NovelToon NovelToon
Cinta Yang Kupaksa Kau Benci

Cinta Yang Kupaksa Kau Benci

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Cinta Murni / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:90.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

“Kita cerai.”
Sepuluh tahun pernikahan hancur oleh satu kalimat dingin dari Kaisyaf. Pria yang dulu menunggu Ayza selama empat tahun.

Pria yang pernah menjadi rumahnya itu kini berubah menjadi orang asing. Ia jarang pulang, menjauh dari keluarganya, bahkan meninggalkan jejak yang seolah membuktikan bahwa ia memiliki wanita lain.

Namun Ayza tidak pergi. Ia bahkan rela dimadu asalkan suaminya tidak meninggalkannya.

Fahri, adik angkat yang diam-diam mencintai Ayza sejak lama, tak tahan melihatnya terus disakiti. Sementara Reza, mantan suami yang pernah kehilangan Ayza, kembali dengan penyesalan yang belum selesai.

Hingga kebenaran tentang Kaisyaf akhirnya terungkap, dan menghancurkan hati Ayza lebih dari pengkhianatan apa pun.

Kini Ayza harus memilih: tetap setia pada cinta yang telah pergi, kembali pada masa lalu, atau menerima seseorang yang sejak lama menunggunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23. Saat Cinta Tak Lagi Cukup untuk Percaya

Reza menunda jawabannya. Ia membuka map di tangannya. Seolah mencari sesuatu. Lalu berhenti. Tangannya berpindah… ke ponsel di saku.

Ia sempat terdiam, seolah menimbang sesuatu. Pandangannya tertahan lebih lama dari biasanya.

“Aku gak tahu ini penting atau nggak buat kamu,” ucapnya lebih stabil sekarang. “Tapi… sepertinya kamu berhak tahu.”

Ayza tidak memberi respons.

Ada sesuatu di nada suara itu… yang membuat ada rasa tidak nyaman yang tiba-tiba muncul

“Pak Reza…?”

Reza hanya membuka layar ponselnya. Menggeser beberapa kali. Lalu memutar layar itu… ke arah Ayza.

“Ini aku ambil tadi pagi," ujarnya dengan suara datar.

Namun yang terlihat di layar… tidak datar sama sekali.

Seorang pria.

Kaisyaf.

Duduk sedikit membungkuk. Dan seorang wanita di depannya. Jarak mereka nyaris hilang.

Tangan wanita itu berada di dadanya. Wajah itu berada dalam ruang yang terlalu sempit untuk disebut kebetulan.

Ayza belum juga bereaksi. Pandangannya terpaku di layar itu, terlalu lama untuk sekadar melihat. Seolah ada jeda sebelum semuanya benar-benar masuk.

“Itu di bandara,” lanjut Reza dengan suara rendah. “Aku gak sengaja lihat.”

Ayza masih tak bicara. Ia tidak mengalihkan fokus.

“Awalnya aku juga mikir…” Reza berhenti sejenak. “…mungkin aku salah lihat.”

Nada suaranya berubah tipis.

“Tapi dari dekat… kelihatan jelas.”

Kata-kata itu menggantung. Justru itu… yang membuat tekanannya justru semakin terasa.

Jemarinya menegang di atas paha.

“Pak Reza…” suaranya tetap tenang. Terlalu datar untuk situasi seperti ini. “…itu siapa?”

Pertanyaan itu sederhana, tapi tidak ringan.

Reza mengamati reaksinya.

“Aku gak kenal wanitanya.” Jawaban jujur. “Tapi…” ia menahan beberapa saat, “…kamu pasti lebih kenal pria itu.”

Pandangan Ayza tertahan di layar itu. Tidak sebentar. Kali ini, bukan sekadar melihat, melainkan mencoba menyangkal.

Sayangnya semakin lama ia memerhatikan, semuanya tak lagi bisa disangkal.

Cara pria itu membungkuk. Cara wanita itu menyentuhnya. Cara jarak itu… terasa terlalu dekat.

Dan entah kenapa, semua itu terasa… nyata.

Jemarinya sedikit gemetar saat akhirnya menjauh dari layar. Tatapannya kosong ke depan.

Bukan karena ia tidak memahami, justru karena semuanya datang sekaligus.

Di saat yang sama, dari arah loket—

“Bu?”

Suara petugas memanggil.

“Hasilnya sudah keluar.”

Ayza menoleh perlahan. Seolah baru kembali ke tempat itu. Ke kenyataan.

Ia berdiri. Langkahnya tidak secepat tadi, namun pasti. Tangannya menerima hasil itu. Matanya langsung membaca.

Normal.

Hanya suplemen biasa. Seharusnya… itu jawaban yang ia cari. Seharusnya… ia lega.

Nyatanya, yang ia rasakan justru sebaliknya. Ada tekanan halus yang Membuatnya sulit menarik napas seperti biasa. kertas itu terlipat di genggamannya tanpa ia sadari.

Satu sisi berkata: tidak ada yang salah. Sisi lain… baru saja melihat sesuatu yang tidak bisa ia abaikan.

Ayza berdiri di sana. Di antara dua kemungkinan. Yang sama-sama… tidak ingin ia percaya.

“Jadi…” suara Reza terdengar lagi di belakangnya. Ritmenya tenang, jelas. “Kamu lagi cari kebenaran yang mana?”

Ayza tidak langsung menoleh. Matanya lurus ke depan. Tapi kali ini… berbeda.

Sorotnya berubah, tidak lagi sekadar tenang. Kini ada jarak yang jelas di sana

“Yang sebenarnya.” Jawabannya singkat. Namun di balik itu… ada sesuatu yang mulai berubah.

Dan kali ini, bukan lagi sekadar curiga.

Reza membiarkan jeda terbentuk. Perhatiannya masih tertahan pada Ayza. Lebih lama dari yang seharusnya. Seolah ada sesuatu yang… sudah terlalu lama ia pendam.

“Ayza…”

Nada suaranya berubah. Lebih rendah. Lebih personal.

“Ada satu hal lagi yang harus kamu tahu.”

Ayza tidak segera berpaling. Tidak ada kata yang terlontar dari bibirnya.

Reza menarik napas pelan.

“Sampai sekarang…” ia berhenti sejenak, “…aku masih menyesal pernah melepaskanmu.”

Kalimat itu jatuh begitu saja. Tanpa pengantar. Tanpa pelindung.

Sorot Ayza tidak berubah. Namun jelas… ia tidak menyangka.

“Aku masih mencintaimu.”

Jelas. Tegas. Tidak lagi ditahan.

“Aku bahkan… belum pernah benar-benar memulai lagi.” Senyum tipis muncul, tapi hambar. “Belum ada yang bisa menggantikan kamu.”

Ayza menatapnya lurus sekarang. Tidak menghindar.

Reza melangkah setengah langkah lebih dekat.

“Ayza… aku masih berharap kita bisa bersama lagi.”

Nada suaranya tidak memaksa. Tapi yakin.

“Kali ini… aku janji akan memperlakukanmu dengan benar.”

Sedikit jeda.

“Menjadikan kamu… satu-satunya.”

Ayza butuh waktu sebelum bereaksi. Wajahnya tetap tenang. Namun ada jarak yang jelas.

“Pak Reza,” ucapnya akhirnya. Lembut. Tapi tegas.

“Tidak pantas bagi pria terhormat… menyatakan perasaan pada wanita yang sudah bersuami.”

Intonasi itu tidak tinggi. Tapi memotong bersih.

Reza tertawa kecil. Tidak ada humor di sana.

“Wanita bersuami?” ulangnya dengan suara rendah.

Ia masih mengunci wajah Ayza.

“Jangan bilang kamu masih mau mempertahankan pria yang—”

Ia berhenti. Maksudnya jelas.

“…yang seperti itu.”

Ayza tidak goyah.

“Masalah rumah tangga saya…” suaranya tetap stabil, “…adalah urusan saya.”

Pancarannya dingin. Jaraknya semakin jelas sekarang.

Reza mengamati reaksinya. Ada sesuatu yang berubah di wajahnya.

Bukan marah. Tapi… terpukul dan tidak terima di saat yang sama.

“Ayza—”

“Maaf.” Ayza memotong dengan ritme tenang.

Ia merapikan genggamannya pada hasil pemeriksaan di tangannya.

“Saya harus pergi.”

Satu detik jeda. Lalu—

“Waalaikumsalam… mantan imam.”

Langkahnya berbalik. Tanpa menunggu.

Reza tidak langsung mengejar. Ia hanya berdiri di sana. Tidak bergerak. Matanya mengikuti sampai sosok itu benar-benar menjauh.

Rahangnya mengunci. Tangannya sempat terangkat, lalu turun lagi, seolah menahan sesuatu agar tidak lepas.

"Kamu masih membelanya.”

Gumamnya nyaris seperti bisikan. Lebih ke dirinya sendiri. Pandangannya bergeser ke bawah sebentar. Lalu kembali ke depan. Lebih dingin sekarang.

“Padahal sudah jelas dia yang menghancurkanmu.”

Napasnya keluar kasar.

Dan setelah sekian lama… bukan hanya rasa kehilangan yang muncul.

Tapi juga, keinginan untuk merebut kembali.

“Kalau kamu gak bisa lihat siapa yang benar…

mungkin aku yang harus bikin kamu lihat.”

 

Sementara itu, Ayza melangkah menjauh tanpa menoleh.

Di dalam genggamannya, kertas hasil pemeriksaan itu perlahan diremas.

Normal. Tidak ada yang salah.

Lalu kenapa… semuanya terasa salah?

Langkahnya melambat. Hingga akhirnya berhenti di depan pintu keluar.

Tangannya menyentuh gagang pintu… namun tidak langsung mendorong.

Di kepalanya, pikirannya tidak berhenti, tentang siapa yang benar-benar ia percayai…

dan tentang pria yang kemarin memeluknya seolah tak ingin melepaskan.

Napasnya tertahan.

“Sebenarnya… aku ini siapa di hidupmu?”

Kali ini… bukan hanya pertanyaan yang tertinggal.

Sorotnya perlahan berubah. Lebih tajam. Lebih dingin.

Jika bukan dari sini jawabannya... berarti… ia harus mencarinya dari tempat lain.

Dan kali ini… Ayza tidak akan berhenti, bahkan jika yang ia temukan akan menghancurkannya.

 

...🔸🔸🔸...

...“Kepercayaan tidak runtuh karena satu kebohongan, tapi karena satu keraguan yang tidak dijelaskan.”...

...“Kadang yang paling menyakitkan bukan kebenaran… tapi apa yang terlihat seperti kebenaran.”...

...“Aku tidak takut kehilanganmu… aku hanya takut selama ini aku tidak benar-benar mengenalmu.”...

...“Cinta membuatku bertahan. Tapi kebenaran… akan menentukan langkahku berikutnya.”...

...“Aku tidak butuh penjelasan yang indah. Aku hanya butuh yang sebenarnya.”...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Yunita Sophi
akhir nya semua orang menyerah krn Al menginginkan Fahri...
Yunita Sophi
Al kangen sama om Fahri yah...
Anonim
Fatima sedih dan prihatin pastinya melihat cucunya tak seceria biasanya.

Fatima bertanya - Om Fahri ngga ke sini ? Ayza yang menjawab.

Alvian tahu Umi bohong dengan jawabannya.

Alvian sampai tak ada selera untuk makan. Padahal lapar.

Alvian...big hug 🥲
Anonim
Ayza - itu anakmu tidur pun memanggil "Om." Sampai terbawa di tidurnya saking rindunya sama Om Fahri.

Tega sekali Ayza.

Ayza. Coba resapi apa kata kedua mertuamu.

Fatima di sini baru tahu yang terluka yang paling kecil.

Fahri juga terluka.

Husain mesti ketemu dengan Fahri ini. Bicara dari hati ke hati. Apa Fahri setuju dengan jalan yang di pilih Ayza.
Anonim
Fahri kangen sama Alvian. Dengan duduk di atas motor yang berhenti, dia berada di seberang jalan di depan sekolah Alvian.

Mesin tidak dimatikan.

Fahri matanya terus menatap gerbang sekolah.

Fahri hanya bisa melihat Alfian dari jarah jauh. Alfian yang terlihat tidak ceria.

Alfian tidak capai Umi. Tapi kangen sama Om Fahri. Andai Alvian boleh jujur.

Benar-benar jarak yang dipilih Ayza - membuat dua pria saling merindu.

Husain dan Fatima berkunjung ke rumah Ayza.

Tak ada sambutan dari Alvian.
Anonim
Pada menjalankan perjodohan yang dipilihkan orang tua masing-masing.

Bertemu calon yang dijodohkan.

Di awal pertemuan - reza maupun Fahri cuma sekedar menjalankan. Bertemu, tak ada niat untuk melangkah serius.

Kasihan sekali Naila. Reza sudah merasa cukup mengenal Naila dari data yang dikirim ke orang tua Reza.

Reza tidak menolak perjodohan - tapi sikap dan kalimat yang terucap sudah jelas tak bisa diharapkan.

Naila - mundur saja.
abimasta
pertahankan sikapmu ayza,lama2 juga al terbiasa
Puji Hastuti
kasian Al
Wahyuningsih 🇮🇩🇵🇸
GK ada masalah klo Fahri tetap dekat dg Alvian..tapi bukan berarti kawin semangat ayza dong..kan Fahri diamanatin suruh ngurusin perusahaan sampe Alvian cukup umur 🤭
menjaga bukan berarti MEMPERISTRI 👻🤣
abimasta: setuju,lebih baik fahri menikah dengan wanita lain
total 1 replies
Sugiharti Rusli
padahal Kaisyaf melakukan itu karena dia tahu kalo Alvian butuh seseorang yang bisa membuatnya nyaman,,,
Sugiharti Rusli
dan orang yang sangat dipercayai olehnya adalah Fahri, tapi Ayza kekeh menolaknya
Sugiharti Rusli
mendiang Kaisyaf bukan hanya sekedar menitipkan, tapi dia juga mengiklaskan sang istri dan putranya mendapatkan perlindungan utuh,,,
Sugiharti Rusli
padahal kedua mertuanya sudah memahami apa yang dulu disampaikan mendiang putranya tuh sangat mendalam yah,,,
Sugiharti Rusli
karena Ayza hanya berpikir tentang perasaannya sendiri yang tidak mau memberi kesempatan orang lain masuk
Sugiharti Rusli
sepertinya apa yang diutarakan oleh ibu mertua Ayza tentang ada hal kecil yang dipaksa menjauh dan menimbulkan luka itu sangat benar,,,
Wardi's
fahri tetaplah jd om nya elfayen tanpa metubah posisi.., silahkan pilih jodoh yang lain.,
Oma Gavin
ternyata ayza egois demi ego nya alvian yg jadi korbannya jgn sampai kamu nyesel ayza teruskan ego mu tinggal tunggu waktu alvian akan jadi anak introvert
Marsiyah Minardi
Ayolah Ayza ,kesampingkan dulu egomu dan sederet alasan lainnya
Kasihanilah Alvian yang kehilangan figur ayah
Dek Sri
ayolah ayza biarkan Fahri jemput Alvian, daripada Alvian kenapa-napa
Anitha Ramto
😭😭😭😭😭nyeseeeekkkk
aku setuju Ayza nikah dengan Fahri demi Al..yang sudah kehilangan seorang Ayah...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!