“Iya, jadi aku dengar Karina baru saja bercerai belum lama ini. Dia sibuk jadi ibu dan pemilik toko roti Aura Bakery sekarang. Usia anaknya sepertinya hampir sama dengan usia anakku, kira-kira 1 tahunan lah,” ujar Benny, seorang lelaki berusia 33 tahun.
“Jujur saja, kamu masih ada rasa ‘kan dengan Karina? 9 tahun loh, tidak mungkin selesai begitu saja. Aku tahu, lelaki memang hanya jatuh cinta sekali saja, setelahnya hanya melanjutkan hidup,” lanjut Beni, teman baik Khale.
Diam-diam dari luar ruangan, Syafira yang tengah mengandung mendengar ucapan sang suami dengan temannya itu.
Bahkan, Syafira pun tahu suaminya langsung menuju ke toko kue milik Karina tak lama setelah itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Byiaaps, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Setibanya di tempat pagelaran budaya di Bogor, Putra sengaja menjauhkan kembar dari Khale dan Karina, selain juga karena grade kembar berbeda dengan Aura yang lebih tua. Begitu juga dengan Karina yang langsung mengajak Aura memasuki gedung. Sementara Khale terus celingukan mencari keberadaan kembar yang padahal seharusnya mereka tiba hampir bersamaan.
Hingga tak sengaja selang beberapa lama, Ria yang sedang berjalan cepat bersama Khanza dari arah toilet, berpapasan dengan Khale yang tampak sedang menghubungi seseorang. Khanza tersenyum manis, menyapa Khale dan mengucapkan sesuatu yang membuat mantan kekasih Karina itu menjauhkan ponselnya dari telinganya. “Om, doakan aku ya, setelah ini kelasku akan tampil.”
Mengangguk haru, Khale berjongkok dan mengambil 2 batang coklat dari saku celananya. “Semangat ya, ini Om ada coklat untuk Khanza dan Khayra biar semangat, tapi baru boleh dimakan setelah pentas ya!”
Menerima dengan wajah sumringah, tak lupa Khanza mengucapkan terima kasihnya. Ia dan pengasuhnya lalu bergegas masuk kembali ke dalam gedung, tak sadar disusul oleh Khale. Dari kejauhan, Khale sengaja mengambil gambar saat anak-anak kelas Khanza tampil di panggung.
Pandangannya tak berhenti melihat Khanza, lalu melempar ke arah Khayra yang juga sedang tampil meski si kembar tak beraksi berdekatan. Sambil merekam, ia tersenyum-senyum sendiri. Tak peduli dengan beberapa panggilan dan notifikasi pesan masuk dari Karina yang protes karena sedari tadi Khale tak berada di sampingnya, padahal kelas Aura sebentar lagi akan tampil.
Selesainya kembar tampil, Khale menghampiri Karina yang sudah kesal.
Tak memedulikannya, Khale kembali menyalakan kameranya untuk mengambil dokumentasi penampilan Aura. Tapi, entah mengapa rasanya begitu berbeda ketika ia merekam kembar. Padahal, ia lebih lama mengenal Aura dan dekat dengannya beberapa tahun ini ketimbang kembar yang baru ia temui beberapa waktu yang lalu.
Hingga raut wajahnya tiba-tiba tercengang ketika pandangannya beralih pada suatu titik.
Beberapa kali Khale menggosok kedua matanya, seakan ingin memastikan bahwa ia tak salah lihat.
“Ah, aku memang salah lihat, sial!” geramnya.
***
“Asyik, Bunda datang!” seru Khayra memeluk Syafira yang menyempatkan datang ke gedung kesenian.
“Kok Bunda tiba-tiba di sini?” Khanza tampak terkejut karena tak menyangka sang bunda bisa hadir di gedung itu meski terlewat pertunjukan kembar.
Tampak sumringah karena antusiasnya yang ingin melihat sang anak kembar tampil, Syafira meminta maaf karena datang terlambat.
Mengajak mereka buru-buru masuk ke dalam mobil, Putra tampak tak suka dengan kehadiran Syafira.
Di sisi lain, Khale terlihat tak fokus saat menyetir karena memikirkan apa yang tadi ia lihat.
“Tidak, tidak, aku hanya terus memikirkan Syafira, hingga melihat orang yang begitu mirip dengannya,” batinnya.
Ia yakin bahwa wanita yang ia lihat bukan lah Syafira karena wanita itu berhijab, sedangkan sang mantan istri tidak pernah mengenakan penutup kepala selama bersamanya.
“Sepertinya aku akan memindahkan Aura ke sekolah lain,” celetuk Karina tiba-tiba.
Menggelengkan kepalanya ke kiri, Khale sedikit terkejut dengan keputusan Karina, meski sebenarnya ia sendiri tak begitu peduli akan hal itu.
“Kenapa?” jawabnya lemah.
“Tak apa-apa, aku merasa program sekolahnya saat ini tak begitu bagus. Aku ingin dia sekolah di tempat yang lebih unggul,” ujar Karina santai.
Menyanggah apa yang Karina pernah katakan dulu soal bagusnya sekolah baru Aura, tampak berbeda dengan ucapan mama Aura itu saat ini.
Dari belakang, Aura yang terlihat mendengarkan ucapan sang mama, menolak dengan tegas untuk pindah sekolah. “Tidak mau! Aura punya banyak teman di sana!”
Menjelaskan bahwa di sekolah barunya ia juga akan mendapatkan teman-teman baru lagi, Karina ingin sang anak tak mempermasalahkannya.
Kekeh, Aura tetap tak ingin pindah sekolah. Gadis kecil itu pun tantrum berteriak hingga terpaksa Khale menengahi dengan mengatakan bahwa mereka tak akan memindahkan Aura ke sekolah lain. Tak peduli dengan Karina yang juga kekeh dengan pendiriannya.
“Kamu tidak lihat anakmu semakin mengamuk begini? Sudah lah, lagi pula ini terlalu cepat untuk pindah sekolah lagi,” ketus Khale kesal karena tak begitu suka dengan cara Aura saat marah.
Sementara itu, setelah perjalanan pulang mengantar kembar dari Bogor menuju rumah, Putra tampak satu mobil lagi dengan Syafira karena mereka harus segera kembali ke kantor. Putra terlihat banyak diam saat menyetir. Syafira yang merasa bersalah karena tak izin ke luar kantor padanya pun meminta maaf. Meskipun ia sudah meminta izin kepada kepala bagian kepegawaian kantor, seperti karyawan lainnya saat ingin keluar kantor.
“Tak masalah,” jawab Putra dingin tak sehangat biasanya.
Kini pria itu tampak aneh dan berbeda.
...****************...
kan dia mau berubah dan bertanggung jawab🤭
KLO pun nggak BS balikan SM khale biar aja Syafira menjanda selama nya, tp hub anak² SM khale bagus..
kayaknya ada sesuatu antara putra dan Karina 🤔
ekhh khale bodoh harusnya kau jgn percaya sama perempuan siluman itu...suami paling bodoh