Marsya, seorang istri yang selalu di hina oleh suami dan keluarga nya hanya karena dia dianggap karyawan di salah satu toko kue.
Tapi tanpa sepengetahuan keluarga suami nya, bahwa toko kue itu adalah milik nya dan dia adalah seorang sarjana.
Dia sengaja menyembunyikan identitas nya atas permintaan sang ibu, kini Marsya tahu sendiri seperti apa suami nya dan juga keluarga nya.
Selain di berikan nafkah yang jauh dari kata cukup, Marsya juga di duakan oleh suami nyam dengan seorang wanita yang merupakan rekan kerja suami nya di kantor.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
05
"Dani, lihat lah kelakuan istri mu. Dia hanya menyajikan oseng kangkung dan sambal terasi saja. Mana ada gizi nya!" Bu Ana mengadu pada putra nya.
"Marsya, apa maksud mu dengan semua ini?" Dani menatap Marsya dengan tatapan tajam.
"Hanya ini yang ada, jadi aku masak dengan bahan apa yang ada saja!" Marsya menjelaskan pada suami nya.
"Kalau bahan makanan habis, ya kamu harus nya belanja dong. Bukan nya malah diam saja, masa hal sepele seperti ini saja harus di ingat kan!" Dani mengomeli Marsya.
"Uang nya Mana mas?" Marsya menadah kan tangan nya.
"Setiap hari ibu sudah memberikan uang belanja pada mu, jadi jangan cari - cari masalah deh kamu!" Dani berkata dengan enteng nya seolah - oleh Marsya yang salah.
"Mas, kamu pikir dengan otak kamu ya. Uang 30 ribu sehari mana cukup untuk belanja lauk pauk. Beli bumbu nya aja gak cukup!" Ujar Marsya dengan kesal.
"Selama ini uang nya selalu cukup, dan kenapa sekarang kamu bilang uang nya tidak cukup. Pasti kamu sengaja kan ambil uang nya untuk keperluan pribadi kamu!" Dani malah menuduh istri nya yang bukan - bukan.
Marsya sangat geram mendengar tuduhan suami nya, uang 30 ribu bahkan tidak cukup sekedar untuk membeli bumbu.
"Mas, kamu pikir uang ribu itu cukup untuk beli ayam, ikan, udang dan yang lain nya. Kamu mikir dong, kata nya kamu sarjana!" Marsya sangat geram dengan ucapan suami nya.
"Dasar kamu aja yang gak bersyukur!" Tetap Saja Dani menyalahkan Marsya.
"Mas, aku laper ni. Aku gak mau makan makanan ini!" Bela menunjuk makanan di atas meja dengan pandangan jijik.
"Kalian memang tidak bisa menghormati orang lain, kalau kalian tidak suka silahkan kalian masak sendiri!" Pak Amin yang diam saja sejak tadi memarahi anak - anak dan juga istri nya.
"Pak, kok bapak malah belain menantu tidak tahu diri ini!" Bu Ana sangat kesal dengan ulah suami nya.
"Udah lah mas, pesan makanan dari kuar aja. Aku udah laper banget, dan aku tidak mau makan makanan ini!" Kembali Bela berkata.
"Ya udah, mas pesan dulu. Kita tunggu dulu makanan datang!" Dani mengajak ibu dan adik nya menunggu di ruang tamu.
"Pesan untuk kita bertiga saja Dan, untuk bapak ku tidak usah. Biar dia tahu rasa udah membela wanita tidak tahu diri itu!" Bu Ana berkata pada anak nya.
Mereka bertiga pun menunggu makanan pesanan mereka di ruang tamu, sementara pak Amin tetap berada di meja makan. Dia menghormati masakan menantu nya, dia mengajak menantu nya untuk makan bersama.
"Jangan dengar kan ucapan mereka nduk, ayo kita makan!" Pak Amin mengajak Marsya untuk makan.
Marsya dan pak Amin makan malam berdua, sebenar nya Marsya tidak begitu lapar karena dia sudah makan sebelum pulang ke rumah tadi.
Sementara itu, Dani yang menunggu makanan pesanan mereka datang Dani berkirim pesan dengan Mela, sang kekasih gelap nya.
Tok, tok, tok.
Terdengar suara ketika di pintu depan.
"Itu pasti makanan datang!" Bela berkata pada Dani.
"Ambil sana, mas udah bayar tadi!" Dani berkata pada adik nya.
Tanpa menunggu lama, Bela segera membuka pintu untuk mengambil makanan pesanan mereka. Bayu memang sudah membayar semua nya lewat M- Banking milik nya.
Mereka bertiga lalu mulai menyantap makanan itu dengan lahap, mereka tidak perduli bahwa di rumah ini ada orang lain selain mereka. Di dapur, Marsya yang sudah selesai makan malam segera memberes kan meja makan, dan mencuci semua piring yang kotor.
Ketika Marsya sudah selesai memberes kan semuanya, Marsya pun melanjutkan pekerjaan nya yang belum sempat dia selesai kan tadi. Dia lalu merapikan dan menyetrika pakaian semua orang di rumah ini.
"Ini baru makanan enak dan bergizi, kalau oseng kangkung dan sambal terasi mana ada gizi nya!" Sindir Bela
"Sudah lah numpang hidup, tidak tahu diri lagi!" Bu Ana juga ikut menghina Marsya.
"Jangan lupa, aku yang menutupi uang belanja yang jauh dari kata cukup ini. Pembantu gratisan ini lah yang memberikan kalian makan!" Marsya menjawab dengan telak.
"Marsya, jangan kurang ajar kamu!" Bentak Dani yang tidak terima dengan ucapan Marsya.
"Kenapa mas? Kau malu karena jabatan mu seorang manager tapi memberi nafkah istri saja kau tidak mampu!" Ujar Marsya dengan berani.
"Marsya, kau semakin kurang ajar saja!" Bentak Dani pada sang istri.
"Mas, mulai sekarang jangan berikan dia uang lagi. Biar dia tahu rasa bagai mana dia bisa hidup tanpa uang mu!" Bela menghasut kakak nya.
"Bela benar Dan, jangan pernah berikan uang lagi pada wanita miskin ini. Udah miskin belagu lagi!" Bu Ana menghina menantu nya.
"Baik lah bu, silahkan saja. Silahkan kalian belanja sendri dengan uang 30 ribu itu, aku akan masak juka bahan belanjaan nya sudah ada di rumah!" Jawab Marsya dengan santai nya.
"Jangan harap kau nisa menikmati uang ku lagi Marsya!" Dani mengancam sang istri.
'Kapan aku menikmati uang mu Mas? Belum pernah sekalipun kau memberikan aku uang. Bahkan perut mu dan keluarga mu di isi dengan uang ku!' Guman Marsya di dalam hati.
"Udah lah Dan, sebaik nya kamu cari saja istri yang sepadan dengan mu. Yang kaya raya dan bisa memberikan kita uang, wanita seperti Marsya tidak bisa di harap kan!" Dengan tega nya bu Ana meminta putra nya mencari wanita lain.
Marsya sangat geram mendengar nya, di depan mata nya sendiri bu Ana meminta sangat anak mencari wanita lain. Padahal dia juga seorang wanita, tidak kah dia memikirkan perasaan Marsya sedikit saja.
Dani tersenyum mendengar ucapan ibu nya, tanpa ibu nya menyuruh pun Dani sudah memiliki wanita lain di luar sana. Wanita yang jauh lebih baik dari Marsya menurut nya, wanita karier dan juga kaya raya.
Setelah menyelesaikan semua pekerjaan nya, Marsya bergegas masuk ke dalam kamar nya. Dia tidak ingin berdebat dengan Dani dan juga ibu nya. Dari pada menghabiskan energi dengan berdebat dengan mereka, lebih baik Marsya pergi tidur saja untuk mengisi energi nya besok pagi.
'Mungkin ini lah alasan Mama meminta ku untuk menyembunyikan identitas ku dari mas Dani dan juga keluarga nya. Mama ingin aku mengetahui seperti apa mas Dani dan keluarga nya!' Guman Marsya di dalam hati.
Marsya memandangi langit - langit kamar nya, di bersyukur karena sang Mama meminta nya untuk menggunakan alat kontrasepsi. Dengan begitu saat waktu nya tiba, dia bisa berpisah dengan mudah dari Dani tanpa harus terikat hubungan karena anak lagi.