NovelToon NovelToon
Whispers Of The Ancestors

Whispers Of The Ancestors

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi
Popularitas:788
Nilai: 5
Nama Author: treezz

Colette Winter adalah sebuah cangkang kosong. Sejak peristiwa kelam di masa kecilnya, ia mengunci jiwanya rapat-rapat di balik tembok trauma yang tak tertembus. Ia menjalani hidup layaknya robot—bekerja, makan, dan bernapas tanpa benar-benar "hidup". Baginya, laki-laki adalah ancaman, dan dunia adalah tempat yang terlalu bising untuk hati yang hancur. Ia tidak melawan saat ditindas, tidak menangis saat dimarahi; ia hanya diam, tenggelam dalam kesuraman yang abadi.

Khawatir melihat putri sulungnya yang kian kehilangan kemanusiaannya, sang Ibu—atas dorongan adik laki-laki Colette yang prihatin—memutuskan untuk mengambil langkah terakhir yang tak masuk akal. Mereka membawa Colette ke sebuah sudut tersembunyi di kota, menemui sosok yang namanya hanya beredar di antara bisikan orang-orang tertentu yang putus asa.

Di sanalah ia bertemu dengan Caspian Hawthorne Sinclair.

seorang dukun yang diminta untuk membantu nya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Perjalanan Tanpa Suara

Mobil tua keluarga itu membelah kabut pagi yang mulai menipis saat mereka meninggalkan pusat pemukiman menuju pinggiran kota. Aspal mulus perlahan berganti dengan jalanan berbatu yang dikelilingi oleh pepohonan rimbun dan hamparan sawah yang masih basah oleh embun.

Di dalam kabin mobil, suasana terasa sangat hening.

Tak ada satu pun dari mereka yang berani membuka suara. Sinta yang duduk di kursi kemudi sesekali melirik melalui spion tengah, menatap pantulan anak perempuannya di kursi belakang. Ia ingin sekali menanyakan keadaan Colette, ingin memastikan apakah putrinya merasa mual atau cemas, namun lidahnya terasa kelu. Ia takut satu kata saja akan merusak keberanian yang baru saja Colette kumpulkan.

Di sampingnya, Aris hanya menatap keluar jendela.

Sementara itu, Colette duduk mematung di kursi belakang.

Ia menyandarkan kepalanya pada kaca jendela yang dingin. Rambut panjangnya menutupi seluruh profil wajahnya, menciptakan sekat antara dirinya dan dunia luar. Namun, di balik "tirai" hitam itu, mata Colette sebenarnya terjaga lebar. Ia tidak merasa takut seperti saat Sinta membawanya ke psikiater tahun lalu.

Keheningan di dalam mobil ini justru terasa sangat familiar baginya. Ia merasa seolah-olah sedang dihantar menuju sebuah tempat yang sudah lama menunggunya. Aroma cendana yang ia cium di kamarnya tadi pagi seolah masih tertinggal di ujung hidungnya, menuntun arah mobil ini melaju.

Sinta memutar kemudi perlahan saat jalanan mulai menyempit dan menanjak. Pepohonan jati mulai terlihat berjajar di sisi kiri dan kanan, memberikan kesan suram sekaligus sakral.

Tiba-tiba, mesin mobil itu batuk beberapa kali dan perlahan melambat. Sinta mengernyitkan dahi, mencoba menginjak pedal gas, namun mobil itu justru berhenti.

Mesin mobil itu benar-benar mati, seolah-olah sebuah tangan raksasa tak kasat mata baru saja mencabut aliran napasnya tepat di titik itu. Sinta terus menginjak pedal gas, namun hanya suara sunyi yang membalas. Hening yang tercipta di dalam kabin mobil terasa begitu pekat, hingga detak jantung mereka sendiri pun terdengar jelas.

Aris, yang duduk di kursi penumpang depan, perlahan melepaskan sabuk pengamannya. Matanya menyipit, menembus kabut tipis yang menyelimuti deretan pohon jati di depan mereka.

"Bu... berhenti saja," bisik Aris pelan. "Sepertinya memang sudah sampai. Lihat itu."

Ia menunjuk ke arah gundukan tanah yang agak tinggi di balik rimbunnya semak liar. Di sana, sebuah gubuk tua berdiri dengan angkuh. Dinding kayunya yang menghitam dimakan usia tampak kontras dengan warna hijau hutan di sekelilingnya. Tidak ada papan nama, tidak ada penunjuk arah, namun aura yang terpancar dari bangunan itu sangat kuat-seolah-olah gubuk itu sendiri sedang "bernapas".

Sinta menoleh ke arah gubuk itu dengan tangan gemetar. "Jadi... itu tempatnya?"

Di kursi belakang, Colette masih terdiam. Namun, tangannya perlahan menyentuh gagang pintu mobil. Ia tidak butuh instruksi dari Aris atau dorongan dari ibunya. Begitu pintu terbuka, aroma cendana dan tanah basah langsung menyergap indra penciumannya.

Colette terpaku di tempatnya berdiri. Matanya yang biasanya tersembunyi di balik helaian rambut kini melebar, menyapu setiap detail bangunan di depannya.

Rasa familiar itu menghantamnya seperti ombak yang dingin.

Dinding kayu yang menghitam karena usia, pola lumut yang merayap di kaki-kaki gubuk, hingga aroma kemenyan yang bercampur dengan wangi cendana yang tajam-semuanya identik. Ia menatap ke arah pohon besar di samping gubuk, tempat yang sama di mana ia berdiri gemetar semalam sementara rekan-rekan kerjanya, Linda dan yang Lainnya, memohon-mohon di dalam.

Ini tempat yang sama, batin Colette. Jantungnya berdegup, bukan karena takut, tapi karena sebuah realita yang gan jil.

Semalam ia datang ke sini sebagai korban perundungan yang dipaksa ikut oleh rekan kerjanya. Pagi ini, ia datang ke sini sebagai putri kesayangan yang dibawa oleh ibu dan adiknya untuk "disembuhkan".

"Apakah ia dukun yang sama." Batin Colette menebak-nebak.

Langkah Colette terhenti tepat di anak tangga pertama gubuk itu. Ia tahu apa yang ada di balik pintu kayu yang tertutup itu. Ia tahu bagaimana rasanya duduk di atas lantai bambu yang dingin sementara pria misterius itu membacakan takdir yang mengerikan bagi musuh-musuhnya.

Tiba-tiba, pintu gubuk itu terbuka perlahan tanpa ada yang mendorongnya.

Dari dalam kegelapan yang pekat, sesosok pria muncul. Ia mengenakan kain hitam yang melilit pinggang, memperlihatkan tato aksara kuno di kulitnya yang kecokelatan. Matanya yang tajam Langsung mengunci pandangan pada Colette, mengabaikan Sinta dan Aris yang berdiri gemetar di belakangnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!