji pada Murni, janji pada dirinya sendiri: ia akan membuat semua orang tahu siapa dirinya. Bukan karena akik, tapi karena dia Siman.
“Mas Siman, ada masalah?”
Suara renyah seorang wanita muda mengagetkannya. Intan, teman sebangku yang dikenal Siman karena sangat lincah dan bersemangat, melongok ke layar monitor Siman dengan senyum ramah. “Logomu kenapa lagi itu? Padahal punyaku belum selesai, aku lagi buat yang simpel, untuk toko sayur keliling Pak RT. Jangan dibuat rumit-rumit deh.”
Siman menghela napas. “Aku cuma… cari ide, Intan. Masih kosong di kepala. Semua inspirasi kayaknya sudah diambil orang lain. Aku bingung.”
“Halah! Biasa kali. Ini mah PR banget dari Pak Harun. Buat logo toko kelontong Bu Juju itu? Padahal cuma warung biasa.” Intan mengibas-ngibas tangannya, kemudian menatap akiknya. “Batu akikmu kok kayak nyala gitu? Buat hiasan aja kali, Siman.”
Akik itu, berdenyut lagi, kali ini dengan intensitas yang sedikit lebih kuat. Kehangatan merambat, bukan hanya di jarinya, melainkan naik ke lengan, ke otaknya. Dalam sepersekian detik, sebuah gambaran melintas di benaknya, bukan lagi samar, melainkan jelas, tajam, dan penuh detail. Sebuah logo sederhana namun elegan untuk toko kelontong Bu Juju: kombinasi bentuk daun dan siluet timbangan, dengan warna-warna bumi yang menenangkan. Siman nyaris berteriak. Ini dia! Inspirasi itu!
“Gila…” gumam Siman, lebih kepada dirinya sendiri. Ia segera meraih pensil di mejanya, dengan cepat ia coretkan sketsa logo itu di kertas kosong, memindahkan bayangan di otaknya ke realitas. Garis demi garis terukir rapi, dengan proporsi yang sempurna, seperti ia sudah menggambarnya ribuan kali.
Intan menatap keheranan. “Wuih! Mas Siman langsung lancar begitu gambarnya! Kemarin cuma kerjain setengah aja, Pak Harun bahkan menghela napas keras melihat idemu yang tidak jadi itu.” Ia mendekat, mengamati sketsa Siman dengan mata berbinar. “Keren banget ini! Cocok untuk warung Bu Juju. Desainnya elegan, simpel, tapi ngingetin sama bahan pokok! Jenius!”
“Cuma… tiba-tiba kepikiran aja,” Siman berbisik, masih kaget dengan kecepatan inspirasi yang datang. Dia melirik akik. Berdenyut pelan lagi, seolah mengucapkan “Sama-sama.” Akik itu tersenyum kecil ke arahnya. Ini adalah pertanda baginya.
Siman dengan cepat membuka perangkat lunak desain di komputernya. Jemarinya menari lincah di atas keyboard dan mouse. Dia mengubah sketsa tangannya menjadi logo digital, bermain dengan gradien warna, bayangan, dan tipografi. Dalam waktu singkat, sebuah logo digital yang sempurna mulai terbentuk di layar.
“Gila, Man! Kamu belajar di mana sih? Instruktur aja nggak secepat kamu ngerjain ini!” Rido, seorang mahasiswa semester lima yang dikenal paling pintar di kelas, tiba-tiba sudah berdiri di belakang kursi Siman, tatapannya tercengang melihat hasil karya Siman.
“Iya nih! Tiba-tiba saja cepat. Ini kamu belajar di mana?” Seorang ibu paruh baya bernama Bu Ida, yang sudah menjadi desainer grafis pemula, ikut mendekat. Mereka semua terkesima.
“Mungkin… cuma banyak latihan,” Siman berusaha terlihat rendah hati. Rasa bangga menjalar, bercampur dengan kebingungan akan 'bantuan' akiknya. Apakah ini semua benar-benar dari akiknya? Apakah bakat Siman tidak dihitung? Ia merasakan dorongan internal, semacam kegembiraan murni yang datang dari dalam dirinya sendiri. Kali ini, ia bisa mengatasinya. Bukan hanya sekadar menerima ‘hadiah’ tapi ia harus melakukan ini dengan dirinya sendiri.
Rido menggeleng. “Latihan juga ada batasnya, Siman. Kemarin saja kamu keteteran, sekarang sudah begini. Kayak bukan kamu yang aku kenal seminggu lalu. Kamu seperti punya dua jiwa. Jujur aja, deh. Kamu kayak pakai susuk?” Ia terkekeh, mencairkan suasana, meskipun matanya masih menyiratkan rasa penasaran.
***