Nara Setianingrum, guru SMA berusia 25 tahun yang cantik, anggun, dan teguh berprinsip, menghadapi murid bermasalah bernama Karin Setiawan. Karin adalah adik dari Danu Setiawan, seorang CEO muda berusia 28 tahun yang berpengaruh di dunia bisnis. Karena dimanjakan, Karin tumbuh sombong, seenaknya, dan sering membuat kekacauan di sekolah bersama gengnya: bolos, membully, hingga berkelahi. Banyak guru tak sanggup menghadapi Karin, karena masalah selalu diselesaikan dengan uang atau campur tangan Danu yang dingin dan berkuasa. Namun, Nara berbeda—ia menolak kompromi dan sogokan. Merasa dipermalukan, Karin melapor pada kakaknya. Danu pun bersekongkol menjebak Nara agar malu, namun rencana itu justru terbongkar oleh orang tua Danu. Mereka memaksa Danu menikahi Nara. Dari pernikahan penuh intrik ini, lahirlah perjalanan emosional: keteguhan hati Nara, usaha Danu menemukan cinta sejati, dan akhirnya kesadaran Karin yang berbalik menyayangi kakak iparnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25: Racun dari Balik Jeruji Besi?
Lantai sel penjara wanita itu terasa lembap dan dingin, namun tidak sedingin hati Vanya. Wanita yang dulunya dipuja sebagai ratu sosialita itu kini hanya mengenakan seragam oranye yang kusam. Rambutnya yang dulu selalu tertata rapi oleh penata rambut ternama, kini tampak kusut dan berminyak. Tidak ada lagi parfum niche yang menyengat, hanya bau disinfektan murah dan aroma putus asa yang menyelimuti seluas tiga kali empat meter itu.
Namun, di balik matanya yang cekung, api dendam masih berkobar. Vanya tidak menerima kekalahannya. Baginya, Nara bukan sekadar pemenang dalam cinta, tapi pencuri yang merampas seluruh hidupnya—takhta, martabat, dan pria yang ia anggap sebagai hak miliknya.
"Seseorang ingin menemuimu, Vanya," suara sipir wanita memecah keheningan.
Vanya bangkit dengan langkah gontai menuju ruang kunjungan. Di sana, di balik kaca pembatas, duduk Hendra, pengacara keluarga Setiawan yang dulu sangat setia pada ayahnya, namun kini bekerja secara sembunyi-sembunyi untuk Vanya karena hutang budi masa lalu.
"Bagaimana, Hendra? Apakah mereka bahagia?" tanya Vanya dengan suara serak, hampir menyerupai desisan ular.
Hendra menghela napas, menatap iba pada wanita di depannya. "Danu dan Nara baru saja meresmikan yayasan itu. Kabarnya, hubungan mereka semakin kuat. Danu menjaga Nara seperti memegang permata yang paling berharga."
Vanya tertawa. Sebuah tawa kering yang terdengar menyakitkan. "Cinta? Itu bukan cinta, Hendra. Itu
hanya rasa bersalah Danu yang dibalut romansa murahan. Nara hanyalah parasit yang memanfaatkan keadaan."
Vanya memajukan wajahnya ke arah kaca. "Aku tidak akan membiarkan mereka bernapas lega. Jika aku membusuk di sini, maka Nara harus kehilangan alasannya untuk tersenyum. Aku punya satu kartu terakhir. Ingat berkas lama tentang kantor kecamatan tempat ayah Nara dulu bekerja sebagai pegawai rendahan? Aku tahu rahasia tentang hilangnya dana bantuan sosial sepuluh tahun lalu. Kita akan buat narasi bahwa ayahnya adalah pencuri uang rakyat kecil, dan Nara mendekati Danu untuk menggunakan kekuasaan Setiawan demi menghapus catatan kriminal ayahnya."
Di Mansion Setiawan, suasana masih dipenuhi sisa-sisa kehangatan malam sebelumnya. Danu baru saja turun ke meja makan, mengenakan kemeja santai. Ia melihat Nara sedang membantu pelayan menyiapkan sarapan bubur manado kesukaan Danu.
Danu mendekat dari belakang, melingkarkan lengannya di pinggang Nara, mengabaikan tatapan menggoda dari para pelayan.
"Pagi, istriku," bisik Danu di telinga Nara.
Nara sedikit tersentak, lalu berbalik dengan wajah merona merah. "Pagi, Mas. Masih sakit pundaknya?"
"Hilang seketika setelah melihat senyummu," goda Danu, membuat Nara mencubit pelan lengannya.
Mereka duduk untuk sarapan bersama Karin yang baru saja bergabung. Namun, kedamaian itu hancur saat Andra, asisten setia Danu, masuk dengan wajah pucat. Tangannya memegang sebuah tablet.
"Tuan Danu... Nyonya Nara... kita punya masalah besar," ucap Andra.
Andra meletakkan tablet itu di atas meja. Layarnya menampilkan judul berita utama di sebuah situs berita gosip terkemuka:
"MENANTU SETIAWAN TERNYATA ANAK PENGGELAP DANA? APAKAH PERNIKAHAN INI HANYA TAMENG HUKUM?"
Di bawahnya, terdapat foto Pak Rahardi saat masih menjadi staf administrasi rendahan di kantor kelurahan, disandingkan dengan dokumen palsu yang menuduhnya menggelapkan dana bantuan sosial masyarakat miskin sepuluh tahun silam.
Nara membaca baris demi baris berita itu. Wajahnya perlahan memucat. "Ini... ini fitnah keji. Ayahku hanya seorang pegawai rendah yang jujur. Dia bahkan sering meminjamkan uang pribadinya yang sedikit itu untuk warga yang kesulitan. Dia tidak pernah menyentuh uang negara sesn pun!"
Belum sempat Danu menenangkan Nara, suara roda kursi roda terdengar keras. Tuan Surya keluar dari ruangannya dengan ekspresi penuh amarah. Di tangannya, ia memegang cetakan berita tersebut.
"Nara! Danu! Apa lagi ini?!" suara Tuan Surya menggelegar.
Danu segera berdiri. "Papa, tenanglah. Ini hanya fitnah dari media."
"Fitnah?!" Tuan Surya menatap Nara dengan pandangan curiga yang menyakitkan. "Aku sudah menerima menantu dari kalangan rakyat biasa, aku sudah menerima latar belakang ayahnya yang hanya pegawai rendahan. Tapi aku tidak bisa menerima jika nama Setiawan dikaitkan dengan pencuri uang rakyat kecil.
Nara gemetar. Air matanya jatuh. "Pa... ayah saya tidak pernah melakukan itu. Beliau hanya staf administrasi biasa yang hidup sederhana. Jika beliau memang menggelapkan dana, mengapa rumah kami masih kecil dan bocor sampai sekarang?"
"Mungkin uangnya kamu gunakan untuk biaya kuliahmu? Atau untuk memoles dirimu agar bisa masuk ke rumah ini?" ucap Tuan Surya tajam. Penyakit jantungnya membuatnya mudah tersulut emosi.
Danu menarik Nara ke belakang tubuhnya. "Papa! Cukup! Jangan menghina istriku. Aku sendiri yang akan membuktikan bahwa ini adalah permainan kotor Vanya."
Nara lari ke kamarnya, jatuh terduduk di lantai. Ia merasa sesak. Kebahagiaannya seolah menjadi dosa.
Inilah sabotase terakhir Vanya. Menyerang kehormatan Ayahnya. Bagi Nara, ia bisa tahan jika dihina sebagai wanita murahan, tapi ia tidak sanggup melihat ayahnya yang renta dituduh sebagai pencuri.
Ponsel Nara bergetar hebat. Ratusan pesan masuk dari orang-orang yang mempertanyakan moralitasnya.
“Pantas saja rela jadi istri kontrak, ternyata mau cuci uang ayahnya?”
“Anak pegawai rendahan tapi gaya hidupnya di mansion, hasil uang haram?”
Nara merasa dunianya runtuh. Ia merasa tidak layak lagi berada di sisi Danu jika kehadirannya terus membawa aib bagi suaminya.
Sore harinya, Danu mendatangi penjara. Di ruang kunjungan yang suram, Vanya muncul dengan
senyum kemenangan yang menjijikkan.
"Bagaimana rasanya, Danu? Apakah istrimu masih terlihat 'suci' sekarang setelah dunia tahu ayahnya adalah pencuri kelas teri?"
Danu menatap Vanya dengan dingin. "Kamu salah sasaran, Vanya. Ayah Nara memang hanya pegawai rendahan, tapi justru karena posisinya yang rendah, dia tidak punya akses ke dana besar itu. Aku sudah mengirim tim audit ke kantor lama Pak Rahardi."
Danu meletakkan sebuah map di atas meja pembatas. "Hendra sudah mengaku. Aku memberinya pilihan: Masuk penjara bersamamu karena manipulasi dokumen, atau memberitahuku siapa yang menyuruhnya. Dia menyerahkan semua bukti bahwa kamu yang merekayasa berkas itu."
Danu mendekatkan wajahnya ke kaca. "Dan satu lagi... aku menemukan fakta bahwa sepuluh tahun lalu, justru ayahmu-lah yang menggunakan perusahaan cangkang untuk menyedot dana bantuan itu, dan menjadikan staf rendah seperti Pak Rahardi sebagai kambing hitam. Aku akan membuka kasus lama ini. Bukan hanya kamu yang akan membusuk di sini, tapi nama baik keluarga besarmu akan hancur selamanya."
Wajah Vanya berubah drastis. Senyumnya hilang, digantikan oleh ketakutan yang nyata. "Kamu tidak akan berani, Danu! Itu akan menghancurkan reputasi bisnis kita juga!"
"Demi Nara, aku berani membakar seluruh duniaku," ucap Danu pelan namun mematikan.
Danu kembali ke mansion. Ia menemukan Nara sedang mengemasi pakaiannya ke dalam tas kain kecil tas yang sama yang ia bawa saat pertama kali datang ke rumah ini.
"Mau ke mana, Nara?" tanya Danu, suaranya parau.
Nara menoleh, matanya merah karena terlalu banyak menangis. "Aku ingin pulang ke rumah Ayah, Mas. Aku tidak ingin keberadaanku di sini membuat Papa sakit dan namamu hancur. Aku hanya anak pegawai rendahan yang membawa masalah bagi kalian."
Danu melangkah cepat, merebut tas itu dari tangan Nara dan melemparnya ke lantai. Ia menarik Nara ke dalam pelukannya, mendekapnya dengan sangat erat seolah tak ingin melepaskannya lagi.
"Jangan pernah berpikir untuk pergi," bisik Danu. "Aku sudah mengurus semuanya. Besok, seluruh dunia akan tahu bahwa ayahmu adalah pahlawan yang sebenarnya, yang selama ini diam karena diancam. Kamu bukan membawa masalah, Nara. Kamu membawa cahaya. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun mematikan cahaya itu."
Nara menangis tersedu-sedu di dada Danu. Rasa aman yang diberikan pria itu perlahan-lahan meruntuhkan dinding ketakutannya.
Keesokan harinya, konferensi pers besar diadakan. Danu sendiri yang memimpin, menunjukkan bukti-bukti otentik yang membersihkan nama Pak Atmadja. Tuan Surya, yang akhirnya menyadari kesalahannya, meminta maaf secara terbuka kepada Nara di depan seluruh keluarga.
Di dalam selnya, Vanya berteriak histeris saat televisinya menayangkan berita tentang lingkungan nama baik keluarga Rahardi. Ia menyadari satu hal yang terlambat: Dengan mencoba menghancurkan Nara, ia justru membuat Danu semakin mencintai istrinya secara ugal-ugalan.
Malam itu, di kamar mereka, Danu memeluk Nara dari belakang saat mereka menatap bintang.
"Mas..." bisiknya
"Ya, Sayang?"
"Terima kasih sudah tidak malu memiliki istri yang ayahnya hanya pegawai rendahan."
Danu membalikkan tubuh Nara, mencium keningnya dengan penuh khidmat. "Jabatan itu hanya label, Nara. Tapi kejujuran ayahmu adalah kekayaan yang tidak dimiliki keluargaku sebelumnya. Aku bangga menjadi menantunya, dan aku lebih bangga lagi menjadi suamimu."
Di bawah langit malam, sabotase terakhir Vanya resmi gagal total. Cinta mereka kini tidak lagi hanya sekadar perasaan, tapi sebuah benteng yang tak tergoyahkan oleh fitnah mana pun.