NovelToon NovelToon
Sang Sopir Penakluk

Sang Sopir Penakluk

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Bad Boy
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Bima Sakti hanyalah seorang sopir di Garuda Group yang dikenal malas, sering terlambat, dan suka menggoda perempuan cantik. Namun, di balik sikapnya yang sembrono, Bima menyimpan identitas dan kemampuan luar biasa yang tidak diketahui siapa pun.
​Kehidupan santainya berubah ketika ia harus berurusan langsung dengan Sari Lingga, Presiden Direktur Garuda Group yang dijuluki "Si Cantik Gunung Es". Di tengah persaingan bisnis yang kejam dan kejaran pria-pria berkuasa, Bima hadir bukan hanya sebagai sopir, melainkan sebagai pelindung rahasia bagi Sari.
​Dari ruang kantor yang kaku hingga konflik dunia bawah Jakarta, Bima menunjukkan bahwa ia jauh lebih berbahaya daripada sekadar sopir armada biasa. Akankah si "Gunung Es" Sari Lingga akhirnya luluh oleh pesona sang sopir misterius ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Hampir semua orang yang hadir tak kuasa menahan rasa dingin yang menjalar di punggung mereka. Mereka memandang Bima—pemuda berusia dua puluhan dengan wajah santai itu—dan di dalam hati mereka muncul rasa takut sekaligus kagum yang dalam.

“Apa perkataanku tidak jelas?” Melihat Bang Tigor dan yang lain masih diam tak bergerak, Bima menoleh dan mengernyit.

“Bisa! Sangat bisa! Apa pun yang diperintahkan Tuan Bima, kami lakukan!” Barulah saat itu Bang Tigor benar-benar menyerah sepenuhnya. Kekuatan luar biasa pemuda itu, wibawanya yang menekan, serta ketegasannya membuat Bang Tigor sadar bahwa dirinya takkan pernah bisa menandingi level pria ini.

Ia segera memberi isyarat kepada beberapa anak buahnya. Mereka menahan Dedi, lalu menarik sebuah batang besi dari samping dan berjalan mendekat. Dedi benar-benar ketakutan. Selama bertahun-tahun hidup di dunia hitam, sialnya ia belum pernah bertemu lawan sekejam ini.

“Bos Bima… Tuan Bima… jangan! Jangan! Aku tahu aku salah! Aku tidak akan berani lagi! Tolong… mohon ampuni aku!” Pada titik ini, Dedi—salah satu dari empat kepala cabang besar Geng Barong yang dulu ditakuti—kini tak lebih dari pecundang yang gemetar.

“Sudah terlambat,” Bima berkata dengan tenang. “Ketika kamu menyuruh anak buahmu memeras Sari, bahkan mengancam akan datang ke Garuda Group setiap hari untuk membuat keributan… apakah kamu pernah memikirkan akibatnya? Setiap orang harus membayar perbuatannya. Itu aturan. Kalau tak mampu menanggung akibatnya, jangan pernah bermain dari awal.”

Batang besi di tangan anak buah Bang Tigor akhirnya diayunkan. Retakan tulang terdengar sangat jelas—kering dan tajam. Namun di telinga semua orang, suara itu bagai petir yang menggelegar.

“Tuan Bima benar! Anak panah yang sudah dilepaskan dari busurnya tidak bisa ditarik kembali!” Bang Tigor melempar batang besi itu ke samping, lalu berbalik dan berteriak kepada anak buahnya tanpa mempedulikan Dedi yang sudah pingsan. “Sekarang kita sudah menempuh jalan ini, tidak ada jalan mundur! Mulai sekarang kita ikut Tuan Bima! Cepat atau lambat, saudara-saudara kita pasti akan menikmati kehidupan yang lebih baik!”

“Benar! Mulai sekarang aku ikut Tuan Bima!” seru para preman itu penuh semangat.

Namun Bima hanya menggeleng pelan. “Dengarkan baik-baik. Bos kalian tetap Bang Tigor. Tapi karena aku sudah membawa kalian ke jalan ini, aku juga tidak akan tinggal diam. Kalau kalian punya masalah, datang saja kepadaku.”

Ia sama sekali tidak berniat merebut posisi Bang Tigor. Menjadi sopir dan menggoda wanita sudah cukup menyenangkan baginya. “Baik! Karena Tuan Bima berkata begitu, kami tidak akan memaksa. Mendengar kalimat itu saja sudah membuatku tenang,” ucap Bang Tigor sambil menepuk dadanya.

“Ngomong-ngomong… bagaimana dengan orang-orang Geng Barong yang lain?” seseorang tiba-tiba bertanya. Selain Dedi yang sudah pingsan, masih ada lebih dari selusin anak buahnya tergeletak di tanah. Tatapan Bima menyapu mereka. Sekejap saja tubuh para pria itu bergetar bersamaan.

“Kalian punya dua pilihan,” ujar Bima perlahan. “Pertama, kaki kalian dipatahkan seperti Dedi. Kedua, tinggalkan Geng Barong dan mulai sekarang ikut Bang Tigor. Pilih sendiri.”

Ini adalah pilihan yang bahkan orang bodoh pun tahu jawabannya. “Tuan Bima! Aku bersedia mengikuti Bos Tigor!” seru mereka serempak, berpindah pihak dengan rasa syukur yang berlebihan.

Semuanya sudah diperkirakan oleh Bima. Ia mengangguk tenang. “Laki-laki tidak bicara soal kesetiaan. Mereka setia hanya karena godaan belum cukup besar. Pria juga tidak bicara soal kesetiaan. Mereka setia hanya karena harga pengkhianatan belum cukup berat. Kalian baru saja mengkhianati Dedi. Bagaimana aku bisa percaya bahwa suatu hari nanti kalian tidak akan mengkhianati kami?”

Begitu kata-kata itu keluar, suasana langsung ricuh.

“Tuan Bima! Aku tahu di mana cabang Geng Barong di Jakarta Barat menyembunyikan uang mereka! Aku bisa membawa Anda ke sana!”

“Tuan Bima! Aku tahu kata sandi rekening bank mereka! Aku bisa memberitahukannya sekarang!”

“Aku punya beberapa tempat usaha! Semuanya akan aku serahkan!”

Untuk sesaat, lebih dari selusin pria itu berlomba-lomba menunjukkan kesetiaan mereka. Ada yang bahkan bersumpah dengan sumpah paling kejam demi menyatakan loyalitas kepada Bima dan Bang Tigor seumur hidup.

“Cukup.” Bima mengangguk. “Karena kalian sudah berkata begitu, aku akan percaya sekali ini. Kalian tidak perlu bersumpah atau mengutuk diri sendiri. Kalian hanya perlu ingat satu hal—aku sangat membenci pengkhianatan. Jika suatu hari kalian melakukan hal seperti itu…”

Ia berhenti sejenak, tatapannya menembus sukma. “Aku jamin nasib pengkhianat akan lebih buruk daripada Dedi sekarang.”

Sunyi. Semua orang berdiri gemetar di tempatnya. Tak seorang pun berani meragukan bobot kata-kata Bima.

“Tuan Bima, menurut Anda apa yang harus kita lakukan selanjutnya? Begitu berita ini tersebar, pusat Geng Barong pasti tidak akan tinggal diam.” Setelah tempat kejadian hampir dibereskan, Bang Tigor mendekat dan bertanya.

Bima berpikir sejenak sebelum menjawab, “Untuk sementara, kita tutup rapat berita bahwa Dedi sudah dilumpuhkan. Belasan orang yang baru saja bergabung itu adalah anak buahnya. Gunakan mereka untuk segera mengambil alih kekuasaan Geng Barong di kawasan kumuh.”

“Sebelum pihak Geng Barong mengetahui semuanya, semakin besar wilayah yang kita kuasai semakin baik. Pada saat yang sama, segera hubungi geng-geng lain di daerah kumuh. Yang bisa ditarik, tarik. Yang bisa dianeksasi, ambil. Yang bisa diajak aliansi, bentuk aliansi. Wilayah kumuh memang kecil, tapi jika bisa dipersatukan menjadi satu kekuatan yang solid sebagai Geng Cobra, maka tidak akan mudah bagi Geng Barong untuk ikut campur.”

“Baik! Kita lakukan semuanya sesuai perintah Tuan Bima!” Bang Tigor langsung bersemangat. Ia memahami maksud Bima. Jika semua ini berhasil, mulai sekarang Bang Tigor akan menjadi penguasa mutlak kawasan kumuh di Jakarta Barat. Bahkan di seluruh Jakarta, namanya akan mulai diperhitungkan.

Tentu saja ia tidak akan pernah melupakan satu hal—semua ini diberikan oleh pemuda bernama Bima yang berdiri di depannya.

1
Sastra Aksara
Terimakasih kak 😍🙏
Rio Armi Candra
kopi dah meluncur Thor 👍👍👍💪
Rio Armi Candra
jiahahaha 🤣🤣🤣🤣.. kereeeen bima👍👍👍
Jack Strom
Ihhh... Seram!!! 😁
Jack Strom
Mantap. 😁
Jack Strom
Hadeh, jadi kacau... 😔
Jack Strom
MC nya konyol namun asik!!! 😁
Jack Strom
Eh... Chapternya dah habis... 😭😭😭
Jack Strom
Hmmm??? 🤔
Jack Strom
Hahaha... sudah 5 orang... 👍👍👍👍😁
Jack Strom
Eh, muncul satu lagi!!! 😁
Jack Strom
Ayo, hajar premannya!!! 😁
Jack Strom
Hahaha... Mantap!!!
Jack Strom
Hahaha... Nyosor masuk parit loe, mampooos!!! 😁
Jack Strom
Ia ia, makan teruuus!!! 😁
Jack Strom
Keren!!! 😁
Jack Strom
Hahaha... 😁
Jack Strom
Hahaha... Sangat konyol!!!
Jack Strom
Mantap!!! 😁
Jack Strom
Hahaha... Dasar tukang onar!!! 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!