NovelToon NovelToon
Darah Ratu 1000 Tahun

Darah Ratu 1000 Tahun

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Perperangan / Balas Dendam
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Naomihanaaya

Seorang Raja Vampir yang kehilangan ratunya di medan perang, lalu menunggu 1000 tahun untuk menemukan reinkarnasi istrinya di dunia manusia. Namun ketika ia menemukannya kembali, sang ratu tidak lagi mengingat masa lalu mereka, sementara ancaman perang antara bangsa vampir dan manusia serigala kembali muncul.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naomihanaaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 Ancaman Ditepi Hutan

Siang itu, suasana di desa terasa aneh. Meskipun matahari bersinar cerah, udara membawa ketegangan yang tidak terlihat. Paman dan bibi Alana duduk di teras rumah mereka dengan wajah tegang. Mata mereka sering menatap jalan setapak menuju hutan, berharap melihat Alana dan Arlan kembali. Namun waktu terus berjalan, dan langkah kaki mereka tidak kunjung muncul.

“Sudah terlalu lama,” ujar bibi Alana dengan suara cemas, tangannya gemetar memegang sapu tangan.

Paman menghela napas panjang. “Aku mulai khawatir. Biasanya mereka tidak akan lama seperti ini.”

Bibi menatapnya penuh kekhawatiran. “Apa kita seharusnya memanggil Edward?”

Paman menggeleng. “Bukan saat ini. Kita harus berpikir lebih dulu.”

Namun di dalam pikiran Edward, ketenangan itu hanyalah ilusi. Sejak beberapa menit lalu, ia telah merasakan sesuatu yang aneh. Ikatan dengan Alana—yang biasanya begitu jelas berkat kalung milik Ratu Vampir—tiba-tiba melemah.

Ia menatap ke arah hutan yang terlihat dari jendela rumah kakek. Suasana yang damai di desa seakan menipu, menyembunyikan ancaman yang sudah berjalan di luar pandangan mereka.

Edward menutup matanya sejenak, mencoba mengendus aroma yang biasa membimbingnya menuju Alana. Namun aroma itu samar, terlalu samar. Ia membuka matanya, raut wajahnya berubah serius.

“Dia… tidak berada di desa,” gumamnya.

Kakek, yang duduk di kursi rotan dekat meja, menatap Edward dengan tenang. “Kau merasakannya?”

Edward mengangguk. “Ya. Tapi… aku tidak bisa melacaknya sepenuhnya. Aku masih belum sepenuhnya menjadi vampir. Kalung yang Alana lepaskan tadi… itulah yang biasanya membuatku bisa merasakannya dengan jelas. Tanpa itu, aku hanya bisa mengandalkan sedikit aroma, dan itu tidak cukup akurat.”

Kakek menghela napas panjang. “Aku sudah menduga ini akan terjadi. Anak-anak terkadang bertindak tanpa memikirkan bahaya. Dan sekarang mereka berada di luar batas perlindungan.”

Edward mengerutkan kening. “Mereka melewati segel? Mereka… di tepi hutan?”

“Ya. Aku kira ini sudah bisa terjadi sejak kemarin,” kata kakek. “Dan sekarang mereka bisa saja dalam bahaya.”

Paman dan bibi Alana, yang sejak tadi mendengar percakapan itu dari dekat, tampak semakin gelisah. “Apa maksudnya, Kakek?” tanya paman, suaranya cemas.

Edward berbalik, tatapannya tajam. “Alana dan Arlan sudah terlalu jauh. Aku harus segera menemukannya.”

Kakek menatap Edward dengan penuh keyakinan. “Aku tahu kau bisa melindungi mereka. Tapi mereka harus tetap aman dari orang lain. Dan jangan sampai identitasmu terbongkar.”

Edward mengangguk. “Aku mengerti.”

Mereka semua kemudian keluar dari rumah kakek, menyusuri jalan-jalan desa yang mulai lengang. Paman dan bibi memanggil-manggil nama Alana dan Arlan, tetapi hanya gema suara mereka yang kembali. Setiap langkah yang mereka ambil semakin menimbulkan ketegangan.

“Edward… kau ikut?” tanya paman, suaranya hampir bergetar.

Edward mengangguk pelan. “Aku akan mencari mereka. Kalian tetap di batas desa. Aku akan memastikan mereka aman.”

Kakek tersenyum samar. “Percayalah padanya. Edward akan menjaga mereka.”

Sementara itu, Edward mulai bergerak. Dengan satu lompatan cepat, kekuatan vampirnya membuatnya melesat di antara pohon-pohon. Namun kali ini, ia sengaja menahan sebagian dari kekuatannya. Ia tidak ingin Alana atau Arlan merasa takut atau curiga dengan kemampuannya. Setiap gerakan dihitung. Keheningan hutan menjadi saksi langkahnya yang nyaris tidak terdengar.

Di kejauhan, aroma yang samar mulai menuntunnya. Bukan hanya aroma Alana, tetapi juga bau asing—bawahan Raja Serigala yang mengintai mereka. Edward memperlambat langkah, menahan diri dari dorongan untuk langsung menyerang. Ia harus menilai situasi terlebih dahulu.

Di tepi hutan, Arlan berusaha menahan napasnya. Darah mengalir dari luka-luka di lengannya akibat serangan serigala. Ia terus melindungi Alana, menempatkan tubuhnya di depan setiap ancaman yang muncul. Alana menatapnya dengan panik, namun ia tetap tenang di sisi Arlan, mencoba memberikan dukungan.

“Tahan, Lan,” ujar Alana pelan, tangannya menyentuh lengan Arlan. “Aku di sini. Jangan menyerah.”

Arlan tersenyum tipis meski kesakitan. “Aku tidak akan membiarkan mereka menyakitimu, Ana. Tidak akan.”

Edward menyaksikan dari jarak beberapa pohon. Tatapannya tajam, menilai setiap gerakan serigala. Ia tahu bahwa jika ia menyerang dengan kekuatan penuh sebagai Raja Vampir, Alana atau bahkan Arlan bisa panik. Maka ia memilih cara lain.

Menyelinap ke dekat mereka, Edward muncul di depan Arlan dan Alana—tanpa memperlihatkan aura vampirnya. Ia sengaja menahan energi, menampakkan dirinya sebagai petarung biasa. Serigala yang melihatnya langsung berhenti, insting mereka tahu sesuatu berbeda. Mereka bisa merasakan kekuatan yang jauh lebih besar daripada manusia biasa.

Edward mengangkat tangan pelan, menunjukkan sikap tenang namun penuh kewaspadaan. “Jangan khawatir. Aku akan mengurus ini,” katanya, suara rendah namun jelas.

Para serigala menatapnya, rahang mereka sedikit mengatup. Mereka tahu—meskipun Edward tidak memperlihatkan wujud aslinya, aura yang dipancarkan tetap tidak biasa. Insting mereka menyadari bahwa ini bukan manusia biasa.

Di belakang mereka, Arlan masih mencoba menahan serangan, tubuhnya penuh luka. Namun ia terus bertahan, menempatkan Alana di belakangnya. Alana menunduk sejenak, menyadari bahwa tanpa kalungnya, ikatan mereka dengan Edward menjadi lemah. Ia tidak bisa merasakan kehadiran Edward dengan jelas, hanya dapat mengandalkan perasaan dan keyakinan.

Edward melangkah lebih dekat, setiap gerakan terkalkulasi dengan sempurna. Ia menggunakan kemampuan fisiknya—kelincahan, kecepatan, dan kekuatan—tanpa menimbulkan kepanikan. Serigala mulai mundur perlahan, sadar bahwa lawan mereka bukan manusia biasa.

“Pergi sekarang,” Edward memerintah, suaranya tegas namun tidak membentak. “Jika kalian ingin hidup, tinggalkan tempat ini.”

Beberapa serigala menggonggong rendah, menatap Arlan dan Alana dengan tatapan penuh kebencian, tetapi insting mereka menahan. Mereka tahu, kekuatan yang ada di depan mereka bisa menghancurkan mereka jika mereka ceroboh.

Sementara itu, di batas desa, paman dan bibi menunggu dengan napas tertahan. Kakek berdiri di samping mereka, wajahnya tenang. Meskipun semua orang lain cemas, ia tahu bahwa Edward mampu menjaga mereka. Ia menatap ke arah hutan, matanya penuh keyakinan.

Edward tidak terburu-buru. Ia memastikan bahwa serigala benar-benar mundur sebelum melangkah ke sisi Alana dan Arlan. Ia menempatkan dirinya di antara mereka, menatap ke arah serigala yang masih menunggu di kejauhan.

Arlan tersenyum tipis melihat Edward, meski tubuhnya lemah. “Aku pikir… kau datang terlambat,” ujarnya, suara parau.

Edward tersenyum samar. “Aku datang tepat pada waktunya.”

Alana menatap Edward, matanya penuh rasa lega. Namun ia masih menahan perasaan bersalah karena melepas kalungnya. Edward mengerti hal itu, namun ia tidak menyinggungnya. Ia hanya memberikan satu senyum kecil sebagai penghiburan.

Edward kemudian memeriksa luka Arlan dengan cepat, menggunakan kemampuan fisiknya untuk menahan pendarahan sementara. Arlan mengerang sedikit, tapi ia masih bisa menahan rasa sakit.

“Baiklah,” kata Edward akhirnya, tatapannya beralih ke Alana. “Kita harus kembali ke desa. Sekarang.”

Mereka mulai bergerak, Edward selalu berada di sisi mereka, memantau setiap gerakan di sekitar hutan. Serigala yang masih berkeliaran mundur lebih jauh, tidak berani mendekat lagi.

Di batas desa, paman dan bibi menyambut mereka dengan panik. “Alana! Arlan!” seru paman, langkahnya cepat mendekat.

Alana tersenyum tipis, menenangkan mereka. “Kami baik-baik saja,” ujarnya. Namun matanya tetap menatap Edward, rasa lega dan kekhawatiran bercampur di dalamnya.

Kakek berdiri di samping mereka, matanya menatap Edward. “Aku tahu kau akan menjaga mereka dengan aman,” katanya tenang.

Edward hanya mengangguk. “Semua sudah selesai… untuk saat ini.”

Namun di balik itu, Edward tahu bahwa ancaman masih jauh dari selesai. Bawahan Raja Serigala sudah mengetahui posisinya. Dan satu hal pasti—perjuangan mereka untuk melindungi Alana baru saja dimulai.

Langkah mereka kemudian menyusuri jalan setapak menuju desa, setiap orang menahan napas. Arlan masih terluka, Alana tetap di sisi Edward, dan paman serta bibi terus memastikan mereka aman. Kakek tetap tenang, mengetahui bahwa meskipun situasi genting, keberadaan Edward adalah perlindungan terbaik yang mereka miliki.

Edward menatap ke arah hutan yang semakin jauh di belakang mereka. Aroma serigala masih samar di udara, namun ia yakin mereka akan bertahan untuk saat ini. Namun pikirannya tetap fokus—perlindungan terhadap Alana tidak boleh berhenti. Ia harus memastikan bahwa apapun yang terjadi, tidak ada yang bisa mengancamnya.

Dan meskipun Arlan terluka, meskipun Alana melepas kalungnya, Edward tetap berada di sisi mereka, bersumpah dalam hati untuk menjaga mereka… sampai batas terakhir kemampuan dan kekuatannya.

Hutan kembali sunyi, tapi ancaman tetap mengintai. Edward tahu, pertempuran ini hanyalah awal dari sesuatu yang jauh lebih besar. Dan ia siap untuk itu.

1
Naomi🌸
😘
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!