Tian Yuofan tumbuh dalam kehidupan yang tidak pernah mudah. Sejak usia delapan tahun, ia sudah harus belajar bertahan sendiri, merawat ibunya yang kehilangan kewarasannya akibat trauma masa lalu. Ia bahkan tidak bisa menyentuhnya, takut memicu trauma ibunya.
Tanpa keluarga yang utuh, tanpa teman, Yuofan menjalani hari-harinya sendirian di dunia yang tidak memberi banyak ruang bagi orang lemah. Ia belajar memahami lingkungan, membaca keadaan, dan bertahan dengan caranya sendiri.
Namun suatu hari, sebuah kejadian yang awalnya tampak seperti kesialan justru membawanya pada sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya—sebuah pertemuan yang perlahan mengubah arah hidupnya.
Dari sana, perjalanan yang tak pernah ia pikirkan pun benar-benar dimulai…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KuntilTraanak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3—Wuxu
Ruangan kali ini terasa berbeda dari sebelumnya. Tidak ada emas, tidak ada ukiran rumit, tidak ada benda berharga yang di pajang. Dindingnya polos dan tinggi, diterangi cahaya redup yang membuat bayangan tampak lebih panjang dari seharusnya.
Di sepanjang ruangan berdiri rak-rak kayu yang menjulang hampir menyentuh langit-langit. Rak itu dipenuhi buku-buku tebal berdebu dan gulungan-gulungan tua yang diikat dengan tali kusam. Beberapa di antaranya tampak rapuh, seolah tak pernah disentuh selama bertahun-tahun, menciptakan aroma kertas lama dan kayu kering memenuhi udara.
Anak itu melangkah perlahan menyusuri lorong di antara rak-rak tinggi tersebut. Suara langkahnya hampir tenggelam oleh ruang yang terlalu luas untuk satu orang saja.
Langkahnya terhenti, kala pandangannya kini menatap kearah lantai batu, disana terbentang sebuah rantai besar. Mata rantainya tebal dan kasar, masing-masing bahkan lebih besar dari pergelangan kakinya. Permukaannya gelap dan dingin, dengan bekas goresan yang menunjukkan usia dan kekuatan yang pernah ditahannya.
Rasa ingin tahu mengalahkan keraguannya. Ia mengikuti arah rantai itu, berjalan menyusuri lantai hingga mencapai bagian tengah ruangan.
Di sana berdiri sebuah altar batu, sederhana tetapi terlihat kokoh. Rantai-rantai besar itu melingkari altar tersebut, saling terhubung dan tertanam kuat pada tiang-tiang penyangga di sekelilingnya.
Perlahan, tatapan anak itu bergerak naik, mengikuti arah rantai hingga ke atas. Di sana ia mendapati sesosok besar yang tergantung terikat erat oleh rantai-rantai tersebut.
Makhluk itu bukan sekadar bertubuh besar, tetapi juga sangat menyeramkan. Wajahnya menyerupai rubah, namun jauh dari kesan anggun. Bulu hitamnya gelap pekat, menyerap cahaya di sekitarnya. Moncongnya panjang, dengan garis rahang tegas dan taring yang terlihat samar saat mulutnya sedikit terbuka. Dari ujung tangannya menjulur cakar-cakar panjang, melengkung tajam. Tetapi jika diperhatikan lebih jelas, tubuh makhluk itu terlihat sedikit transparan, membuatnya merasa bingung.
“Makhluk apa ini?” ucapnya yang langsung bergema diruangan.
Saat itulah sosok itu tiba-tiba membuka matanya, memancarkan cahaya merah menyala yang mengintimidasi. Rasa takut sedikit ia rasakan dalam dirinya, kala tatapan mereka bertemu beberapa saat hingga makhluk itu membuka mulutnya.
[ “Druva zhera wen, malka-ra?” ]
Siapa kau, bocah kecil?
Anak itu memiringkan kepalanya dengan kening yang dikerutkan, bukan karena tak paham, tetapi malah sebaliknya. Ia merasa heran karena ia bisa mengerti dengan apa yang di ucapkan oleh makhluk itu.
[ “Ah… druvalah nistra versta, zhara?” ]
Ah… apa kau tak mengerti?
Ia menggelengkan kepalanya. “Aku paham,” ucapnya melihat lebih dekat kearah makhluk itu.
“Namaku Tian Yuofan, kau bisa panggil aku Yuofan.” lanjutnya seraya memperhatikan pola merah yang berputar diantara tiang-tiang disana.
Iblis itu terdiam, memperhatikan bocah dibawahnya yang malah terlihat tenang, sangat tenang seolah tak memperdulikan keberadaan nya. Ia juga sedikit bisa merasakan energi yang akrab dalam dalam tubuh bocah itu.
[ “Druva nistra bhaya kael?” ]
Apa kau tidak takut padaku?
Yuofan menggelengkan kepalanya lagi menanggapi pertanyaan tersebut. Anak itu kemudian terlihat terus berkeliling di bawah altar tersebut, memperhatikan tiang-tiang disana yang terlihat mewah.
[ “Druva krava harta-vel?” ]
Apa kau menyukai harta?
Yuofan menatap kearah rubah hitam itu. “Tentu,” balasnya seraya tersenyum lebar hingga menampilkan deretan giginya yang tersusun rapih. “Ngomong-ngomong, kau ini sebenarnya apa?”
[ “Vel-Mortrazen Trezneun , Wuxu.” ]
Aku adalah raja iblis kesembilan, Wuxu
Yuofan mengedipkan matanya sekali, ia menggaruk kepalanya yang tak gatal kemudian menatap kearah Wuxu. “Lantas, kenapa raja iblis seperti mu digantung seperti ini? Apa kau gagal bunuh diri?” tanya nya dengan raut wajah heran.
Iblis ini menutup matanya, merasa sedikit kesal dengan pertanyaan konyol tersebut. Ia mencoba untuk menelan rasa kesalnya, dan menjawab setenang mungkin.
[ “Da, nistra-zhul. Kael zapechat Himmeldeva-kra.”]
Tentu saja tidak, ini karena aku disegel oleh dewa.
Yuofan mengangguk mengerti, ia kemudian melirik kembali kearah tiang yang menjadi penyangga.
[ "Kael trezvarum vsekhra darevra-zhul, yadrek druva kael helvra volnara.” ]
Aku bisa memberikan mu seluruh harta ini, asal mau membantu ku.
Yuofan melirik kearah Wuxu, “Apa itu?” tanya nya membuat Wuxu tersenyum kecil.
[ “Druva schvarn-blad ena zhera-zhul?” ]
Apa kau melihat pedang hitam itu?
“Yap, mataku cukup sehat untuk melihat benda sedekat ini.” jawabnya sembari menengok kearah pedang yang berada tepat di depannya.
Bilah pedang itu menembus permukaan batu dengan presisi, seolah altar tersebut memang diciptakan untuk menerimanya. Tidak terlihat retakan di sekitarnya, tidak ada serpihan batu yang pecah. Pedang itu berdiri tegak dan stabil, seperti poros yang menjadi pusat dari seluruh ruangan.
Jika diamati lebih dekat dari arah tiang penyangga, posisinya tampak teratur dan disengaja. Pedang itu berada tepat di bawah sosok Wuxu yang tergantung terikat rantai, sejajar dengan tubuh makhluk tersebut, seakan menjadi titik pengunci yang menahannya tetap di tempat. Di belakang pedang itu berdiri sebuah tiang batu yang merupakan salah satu penyangga. Pada bagian tengah tiang itu tertanam sebuah mutiara bulat, bening namun memancarkan cahaya lembut dari dalamnya sendiri. Cahaya itu tidak terang, tetapi cukup untuk memberi kilau tipis pada bilah pedang.
[ “Schvarn-blad ena tarik-zhul, blad ena zhivor-qi kael seravra-zhul.” ]
Cabutlah pedang itu, karena pedang terus menyerap energiku.
Yuofan mengangguk, ia berjalan mendekati pedang hitam itu. “Apa ini menyakitkan bagimu?” ucapnya seraya menyentuh gagang pedang.
[ “Da, ena dolorvra vel-zhul” ]
Ya, ini sangat menyakitkan
Dengan satu tarikan kuat, Yuofan mencabut pedang hitam tersebut dari altar batu.
Terdengar bunyi dentingan tajam yang memantul di seluruh ruangan, singkat namun jelas, seperti logam yang lama terkunci akhirnya terlepas dari penahannya.
Bersamaan dengan itu, pola-pola merah di permukaan tiang mulai bermunculan lebih banyak. Garis-garisnya menyebar perlahan dari titik tempat pedang tadi tertancap, merambat naik dan turun seperti aliran yang baru saja dibangkitkan. Cahaya dari mutiara di tengah tiang bergetar tipis, tidak padam, tetapi tampak tidak stabil.
Pedang itu kini sepenuhnya berada di tangan anak tersebut. Ia menatap pedang itu dengan takjub, apalagi mendapati bahwa pedang itu memiliki bilang yang sangat tajam. Padahal jelas sebelumnya ia tertancap di altar yang terbuat dari batu.
Tak lama kemudian, terdengar suara berat berderak dari atas. Rantai-rantai besar yang sebelumnya menegang tiba-tiba mengendur. Satu per satu mata rantainya terlepas dari kaitannya, jatuh menghantam lantai batu dengan bunyi keras dan berulang. Dalam hitungan detik, belenggu yang menahan Wuxu tidak lagi terpasang. Rantai-rantai itu tergeletak berserakan di sekitar altar, meninggalkan ruang yang sebelumnya terkunci kini terbuka sepenuhnya.