Di kehidupan sebelumnya, Arga Bimantara adalah pria malang yang terjebak dalam jerat cinta buta kepada Tiara. Namun, pengabdiannya hanya dibalas pengkhianatan. Ia harus melihat kedua orang tuanya meninggal dalam kemiskinan dan kehinaan, sementara dirinya sendiri habis dikuras sebagai "sapi perah" oleh keluarga Tiara yang parasit. Arga mati dalam penyesalan mendalam, menyia-nyiakan hidup tanpa sisa.
Tak disangka, takdir memberinya kesempatan kedua. Arga terlempar kembali ke tahun 2000—titik awal di mana segalanya masih bisa diperbaiki.
Kali ini, Arga tidak akan lagi menjadi "si penjilat" yang lemah. Dengan ingatan masa depan dan modal miliaran rupiah dari keberuntungan yang ia rebut, ia memulai langkah pertamanya dengan satu tindakan tegas: Memutuskan hubungan dengan Tiara dan menghancurkan skema licik keluarga wanita itu!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Sherly sedikit tersipu. “Kak Arga, kamu sendiri bahkan belum punya mobil. Apa pantas aku yang memakai mobil semahal ini?”
“Tidak apa-apa,” kata Arga tersenyum. “Kalau aku ingin pergi ke suatu tempat, bukankah cukup meneleponmu agar menjemputku?”
“Baiklah! Jadi ternyata kamu memberiku mobil supaya aku jadi sopir pribadimu ya?”
“Hmph, sudahlah, mumpung aku lagi senang. Aku mau jadi sopirmu.” Sherly tertawa ceria. “Wahai sopir pribadiku yang manis, besok aku akan menghadiri pameran batu mulia. Temani aku, ya?”
“Siap, Pak Bos! Ke mana pun Anda perintahkan, saya antar!”
“Bagaimana kalau 'Bos' ingin pergi ke hotel?”
“Apa?!” Wajah Sherly langsung merah padam. Ia ragu-ragu berkata, “Aku… aku belum siap, Kak…”
“Maksudku, kau mengantarku ke hotel untuk acara pameran, lalu kau boleh pulang. Memangnya apa yang sedang kau pikirkan, Sherly?”
“Ih! Dasar menyebalkan!”
Sherly memalingkan wajahnya dengan malu, sementara jantungnya berdegup kencang sepanjang sisa perjalanan.
......................
Keesokan harinya.
Pusat Konvensi Internasional Semarang.
Inilah gedung pameran terbesar dan termewah di Semarang. Saat ini, area pelataran parkir telah dipenuhi berbagai mobil mewah dengan pelat nomor cantik berakhiran angka hoki atau seri kembar.
Wilayah di sekitar gedung pameran telah dijaga ketat oleh petugas keamanan dan kepolisian. Siapa pun yang ingin masuk wajib menunjukkan surat undangan eksklusif.
Arga menyerahkan undangannya. Saat ia melangkah melewati pembatas keamanan di bawah tatapan iri para pejalan kaki yang melintas di trotoar, hatinya tiba-tiba dipenuhi perasaan bangga yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Melangkah ke dalam area ini berarti memasuki lingkaran finansial tertinggi di kota ini!
“Mas Arga, akhirnya Anda datang!”
“Selamat datang, selamat datang!”
Hadi Setiawan dan Bagus Mahendra, yang telah lama menunggu di depan pintu masuk aula, segera menyambut dengan senyum hangat.
Banyak tamu di sekitar memandang Arga dengan rasa ingin tahu. Mereka bertanya-tanya, siapakah pemuda ini, hingga dua raksasa finansial seperti Hadi dan Bagus memperlakukannya dengan sikap seistimewa itu.
Pada saat yang sama, perhatian semua orang juga tertuju pada Sherly yang berdiri anggun di samping Arga.
Cantik! Sangat cantik! Begitu memesona hingga nyaris membuat orang terkesiap!
Saat ini, Sherly mengenakan gaun hitam polos yang elegan. Ia menggandeng lengan Arga. Dengan kulitnya yang putih bersih, raut wajahnya yang halus, tubuh yang ramping, serta pembawaannya yang berkelas, ia tampak jauh lebih menonjol dibandingkan beberapa selebritas lokal yang hadir di tempat itu. Sepanjang langkahnya, ia menjadi pusat perhatian penuh.
Hal ini tidak mengherankan. Dari segi latar belakang, Keluarga Gunawan adalah salah satu keluarga terpandang di Semarang, berada satu level di atas mayoritas tamu yang hadir. Karena terbiasa menghadiri acara protokoler sejak kecil, Sherly tampak lebih tenang dan anggun dibandingkan Arga dalam kesempatan formal seperti ini.
Selain itu, Sherly juga sangat cerdas membaca situasi. Setelah menyapa Hadi dan Bagus, ia segera menuju kelompok ibu-ibu sosialita dan pendamping pengusaha untuk berbaur. Para istri raksasa finansial memiliki lingkaran sosial mereka sendiri, dan Sherly tahu betul bahwa menjalin hubungan baik di sana akan membawa manfaat besar di masa depan.
“Mas Arga sungguh luar biasa,” puji Hadi Setiawan. “Keluarga Gunawan adalah salah satu yang terkuat di kota ini. Saya tak menyangka Anda bisa memenangkan hati putri Pak Rendra dengan begitu mudah.”
“Mbak Sherly bukan hanya cantik, tetapi juga berwawasan luas karena latar belakang pendidikannya di bidang keuangan. Di masa depan, ia pasti akan menjadi istri yang sangat membantu bagi Mas Arga,” tambah Bagus Mahendra sambil tersenyum penuh arti.
“Pak Hadi, Mas Bagus, anak muda ini siapa? Mengapa terlihat asing di lingkaran kita?” Pada saat itu, beberapa pengusaha senior mendekat dan bertanya dengan penuh rasa ingin tahu.
Hampir semua yang hadir adalah pria paruh baya di atas empat puluh tahun. Keberadaan Arga—pemuda berusia dua puluhan—jelas sangat mencolok.
“Oh, lihat pelupa sekali saya!” Hadi menepuk dahinya. “Perkenalkan kepada kalian semua, ini adalah ‘Dewa Saham Muda Semarang’ yang sedang viral, sekaligus orang sakti titisan Kanjeng Ratu Kidul—Mas Arga!”
“Oh?”
“Apakah dia pemuda yang masuk pasar dengan modal 100 juta, lalu semua saham yang dibelinya langsung Auto Reject Atas, dan dananya berlipat ganda dalam hitungan hari?” Seseorang berseru kaget.
Mendengar itu, ekspresi orang-orang yang memandang Arga pun berubah drastis menjadi penuh hormat. Banyak orang mencari nafkah dari bursa saham, tetapi tak seorang pun di tempat itu mampu menggandakan dana dalam waktu sesingkat itu tanpa bantuan orang dalam.
“Terima kasih atas pujiannya. Saya hanya kebetulan sedang beruntung saja. Gelar Dewa Saham itu terlalu berlebihan,” jawab Arga dengan rendah hati.
Saat Arga tengah bercakap-cakap dengan para taipan itu, sekelompok orang masuk dari pintu utama.
Tiara terlihat menggandeng erat seorang pria paruh baya, sikapnya angkuh bak burung merak yang sedang pamer bulu. Pria di sampingnya bernama Joni Hartono, seorang spekulan modal lokal yang terkenal dan sedang naik daun di dunia investasi properti.
Sebelumnya, Tiara telah kehilangan banyak uang karena investasi bodong yang disarankan Yuda Perdana. Tiara terus mengejar Yuda setiap hari, menuntut uang keluarganya kembali. Namun, uang Yuda sendiri juga sedang seret. Akhirnya, Yuda memperkenalkan Tiara kepada Joni Hartono dan membual bahwa Joni adalah bos besar dengan kekayaan ratusan miliar. Jika Tiara bisa memikat hati Joni, jangankan ratusan juta—minta rumah pun pasti dikasih.
Tanpa ragu sedikit pun, Tiara langsung setuju. Pada malam pertama bertemu Joni, Tiara berusaha sekuat tenaga melayani pria itu hingga puas. Kebetulan, Joni memiliki istri yang berpenampilan sangat biasa dan jarang mau diajak ke acara sosial. Sementara Tiara—meski matre—memiliki paras yang cukup menjual. Maka, Joni pun membawanya ke pameran batu mulia ini untuk pamer status.
“Skalanya benar-benar luar biasa!” seru Tiara dengan mata berbinar-binar. “Mobil-mobil di depan semuanya miliaran, ya? Bahkan ada penjagaan polisi segala! Untuk pameran sebesar ini, kenapa orang biasa tidak boleh masuk? Pasti bayar tiketnya mahal banget!”
Yuda Perdana yang mengekor di belakang mereka memutar bola mata dan berbisik ketus, “Orang-orang yang datang ke sini adalah predator puncak di dunia finansial Jawa Tengah. Kalau gembel juga boleh masuk, pamerannya jadi pasar kaget! Kalau tidak mengerti, lebih baik diam saja supaya tidak malu-maluin.”
Tiara buru-buru menutup mulutnya. Ia tidak ingin para orang kaya di sana menganggapnya sebagai perempuan udik.
Kedatangan Joni Hartono segera menimbulkan kegaduhan kecil. Tak diragukan lagi, Joni adalah figur yang sedang naik daun dan banyak orang ingin mendekatinya.
“Kalian berdua berkelilinglah dulu. Aku mau menyapa beberapa relasi lama,” kata Joni.