NovelToon NovelToon
Kuroda-san No Himitsu

Kuroda-san No Himitsu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:89
Nilai: 5
Nama Author: virgilius theodoro

menceritakan dua orang yang ingin bebas dari takdir mereka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon virgilius theodoro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 4

BAB 4: Topeng yang Terbelah dan Kebangkitan Sang Kaisar

Gedung pencakar langit Asuka Group di Marunouchi berdiri angkuh seperti monumen kaca yang menembus awan Tokyo, namun bagi Hana, setiap langkah menuju kantor pribadinya terasa seperti berjalan menuju tiang gantungan. Lorong-lorong berlantai marmer yang biasanya ia lalui dengan kepala tegak kini terasa sempit dan mengintimidasi. Para staf menunduk lebih dalam dari biasanya, bukan karena hormat, melainkan karena ketakutan yang menjalar dari aura pria yang kini sedang duduk di kursi kebesaran Hana.

Kaito Shimada tidak berbalik saat pintu kayu ek berat itu terbuka. Ia duduk membelakangi pintu, menatap pemandangan kota melalui jendela kaca raksasa dari lantai 45. Di tangannya, sebuah gelas kristal berisi wiski mahal berputar pelan, es batu di dalamnya berdenting—suara yang biasanya menenangkan, namun kini terdengar seperti lonceng kematian.

"Kau tahu, Hana," suara Kaito rendah, bergetar oleh kemarahan yang ditekan dengan sangat halus. "Aku selalu menganggapmu sebagai aset paling berharga dalam portofolioku. Cantik, cerdas, dan memiliki silsilah yang sempurna. Tapi hari ini, pengawalku pulang dengan tulang rusuk patah dan laporan tentang seorang mekanik sampah di distrik Ota."

Hana berdiri di tengah ruangan, tangannya gemetar namun matanya menatap tajam punggung Kaito. "Dia bukan sampah. Dia menyelamatkanku saat aku hampir dilecehkan, hal yang pengawalmu tidak mampu lakukan karena mereka sibuk menjilat kakimu."

Kaito berbalik dengan gerakan kilat. Ia berdiri, melangkah mendekati Hana hingga jarak mereka hanya beberapa inci. Bau alkohol dan parfum mahal yang menyengat menyerang indra penciuman Hana. "Menyelamatkanmu? Atau memberimu hiburan yang tidak bisa diberikan oleh pria sepertiku?" Kaito mencengkeram rahang Hana dengan kasar, memaksa wanita itu menatap matanya yang memerah. "Kau adalah tunanganku! Calon istri dari pewaris Shimada Global! Beraninya kau merendahkan dirimu sendiri di bengkel kotor itu?"

"Lepaskan, Kaito! Kau menyakitiku!" Hana meronta, namun cengkeraman Kaito semakin kuat.

"Rasa sakit ini tidak sebanding dengan rasa malu yang harus kutanggung!" teriak Kaito, suaranya menggelegar di ruangan kedap suara itu. "Ayahku sudah mendengar tentang kekacauan di Ota. Jika bukan karena pengaruh keluarga Shimada, berita tentang 'Putri Asuka yang berselingkuh dengan montir' sudah menjadi tajuk utama di setiap surat kabar besok pagi. Kau pikir kau punya pilihan? Kau pikir kau bisa lari? Perusahaan ayahmu adalah milikku! Hidupmu adalah milikku!"

Hana merasakan air mata jatuh, bukan karena rasa sakit fisik, melainkan karena penghinaan yang begitu dalam. Ia merasa seperti burung yang sayapnya baru saja dipatahkan dengan sengaja. "Kau tidak pernah mencintaiku, Kaito. Kau hanya mencintai kekuasaan yang bisa kudatangkan untukmu."

Kaito melepaskan cengkeramannya dengan sentakan yang membuat Hana hampir jatuh. Ia tersenyum sinis, sebuah ekspresi yang tampak iblis di bawah lampu kantor yang redup. "Cinta adalah dongeng untuk orang miskin, Hana. Di dunia kita, yang ada hanyalah dominasi. Dan mulai hari ini, kau tidak akan keluar dari gedung ini tanpa izin tertulis dariku. Kau akan belajar apa artinya menjadi seorang Shimada."

Di sisi lain kota, di distrik Ota yang sunyi, keheningan menyelimuti Kuroda Motor. Ren berdiri di tengah bengkelnya, menatap peralatan mekanik yang berserakan di lantai akibat keributan tadi siang. Ia memungut sebuah kunci pas yang jatuh, menatapnya lama seolah sedang mengucapkan perpisahan pada alat yang selama ini menjadi pelariannya dari dunia yang membosankan.

Gerakannya lambat dan metodis. Ia merapikan rak-rak, menyapu sisa-sisa es yang mencair, dan menutup motor hitam besarnya dengan kain penutup. Setiap gerakan Ren terasa seperti ritual penutupan sebuah bab kehidupan. Elara dan Julian berdiri di dekat pintu lipat besi, diam membisu. Mereka tahu bahwa ketika Ren mulai merapikan bengkel dengan tatapan sedingin itu, "Ren si Mekanik" sedang pergi, dan "Aurelius Renzo" sedang mengambil kendali.

"Julian, ambil semua perangkat kerasmu. Elara, pastikan tidak ada satu pun sidik jari kita yang tertinggal di area kantor," perintah Ren. Suaranya tidak lagi sekadar sopan; itu adalah nada komando yang tidak bisa dibantah.

Ren mengambil ponsel satelit dari laci rahasia di bawah meja kerjanya. Ia menekan satu tombol cepat. Hanya butuh satu dering sebelum sebuah suara berat dan profesional menjawab di ujung sana.

"Tuan Muda Aurelius? Apakah ini waktunya?" tanya suara itu.

"Yoto. Jemput aku di titik koordinat Ota-09. Bawa mobil lapis baja standar protokol satu. Kita akan kembali ke apartemen pusat," jawab Ren.

"Segera, Tuan Muda. Saya akan tiba dalam lima menit."

Ren menutup telepon, lalu menoleh ke arah adik-adiknya. "Kita akan menutup bengkel ini untuk dua minggu ke depan. Tidak ada aktivitas, tidak ada penyamaran. Kita kembali ke dunia asli kita."

Julian menelan ludah. "Bagaimana dengan Hana, Kak? Dia akan mencarimu."

Ren terdiam sejenak, matanya menatap kursi kayu tempat Hana biasa duduk. "Dia tidak akan menemukanku sebagai Ren Kuroda lagi. Jika dia ingin keselamatannya terjamin, aku harus menjadi monster yang lebih besar dari Kaito Shimada."

Tepat lima menit kemudian, sebuah Rolls-Royce Cullinan hitam dengan kaca sangat gelap berhenti di depan bengkel yang kumuh itu. Seorang pria paruh baya dengan setelan jas hitam sempurna keluar dan membungkuk 90 derajat. Dia adalah Yoto, asisten pribadi dan kepala pelayan keluarga Hohenzollern yang telah mengabdi selama tiga dekade.

"Mobil sudah siap, Tuan Muda Aurelius. Nona Elara, Tuan Muda Julian," sapa Yoto dengan suara tenang.

Ren melangkah keluar dari bengkel, mengunci pintu besi besar itu dengan gembok berat, lalu melemparkan kuncinya ke dalam tas kecil. Ia masuk ke dalam mobil, diikuti oleh kedua adiknya. Saat pintu mobil tertutup, kebisingan distrik Ota seketika hilang, digantikan oleh kesunyian kabin yang mewah dan aroma kulit premium yang mahal.

Mobil meluncur menuju distrik Minato, menembus kemacetan Tokyo menuju sebuah apartemen penthouse tiga lantai yang menempati puncak salah satu gedung tertinggi di Jepang. Apartemen itu adalah wilayah ekstrateritorial milik Hohenzollern Group, tempat yang dijaga oleh teknologi keamanan militer paling canggih di dunia.

Sesampainya di apartemen, Ren tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia berjalan melewati aula luas yang dihiasi lukisan asli karya maestro Eropa, langsung menuju kamar utamanya. Ia melepaskan kaos hitamnya yang berlumuran oli dan debu, melemparkannya begitu saja ke lantai marmer putih.

Ia melangkah masuk ke bawah pancuran air panas. Uap mengepul menutupi cermin kamar mandi saat air membasuh sisa-sisa oli dari kulitnya yang atletis. Ren memejamkan mata, membiarkan air menghapus rasa lelahnya, namun amarah di dadanya tetap membara. Bayangan wajah Hana yang memar karena tamparan terus berputar di kepalanya. Setiap kali ia membayangkan tangan Kaito Shimada menyentuh Hana, otot-otot di rahangnya mengencang.

Setelah mandi, Ren tidak lagi mengenakan celana kargo atau kaos pudar. Ia memakai jubah mandi sutra hitam, melangkah ke ruang gantinya yang seluas lapangan tenis. Di sana, ia memilih setelan jas tiga potong berwarna charcoal yang dijahit khusus di London. Ia mengenakan kemeja putih bersih, mengancingkan manset perak dengan logo keluarga Hohenzollern, dan menyisir rambut wolf cut-nya ke belakang dengan rapi, memberikan kesan maskulin yang tajam dan tak tersentuh.

Ia keluar ke ruang tamu utama, di mana Yoto sudah menunggu dengan tablet di tangannya dan secangkir teh Earl Grey panas.

"Yoto," panggil Ren, suaranya kini memiliki bobot yang bisa menggetarkan bursa saham global.

"Saya mendengarkan, Tuan Muda."

"Kosongkan jadwalku untuk dua minggu ke depan dari semua urusan rutin. Aku ingin kau mengatur pertemuan pribadi dengan Takeshi Shimada. Ayah Kaito," Ren menyesap tehnya, matanya menatap lampu-lampu kota Tokyo dari ketinggian.

Yoto sedikit terkejut, namun tetap tenang. "Apakah atas nama perwakilan perusahaan, Tuan?"

"Tidak. Atas nama Aurelius Renzo von Hohenzollern secara pribadi. Katakan padanya, aku tertarik untuk membahas masa depan sektor energi di Asia, dan aku ingin melakukannya besok malam di kediaman pribadiku."

"Baik, Tuan Muda. Bagaimana dengan Kaito Shimada? Dia sedang sangat aktif mencari informasi tentang keberadaan Anda di Jepang."

Ren meletakkan cangkir tehnya, sebuah senyum dingin tersungging di bibirnya. Senyum yang tidak pernah dilihat oleh Hana. "Biarkan dia mencari. Biarkan dia merasa berkuasa sebentar lagi. Aku ingin dia merasakan bagaimana rasanya saat seluruh dunianya runtuh hanya karena satu jentikan jari."

Ren berdiri, berjalan ke arah jendela kaca besar yang menghadap langsung ke arah gedung Asuka Group. Di kejauhan, ia bisa melihat cahaya dari lantai atas gedung itu. Ia tahu Hana ada di sana, terjebak dalam sangkar yang dibuat oleh ayahnya dan Kaito.

"Julian," panggil Ren tanpa menoleh.

Julian, yang sedang duduk di sofa dengan lima monitor di depannya, mendongak. "Ya, Kak?"

"Mulai detik ini, pantau setiap komunikasi keluar dan masuk dari ponsel Hana Asuka. Jika Kaito Shimada mengangkat tangannya lagi padanya... aku ingin kau mematikan seluruh sistem listrik di kediaman Shimada. Biarkan mereka ketakutan dalam kegelapan sebelum aku datang menghancurkan mereka secara resmi."

Elara mendekati Ren, menatap kakaknya dengan cemas. "Kak, Ayah di London akan tahu jika kau menggunakan identitas aslimu untuk urusan personal seperti ini. Dia akan menganggap ini sebagai kelemahan."

Ren berbalik, menatap adiknya dengan mata yang kini berkilat seperti baja. "Ayah selalu mengajariku bahwa kekuatan sejati adalah kemampuan untuk menghancurkan musuh sebelum mereka menyadari bahwa mereka sedang berperang. Kaito Shimada baru saja menyentuh sesuatu yang menjadi milikku. Dan di dunia Hohenzollern, Elara... tidak ada yang boleh menyentuh apa yang sudah aku tandai sebagai milikku tanpa membayar harganya dengan kehancuran."

Malam itu, di apartemen megah yang sunyi, Ren menghabiskan waktu berjam-jam mempelajari data keuangan keluarga Shimada. Ia melihat setiap celah, setiap utang, dan setiap rahasia kotor yang mereka sembunyikan. Di tangannya, ia memegang sapu tangan dengan inisial A.R. yang baru saja ia ambil dari sakunya—sapu tangan yang sama yang dikembalikan Hana sore tadi.

"Dua minggu, Hana," bisik Ren pada kegelapan malam. "Berthanlah selama dua minggu. Setelah itu, aku akan menjemputmu dari penjara itu, dan dunia akan tahu bahwa Tuan Kuroda yang kau kenal... adalah pria yang memiliki dunia yang sedang menghimpitmu ini."

Keesokan paginya, sebuah undangan elektronik terenkripsi terkirim ke meja Takeshi Shimada. Undangan yang akan mengubah peta kekuasaan dunia, dan undangan yang akan menjadi awal dari mimpi buruk bagi Kaito Shimada. Rahasia Tuan Kuroda telah dikunci rapat di bengkel Ota, dan kini, sang Pewaris Hantu telah benar-benar bangkit untuk mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi haknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!