"Menikahimu adalah ibadah terpanjang yang pernah aku ikrarkan. Namun, mengapa kini aku merasa sedang menyembah kehampaan di rumah yang tak lagi bertuan?"
Sepuluh tahun lamanya, Hana percaya bahwa kesetiaan adalah fondasi tunggal yang akan menjaga atap rumah tangganya tetap kokoh. Ia telah memberikan segalanya—masa mudanya, impian-impiannya, hingga seluruh napasnya hanya untuk melayani Aris, suaminya. Bagi Hana, rumah mereka adalah "Surga" kecil yang ia bangun dengan tetesan keringat dan doa-doa di setiap sujud malamnya.
Namun, perlahan "Surga" itu mulai terasa dingin. Aris, pria yang dulu selalu pulang dengan senyum hangat, kini berubah menjadi sosok asing yang membawa aroma parfum yang tak pernah Hana kenali. Tatapan matanya yang dulu penuh cinta, kini kosong dan seolah menembus tubuh Hana seakan ia adalah bayangan yang tak kasat mata.
Petaka itu dimulai saat sebuah nama dari masa lalu Aris kembali muncul. Aris tidak hanya lupa jalan pulang ke pelukan Hana, ia mulai "melupakan" sel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: Aspal Basah dan Doa-Doa yang Mengalir
Malam di jalur Pantura bukanlah tempat bagi mereka yang ragu. Deru mesin truk-truk besar beradu dengan bunyi gesekan ban di atas aspal yang tergenang air hujan. Raka mencengkeram kemudi truk logistik berwarna putih itu, matanya awas menatap tembusan lampu high beam yang mencoba membelah kabut tipis di kawasan Alas Roban. Di belakangnya, berton-ton benang tenun kualitas ekspor dari gudang Surabaya tersusun rapi, dibungkus plastik kedap air yang tebal.
"Mas Raka, air di depan mulai naik. Katanya di daerah Sayung banjirnya sudah semata kaki truk," ujar Jaka, pengemudi muda yang menemani Raka, sambil terus memantau grup WhatsApp komunitas driver.
Raka mengertakkan rahangnya. "Kita tidak punya waktu untuk memutar lewat jalur selatan, Jak. Perajin di Karangasem sudah menunggu. Benang ini adalah napas mereka minggu ini. Kalau kita terlambat, Julian Vance akan punya alasan untuk menghasut mereka lagi."
Ponsel Raka yang diletakkan di dasbor bergetar. Nama Hana muncul di layar. Raka menekan tombol speaker.
"Ka, kamu di mana? Aku baru dengar berita di radio, jalur utara terputus karena tanggul jebol," suara Hana terdengar cemas di tengah bisingnya hujan yang menghantam atap truk.
"Aku masih bergerak, Na. Baru saja melewati Pekalongan. Jangan khawatir, truk ini tangguh. Aku akan cari celah," jawab Raka, mencoba menenangkan istrinya meski hatinya sendiri berdegup kencang.
"Ka... kalau memang tidak bisa, jangan dipaksakan. Nyawamu lebih berharga dari seribu gulung benang," bisik Hana.
Raka tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tak bisa dilihat Hana. "Bukan cuma soal benang, Na. Ini soal janji kita pada Ni Ketut. Aku tutup dulu ya, aku harus fokus pada genangan di depan. Aku mencintaimu."
Di Jakarta Timur, Hana terduduk di kursi kayu perpustakaan yang masih menyisakan aroma vernis. Ia tidak bisa tidur. Di hadapannya, surat kedua dari Aris tergeletak terbuka. Ia mencoba membacanya lagi untuk mengalihkan kecemasan, namun kata-kata Aris justru terasa seperti cermin bagi situasi saat ini.
"Hana, di dalam sel ini, aku belajar bahwa tembok yang paling tinggi bukanlah beton penjara ini, tapi ketakutan kita sendiri untuk kehilangan kendali. Dulu, aku selalu ingin mengendalikan segalanya dengan uangku. Sekarang, aku belajar bahwa satu-satunya yang bisa kita kendalikan adalah niat kita untuk tetap berdiri meski badai menghantam."
Hana menutup matanya. Niat untuk tetap berdiri. Itulah yang sedang dilakukan Raka saat ini. Ia berdiri bukan hanya untuk Hana, tapi untuk sebuah ekosistem yang sedang mereka rintis.
Tiba-tiba, pintu ruko diketuk pelan. Padahal jam sudah menunjukkan pukul satu pagi. Hana berjalan turun dengan waspada. Di balik pintu kaca, berdiri Pak Hendra—pemulung yang juga ayah dari Dimas—dan beberapa warga sekitar yang biasanya nongkrong di pangkalan ojek.
"Ibu Hana, maaf mengganggu malam-malam," ujar Pak Hendra, topi lusuhnya ia lepas dan dekap di dada. "Kami dengar dari Sari, Mas Raka sedang terjebak banjir bawa barang untuk koperasi ya? Kami... kami mau numpang doa di sini, Bu. Kata anak-anak, tempat ini berkah. Kalau Ibu tidak keberatan, kami mau kirim doa bersama di teras."
Hana terpaku. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh juga. Orang-orang yang dulu dianggap "gangguan" oleh keluarga Gunawan, kini berdiri di depannya untuk memberikan dukungan spiritual.
"Silakan, Pak. Silakan masuk," ujar Hana, suaranya bergetar.
Malam itu, di teras Pondok Literasi Mama Sarah, suasana berubah menjadi sakral. Belasan warga duduk bersila, melantunkan doa dengan khusyuk. Di tengah hiruk-pikuk Jakarta yang egois, ruko kuning itu menjadi sebuah oase solidaritas. Gema doa mereka seolah terbang menembus hujan, mencari jalan menuju truk Raka yang sedang berjuang di tengah banjir.
Sementara itu, di perbatasan Semarang-Demak, situasi memburuk. Truk Raka benar-benar terhenti. Air sudah mencapai knalpot. Puluhan kendaraan mogok di sisi jalan. Jaka mulai tampak putus asa.
"Mas, kita terjebak. Mesin bisa mati kalau kita nekat," ujar Jaka.
Raka keluar dari kabin, membiarkan tubuhnya basah kuyup oleh hujan. Ia melihat ke sekeliling. Di kejauhan, ia melihat beberapa warga lokal menggunakan rakit bambu dan ban bekas sedang membantu mengevakuasi barang dari mobil-mobil kecil.
Raka menghampiri mereka. "Pak! Saya bawa benang untuk perajin di Bali. Tolong saya, apa ada jalan tikus lewat perkampungan yang lebih tinggi?"
Salah seorang warga menatap logo "Ruang Temu" yang tertempel di pintu truk. "Ruang Temu? Oh, yang sering masuk berita itu ya? Yang bantu ibu-ibu mandiri?"
Raka mengangguk cepat. "Istri saya yang bangun, Pak."
Si bapak tersenyum, lalu berteriak pada teman-temannya. "Woi! Bantu truk ini! Ini truknya orang baik! Ada jalan lewat tanggul belakang pabrik, tapi sempit. Kita harus gotong royong arahkan jalannya!"
Selama tiga jam berikutnya, sebuah keajaiban logistik terjadi. Warga desa setempat, dengan berbekal senter dan teriakan komando, memandu truk Raka melewati jalan-jalan desa yang sempit dan licin, menghindari genangan air yang dalam. Raka mengemudi dengan presisi luar biasa, mengikuti lambaian tangan orang-orang yang bahkan tidak ia kenal namanya.
Saat truk itu akhirnya kembali mencapai aspal kering di wilayah Kudus, Raka turun dan menyalami para warga satu per satu. Ia mencoba memberikan uang sebagai tanda terima kasih, namun mereka menolak.
"Jangan, Mas. Bilang saja sama Ibu Hana, teruskan perjuangannya. Istri saya di rumah juga mau ikut koperasi kalau nanti buka cabang di sini," ujar si bapak sambil menepuk bahu Raka.
Raka kembali ke kabin dengan hati yang penuh. Ia menyadari bahwa "Ruang Temu" bukan lagi sekadar bisnis; ia adalah harapan yang sudah menyebar akarnya ke mana-mana.
Tiga puluh jam perjalanan kemudian, truk itu akhirnya menyeberangi Pelabuhan Ketapang menuju Gilimanuk. Matahari Bali menyambut mereka dengan hangat, seolah menghapus sisa-sisa kedinginan dari Jawa Tengah.
Saat truk itu memasuki desa di Karangasem, Ni Ketut dan para perajin sudah menunggu di pinggir jalan. Mereka bersorak saat melihat terpal truk dibuka dan gulungan benang warna-warni itu diturunkan satu per satu.
"Mas Raka!" Ni Ketut memeluk gulungan benang itu seolah memeluk harta karun. "Julian Vance tadi pagi datang, dia bilang Mas Raka kecelakaan dan barangnya hilang. Dia mau paksa kami kontrak lagi."
Raka tersenyum lelah, wajahnya yang belum dicukur tampak kuyu namun bercahaya. "Katakan padanya, Ni Ketut... benang ini tidak datang lewat laut, tapi lewat jalur darat yang dijaga oleh doa-doa orang baik."
Di Jakarta, Hana menerima foto dari Raka. Foto Raka yang sedang tertidur di bale-bale bambu desa, di kelilingi oleh tumpukan benang, dengan Ni Ketut yang menyelimutinya dengan kain tenun hasil karya pertama mereka.
Hana menangis bahagia. Ia segera menuju lobi Pondok Literasi, tempat warga masih berkumpul setelah salat Subuh.
"Bapak-bapak, Ibu-ibu... Mas Raka sudah sampai. Barang-barangnya selamat," pengumuman Hana disambut dengan seruan syukur.
koq udh habisssss lg?
mungkin ini salah satu inspirasi buat wanita yg sedang survival dr ketidak adilan perlakuan pasangan sah kita dlm berumah tangga.
menyerukan,wanita utk jgn terpuruk dengan kehidupan tapi berusaha ttp semangat utk menjalaninya walau tdk mudah
semangattt,,,thorr
sementara 7 tahun lalu mereka masih mengontrak.
ingat2 Thor apa yg ditulis.