Di antara gemuruh kereta dan debu kehidupan yang keras, Siman hanyalah seorang pemuda yang tak pernah dianggap.
Dihina. Ditolak. Dilupakan.
Hingga suatu senja, seorang nenek misterius meninggalkan sebuah warisan di tangannya—akik biru laut yang memancarkan cahaya tak biasa… dan mengubah segalanya.
Keberuntungan mulai datang tanpa diminta.
Pintu-pintu yang dulu tertutup kini terbuka.
Dunia yang pernah merendahkannya mulai berbalik memandang.
Namun semakin tinggi Siman melangkah, semakin besar pula harga yang harus dibayar.
Apakah semua ini benar-benar takdir?
Ataukah hanya ilusi dari kekuatan yang belum ia pahami?
Ketika masa lalu kembali menghantui, dan kepercayaan dirinya runtuh tanpa akik itu di tangannya, Siman dihadapkan pada satu pilihan:
Terus bergantung pada keajaiban… atau menjadi penakluk sejati atas hidupnya sendiri.
Sebuah kisah tentang luka, harapan, cinta, dan keberanian untuk bangkit.
SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT
Jejak takdir tidak pernah salah memilih pemiliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Antara Aroma Oli dan Parfum Mahal
"Ah, kamu ini!" Siman terkekeh, memasukkan tangan kirinya yang memakai akik ke saku celana. Matanya mengerjap, mencoba meredam detak jantungnya yang sedikit kacau mendengar candaan Murni yang kadang terkesan aneh baginya. Padahal sudah seminggu yang lalu ia mengucapkan perkataan tersebut pada Murni, yang masih menanyakan 'kapan pengumuman' kelulusannya. Mereka saat itu belum datang ke papan pengumuman. Kenapa tiba-tiba mereka sudah lulus ujian kesetaraan? Karena ada Siman. Dengan uang dan kemampuannya, semua ini bisa ia beli.
"Ayo! Sudah beli baju, nanti beli sepatu baru terus kita pulang." Murni menarik lengan Siman, menyeretnya melewati lorong-lorong mal yang dipenuhi cahaya lampu terang. Aroma aneh bercampur dari toko makanan mewah dengan parfum menguar di mana-mana, menusuk indra penciuman Siman yang biasanya terbiasa dengan bau oli, karet ban, dan debu jalanan di pinggir rel.
Siman mengangguk. Matanya beredar, mengamati keramaian. Pengunjung berlalu lalang, tawa renyah, obrolan ringan, semua seperti dunia yang berbeda, jauh dari kebisingan kereta yang setiap pagi membangunkannya. Di salah satu gerai makanan cepat saji yang mewah dan terbuka, beberapa anak muda tengah berkumpul, tertawa terbahak-bahak sambil memegang bungkusan berisi kentang goreng. Pakaian mereka rapi dan modis, tak ada setitik debu pun yang menempel. Tatapan mata Siman mengikuti mereka.
Lalu matanya terpaku. Di antara gerombolan itu, ada seseorang yang Siman kenali dengan baik, terlalu baik, sehingga sebuah kilasan memori melintas secepat kilat. Ia masih terngiang. Rambut panjang hitam bergelombang yang diwarnai pirang, bibir yang dipoles lipstik merah menyala, dan tawa renyah yang pernah jadi biang kerok neraka masa SMA-nya. Aroma parfum mahal. Senyumnya, tawaannya, begitu angkuh. Wajahnya begitu cantik, dan begitu menjijikkan bagi Siman.
Dina. Sosok itu bukan hanya dalam bayangan Siman. Dia adalah kenyataan. Itu adalah Dina!
Jantung Siman berdetak tak karuan, lebih cepat dari getaran kereta api yang pernah membuatnya ketakutan. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Tenggorokannya tercekat, seperti ada yang menyumpalnya dengan gumpalan benang kusut. Seketika, rasa percaya diri yang tadi meluap-luap menciut drastis, berganti kepanikan yang luar biasa. Akik di jarinya mulai berdenyut, begitu kencang, memancarkan panas yang menyengat, seolah ingin melepaskan diri dari genggaman Siman.
"Siman? Kenapa tiba-tiba diam begitu?" Murni menoleh, melihat wajah Siman yang mendadak memucat. Ia mengikuti arah pandangan Siman. Mata Murni mengerjap, senyumnya meluntur. Ada guratan cemas di wajahnya yang bersih, seolah memahami badai yang kini menguasai Siman.
"Tidak... tidak apa-apa, Mur," Siman bergumam, suaranya parau dan sedikit bergetar. Dia mencoba menenangkan dirinya. Dia sudah bukan Siman yang dulu! Ia tidak akan diinjak-injak begitu saja. Tidak, tidak boleh.
Murni meraih lengan Siman dengan erat, menuntunnya untuk berbalik. "Ayo, Siman, kita ke tempat lain aja. Aku mau cari tas yang lucu. Tas baru, mau?" bisik Murni, nadanya meyakinkan. Gadis itu tahu persis siapa Dina bagi Siman, dan bagaimana dampak dari kenangan buruk itu. Ia ingin menarik Siman jauh dari jurang masa lalu.
Namun, terlambat. Suara tawa yang familier itu, kini jauh lebih keras, seolah memanggil nama Siman dari kejauhan.
"Heeeey! Si-Man!"
Langkah Siman membeku. Akik di jarinya terasa makin panas, menusuk kulitnya. Otot-ototnya menegang. Rasa malu dan marah bercampur jadi satu. Kali ini Siman tidak dapat kabur dari kejadian itu. Murni mengepalkan tangannya di sampingnya. Ia melirik Siman dengan rasa amarah.
Dina mendekat, diikuti oleh dua orang temannya yang tersenyum-senyum penuh misteri. Rambut Dina kini diwarnai cokelat muda, terurai indah di bahu. Bajunya lebih mewah dari biasanya, celana jins skinny brand kenamaan itu makin membuat kaki panjangnya berjenjang, lalu mengenakan tas kecil yang Siman taksir harganya puluhan juta. Mata Dina menyipit, menatap Siman dan Murni bergantian.
"Duh, kalian berdua ini? Nggak nyangka ya bisa ketemu di sini. Kirain cuma berkeliaran di dekat rel saja, kan," Dina mengedikkan bahu, senyum tipis, angkuh, tapi kini ada semacam kejutan aneh di sana, seolah Siman telah mengubah pandangannya. Namun Dina tidak ingin dipecundangi oleh pemikirannya.
Jeda. Tatapan Dina turun, menelisik Siman dari ujung rambut hingga ujung sepatu lusuhnya, yang sayangnya, Siman belum sempat ganti karena masih memikirkan perlengkapan lain. Senyum sinisnya mengembang lagi.
"Wow. Kemeja baru, ya? Gaya banget. Ini juga beli dari lapak pasar dadakan atau beli baju obral di pinggir jalan?" ejek Dina, nadanya merendahkan, membuat pipi Siman kembali memerah. Kilasan ejekan lama kembali menyerang dirinya: 'dekil', 'bau apek', 'sampah masyarakat'. Kenangan pahit itu kembali memutar, begitu menyakitkan. Murni melangkah maju, sorot matanya yang tenang kini berubah tajam.
"Dina, apa-apaan kamu ini? Kenapa suka sekali merendahkan orang?" Murni berseru, tak bisa lagi menahan amarahnya. Tangannya menarik lengan Siman, berharap Siman tak terpancing. Siman hanya diam, tak tahu harus menjawab apa. Tubuhnya memang kaku, tapi tidak selemas dulu. Ada pertahanan.
"Ooooh, Murni... kamu ini masih setia aja jadi pengawalnya Si Siman, ya? Atau memang pengen biar dapat hadiah? Dapat warisan darinya?" Dina tertawa kecil, melirik teman-temannya. "Apa-apaan! Kalian berdua ini kalau dari penampilan sudah seperti pembantu!"
Dada Siman bergemuruh. Amarah itu, yang sudah lama ia pendam, kini melonjak naik. Matanya memancarkan api, siap meledak. Ini tidak bisa dimaafkan. Ia ingin membentak, mengatakan siapa dia sekarang. Ingin ia mengatakan berapa banyak uang yang sudah ia hasilkan, berapa banyak keberuntungan yang kini bersamanya. Ingin ia buktikan bahwa dia jauh lebih dari sekadar "Siman pinggir rel" yang Dina ejek.
Tapi kemudian, akiknya berdenyut lagi. Dingin. Berdenyut pelan, tapi menusuk. Sensasi dingin itu merambat dari jari Siman, perlahan-lahan menyelimuti hatinya, meredakan kobaran amarah yang hampir meletup. Itu bukan dorongan untuk membalas, melainkan bisikan untuk menahan diri. Kekuatan akik itu kini tidak lagi sama seperti dulu.
Ia menatap mata Murni, yang memancarkan kekhawatiran dan keberanian secara bersamaan. Siman menyadari. Ini bukan pertarungan yang harus ia menangkan dengan melukai orang lain. Ia tidak ingin merusak hari Murni. Ini tidak akan berhasil dengan perkelahian di hadapan publik seperti ini.
"Dina." Siman berkata, suaranya tenang, datar, tak ada lagi getaran. Tangannya yang terkepal di saku kini rileks, jari-jarinya menelusuri permukaan akik yang seolah-olah bernapas. Murni terkesiap, melirik Siman dengan terkejut.
Dina mendongak, matanya terbelalak karena kaget melihat perubahan ekspresi Siman. Ada senyum sinis yang tipis, namun berhasil menghina Dina.
"Aku dan Murni di sini memang mau berbelanja," lanjut Siman, menatap Dina lurus-lurus, tidak menghindar. Ada kekuatan baru dalam tatapan matanya yang membalas. "Kami membeli sesuatu yang penting, sesuatu yang kau kira tidak pernah bisa kami miliki." Siman tidak dapat membalas perkataan itu lebih baik lagi.
Dina mengerutkan alis. "Sesuatu yang penting? Oh, paling juga perlengkapan cuci baju baru, kan? Aduh, jangan sok suci deh, Siman. Kayak paling pahlawan saja. Hidup itu realitas, nggak ada cerita si buruk rupa bisa jadi pangeran!"
***