NovelToon NovelToon
Possessive Wife

Possessive Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Romansa / Komedi
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: SNOWBIRDS

Dimas hanyalah seorang pegawai kantoran biasa yang hidup dalam rutinitas yang melelahkan. Namun, di balik pintu apartemennya, menanti sebuah rahasia yang tidak akan dipercayai oleh siapapun: seorang istri cantik luar biasa bernama Linda, yang berasal dari ras siluman rubah.

Linda bukan sekadar istri biasa. Ia memiliki kasih sayang yang meluap-luap, namun berbanding lurus dengan sifatnya yang sangat posesif. Baginya, keterlambatan Dimas pulang kerja adalah "kejahatan besar" yang hanya bisa ditebus dengan perhatian penuh dan kemanjaan yang intens. Linda tidak segan-segan menggunakan pesona silumannya untuk memastikan Dimas tidak pernah berpaling darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SNOWBIRDS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32

...~ Sudut Pandang Dimas ~...

Malam di apartemen nomor 404 seharusnya menjadi muara ketenangan setelah badai "insiden ekor" di rumah sakit tadi pagi. Namun, saat aku merebahkan tubuh di atas kasur, aku menyadari bahwa medan perang yang sebenarnya bukan hanya melawan klan rubah atau Genta, melainkan melawan labirin emosi seorang istri siluman yang sedang hamil tujuh bulan.

Di tengah kasur kami yang luas, kini berdiri sebuah barikade. Bukan barikade sihir, melainkan sebuah guling full-body berbentuk huruf U yang sangat besar, empuk, dan berwarna abu-abu monokrom. Aku membelinya minggu lalu atas saran dokter untuk menyangga perut Linda dan mengurangi nyeri punggungnya. Guling itu sangat efektif, terlalu efektif, sampai-sampai aku merasa keberadaan ku di atas kasur ini hanyalah sebagai aksesori pelengkap.

“Tukang tidur,” Keluh ku sembari mencoba mencari celah untuk menyapa Linda. “Aku menghabiskan dua jam memilih bahan katun organik terbaik agar dia nyaman. Tapi sekarang, benda empuk ini terasa seperti pihak ketiga dalam pernikahan kami. Aku bahkan tidak bisa melihat wajah Linda karena tertutup gundukan dakron ini.”

Aku mencoba menggeser sedikit ujung guling itu agar bisa meraih tangan Linda. Namun, begitu jari ku menyentuh kainnya, sebuah eraman rendah terdengar dari balik guling.

"Jangan sentuh dia, Dimas," suara Linda terdengar dingin, hampir seperti ancaman predator.

Aku tersentak. "Hah? Jangan sentuh siapa? Gulingnya?"

Linda muncul dari balik "benteng" abu-abu itu. Rambutnya berantakan, matanya yang hijau berkilat tajam dalam kegelapan kamar. Ia memeluk guling itu dengan posesif, kaki dan ekor-ekornya melilit benda itu seolah-olah guling itu adalah harta karun klan yang paling berharga.

"Kau menatapnya tadi," tuduh Linda.

"Menatap apa? Aku hanya ingin memindahkan ujungnya sedikit agar bisa memeluk mu, Sayang," jelas ku dengan nada sepelan mungkin.

"Bohong!" Linda mendengus, ekornya yang sembilan yang kini dibiarkan bebas karena kami di rumah mengibas-ngibas gelisah di bawah selimut. "Tadi malam, aku melihat mu. Kau memeluk guling ini lebih erat daripada kau memeluk ku. Kau bahkan mengelus permukaannya saat kau mengira aku sudah tidur. Kau... kau berselingkuh dariku dengan benda mati ini!"

Aku terdiam. Otak manajer ku mencoba memproses data ini. “Berselingkuh dengan guling? Apakah hormon kehamilan ini baru saja menciptakan genre baru dalam drama rumah tangga kami?”

"Linda, sayang... guling itu benda mati. Aku membelinya supaya punggung mu tidak pegal. Aku mengelusnya karena aku ingin memastikan teksturnya tetap lembut untuk kulit mu dan Elkan," aku mencoba mendekat, merangkak melewati guling itu.

"Jangan mendekat!" Linda memasang kuda-kuda, menggunakan guling itu sebagai perisai. "Kau lebih suka dia, kan? Dia tidak pernah mual-mual pagi hari. Dia tidak punya sembilan ekor yang merepotkan. Dia tidak punya hormon yang meledak-ledak. Dia hanya... empuk dan diam! Kau lebih suka yang diam, kan?"

"Tentu saja tidak!" aku hampir berteriak karena frustrasi yang lucu. "Aku lebih suka istri ku yang cerewet dan punya ekor daripada guling buatan pabrik ini!"

"Kalau begitu kenapa kau membelinya?!" Linda mulai terisak. Air mata rubahnya mulai menggenang. "Kau membelinya untuk menggantikan posisi ku sebagai pelukan utama mu! Kau ingin aku bergantung pada benda ini agar kau bisa tidur dengan tenang tanpa terganggu oleh tendangan Elkan!"

“Sial,” Keluh ku, rasa bersalah mulai merayap meskipun logika ku berkata ini tidak masuk akal. “Dia merasa terancam oleh benda seharga lima ratus ribu rupiah. Aku harus melakukan diplomasi tingkat tinggi sekarang, atau aku akan tidur di sofa bersama robot vakum malam ini.”

Aku menghela napas panjang, merendahkan suara ku hingga ke frekuensi yang biasanya paling disukai Elkan. Aku merangkak maju, tidak mencoba menyingkirkan guling itu, melainkan memeluk guling itu sekaligus memeluk Linda yang ada di baliknya.

"Linda, lihat aku," kata ku lembut.

Linda menatap ku dari sela-sela bulu ekornya. "Apa?"

"Guling ini adalah asisten ku. Dia adalah alat yang aku tugaskan untuk menjaga mu saat lengan ku mati rasa karena tertindih sembilan ekor mu selama delapan jam," aku mengelus pipinya yang basah. "Dia tidak punya jiwa. Dia tidak punya aroma melati yang membuat ku gila. Dan yang paling penting, dia tidak bisa memberi ku anak yang luar biasa seperti Elkan."

Linda terdiam, isakannya mereda. "Tapi kau tadi mengelusnya..."

"Aku mengelusnya karena aku membayangkan itu adalah kulit mu," bohong ku sedikit demi kebaikan bersama. "Aku sangat merindukan kulit mu, tapi kau bilang tadi sore aku tidak boleh menyentuh mu karena kau merasa gerah."

Wajah Linda memerah. Ia melepaskan lilitan ekornya dari guling itu sedikit demi sedikit. "Benarkah? Kau merindukan ku?"

"Sangat. Aku merasa seperti orang asing di kasur ku sendiri sejak guling raksasa ini datang," aku menarik guling itu dan melemparkannya ke ujung tempat tidur.

"Eh! Tapi punggung ku sakit kalau tidak ada itu!" Linda protes saat gulingnya menjauh.

"Aku akan menjadi guling mu malam ini," kata ku tegas. Aku menyelinap ke posisi guling tadi, membiarkan Linda bersandar di dada ku. Aku menekuk lutut ku agar dia bisa menyandarkan kakinya di atas paha-paha kuat ku. "Satu guling manusia, versi premium, tanpa dakron, tapi punya pelukan hangat."

Linda akhirnya luluh. Ia merapat pada ku, membenamkan wajahnya di leher ku. Kehangatan tubuhnya yang sedikit lebih tinggi dari manusia normal membuat ku merasa tenang. Ekor-ekornya mulai melilit tubuh ku satu per satu, menciptakan kepompong bulu yang sangat nyaman namun juga sangat berat.

"Maafkan aku, Dimas," bisiknya. "Aku tahu aku konyol. Mencemburui guling itu benar-benar level baru dari kegilaan ku."

"Tidak apa-apa. Ini tandanya kau sangat mencintai ku, kan?" aku mengecup puncak kepalanya.

“Komedi ini mungkin melelahkan,” Keluh ku sembari mencoba mengatur napas di bawah beban sembilan ekor Linda yang tebal. “Tapi ini adalah bumbu yang membuat hidup kami tidak membosankan. Siapa lagi pria di dunia ini yang harus bersaing dengan guling untuk mendapatkan perhatian istrinya?”

Keheningan malam kembali menyelimuti. Namun, kedamaian itu tidak bertahan lama.

"Dimas?"

"Ya?"

"Punggung ku benar-benar sakit."

Aku meringis. "Jadi?"

"Ambilkan lagi gulingnya. Tapi kau harus tetap memeluk ku dari belakang. Jadi aku ada di tengah-tengah antara kau dan si guling itu. Seperti sandwich," perintahnya dengan nada yang tak terbantahkan.

Aku tertawa kecil, bangkit sejenak untuk mengambil kembali benda abu-abu raksasa itu. Aku memposisikannya di depan Linda, lalu aku memeluk Linda dari belakang. Sekarang kami bertiga, aku, Linda, dan si guling menjadi satu tumpukan besar di atas kasur.

"Nah, begini lebih baik," gumam Linda puas.

Tiba-tiba, Elkan memberikan tendangan yang cukup keras. Bukan ke arah perut Linda, tapi ke arah punggung ku yang menempel di punggung Linda.

DUM.

"Aduh," aku mengaduh pelan. "Sepertinya Elkan juga setuju dengan formasi sandwich ini."

"Bukan setuju," Linda tertawa kecil. "Dia bilang dia ingin gulingnya juga dipeluk. Dia anak yang adil."

“Anak yang adil atau anak yang sedang dilatih menjadi raja sejak dini?” Keluh ku sembari memejamkan mata. “Besok kami harus mulai packing serius. Keberangkatan ke Merapi sudah di depan mata. Jakarta dengan segala drama gulingnya akan segera kami tinggalkan untuk drama yang lebih besar di lereng gunung.”

Saat aku mulai terlelap, aku merasakan salah satu ekor Linda menyelinap ke bawah lengan ku, menggenggam tangan ku dengan erat.

"Dimas," bisiknya sekali lagi, kali ini dengan nada yang lebih serius. "Terima kasih sudah bertahan dengan ku. Aku tahu aku tidak mudah."

"Kau adalah tantangan paling indah yang pernah aku terima, Linda," jawab ku tulus. "Aku tidak akan menukar mu dengan sejuta guling paling empuk di dunia sekalipun."

Malam itu berakhir dengan harmoni yang aneh namun manis. Di apartemen nomor 404, kecemburuan pada guling telah terselesaikan. Hari bergerak menuju puncaknya, dan aku tahu, tantangan berikutnya tidak akan selembut dakron, tapi selama aku memiliki 'beban' sembilan ekor ini di pelukan ku, aku siap menghadapi apa pun.

“Tidur yang nyenyak, Nyonya Rubah,” batin terakhir ku sebelum benar-benar terlelap. “Besok, petualangan yang sesungguhnya dimulai.”

1
Quinncy Lin
semangat kak😍
༺⬙⃟⛅4329moonluv
mampir kak semangattt💪💪
mary dice
lanjut thor
Del Rosa
baguusss bgtt
100000/10
would recommend
Del Rosa
👍👍👍👍😍
Del Rosa
mampir kak
semangat terus up nyaaa👍👍👍😍😍
જ⁀➴‮‮ ➴ OBOB EJEJ
404 not found
જ⁀➴‮‮ ➴ OBOB EJEJ
pov pak Rt 🤣 banyak banget sudut pandangnya thor ....
mizuno
semangat bikinnya kak
જ⁀➴‮‮ ➴ OBOB EJEJ
ya ampun tajam banget hidungnya .... rubah suka melati jg yah 🫠
જ⁀➴‮‮ ➴ OBOB EJEJ
rubah ini biasanya akan makan jantung manusia.... duhhhhhh si si si cinta ini si si
જ⁀➴‮‮ ➴ OBOB EJEJ
astaga kenapa nomor 404 artinya si ...artinya kematian... duh 😭😭😭😭 revisi nomor kamar deh biar aura novel ni bukan si si si
kertaslusuh: semangat kak ,
total 1 replies
MayAyunda
keren kak 👍
❀ ⃟⃟ˢᵏSang, Senja⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
hayo kena marah kan.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!