Liana adalah seorang wanita bertubuh gemuk yang menemukan kemerdekaan sejatinya melalui tarian. Baginya, setiap gerak tubuhnya adalah bentuk pelarian, sebuah rahasia yang ia simpan rapat-rapat karena ia hanya menari untuk jiwanya sendiri.
Keajaiban—atau mungkin petaka—datang ketika Adrian, seorang produser film ambisius, menemukannya secara tidak sengaja. Adrian sedang mencari sosok penari yang memiliki aura "kebebasan murni" untuk proyek besarnya, dan ia melihat hal itu dalam diri Liana. Namun, saat tawaran diberikan, Liana menggeleng tegas; ia tak ingin tarian sucinya menjadi konsumsi publik.
Tak kehilangan akal, Adrian mulai mendekati Liana dengan pesona dan perhatian palsu. Ia melangkah lebih jauh dengan menyatakan cinta, membuai Liana hingga wanita itu luluh dan setuju untuk tampil di atas panggung dunia. Namun, di puncak popularitasnya, Liana menemukan kebenaran pahit bahwa pernyataan cinta Adrian hanyalah skenario matang untuk memanfaatkannya demi kesuksesan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Sinar matahari siang yang terik di rest area tadi perlahan berganti menjadi jingga kemerahan saat mobil SUV hitam itu memasuki gerbang tol dalam kota Jakarta.
Kebisingan klakson dan deretan gedung pencakar langit menyambut kepulangan mereka.
Di kursi belakang, Liana menatap ke luar jendela dengan perasaan was-was.
Kota ini adalah tempat mimpinya dimulai, sekaligus tempat hatinya hancur berkeping-keping.
Tiga jam perjalanan yang penuh keheningan dan ketegangan itu akhirnya berakhir di depan sebuah apartemen mewah di kawasan Jakarta Selatan.
Erwin memutar kemudi dengan cekatan, menghentikan mobil tepat di depan lobi utama.
Namun, sebelum mesin mobil benar-benar mati, sosok wanita dengan gaun merah menyala dan kacamata hitam besar sudah berdiri tegak di trotoar.
Wajahnya yang cantik tampak mengeras, tangannya bersedekap di dada, memancarkan amarah yang siap meledak.
"Sial, dia sudah di sini," desis Adrian pelan, rahangnya mengeras.
Erwin melirik ke spion luar, lalu menoleh ke belakang.
"Tetap di dalam, Li. Jangan turun sampai aku bilang," perintah Erwin dengan suara rendah yang protektif.
Adrian membuka pintu depan, melangkah keluar dengan sisa-sisa tenaga dari demamnya.
Belum sempat ia berdiri tegak, Arum sudah menghambur maju, suaranya melengking memecah ketenangan sore itu.
"Oh, jadi ini alasan kamu menghilang ke Jogja, Adrian?! Kamu menjemput wanita kampung ini lagi?!" teriak Arum sambil menunjuk ke arah kaca mobil yang gelap.
"Kamu mematikan ponselmu, mengabaikanku, hanya demi dia?"
Adrian berdiri di depan Arum, mencoba menghalangi pandangan wanita itu ke arah pintu belakang.
"Arum, cukup. Ini bukan tempat untuk membuat keributan. Kita bicara di dalam."
"Bicara di dalam? Tidak!"
Arum mencoba merangsek maju, tangannya hendak menarik gagang pintu belakang.
"Aku ingin melihat wajahnya. Aku ingin tahu seberapa tebal mukanya sampai berani menggodamu lagi setelah aku peringatkan!"
Brak!
Pintu pengemudi terbuka kasar. Erwin turun dengan langkah tegap, berdiri tepat di antara Arum dan mobil.
Postur tubuhnya yang tinggi dan sorot matanya yang dingin membuat Arum tertegun sejenak.
"Siapa kamu? Minggir!" bentak Arum.
Erwin menatap Arum dengan tatapan meremehkan.
"Saya manager Liana. Dan mulai detik ini, siapa pun yang berani menghina atau menyentuh Liana, harus berhadapan dengan saya lebih dulu. Termasuk Anda."
Arum tertawa sinis, suaranya terdengar merendahkan.
"Manager? Oh, jadi sekarang si penari pasar ini punya pengawal pribadi? Berapa Adrian membayarmu untuk menjaga simpanannya?"
Wajah Adrian memerah. "Arum! Jaga bicaramu!"
Liana, yang sejak tadi hanya diam di dalam, tidak tahan lagi mendengarkan hinaan itu.
Ia membuka pintu belakang dan keluar dengan anggun, berdiri di samping Erwin.
Meskipun wajahnya lelah, matanya memancarkan ketegasan yang baru.
"Aku tidak dibayar oleh siapa pun untuk harga diriku, Mbak Arum," ucap Liana dengan suara tenang namun menusuk.
"Aku ke sini untuk menyelesaikan pekerjaanku. Jika Mbak punya masalah dengan Pak Adrian, selesaikan secara pribadi. Jangan libatkan aku atau desaku."
Arum gemetar karena marah, ia mengangkat tangannya hendak melayangkan tamparan ke wajah Liana. Namun, dengan gerakan cepat, Erwin menangkap pergelangan tangan Arum di udara, mencengkeramnya cukup kuat hingga wanita itu meringis.
"Jangan pernah bermimpi bisa menyentuhnya," bisik Erwin tajam.
Tanpa membuang waktu, Erwin menyambar pergelangan tangan Liana, menuntunnya menjauh dari pusaran drama yang memuakkan itu.
"Kita pergi dari sini, Li. Tempat ini bukan untukmu."
Liana tidak menoleh lagi. Ia mengikuti langkah lebar Erwin menuju ke dalam apartemen Adrian.
Namun, di belakang mereka, suasana justru semakin memanas. Arum yang merasa menang karena Liana pergi, mencoba meraih lengan Adrian.
"Lihat, kan? Wanita itu tidak punya harga diri, dia lari begitu saja dengan pria kasar itu!"
Adrian menyentak tangan Arum dengan kasar. Napasnya memburu, sisa-sisa demamnya kini terbakar oleh amarah dan ketegasan yang sudah lama ia pendam.
Dengan gerakan cepat yang mengejutkan Arum, Adrian justru menggandeng tangan Arum—bukan dengan kemesraan, melainkan dengan tarikan paksa menuju kerumunan wartawan yang entah bagaimana sudah mulai mencium aroma skandal di sana.
Sambil berjalan, Adrian merogoh ponselnya dan menghubungi Rina.
"Rina, siapkan semuanya sekarang. Panggil semua media. Press conference di lobi apartemenku dalam sepuluh menit. Jangan ada yang terlewat."
"Adrian! Apa yang kamu lakukan?!" pekik Arum panik saat melihat puluhan kamera mulai diarahkan kepada mereka.
Adrian Pratama berdiri tegak di depan deretan mikrofon yang disodorkan padanya.
Wajahnya yang babak belur justru menambah kesan dramatis pada sore itu.
Ia menatap tajam ke arah kamera, lalu melirik Arum yang mulai pucat di sampingnya.
"Terima kasih sudah datang," ucap Adrian, suaranya menggema mantap.
"Saya berdiri di sini untuk meluruskan satu hal yang selama ini menjadi beban bagi karier dan kehidupan pribadi saya. Hari ini, di depan kalian semua, saya secara sepihak menyatakan bahwa pertunangan saya dengan Arum, berakhir."
Suara jepretan kamera dan bisikan kaget meledak seketika.
"Ini bukan soal orang ketiga," lanjut Adrian, meski hatinya menjeritkan nama Liana.
"Ini soal kejujuran dan harga diri. Saya tidak bisa melanjutkan sandiwara yang menyakiti banyak pihak, termasuk wanita yang sangat saya hormati. Hubungan kami selesai detik ini juga."
Arum mematung, wajahnya yang cantik kini tampak hancur di depan sorotan lampu flash.
Sementara di dalam apartemen, Liana menyandarkan kepalanya di bahu Erwin, tidak tahu bahwa di belakangnya, pria yang ia cintai baru saja menghancurkan dunianya sendiri demi satu kata maaf yang belum tentu ia terima.
Suasana di dalam apartemen mewah milik Adrian terasa asing dan dingin.
Liana duduk di sofa beludru yang empuk, namun tubuhnya terasa kaku.
Erwin berdiri di dekat jendela besar yang menampilkan gemerlap lampu Jakarta, tangannya masih mengepal, matanya terus waspada mengawasi pintu masuk.
"Kamu istirahatlah, Li. Aku akan menjagamu di sini," ucap Erwin pelan.
Liana hanya mengangguk lemah. Secara refleks, tangannya meraih remote televisi di atas meja marmer, mencoba mencari pengalih perhatian dari rasa sesak yang menghimpit dadanya. Namun, begitu layar menyala, suara riuh kilatan kamera dan kerumunan wartawan langsung memenuhi ruangan.
"Breaking News: Produser Ternama Adrian Pratama Putuskan Pertunangan dengan Arum secara Sepihak!"
Liana terpaku. Di layar kaca, ia melihat sosok Adrian yang tampak berantakan namun sorot matanya sangat tajam.
Luka lebam di sudut bibirnya—bekas pukulan Erwin—masih terlihat jelas di bawah lampu flash kamera.
"Hubungan kami selesai detik ini juga," suara Adrian terdengar mantap dari pengeras suara televisi.
Liana menutup mulutnya dengan tangan, matanya berkaca-kaca.
Ia melihat bagaimana Arum mematung di samping Adrian, wajahnya hancur karena malu dan amarah.
Liana tidak menyangka pria itu akan senekat ini; menghancurkan citranya sendiri, merusak hubungan bisnis antar keluarga, dan mempermalukan tunangannya di depan seluruh negeri hanya untuk sebuah kata "selesai".
"Dia benar-benar melakukannya, Win..." bisik Liana lirih, air matanya perlahan jatuh membasahi pipi.
Erwin melangkah mendekat, matanya menatap tajam ke arah layar televisi sebelum akhirnya beralih ke arah Liana yang tampak terguncang.
"Dia melakukan itu karena dia tahu dia sudah tidak punya jalan lain untuk mengejarmu, Li. Jangan biarkan pengumuman ini membuatmu lupa pada luka yang dia beri sebelumnya."
Liana menggelengkan kepalanya pelan. "Bukan itu, Win. Aku hanya tidak menyangka dia berani sejauh ini. Dia mempertaruhkan segalanya... karirnya, namanya..."
"Itu harga yang harus dia bayar atas kebohongannya," sahut Erwin dingin. Ia mematikan televisi dengan kasar, mengembalikan kesunyian di dalam apartemen itu.
Liana menunduk, menatap jemarinya yang gemetar.
Di satu sisi, ada rasa lega yang aneh karena beban "wanita simpanan" itu kini seolah terangkat, namun di sisi lain, ia merasa takut.
Pengumuman ini bukan akhir, melainkan awal dari badai yang lebih besar yang akan menyeretnya ke pusat perhatian publik.
Tepat saat itu, terdengar suara kunci pintu apartemen terbuka.
Adrian melangkah masuk dengan napas terengah-engah, wajahnya tampak sangat lelah setelah menghadapi kepungan media di bawah.
ditunggu crazy upnya