1. Konsep Utama (The Core)
Protagonis: Kaelan Veyris (Reinkarnasi Ryan Hartman).
Bakat: EX-Grade Talent "All" (Potensi melampaui dewa, penguasaan semua elemen & jalur).
Organisasi: Nox Astra (Simbol: 9 Bintang). Bergerak dari bayangan untuk menguasai 5 benua.
Misi Utama: Membangun kekuatan absolut melalui panti asuhan rahasia dan jaringan teleportasi kuno.
2. Hierarki Kekuatan (Power System)
Grade Bakat: F (Terendah) sampai S (Legenda), SS (Mitos), dan EX (Kaelan).
Jalur Utama:
Sword Path: Sword Trainee hingga Transcendent Sword (Tebasan Dimensi).
Mage Path: Mana Initiate hingga Transcendent Mage (Manipulasi Realitas).
Hybrid Path: Gabungan keduanya (Kaelan & Nox).
Sihir Langka: Teleportasi jarak jauh (Teknik kuno yang hanya dikuasai Kaelan/Nox Astra).
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seat Bos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GERBANG CAKRAWALA DAN ARMADA PERAK
Lima tahun telah berlalu sejak jatuhnya Kekaisaran Suci Solaris. Benua Aetherion kini bukan lagi kumpulan kerajaan yang saling cakar, melainkan sebuah persatuan raksasa di bawah panji Kekaisaran Nox Astra. Teknologi mana dan ilmu sihir telah melompat jauh; menara-menara transmisi mana berdiri di setiap kota, memberikan energi gratis bagi rakyat.
Kaelan, kini berusia dua belas tahun, berdiri di puncak menara terapung Aetherius. Tubuhnya tumbuh tinggi dan atletis, rambut putihnya seringkali memercikkan sisa-mana berwarna biru elektrik. Di dadanya, Jantung Solaris tidak lagi berbentuk kristal eksternal, melainkan telah menyatu sepenuhnya dengan sirkuit jantungnya, menciptakan detak jantung yang bergetar dengan frekuensi kosmik.
Di sampingnya, Nox (15 tahun) berdiri dengan zirah hitam legam yang terbuat dari logam meteorit. Wajahnya dingin, matanya merah menyala—ia kini adalah Grandmaster Destruction (Level 9 Peak). Sementara Mira (22 tahun) duduk melayang di udara, jari-jarinya memutar-mutar bola dimensi kecil.
"Tuan, satelit mana kita menangkap gangguan di atmosfer atas," lapor Mira. Suaranya tidak lagi cemas, melainkan penuh antisipasi. "Ruang di atas Samudra Terlarang sedang robek. Ini bukan robekan alami. Seseorang sedang melakukan Forced Warp dari luar planet."
Kaelan menatap langit biru yang perlahan mulai memudar menjadi warna ungu kelam. "Mereka datang lebih cepat dari perkiraanku. Rupanya kehilangan Jantung Solaris membuat 'Para Pengawas' itu gelisah."
BOOOOOM!
Langit di atas samudra mendadak pecah seperti kaca yang dipukul palu godam. Sebuah lubang hitam raksasa terbuka, dan dari dalamnya muncul kapal-kapal perak berbentuk cakram yang memancarkan cahaya putih menyilaukan. Tidak ada suara mesin, hanya dengungan frekuensi tinggi yang sanggup menghancurkan gendang telinga manusia biasa.
Inilah Armada Perak dari peradaban Aethelgard—entitas yang selama ini disembah sebagai "Dewa" oleh Kekaisaran Suci.
"Makhluk rendah Aetherion!" sebuah suara mekanis yang megah mengguncang seluruh benua. "Kalian telah mencuri aset suci milik Federasi Galaksi. Serahkan Jantung Solaris dan berlututlah untuk menerima hukuman, atau planet ini akan dihapus dari peta bintang!"
Rakyat di bawah panik. Mereka melihat ribuan titik cahaya turun dari kapal-kapal itu—pasukan mekanis yang masing-masing memiliki energi setara dengan ksatria Level 7.
"Hapus dari peta bintang?" Kaelan tertawa kecil. Tawa itu terdengar hingga ke kapal induk musuh melalui resonansi Bakat EX.
Kaelan melangkah maju ke udara kosong. Setiap langkahnya menciptakan riak ruang yang membekukan waktu di sekitarnya.
"Nox, Mira, aktifkan Protocol: God Slayer," perintah Kaelan.
"Siap, Tuan!"
Seketika, dari seluruh penjuru benua, menara-menara mana menembakkan pilar cahaya biru ke arah menara Aetherius. Energi itu terkumpul di puncak menara, lalu ditembakkan ke arah Kaelan yang berdiri di tengah langit.
Kaelan merentangkan tangannya. Ia menyerap seluruh energi benua itu ke dalam tubuhnya. Matanya berubah menjadi putih total tanpa pupil.
"Kalian menyebut diri kalian Dewa hanya karena kalian punya teknologi yang lebih maju?" ucap Kaelan. "Mari kuperkenalkan kalian pada kekuatan yang sebenarnya. Kekuatan yang bahkan pencipta kalian pun takut untuk menyentuhnya."
Kaelan menarik pedang yang terbuat dari manifestasi mana murni dari dadanya. Pedang itu berwarna hitam pekat, namun di dalamnya terdapat jutaan bintang yang bergerak.
"Nox Astra: Universal Collapse."
Kaelan mengayunkan pedangnya secara vertikal. Serangan itu tidak mengeluarkan ledakan api, melainkan sebuah garis tipis yang membelah realitas. Garis itu melewati armada perak tersebut seolah-olah mereka hanyalah proyeksi cahaya.
Sunyi.
Detik berikutnya, kapal-kapal induk raksasa itu terbelah menjadi dua secara sempurna. Bukan hanya fisiknya, tapi atom-atom di dalamnya kehilangan gaya ikatnya. Kapal-kapal itu hancur menjadi debu perak yang berkilauan di udara.
"T-Tidak mungkin! Energi mereka... melampaui skala Grade EX!" teriak komandan Aethelgard di dalam rekaman transmisi yang tertangkap Mira.
"Nox, bersihkan sisa-sisanya. Jangan biarkan satu pun 'sampah bintang' ini mendarat di tanah kita," perintah Kaelan.
Nox melesat ke atas seperti peluru hitam, menebas robot-robot mekanis dengan satu tebasan yang menghancurkan inti energi mereka. Sementara Mira mengunci seluruh area samudra dalam sebuah kubus dimensi, memastikan tidak ada radiasi atau ledakan yang merugikan rakyat.
Di tengah pertempuran, seorang pria tua muncul di samping Kaelan melalui proyeksi hologram. Wajahnya penuh kerutan, mengenakan pakaian futuristik yang rumit.
"Anak muda... kau tidak tahu apa yang kau lakukan," ucap pria itu. "Kau telah menarik perhatian The Great Devourer. Dengan menunjukkan kekuatan itu, kau telah menandai planetmu sebagai ancaman bagi seluruh galaksi."
Kaelan menatap hologram itu dengan tatapan predator. "Justru itu tujuanku, Orang Tua. Aku tidak ingin bersembunyi. Aku ingin mereka semua tahu."
Kaelan mendekatkan wajahnya ke hologram itu.
"Katakan pada seluruh galaksi... benua Aetherion bukan lagi ladang eksperimen kalian. Mulai hari ini, aku, Kaelan Veyris, akan mendatangi setiap planet kalian untuk menagih setiap nyawa yang kalian korbankan demi 'penelitian' kalian selama seribu tahun ini."
Hologram itu bergetar dan hancur oleh tekanan aura Kaelan.
Kaelan mendarat kembali di menara. Count Aldric (Level 10 - Demigod) muncul dan merangkul pundak putranya yang kini sudah jauh melampauinya.
"Jadi, kita benar-benar akan pergi ke bintang-bintang, Kaelan?" tanya Aldric dengan senyum bangga bercampur ngeri.
"Ya, Pa. Veyris sudah terlalu kecil bagi kita," jawab Kaelan. Ia menatap ke arah lubang hitam yang perlahan menutup. "Mira, siapkan Kapal Induk Nox Astra I. Kita akan melakukan perjalanan lintas dimensi.
Target pertama kita: Markas Pusat Federasi Aethelgard."
Kaelan menatap telapak tangannya. Bakat EX-nya sekarang berbisik tentang takdir yang jauh lebih luas—perang antar galaksi, pencarian asal-usul jiwanya yang sebenarnya, dan takhta kosmik yang menunggunya.
"Dunia ini adalah awal," bisik Kaelan. "Tapi alam semesta adalah tempat bermainku yang sesungguhnya."