menceritakan dua orang yang ingin bebas dari takdir mereka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon virgilius theodoro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 24
BAB 24: Reruntuhan Hati di Dua Benua
Malam jatuhan di Tokyo, namun bagi Hana Asuka, kegelapan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Di dalam Bridal Suite Hotel Imperial yang super mewah, aroma ribuan bunga lili putih yang tadinya terasa harum, kini menyesakkan napasnya. Kamar itu didesain dengan dominasi warna emas dan putih, melambangkan kesucian dan kemewahan, namun bagi Hana, itu adalah penjara emas yang ia bangun sendiri.
Ia berdiri di depan cermin besar, masih terbalut gaun pengantin sutra putih yang megah. Perlahan, dengan tangan bergetar, ia melepas mahkota berlian dari kepalanya. Benda itu terasa sangat berat, seolah membebani seluruh jiwanya. Ia menatap pantulannya; matanya yang tajam di kantor kini meredup, menyembunyikan badai kepedihan yang nyaris meledak.
Pintu kamar mandi terbuka. Kaito Tanaka keluar, mengenakan jubah mandi sutra berwarna abu-abu. Pria itu tampak bugar, wajahnya memancarkan kebahagiaan murni yang tulus. Ia mendekati Hana, matanya menatap Hana dengan penuh pemujaan.
"Hana," panggil Kaito lembut, suaranya bergetar oleh kegembiraan. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Hana dari belakang, mengecup bahu Hana yang terbuka. "Kau adalah wanita tercantik di dunia malam ini. Aku masih tidak percaya kau akhirnya menjadi istriku."
Tubuh Hana menegang seketika. Setiap sentuhan Kaito terasa asing, menolak untuk diterima oleh kulitnya yang masih merindukan sentuhan kasar namun penuh gairah dari Ren. Aroma parfum Kaito yang maskulin dan segar sama sekali tidak bisa menggantikan aroma kayu cendana dan bensin yang selalu melekat pada tubuh pria yang sesungguhnya ia cintai.
Kaito memutar tubuh Hana agar menghadapnya. Ia menunduk, mencoba mencium bibir Hana, bibir yang beberapa bulan lalu dicium dengan penuh kerinduan oleh Aurelius di Paris.
Hana tersentak. Ia secara naluriah memalingkan wajahnya, menyebabkan ciuman Kaito mendarat di pipinya.
Kaito tertegun. Kebahagiaan di wajahnya sedikit memudar, digantikan oleh kebingungan. "Ada apa, Hana? Apakah kau... kau tidak bahagia?"
Hana memaksakan sebuah senyum tipis, senyum palsu paling menyakitkan yang pernah ia buat. Ia meletakkan tangannya di dada Kaito, menahan pria itu agar tidak mendekat lebih jauh.
"Maafkan aku, Kaito," ucap Hana, suaranya parau dan lemah. "Hari ini sangat... sangat panjang. Acara tadi sungguh melelahkan, dan kepalaku rasanya ingin pecah. Aku... aku membutuhkan istirahat. Bisakah kita... menundanya? Hanya untuk malam ini?"
Kaito menatap mata Hana lama. Ia melihat kelelahan di sana, kelelahan yang nyata, namun ia tidak menyadari bahwa itu adalah kelelahan jiwa, bukan fisik. Kaito adalah pria yang baik, dan ketulusannya membuatnya tidak ingin memaksakan kehendak.
Kaito menghela napas panjang, mencoba menyembunyikan kekecewaannya. Ia tersenyum lembut, mengelus rambut Hana. "Tentu saja, Sayang. Aku mengerti. Kesehatanmu adalah yang paling utama. Beristirahatlah. Kita memiliki seumur hidup untuk melakukan ini."
Kaito mengecup kening Hana, sebuah kecupan yang penuh hormat dan kasih sayang, namun bagi Hana, itu terasa seperti cap kepemilikan yang sah dari seorang pria yang bukan pemilik hatinya.
"Tidurlah, Hana. Aku akan menemanimu," ucap Kaito sambil menuntun Hana menuju ranjang king-size yang bertabur kelopak bunga lili.
Hana merebahkan dirinya, memunggungi Kaito. Ia memejamkan mata, membiarkan air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya tumpah, membasahi bantal sutra. Di dalam kegelapan kamar pengantin itu, Hana Asuka menangis dalam diam, meratapi kebebasan yang ia beli dengan harga kehormatannya sendiri, dan meratapi pria yang baru saja ia hancurkan di bar Roppongi.
Sementara itu, di bar Vesper di Roppongi, malam telah berubah menjadi perjamuan dosa dan luka.
Aurelius Renzo terkapar di sofa beludru merah yang mewah. Pakaian mahalnya sudah berantakan, noda anggur merah menghiasi kemeja putihnya. Wajahnya yang tampan dan angkuh kini tampak kacau, matanya tertutup rapat, napasnya berat dan tidak teratur oleh alkohol dan nikotin yang berlebihan. Puluhan puntung rokok berserakan di asbak kristal di depannya, dan beberapa botol anggur kosong tergeletak di lantai.
Di sampingnya, wanita simpanan mahal yang tadi ia sewa tertidur di bahunya. Wanita itu tampak puas, tidak menyadari bahwa pria yang mendekapnya semalaman sedang sekarat di dalam jiwanya sendiri.
Julian berdiri di sudut bar, menatap kakaknya dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak pernah melihat Aurelius serapuh ini. Di Berlin, Aurelius adalah gunung es yang tak tersentuh. Di Paris, dia adalah api yang membara. Tapi di Tokyo malam ini, dia hanyalah abu.
"Yoto," panggil Julian, suaranya bergetar. "Kita harus membawanya pergi dari sini. Dia bisa mati jika terus begini."
Yoto, dengan wajah kaku seperti biasa, melangkah mendekati Aurelius. Ia mengguncang bahu tuannya perlahan.
"Tuan Muda. Tuan Muda Aurelius," panggil Yoto.
Aurelius membuka matanya sedikit. Matanya merah dan buram. Ia menatap Yoto, lalu menatap wanita di sampingnya dengan tatapan jijik yang murni. Ia mendorong wanita itu hingga terbangun dan terjatuh dari sofa.
"Bawa... bawa aku pergi, Yoto," suara Aurelius serak, hampir tidak terdengar. Ia mencoba berdiri, namun lututnya lemas, dan ia kembali jatuh ke sofa.
"Ke mana, Tuan Muda? Ke hotel?" tanya Yoto.
Aurelius menggelengkan kepala. Air mata keputusasaan yang tulus akhirnya jatuh dari sudut matanya, membasahi pipinya yang kotor. "Tidak. Tidak hotel. Bawa aku pulang. Pulang ke Eropa. Aku tidak ingin berada di kota sialan ini satu detik lagi."
Aurelius menatap langit-langit bar, bayangan Hana yang tersenyum di altar kembali menghantuinya. "Dia sudah mati bagiku, Yoto. Hana sudah mati. Bawa aku pulang ke nerakaku di Berlin."
Yoto menatap Julian, lalu mengangguk. Tanpa banyak bicara, Yoto dan Julian membopong tubuh Aurelius yang lunglai. Wanita simpanan itu berteriak menagih bayaran, namun Yoto hanya melemparkan tumpukan uang Yen ke wajah wanita itu tanpa menoleh.
Mereka membawa Aurelius keluar dari bar, melewati tatapan heran para staf Vesper yang baru saja menyaksikan kehancuran sang kaisar. Mereka memasukkan Aurelius ke dalam mobil, dan limosin itu melesat menuju Bandara Haneda.
Sepanjang perjalanan, Aurelius mengigau. Ia memanggil nama Hana, lalu memakinya, lalu memanggil namanya lagi dengan penuh rindu. Ia adalah pria yang sedang berada di puncak penderitaan ego dan cintanya.
Di bandara, jet pribadi keluarga Hohenzollern sudah siap untuk lepas landas. Yoto dan Julian membopong Aurelius masuk ke dalam kabin. Begitu pintu pesawat tertutup dan jet itu melesat membelah langit Tokyo yang gelap, Aurelius akhirnya pingsan karena kelelahan emosional dan keracunan alkohol. Pesawat itu terbang menuju barat, membawa pulang seorang pewaris takhta yang hatinya telah tertinggal di sebuah altar di Tokyo.
Pagi hari di Berlin. Salju tipis turun, menutupi kastil megah keluarga Hohenzollern dengan selimut putih yang dingin. Atmosfer di dalam kastil terasa kaku dan menekan.
Di ruang tamu utama, Sophia duduk di kursi kebesaran, menyesap teh paginya dengan anggun. Ia mengenakan gaun sutra berwarna biru tua yang menunjukkan kelasnya sebagai calon istri kaisar. Namun, di balik keanggunannya, ada kecemasan yang mendalam. Ia tahu Aurelius pergi ke Tokyo tanpa izin ayahnya, dan ia takut apa yang terjadi di sana akan menghancurkan aliansi mereka.
Pintu besar aula terbuka. Yoto dan Julian melangkah masuk, membopong tubuh Aurelius.
Sophia tersentak. Cangkir teh di tangannya nyaris jatuh. Ia melihat Aurelius. Pria yang biasanya tampil sempurna, kini tampak seperti gelandangan mewah. Rambutnya berantakan, wajahnya kotor, pakaiannya kusut dan bernoda, dan aroma alkohol serta rokok yang menyengat langsung memenuhi ruangan.
"Aurelius!" teriak Sophia, langsung berdiri dan berlari mendekati tunangannya. Ia tidak memedulikan aroma busuk yang memancar dari tubuh Aurelius. Ia langsung memeluk Aurelius dengan posesif.
"Ada apa denganmu, Sayang? Apa yang terjadi di Tokyo? Siapa yang melakukan ini padamu?" tanya Sophia panik, air mata kecemasan mulai mengalir di wajahnya.
Aurelius tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menatap Sophia dengan mata yang merah dan buram, namun di balik keburaman itu, ada rasa takut yang mendalam—ketakutan akan sendirian di dunia yang kejam ini.
Aurelius, yang tidak pernah menunjukkan kelembutan murni pada Sophia, tiba-tiba membalas pelukan wanita itu. Ia memeluk Sophia dengan sangat erat, pelukan keputusasaan seorang anak kecil yang takut akan kegelapan. Ia menyembunyikan wajahnya di bahu Sophia, dan tubuhnya mulai bergetar hebat.
Aurelius menangis. Ia menangis dengan suara parau yang menyedihkan, melepaskan seluruh rasa sakit, pengkhianatan, dan kehancuran ego yang ia tahan selama di Tokyo. Ia menangis karena ia menyadari bahwa Hana benar-benar telah pergi, dan ia sekarang terjebak di Eropa, di penjara emas yang ia benci, bersama wanita yang tidak ia cintai namun adalah satu-satunya pelindungnya sekarang.
Sophia tertegun. Ia belum pernah melihat Aurelius menangis. Pria yang selama ini dingin dan mendominasi, kini menangis di pelukannya seperti anak kecil yang terluka. Rasa cemburu Sophia pada "wanita di Tokyo" seketika berganti dengan rasa iba dan posesif yang luar biasa. Ia merasa telah "menang" karena di saat Aurelius hancur, dialah yang ada di sana untuk memeluknya.
Sophia menepuk-nepuk punggung Aurelius dengan lembut, memberikan penenang yang tidak pernah ia berikan sebelumnya. "Ssst... tidak apa-apa, Sayang. Aku di sini. Aku di sini bersamamu. Jangan takut."
Di tengah tangisnya, Aurelius berbisik dengan suara yang patah. "Sophia... Sophia, jangan tinggalkan aku. Tolong, jangan tinggalkan aku sendirian di sini."
Sophia mengangguk dengan tegas, air matanya sendiri mengalir deras. Ia mengeratkan pelukannya. "Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Aurelius. Tidak pernah. Aku bersumpah. Aku akan selamanya bersama mu."
Aurelius perlahan tenang di pelukan Sophia. Ia merasa aman, meskipun keamanan itu palsu. Ia merasa terlindungi, meskipun perlindungan itu adalah penjara.
Sophia menoleh pada Yoto yang berdiri kaku di belakang mereka. "Yoto, bawa dia ke kamar. Sekarang."
Yoto mengangguk. Ia dan Julian kembali membopong tubuh Aurelius yang lunglai menuju kamar utama. Sophia mengikuti dari belakang, tidak membiarkan Aurelius lepas dari pandangannya.
Mereka membawa Aurelius ke kamar tidurnya yang super mewah, dengan tempat tidur king-size yang dilapisi seprai sutra hitam. Yoto menidurkan tubuh Aurelius di ranjang tersebut, melepaskan sepatu botnya yang kotor.
Sophia duduk di tepi ranjang. Ia mengelus rambut Aurelius yang berantakan dengan sangat lembut. Ia menatap wajah tunangannya yang kaku dan menyedihkan, namun di matanya, Aurelius tetaplah pria paling tampan dan berkuasa di dunia.
Aurelius perlahan tertidur, kelelahan emosional akhirnya mengambil alih tubuhnya. Pikirannya tidak lagi di Tokyo, tidak lagi di altar, tidak lagi di bar. Pikirannya sekarang kosong, tertelan oleh kegelapan dan alkohol.
Sophia terus mengelus rambut Aurelius, berbisik lembut di telinganya. "Tidurlah, Sayang. Aku tidak akan pergi. Aku akan selamanya bersama mu. Aku akan melindungimu dari dunia, dan dari dirimu sendiri."
Malam di Berlin kembali sunyi, namun di dalam kastil Hohenzollern, takdir baru telah tertulis. Kaisar yang hancur telah menyerahkan dirinya pada penjara emasnya, dan wanita yang mencintai takhtanya kini memiliki tubuhnya sepenuhnya. Perang dengan Tokyo mungkin berakhir dengan kekalahan ego Aurelius malam ini, namun perang yang sesungguhnya di Eropa, di antara intrik perbankan dan kekuasaan, baru saja dimulai dengan Aurelius yang kini menjadi sandera hatinya sendiri.